Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH EMPAT: TATAPAN DINGIN
Seraphina terbangun keesokan paginya dengan rasa nyeri yang seolah mengakar di setiap persendian tubuhnya. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden terasa seperti ejekan bagi kegelapan yang ia alami semalam. Di bawah selimut sutra yang berantakan, ia bisa merasakan area pribadinya masih terasa sangat perih dan membengkak, sisa dari hantaman brutal Orion yang tidak mengenal kata belas kasihan. Putingnya pun masih terasa nyeri, permukaannya memerah dan sangat sensitif bahkan terhadap sentuhan halus dari kain piyamanya sendiri.
Ia menoleh perlahan dan mendapati Orion masih terlelap di sampingnya. Dalam tidurnya, wajah pria itu tampak jauh lebih tenang, hampir menyerupai malaikat jika saja Seraphina tidak tahu betapa iblisnya jiwa yang bersemayam di sana. Lengan Orion yang kokoh masih melingkar posesif di pinggangnya, seolah-olah sedang memastikan bahwa mangsanya tidak akan bisa melarikan diri bahkan dalam keadaan tidak sadar sekalipun. Seraphina hanya bisa menarik napas panjang yang terasa sesak, menyadari bahwa bau keringat, aroma maskulin Orion, dan sisa-sisa cairan semalam masih memenuhi indra penciumannya, menciptakan rasa mual yang tertahan di tenggorokan.
"Ini adalah hidupku sekarang," bisik Seraphina di dalam hatinya dengan kepahitan yang mendalam. Ia merasa jiwanya perlahan-lahan mulai membengkok, dipaksa untuk beradaptasi dengan kekejaman yang dibalut kemewahan ini. Di siang hari ia dipuja sebagai calon pengantin, namun di malam hari ia adalah mainan yang bisa dirobek kapan saja.
Sekitar pukul tujuh pagi, Orion mulai mengusik tidurnya. Matanya yang hitam pekat terbuka perlahan, langsung tertuju pada Seraphina dengan tatapan yang penuh kepemilikan. Tanpa sepatah kata pun, Orion menarik tubuh Seraphina agar lebih merapat pada dada bidangnya yang hangat. Ia menunduk, kembali mengincar puting Seraphina yang sudah bengkak, menghisapnya dengan tekanan yang kuat hingga Seraphina merintih tertahan.
"Nghhh... Orion... hentikan... ini sudah pagi," rintih Seraphina sambil mencoba mendorong bahu pria itu dengan tangan yang lemas.
"Aku tidak peduli ini pagi atau malam," Orion mendesis di sela-sela kegiatannya, suaranya parau khas orang bangun tidur namun tetap penuh ancaman. "Tubuhmu ini adalah milikku untuk kunikmati setiap saat. Rasanya masih sangat sempit di bawah sana, aku bisa merasakannya."
Orion memberikan satu gigitan kecil di puncak puting Seraphina, membuat gadis itu memekik kecil sebelum akhirnya Orion melepaskannya. Ia bangkit dari ranjang dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu dalam satu gerakan cepat ia mengangkat Seraphina ke dalam gendongannya. Seraphina yang masih setengah tanpa busana secara refleks melingkarkan lengannya di leher Orion agar tidak terjatuh.
"Mama akan segera bangun. Dia tidak boleh melihatmu keluar dari kamarku dalam keadaan berantakan seperti ini," ucap Orion datar sambil melangkah keluar menuju lorong mansion yang masih sepi.
Ia menurunkan Seraphina tepat di depan pintu kamarnya sendiri, di mana Bibi Yani sudah menunggu dengan wajah tertunduk dan ekspresi penuh keprihatinan yang mendalam. Orion memberikan perintah dingin kepada pelayan tua itu untuk menyiapkan air hangat dan ramuan pemulih bagi Seraphina, sebelum ia berbalik dan menghilang ke dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar mandi, Seraphina hanya bisa pasrah saat Bibi Yani membantunya membersihkan diri. Air hangat yang menyentuh kulitnya memberikan sedikit kelegaan, namun rasa perih di area intimnya saat dibersihkan membuatnya harus menggigit bibir kuat-kuat agar tidak mengerang. Tatapan iba dari Bibi Yani seolah menjadi cermin betapa hancurnya keadaan Seraphina saat ini, meskipun tidak ada kata yang terucap di antara mereka.
Saat jam sarapan tiba, suasana di ruang makan sudah dipenuhi oleh keceriaan Giselle yang meluap-luap. Wanita itu tampak sibuk memeriksa tumpukan katalog undangan pernikahan yang baru saja tiba. "Nana! Selamat pagi, putriku! Sini, duduklah di dekat Mama! Kamu harus makan yang banyak agar wajahmu tidak pucat di hari pernikahan nanti!"
Seraphina mencoba duduk dengan posisi yang paling nyaman agar rasa ngilunya tidak terlihat, namun setiap gerakan masih terasa seperti siksaan. Ia mencoba tersenyum kaku di depan Giselle, berusaha menelan roti panggangnya yang terasa seperti debu di mulutnya.
"Hari ini adalah hari yang sangat spesial, Nana! Papa Orion, suamiku tersayang, akan pulang sore ini!" Giselle berseru dengan mata yang berbinar-binar. "Oskar Valentinus. Dia adalah pria yang sangat sibuk, tapi dia sudah berjanji akan meluangkan waktu untuk merayakan pertunangan kalian secara resmi."
Mendengar nama itu, Seraphina merasa kedinginan menjalar di punggungnya. Ayah Orion. Jika Orion saja sudah seperti monster, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa sosok pria yang membuat nya. Harapan kecil sempat muncul di benaknya—mungkin sang ayah lebih bijaksana dan bisa melihat penderitaannya—namun harapan itu segera pupus saat ia melihat ekspresi Orion yang tampak tenang dan penuh perhitungan.
Menjelang sore, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mewah melaju pelan memasuki halaman mansion yang luas. Seraphina berdiri di samping Giselle dan Orion di depan pintu utama. Jantungnya berpacu gila saat seorang pria paruh baya turun dari mobil tersebut. Oskar Valentinus tampil dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, rambutnya yang sudah mulai memutih justru menambah kesan berwibawa sekaligus sangat kaku.
Mata Oskar memiliki warna yang sama persis dengan Orion—hitam pekat dan dalam—namun tatapannya jauh lebih dingin dan terukur. Jika Orion adalah badai yang meledak-ledak, maka Oskar adalah es abadi yang tidak bisa ditembus. Ia memeluk Giselle dengan sikap yang sopan namun minim emosi, seolah-olah pelukan itu hanyalah sebuah formalitas.
Tatapan Oskar kemudian beralih pada Orion, memberikan anggukan singkat penuh pengakuan, sebelum akhirnya matanya tertuju sepenuhnya pada Seraphina. Seraphina merasa seolah-olah sedang dipreteli oleh laser. Oskar mengamati setiap inci wajahnya, gaun yang ia kenakan, hingga postur tubuhnya dengan tatapan analisis yang sangat mendalam.
"Jadi, ini gadisnya?" suara Oskar terdengar berat dan sangat dalam, bergema di lobi mansion. Ia tidak menyapa dengan kehangatan, melainkan dengan penilaian. "Lumayan. Pilihan istrimu tidak buruk, Orion."
"Ini Seraphina, Papa. Calon istriku," ucap Orion dengan nada yang sangat formal namun tetap menyisipkan nada kepemilikan yang kuat.
Oskar mengangguk pelan sekali lagi. "Aku sudah meninjau profilnya dan juga rencana pernikahan kalian. Aku setuju. Aliansi ini—atau lebih tepatnya akuisisi ini—akan memperkuat citra keluarga Valentinus di mata publik. Dan aku harap, ini bisa membuatmu lebih terkendali, Orion."
Kata-kata 'akuisisi' dan 'terkendali' membuat Seraphina ingin menjerit. Ia diperlakukan seperti barang dagangan, sebuah aset yang sengaja diambil untuk kepentingan bisnis dan stabilitas keluarga. Tidak ada ruang bagi perasaan atau kemanusiaan di sini.
"Tentu saja, Papa. Aku akan melatihnya dengan sangat baik agar dia bisa menjalankan perannya sebagai Nyonya Valentinus dengan sempurna," sahut Orion dengan seringai tipis yang hanya bisa dimengerti oleh Seraphina sebagai ancaman untuk malam-malam selanjutnya.
Malam itu, makan malam di mansion Valentinus berlangsung dengan suasana yang sangat canggung dan penuh tekanan bagi Seraphina. Giselle terus berceloteh tentang pesta megah yang ia rancang, tentang ribuan bunga dan tamu undangan penting, sementara Oskar sesekali memberikan komentar pendek mengenai pasar saham atau ekspansi bisnis mereka di Eropa. Orion sendiri lebih banyak diam, namun di bawah meja yang tertutup taplak panjang, tangan besarnya tidak berhenti menggerayangi paha Seraphina.
Jemari Orion meremas paha dalam Seraphina, merayap semakin ke atas mendekati area pribadinya yang masih bengkak. Seraphina harus berjuang keras untuk tetap mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat aneh di depan Oskar dan Giselle. Ia mencengkeram garpunya kuat-kuat, menahan napas setiap kali jemari Orion menyentuh titik paling sensitifnya secara sembunyi-sembunyi.
Setelah makan malam selesai, Giselle langsung menarik Seraphina ke ruang tengah untuk menunjukkan draf undangan, sementara Orion dan Oskar masuk ke dalam ruang kerja pribadi untuk pembicaraan yang lebih serius.
"Pastikan gadis itu tidak membawa masalah bagi nama baik kita, Orion," ucap Oskar sambil menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. "Dia terlihat rapuh. Pastikan kau 'membentuknya' agar dia kuat menopang beban sebagai istrimu."
Orion menyesap minumannya dengan santai, matanya berkilat liar. "Papa jangan khawatir. Aku sedang dalam proses membentuknya. Aku akan memastikan dia melayaniku dengan dedikasi penuh. Tidak akan ada satu inci pun darinya yang berani membangkang setelah aku selesai dengannya."
Oskar menatap putranya, melihat kegelapan yang sangat mirip dengan dirinya sendiri di masa muda. Ia tahu betapa posesif dan kejamnya Orion jika sudah menginginkan sesuatu, namun baginya, selama hal itu tidak mengganggu profit dan reputasi keluarga, ia akan membiarkannya. "Bagus. Gunakan dia sesukamu, tapi pastikan dia tampil sempurna di depan publik."
Sementara itu, di ruang tengah, Seraphina mencoba berbagai gaun yang terus disodorkan oleh Giselle. Gaun-gaun itu sangat indah, terbuat dari bahan-bahan terbaik di dunia, namun bagi Seraphina, kain putih itu terasa seperti kain kafan yang akan membungkus jiwanya selamanya.
"Ingat ya, Nana, setelah kalian menikah nanti, tugas utamamu adalah melayani Orion," ucap Giselle dengan nada nyelenehnya sambil memperbaiki letak pita di pinggang Seraphina. "Suami seperti Orion butuh perhatian ekstra, apalagi di tempat tidur. Kamu harus siap kapan pun dia menginginkannya."
Seraphina hanya bisa menunduk, pipinya memerah karena rasa malu yang sangat menyiksa. Ia tahu betul apa yang dimaksud dengan 'melayani' bagi pria seperti Orion. Itu bukan tentang kasih sayang, itu adalah tentang penyerahan diri secara total untuk dirusak dan digunakan kembali di malam berikutnya.