Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupa waktu
Yuna panik seketika. Tanpa bisa berfikir lebih lama, ia segera bersiap. Yuna harus sudah sampai di apartemen sebelum Bastian sampai. Tapi yang jadi masalahnya... bagaimana caranya minta izin keluar sama neneknya.
"Mau kemana kamu Yuna?"
Baru saja keluar dari kamar, ia bertemu dengan nenek Rasmi yang kebetulan melintas di depan kamarnya.
"Aku mau ke rumah temen aku Nek! Ada tugas yang harus didiskusikan?" jawab Yuna berbohong.
Berbohong? tentu saja. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya... jika ia akan pergi untuk melayani nafsu seperti pria. Bisa tamat riwayatnya. Kalau neneknya sampai tahu.
"Bener mau ngerjain tugas?" mata tua nenek Rasmi menyelidik. Sepertinya ia meragukan alasan Yuna.
"Aah nenek!" Yuna langsung bermanja. Cara ini sedikit lebih efektif, jika jarang-jarang digunakan. "Aku beneran mau ngerjain tugas Nek! Nenek kasih izin dong? Aku gak lama sebelum makan malam aku pulang?" janji Yuna, yang ia sendiri tidak yakin. Jika Bastian akan puas bercinta hanya beberapa jam saja.
"Pulang sore! paling lambat jam 5 sore!" kata Nek Rasmi.
Yuna melotot. "jam 5?" Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 3 sore.
"Kalau mau jam 5 harus sampai rumah. Kalau tidak mau... gak usah pergi!" putus Nek Rasmi.
Keras dan disiplin. Dia hal itu sudah melekat kuat dalam diri Nek Rasmi. Wanita tua itu memiliki prinsip yang kuat. Dan... tidak ada yang bisa mengubah kepuasannya... bahkan almarhum kakek Yuna sekalipun.
"Mau atau tidak?" Nek Rasmi masih menunggu.
"Iya-iya Nek! Aku pergi dulu?" Yuna mencium punggung tangan Nek Rasmi. Lalu ia bergerak cepat turun ke bawah.
"Jangan lupa kembalikan mobil teman kamu itu!" teriak nenek Rasmi.
Yuna mengiyakan tanpa menghentikan langkah. Ia terus berlari, menuju ke mobil yang masih terparkir dihalaman.
"Kamu mau kemana Yun?"
Sial! Yuna merasa siap jika ia harus kembali bertemu dengan Edo... Si parasit.
"Bukan urusan kamu!"
Braaaak!
Yuna masuk ke dalam mobil. Membanting pintunya untuk meluapkan kekesalan.
"Sebenarnya dia mau kemana?" batin Edo.
Karena rasa penasaran. Edo memutuskan untuk mengikuti mobil Yuna dari belakang. Tapi Yuna yang sedang buru-buru, sama sekali tidak menyadari jika ia diikuti dari belakang.
Yuna memacu laju mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beruntung jalanan sedang lengang, hingga ia bisa melaju tanpa hambatan.
Setelah berkendara hampir 30 menit, Yuna akhirnya sampai di parkiran apartemen. Dan bertepatan dengan Bastian yang baru saja tiba.
"Dari mana, hmm?" Begitu melihat Yuna, Bastian langsung menarik pinggangnya dengan posesif.
Bukan hanya itu saja. Tatapan Bastian langsung tertuju ke bibir merah muda Yuna yang sangat menggoda.
Cup!
Tanpa peduli dengan keadaan sekitar yang untungnya sangat sepi. Bastian mencium bibirnya dengan rakus. Satu tangannya menekan tengkuk agar lebih dalam, sedangkan satunya lagi menekan pinggul agar lebih rapat. Bibirnya bergerak, lidahnya menerobos masuk dan langsung mengeksplorasi setiap inci bibir Yuna tanpa ada satupun yang terlewat.
Bugh!
Yuna memukul dada Bastian pelan. "Om, aku kehabisan nafas!" ucap Yuna ngos-ngosan.
Bastian yang masih menginginkannya, kembali menyatukan bibir mereka. Tanpa menyadari, jika di dalam salah satu mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka... ada sepasang mata yang menatap mereka dengan penuh amarah.
"Brengsek!" geramnya dengan kepalan tangan yang memukul kemudi mobil.
Di depan sana, Yuna dan Bastian masih beradu bibir dan beradu lidah. Aktivitas mereka sangat menyenangkan, hingga dunia terasa milik berdua.
"Kita pindah ke kamar!" Bastian menggendong Yuna. Pria itu sudah tak sabar ingin segera mengeksekusi gadis cantik yang ada di hadapannya.
"Om kenapa pulangnya kok cepat sekali?" tanya Yuna bingung. Saat ciuman mereka terlepas di dalam lift.
"Tadi ada yang menggodaku!" jawab Bastian.
Kepalan tangannya tidak sengaja terbentuk. Urat-uratnya menonjol. Begitu juga dengan urat leher yang terlihat sangat menegang.
"Siapa? Mantan tunangan Om itu ya?" tebak Yuna.
Ya! Yuna tahu cerita tentang Bastian dan Calista. Pria itu yang dengan sengaja menceritakan semuanya ke Yuna. Entah apa maksudnya... tapi Yuna senang. Karena itu artinya, Bastian percaya padanya... dan ia pun juga menceritakan masalahnya juga.
Flashback beberapa waktu yang lalu.
Bastian sedang fokus memeriksa dokumen yang harus selesai saat itu juga. Padahal jam makan siang sudah berlalu dari setengah jam yang lalu. Tapi ia lebih mendahulukan tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan.
"Akhirnya selesai juga!" Bastian merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Setelah selesai, ia baru kepikiran untuk makan siang... dan pilihannya jatuh pada restoran yang ada di sebrang kantor. Bastian makan dengan tenang, menikmati hidangan yang cukup untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Sebelum kembali ke kantor, Bastian ke toilet pria terlebih dahulu. Tapi, saat ia melewati salah satu bilik... Ada sepasang tangan yang menariknya masuk ke dalam.
"Hei apa-apaan ini!" Bastian menggeram marah. Siapa orang kurang ajar yang berani menariknya masuk ke dalam..
"Bastian... aku sangat merindukan kamu!" ucap suara yang sangat familiar ditelinga nya.
"Calista! Apa-apaan kamu!" Bastian mendorong keras tubuh Calista yang tadi memeluknya.
Bastian berang, ia marah melihat kelakuan Calista yang sudah kelewatan. Wanita itu bukan hanya menerobos masuk ke dalam toilet pria. Tapi wanita itu, sekarang hanya memakai underwear yang tidak benar-benar menutupi area segitiga dan gunung kembarnya.
"Dasar gila!" Bastian mengalihkan pandangan. Ia ingin keluar dari bilik itu. Tapi Calista malah menghalangi pintu dan tidak goyah ketika Bastian mencekik lehernya.
"Minggir kamu wanita gila! Atau aku patahkan lehermu!" Bastian mencengkram kuat leher Calista, hingga wanita itu kesulitan untuk bernafas.
Tapi bukannya takut. Calista malah makin nekat. "Yakin mau bunuh aku? Memangnya kamu gak tergoda melihat tubuhku!"
Calista dengan gilanya membuka penutup gunungnya, hingga benda bulat itu tergantung indah dihadapannya.
"Sakit jiwa kamu!" Bastian mendorong tubuh Calista hingga terduduk diatas closet. Setelah itu ia keluar dengan marah. Marah karena Calista yang makin gila dan makin nekat. Serta marah, pada dirinya sendiri... karena hasratnya tiba-tiba memuncak.
"Sial! Pake acara bangun segala lagi!"
Jika sudah seperti ini... tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendapatkan pelepasannya. Karena jika ditahan, kepalanya akan terasa pusing dan semua urusannya bisa berantakan.
Flashback off...
Bruuuk!
Bastian dengan tidak sabar membanting tubuh Yuna ke ranjang mereka. Saat ini, tidak ada wanita manapun yang berhak berada dibawah Kungkungannya... kecuali Yuna.
"Om pelan-pelan!" pinta Yuna, menghadapi kebuasan Bastian yang menyerangnya dengan brutal.
"Gak bisa baby! Aku sudah sangat menginginkannya!"
Yuna pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain melayani Bastian sebaik mungkin.
Awalnya kewarasan masih bisa ia kendalikan. Tapi, saat ia terus merasakan kenikmatan bertubi yang Bastian berikan untuknya. Yuna jadi terlena, terbuai, dan lupa waktu. Hingga janjinya untuk pulang jam 5 sore terlewat. Karena seorang Sebastian Gunawan, tidak bisa cukup dan tidak bisa puas... jika pasangannya belum lemah dan tak berdaya di bawah kendalinya.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya