Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Anye dan segala pikirannya
Anye mendengarnya. Baru saja dengan lirih Fiqah memohon pada Ganesha. Nada bicaranya itu memelas dengan suara bergetar setengah terisak.
Cintai aku Nesh....
Tangan Anye merambat, terulur memegang dadanya sendiri, merasakan denyut jantung yang kian terasa cenat-cenut. Ia tak bisa lebih merosot layu lagi saat Afiqah bercerita tentang masa lalu.
Setiap kata yang lolos dari mulut Fiqah, itu benar.... Tentang pertemanan yang renggang. Tentang Fiqah yang menyukai Ganesha bahkan sebelum Anye dan Ganesha menikah. Tentang ketukan palu hakim yang menyatakan jika mereka berpisah dan mencoba berjalan di alur hidup masing-masing.
Tentang, pagar makan tanaman? Rasa sakit beberapa tahun yang lalu itu seolah ditarik kembali dan berhasil menghantam dadanya.
Tentang keputusannya, tentang sakit dan luka, tentang ketidakcocokan, tentang arghhh! Otaknya terlalu berisik saat ini. Namun yang jelas, Anye tak ingin berlama-lama disini sekarang yang hanya membuatnya muak. Terlebih disini hanya mengingatkan kembali dirinya pada masa-masa bertahan sendirian.
Rasanya baru kemarin, ia melihat dirinya dan Ganesha yang merasakan perasaan semakin jenuh dan jauh, hidup dengan dunia masing-masing, hingga akhirnya kalimat itu keluar----aku mau pisah sekarang.
Ia pernah menjadi seorang istri yang menunggu, ia pernah menjadi seorang istri yang mencoba mencintai, tapi pada akhirnya ia sampai di titik Ganesha tak mencegahnya pergi, maka saat itu ia menyadari jika kehadirannya memang tak diinginkan Ganesha sejak awal.
Lantas sikap kecil dan perubahan Ganesha kemarin, seketika hal itu menguap di udara begitu saja, kalah oleh kenangan tak mengenakan selama setahun bersama Ganesha. Semudah itu hati Anye berubah.
Betul ia plin plan, sebab ia ragu dan bimbang apakah bisa percaya Ganesha sekarang, sikap manisnya kemarin tak mampu menghapus sifat menyebalkan lelaki itu...Anye menolak untuk jatuh ke lubang yang sama, tenggelam dalam usaha bertahan sendiri. Tapi sungguh, lubang lain sedang menantinya untuk jatuh dan terkubur hidup-hidup sekarang.
Nasib janin yang ada di dalam perutnya, Anye melirik perut ratanya dan mengusapnya pelan penuh sentuhan kasih seorang ibu. Naluri yang memberikannya. Yap, sejak tadi siang, sejak alat alat itu menunjukan hasil---bahwa ia ada, hadir untuk menemani Anyelir....ia hanya akan menjadi urusan Anye sendiri. Ia mampu untuk itu.
Langkah mundur Anye ambil. Perlahan namun pasti, ia menarik diri tanpa jejak--tanpa suara dari semua keraguan yang berhasil merebut hatinya detik itu, Anye berusaha hilang diantara sunyi.
Kini ia mau apa ? Yang jelas tatapannya tetap tertuju pada perut ratanya, hingga tak sadar bahwa laju mobil yang ia setiri mengarah ke sebuah rumah sakit.
Ia memarkirkan mobil, masuk lebih dalam dan mengambil nomor antrian, "poli kandungan."
Anye, langkahnya pelan dengan mata yang memandang lurus, tapi ia dapati pikirannya masih ribut tertarik ke waktu beberapa tahun lalu....
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Waktu itu,
Ia bersama Afiqah berada di satu siang dengan cuaca panas, ada tugas yang sedang menyita hampir seluruh kinerja otaknya, tapi Afiqah justru tengah merasakan debaran perasaan suka.
*Nye, gue suka sama kating*...
*Yang itu tuh orangnya*...
Anye memastikan jika lelaki yang ditunjuk oleh Afiqah adalah seorang Sadewa. Dan segala yang ia ceritakan tentang kepribadian Ganesha, ia kira itu adalah Sadewa, hingga ternyata....
/
Akhirnya Anye berhasil duduk di bangku panjang, lamunannya tentang masa lalu buyar oleh latarnya berada sekarang, ayunan langkah tak tau arah itu, dengan otak yang mendadak jungkir balik bodoh---ia menatap area dengan cat nuansa cream dan putih disini. Ada aksen coklat untuk pintu-pintu ruangan berlabel.
Ada beberapa wanita yang kini sama dengan dirinya, menunggu giliran untuk masuk dan periksa.
Dari kesemuanya, hanya ia dan satu orang lain yang perutnya masih rata. Mendadak rasa mual itu kembali menyerang, Anye bergegas merogoh-rogoh tasnya, mencari bungkusan permen mint dan menge muutz di dalam mulut, mencoba menetralisir rasa *asam lambung* yang tak kunjung berakhir itu.
"Ibu Anyelir," seorang dengan pakaian serba putih itu memanggil Anye untuk masuk. Ia meminta layanan periksa plus ultrasonografi juga.
Alhasil, ketika gugupnya tak kunjung mereda, hatinya bergetar membawa serta air mata yang ikut turun saat melihat gambar di monitor dan kursor dokter wanita itu melingkarinya beberapa kali, *sehat*.
Hanya satu kata, semua egonya runtuh, tangan Anye bergetar demi melihat dan mendengar ocehan dokter yang mengatakan, *hallo bunda...ini aku, usiaku sudah 7 minggu 5 hari*. Sesuai hitungan terakhir Anye kedapatan menstruasi.
Semuanya terasa seperti ia yang dibawa ke dunia nyaman, haru dan *uhhh---my little baby*...
Berat badannya turun, ia mengalami morning sickness dan Hb nya cukup rendah, pantas saja Desti mengatakan jika dirinya persis zombie, dan rasa kleyengan itu.
Anye masih duduk diantara waktu yang telah tergelincir ke malam, beberapa kali ibu menghubunginya, bertanya ia dimana dan Anye hanya bilang ia sedang berada di cafe.
*Ibas ada ke rumah, Nye*...
Anye menatap kembali layar ponselnya, ada beberapa notifikasi pesan untuknya.
**Ibas**
*Anye, tadi aku mau jemput kamu buat pulang bareng tapi kata anak anak di kantor kamu udah pulang dari siang*.
*Aku ke rumah kata tante Ayu, kamu belum pulang, kamu dimana*?
***Ganesha***
*Jadi*?
*Mau jam berapa*?
*Masih dimana*?
*Mau kujemput*?
*3 Panggilan tidak terjawab Ganesha*
"Atas nama ibu Anyelir..."
Ia bergegas bangkit dari duduknya, namanya itu...sempat beberapa kali dipanggil oleh apoteker bukan karena terlalu nyaman dengan bau etanol dan obat-obatan serta aroma karbol, melainkan ia yang terlalu larut bersama pikiran-pikirannya.
Anye dan segala pikirannya.
Bukan perkara besar untuk mengusir Ibas, tapi yang sampai saat ini menjadi beban Anye adalah bagaimana caranya menghadapi ibu, bicara pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, membuatnya kecewa dan menangis, memberitahunya jika ia tengah mengandung janin mantan suaminya, dan ia tak berencana kembali.
Bahkan Anye ingin sekali pergi, pergi dari semuanya. Memulai hidup baru bersama janin yang ia kandung.
Lalu Imaginary? Akan sangat mudah siapapun mencarinya melalui Imaginary....
Bukankah masalah itu ada untuk dihadapi? Huffft....semua masalah berputar di kepala Anye sekarang.
Tak terasa, mobilnya telah sampai di belokan terakhir ke arah rumah, di depan sana...saat cahaya lampu tersorot, mobil milik Ibas rupanya masih setia terparkir di depan rumahnya.
Wajah zombie ini, Anye melebarkan senyumnya, "assalamualaikum..."
"Nah, ini yang ditunggu dari tadi. Wa'alaikumsalam, habis makan?" ibu langsung menyerobot Ibas dengan pertanyaan ciri khasnya.
Sementara Ibas tersenyum melihatnya, terkesan lega.
Anye mengangguk, "tadi sama temen kuliah, ngga sengaja ketemu...reuni kecil deh.." jawab Anye, "mas, maaf ya...udah lama?"
Ibas menggeleng yang tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
"Aku ganti baju dulu sebentar ya..." pamit Anye.
/
"Nye, ada yang mau aku omongin..."
"Apa nih? Perasaan dari tadi kita ngobrol deh..." Anye terkekeh renyah. Bisa-bisanya ia begitu, padahal kini hati dan otaknya tengah mendung dan pusing 7 keliling.
Ibas berdehem, "kita sama-sama udah dewasa. Udah bukan waktunya main-main kaya remaja lagi."
Ibas menukar posisi duduknya dengan bantal di samping Anye membuat wanita ini mengernyit, dan refleks memberikan jarak, "Nye, kamu mungkin udah merasakan bagaimana aku sama kamu. Semakin sini, aku semakin serius mau menjalin hubungan dengan kamu..." Ibas bahkan sudah menangkap tangannya hangat lalu menggenggam dan mengelusnya.
Anye menatap manik mata Ibas yang penuh sorot berharap itu, "maaf mas..."
.
.
.
.
pera klien nya emang yg tertarik dg gaya marketing imaginary... bukan nya mengubah strategi malah njegal perusahaan lain
sehat2 trus yaa Teh