Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Janji Suci yang Mengikat: Akad Nikah Khatulistiwa dan Tenggara
Sinar matahari mulai merangkak melalui dedaunan pohon pinang dan kelapa yang menjulang tinggi di halaman rumah adat Balla Lompoa, menerangi setiap sudut dengan cahaya keemasan yang menyentuh hati. Hari itu, seluruh kawasan sekitar rumah terasa hidup dengan kegembiraan—tamu-tamu dari berbagai daerah telah berkumpul, bunga-bunga harum memenuhi udara, dan aroma rempah dari hidangan yang disiapkan mengambang di udara hangat pagi Makassar.
Semua ini untuk menyaksikan akad nikah Khatulistiwa dan Tenggara, sebuah perpaduan yang bukan hanya menghubungkan dua hati, tapi juga dua budaya yang kaya akan sejarah.
Di tengah halaman yang telah dihiasi dengan kain ulo mamiri merah dan emas, sebuah panggung adat berdiri megah dengan hiasan anyaman bambu dan bunga kamboja putih yang simbolis.
Di sisi kanan panggung, dua ekor kerbau gagah berdiri dengan mahkota bunga dan selempang kain tenun yang indah—bagian dari mahar yang akan diserahkan oleh keluarga Tenggara, bersama dengan uang panai sebesar 250 juta rupiah. Sejumlah tamu telah berkumpul di sekitarnya, mengambil foto dan menyaksikan keindahan persiapan yang penuh makna budaya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah rumah utama. Khatulistiwa muncul dengan dipimpin oleh ibu dan beberapa wanita keluarga terdekatnya. Ia mengenakan kebaya tradisional Makassar yang dihiasi renda sutra emas dan mutiara asli dari pesisir Selatan Sulawesi, dengan kain saro makassar yang mengalir lembut hingga menyentuh lantai.
Rambutnya dihiasi dengan melati putih dan bunga kantan yang harum, dan wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan. Sementara itu, Tenggara datang dengan dipimpin oleh ayahnya, mengenakan baju bodo khas Makassar yang dipadukan dengan ikat pinggang anyaman khas daerahnya, lengkap dengan selendang tenun yang dihiasi motif burung merak—simbol keanggunan dan kemakmuran.
Ketika kedua mempelai telah duduk di tempat yang telah disiapkan di panggung, Bissu yang mengenakan pakaian adat putih bersih dan mahkota bulu burung cendrawasih maju ke tengah. Di tangannya ada kitab suci dan alat-alat upacara yang telah melalui proses pembersihan spiritual. Dengan suara yang dalam dan penuh makna, Bissu membuka acara dengan doa dan nasihat tentang pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga, serta bagaimana pernikahan adalah perjanjian suci yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Setelah membacakan ayat suci,Tenggara menjabat tangan ayah Khatulistiwa
" Ananda Gemuruh Bintang Tenggara Bin Daeng Raja saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Lintang Khatulistiwa Pertiwi Maccahya dengan mahar uang tunai 250 juta,emas 8 gram Dan sepasang kerbau di bayar tunai
Saya terima nikah dan kawinnya Lintang Khatulistiwa Pertiwi Maccahya Binti Arif Budiman dengan mahar tersebut Tunaiii...
Sahhhhh......
saatnya tiba untuk menyerahkan mahar. Dua pemuda dari keluarga Tenggara dengan penuh hormat mengarak kerbau sepasang ke depan panggung
“Kami menerima mahar ini sebagai bukti kesungguhan dan cinta keluarga Anda,” ujarnya sambil menyentuh pundak Tenggara. “Semoga kerbau ini membawa berkah kemakmuran bagi kedua keluarga, dan uang ini menjadi modal bagi pasangan muda untuk mengembangkan usaha ‘Nusantara Bersejarah’ serta membangun masa depan yang gemilang.”
Baru saat itu, suara musik akustik yang merdu mulai terdengar dari sisi kanan halaman.
Lagu ini sebagai hadiah untuk Khatulistiwa dan Tenggara,” ujarnya kepada para tamu sebelum memulai nada pembuka. “Lagu ‘Janji Suci' menceritakan tentang janji cinta yang tak terpisahkan, persahabatan yang kuat, dan komitmen untuk hidup bersama melalui segala suka dan duka—sesuatu yang kami lihat pada kedua mempelai ini.”
Seiring dengan irama gitar yang lembut, dan suara dari sang penyanyi bergema merdu di seluruh halaman.
"Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu"
Selama penyanyi menyanyi, semua tamu terdiam dengan kagum, beberapa bahkan menangis haru melihat kebahagiaan Khatulistiwa dan Tenggara yang sedang saling memandang dengan mata penuh cinta.
Kedua mempelai berdiri dan berjalan ke arah Penyanyi, tangan mereka saling bertaut erat. Ketika lagu memasuki bagian refrein terakhir, beberapa tamu mulai menyanyi bersama, membuat suasana semakin hangat dan penuh keakraban.
Setelah lagu berakhir, tepukan tangan yang meriah menggema di seluruh halaman, diselingi dengan sorakan kegembiraan.
Di bagian belakang halaman, hidangan khas dari kedua daerah telah disajikan dengan melimpah. Coto makassar yang gurih, konro bakar yang lezat, tumpeng yang megah, dan gado-gado yang segar tersusun rapi di atas meja panjang yang ditutupi kain bersih.
Tamu-tamu mulai berkumpul di sekitar meja, sementara musik tradisional gandrang sabua kembali menyala, bergantian dengan lagu-lagu populer yang dinyanyikan oleh Yuvie&Nuno
Khatulistiwa dan Tenggara berdiri di atas panggung utama, melihat sekeliling pada kerumunan tamu yang penuh cinta dan dukungan. Mata mereka saling bertemu, dan dalam senyuman mereka tercermin janji untuk selalu menjaga ikatan suci yang telah dibuat hari itu—sebuah janji yang diperkuat oleh mahar yang penuh makna, dukungan keluarga dan teman, serta lagu yang menjadi saksi cinta mereka di tanah Makassar yang penuh dengan sejarah dan keindahan budaya.