NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak Diundang

Tiga hari aku terkurung di kamar ini tanpa keluar sama sekali. Pelayan membawakan makanan tiga kali sehari. Aku makan sedikit. Hanya supaya tidak mati. Karena entah kenapa, sebagian diriku masih ingin hidup. Walau aku tidak tahu untuk apa.

Damian tidak pernah datang lagi sejak hari itu. Hari di mana dia memaksaku menonton neraka di ruang bawah tanah. Hari di mana jiwa terakhirku hancur berkeping-keping.

Paman Rico.

Aku tidak tahu apakah dia masih hidup. Atau sudah mati. Tidak ada yang memberitahuku apapun. Dan aku terlalu takut untuk bertanya.

Sekarang sudah malam lagi. Malam ketiga. Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding, memeluk lutut. Posisi yang sama sejak kemarin. Posisi yang membuat tubuhku kaku dan sakit tapi aku tidak peduli.

Rasa sakit fisik tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di dalam.

Mataku menatap kosong ke jendela. Langit malam di luar gelap. Tidak ada bintang. Hanya hitam pekat seperti lubang yang siap menelanku.

Tiba-tiba terdengar suara, suara keras seperti sesuatu yang meledak. Aku tersentak. Jantungku langsung berdetak kencang. Apa itu?

Itu suara tembakan. Aku bangkit dengan cepat. Berlari ke jendela. Menatap keluar.

Di taman bawah, ada cahaya-cahaya bergerak. Lampu senter. Dan siluet-siluet orang yang tengah berlarian dan berteriak. Lalu tembakan lagi terdengar berkali-kali. Seperti petasan yang meledak beruntun.

Ada yang menyerang mansion ini. Tubuhku membeku, tanganku mencengkeram teralis jendela sampai buku-buku jari memutih.

Ini kesempatanku. Kalau ada yang menyerang, berarti ada kekacauan. Dan kalau ada kekacauan, mungkin aku bisa kabur.

Tapi kemana? Bagaimana?

Pikiranku kacau. Berputar-putar tidak jelas.

Aku berlari ke pintu. Menggedor keras.

"TOLONG! APA ADA ORANG? TOLONG!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara tembakan yang semakin keras dari luar. Aku mencoba membuka pintu. Terkunci. Tentu saja terkunci. Jepit rambut. Di mana jepit rambut yang tadi?

Aku mencarinya dengan panik. Membongkar laci. Melempar bantal. Sampai akhirnya aku menemukannya di bawah tempat tidur.

Tanganku gemetar ketika mencoba membuka kunci. Keringat membasahi dahiku. Suara tembakan semakin dekat. Semakin keras.

Klik.

Terbuka!

Aku membuka pintu dan berlari keluar. Koridor kosong. Lampu berkedip-kedip. Ada asap tipis di udara. Aku berlari menyusuri koridor. Tidak tahu harus ke mana. Hanya tahu aku harus keluar dari sini.

Tangga. Aku harus turun. Tapi ketika aku sampai di puncak tangga, aku melihatnya. Di bawah, di ruang tamu besar, ada mayat. Dua pengawal Damian tergeletak di lantai dengan darah menggenang di sekitar mereka. Mata terbuka menatap kosong ke atas.

Aku menutupi mulut dengan tangan. Menekan teriakan yang hampir keluar.

"Cari dia! Cari wanita itu!" suara seseorang berteriak dengan aksen asing yang kental. "Bos bilang bawa dia hidup-hidup!"

Mereka mencariku, orang-orang yang menyerang ini mencariku. Aku mundur perlahan dari tangga. Berbalik hendak lari ke arah lain.

Tapi ada seseorang berdiri di belakangku. Pria bertubuh besar dengan senjata teracung. Wajahnya kasar dengan bekas luka di dahi. Dia menyeringai ketika melihatku.

"Ketemu," katanya sambil mengangkat radio kecil di tangannya. "Target ditemukan, dia berada di lantai dua, koridor timur."

Aku tidak berpikir. Aku langsung lari. Berlari sekencang yang aku bisa. Menyusuri koridor. Belok kanan. Belok kiri. Tidak peduli ke mana asal jauh dari pria itu. Tapi langkah kakinya mengikuti. Berat. Cepat.

"Berhenti!" teriaknya. "Berhenti atau aku tembak!"

Aku tidak berhenti, aku terus berlari.

DUAR!

Peluru bersiul melewati kepalaku. Menghantam dinding di depan. Serpihan plester beterbangan.

Aku menjerit. Tapi terus berlari. Sampai kakiku tersandung sesuatu. Aku jatuh keras ke lantai. Sikuku membentur lantai marmer. Rasa sakit menusuk. Pria itu mendekat. Langkahnya pelan sekarang. Seperti kucing yang mengepung tikus.

"Tidak usah lari, manis," katanya sambil tertawa. "Kami tidak akan menyakiti kamu. Bos Dimitrov hanya ingin bicara denganmu."

Dimitrov.

Aku pernah dengar nama itu. Rival Damian. Pemimpin sindikat lain yang selalu bersaing dengan keluarga Vincenzo. Pria itu sudah sangat dekat. Tangannya terangkat, hendak menarikku.

Tapi tiba-tiba ada yang bergerak dari bayang-bayang.

Cepat. Seperti kilat. Satu detik pria itu masih berdiri. Detik berikutnya dia sudah tergeletak di lantai dengan leher bengkok dalam sudut yang tidak wajar. Dan Damian berdiri di atasnya.

Aku belum pernah melihat Damian seperti ini. Baju hitamnya compang-camping. Wajah penuh darah. Matanya seperti binatang buas yang sedang berburu. Dia menatapku sebentar. Lalu berbisik dengan suara serak.

"Kembali ke kamar. Sekarang."

"Tapi..."

"SEKARANG!"

Aku bangkit dan berlari. Kembali ke kamarku. Menutup pintu. Menguncinya dari dalam. Tapi aku tidak menjauh dari pintu. Aku menempel di sana, mendengarkan. Suara tembakan masih terdengar. Tapi sekarang lebih sporadis. Lebih jarang.

Lalu terdengar suara jerit. Suara pria yang menjerit kesakitan. Diikuti suara benturan keras. Lagi. Dan lagi. Dan lagi. Aku menutup telinga dengan tangan. Tapi tetap terdengar. Semuanya terdengar.

***

Entah berapa lama berlalu. Mungkin satu jam. Mungkin lebih. Suara tembakan akhirnya berhenti. Semuanya senyap. Hanya terdengar suara sirene di kejauhan. Polisi. Ambulans. Atau pemadam kebakaran. Aku tidak tahu.

Aku duduk di lantai, bersandar ke pintu, dengan tubuh gemetar. Lalu pintu bergetar. Seseorang mendorong dari luar. Aku melompat menjauh.

"Alexa," suara Damian terdengar pelan. Tapi terdengar lelah. "Buka pintunya."

Aku diam dan tidak bergerak.

"Alexa," ulangnya. "Sekarang sudah aman. Cepat buka pintunya."

Dengan tangan gemetar, aku mengulurkan tangan dan membuka kunci. Pintu terbuka perlahan. Damian berdiri di sana, dan penampilannya...

Ya Tuhan.

Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Wajah, leher, tangan, baju. Semuanya merah. Basah. Masih menetes. Ada sobekan di lengannya. Luka dalam yang masih mengucurkan darah. Tapi dia berdiri tegak. Seperti tidak merasakan sakit.

"Delapan," katanya tiba-tiba. Suaranya datar.

"Apa maksudmu?" bisikku.

"Delapan orang yang aku bunuh malam ini." Dia melangkah masuk ke kamar. "Lima dengan tangan kosong. Dua dengan senjata mereka sendiri. Satu... yah, aku tidak yakin dia masih bisa disebut manusia setelah itu."

Dia menutup pintu di belakangnya. Aku mundur. Terus mundur sampai punggungku membentur dinding. Damian berjalan ke kamar mandi. Membuka keran. Suara air mengalir terdengar keras di keheningan.

Dia keluar beberapa menit kemudian. Sudah lebih bersih. Tapi masih ada noda darah di sana-sini. Dia sudah mengganti baju dengan handuk yang melilit pinggangnya. Luka di lengannya masih terbuka. Darah mengalir pelan.

"Kau terluka," kataku tanpa sadar.

Damian menatap lengannya sekilas. "Hanya goresan kecil."

Goresan? Itu luka dalam yang butuh jahitan.

Dia duduk di tepi tempat tidur. Mengambil kotak P3K dari laci nakas. Mulai membersihkan lukanya sendiri dengan gerakan terlatih.

Aku melihatnya dari kejauhan. Melihat bagaimana dia menuang cairan antiseptik ke luka terbuka itu tanpa mengerang. Tanpa ekspresi apapun. Seperti sudah terbiasa dengan rasa sakit.

"Mereka menyerangmu karena aku?" tanyaku pelan.

Damian menghentikan gerakannya sebentar. Lalu melanjutkan membersihkan luka.

"Ya," jawabnya singkat. "Dimitrov pikir dengan menculikmu, dia bisa memaksaku menyerahkan wilayah selatan. Wilayah yang menghasilkan lima triliun per tahun."

Dia mulai menjahit lukanya sendiri. Tangannya stabil. Tidak gemetar sama sekali.

"Tapi dia salah," lanjutnya. Jarum menusuk kulitnya. Benang menarik. "Aku tidak akan menyerahkan apapun. Dan sekarang dia tahu apa yang terjadi kalau seseorang mencoba mengambil milikku."

Milikku. Lagi. Aku selalu jadi miliknya dalam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.

"Kau membunuh mereka semua, sendirian?" tanyaku.

Damian tersenyum tipis. Senyum yang menakutkan.

"Sebagian besar. Marco dan yang lain menangani sisanya. Tapi delapan orang yang masuk ke mansion ini." dia menyelesaikan jahitan terakhir, memotong benang dengan gigi, "...mereka jadi milikku."

Dia berdiri. Berjalan mendekatiku. Aku tidak bisa bergerak. Hanya bisa berdiri di sana ketika dia semakin dekat.

Dia berhenti tepat di depanku. Sangat dekat sampai aku bisa mencium bau darah yang masih menempel di kulitnya walau dia sudah mandi.

"Kau melihat dari jendela, kan?" tanyanya.

Aku mengangguk kecil.

"Bagus," katanya. "Aku ingin kau melihat. Ingin kau tahu apa yang akan kulakukan untuk melindungimu."

Melindungiku?

Dia bilang melindungiku?

"Kenapa?" bisikku. "Kenapa kau melindungiku kalau aku hanya alat balas dendam?"

Damian diam. Menatapku lama. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang berkilat sebentar lalu hilang.

"Karena kau milikku," jawabnya akhirnya. "Dan aku menjaga apa yang jadi milikku. Apapun yang terjadi."

Tangannya terangkat. Menyentuh pipiku. Tangannya masih hangat. Hangat dari membunuh.

"Tidak ada yang boleh menyakitimu," bisiknya. "Tidak ada. Kecuali aku sendiri."

Lalu dia menciumku. Bibirnya menekan bibirku dengan kuat. Posesif. Menuntut. Tangannya melingkari pinggangku, menarikku ke pelukannya yang masih hangat.

Aku merasakan detakan jantungnya yang cepat. Napasnya yang memburu. Dan sesuatu yang lain.

Rasa takut.

Dia takut.

Takut kehilanganku. Entah kenapa pikiran itu membuat dadaku sesak. Sesak dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Bukan cinta, dan itu tidak mungkin cinta. Tapi sesuatu yang berbahaya.

Ketika dia melepaskan bibirku, aku menatapnya. Menatap mata gelap yang menatapku kembali dengan intensitas yang membakar.

"Jangan pernah coba kabur lagi," bisiknya. Suaranya serak. "Karena aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau aku kehilanganmu. Dan aku takut dengan apa yang mungkin akan kulakukan."

Dia memelukku erat. Sangat erat. Dan aku membiarkannya. Karena untuk pertama kalinya sejak semua mimpi buruk ini dimulai, aku merasakan sesuatu yang menyerupai... keamanan?

Tidak. Bukan keamanan, tapi ini berbahaya. Sangat berbahaya. Tapi tubuhku berhenti gemetar ketika dia memelukku. Dan aku membenci diriku sendiri karenanya.

***

Damian tidur di kamarku malam itu. Di sofa panjang. Dengan pistol di nakas di sampingnya. Aku berbaring di tempat tidur. Tidak tidur. Hanya menatap langit-langit.

Memikirkan semuanya. Penyerangan malam ini. Delapan orang yang Damian bunuh. Cara dia menatapku. Cara dia menciumku.

Dan yang paling mengganggu, cara tubuhku bereaksi. Aku harusnya jijik. Harusnya takut. Harusnya membenci dia lebih dari sebelumnya. Tapi kenapa dadaku terasa hangat ketika dia bilang akan melindungiku?

Kenapa jantungku berdetak cepat ketika dia menciumku?

Kenapa aku merasa aman ketika dia memelukku?

Ini salah, sangat salah. Tapi perasaan ini nyata, dan itu yang paling menakutkan. Aku mulai berubah perlahan, sedikit demi sedikit. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa menghentikannya. Atau apakah aku masih ingin menghentikannya.

Cahaya bulan masuk melalui jendela. Menerangi wajah Damian yang sedang tidur. Wajah yang terlihat damai. Tidak seperti monster yang membunuh delapan orang beberapa jam lalu.

Dia terlihat manusia. Manusia yang rusak, hancur, tapi masih manusia. Dan mungkin aku juga mulai rusak dan hancur. Bahkan mungkin, aku mulai menjadi sepertinya.

Tapi siapa yang membocorkan informasi tentang mansion ini kepada Dimitrov?

Bagaimana mereka tahu tata letak bangunan? Bagaimana mereka tahu aku ada di kamar itu?

Apakah ada pengkhianat di antara orang-orang Damian? Dan jika ada, apa yang akan Damian lakukan ketika dia menemukannya?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!