Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 16 - BEBAN BARU
Ash membuka mata dengan pelan, dan hal pertama yang dirasakannya adalah sakit kepala yang luar biasa. Seperti ada seseorang yang memukul kepalanya dengan palu berulang kali.
"Arrkkhh!!" erangnya sambil mencoba duduk. "Kepalaku... rasanya mau pecah."
"Jangan bergerak terlalu cepat."
Ash menoleh. Eveline duduk di sampingnya dengan wajah pucat dan perban di lengan serta paha. Matanya yang biasanya kosong itu sekarang penuh dengan kelelahan.
"Eveline?" Ash mencoba mengingat. "Apa yang... terjadi?"
"Kau tidak ingat?"
Ash memaksa otaknya berpikir. Ingatan terakhirnya adalah... Eveline terluka. Vera menusuknya. Rasa sakit. Amarah. Lalu... gelap.
"Aku ingat ditusuk," ucapnya pelan. "Lalu... semuanya kabur. Rasanya seperti tenggelam tapi juga terbakar."
Eveline menatapnya lama. "Kau berubah."
"Berubah?"
"Matamu jadi emas. Kau... kau membunuh anggota Nightshade dengan tangan kosong." Suaranya bergetar sedikit. "Kau hampir membunuh Vera. Kau melemparnya ke dinding sampai tulangnya patah."
Ash merasakan dadanya sesak. "Aku... aku membunuh?"
"Mereka mencoba membunuh kita. Tapi cara kau melakukannya..." Eveline menggelengkan kepala. "Itu bukan kau. Itu sesuatu yang lain."
Ash menatap tangannya. Tangan yang katanya membunuh. Tidak ada darah. Tidak ada bekas. Tapi dia bisa merasakan sisa sisa dari kemarahan itu. Seperti abu panas yang masih bersisa di dada.
"Maafkan aku," bisiknya.
"Untuk apa?"
"Karena tidak bisa mengontrolnya. Karena membuatmu takut."
Eveline terdiam. Lalu dengan gerakan ragu, dia meletakkan tangannya di atas tangan Ash.
"Aku tidak takut padamu," katanya pelan. "Aku takut kehilanganmu. Saat matamu berubah emas itu, rasanya seperti Ash yang kukenal menghilang."
"Tapi aku kembali kan?"
"Ya. Karena aku memanggilmu." Eveline menatapnya. "Dan kau mendengarkanku. Bahkan saat kau sudah berubah, kau masih mendengarkanku."
Ash merasakan kehangatan di dadanya. Bukan kehangatan dari kekuatan Uroboros. Tapi kehangatan dari... koneksi. Dari ikatan yang dia punya dengan Eveline.
"Terima kasih," ucapnya tulus. "Karena tidak menyerah padaku."
"Sudah tugasku." balas Eveline, tapi ada senyum tipis di bibirnya.
Dari sudut gua, suara batuk terdengar. Razen duduk bersandar di dinding dengan perban di dadanya.
"Kalian berdua sudah selesai dengan momen sentimentalnya?" tanyanya dengan nada lelah tapi main-main. "Karena kita punya masalah besar."
"Masalah apa?" tanya Ash.
"Nightshade tahu keberadaan kita. Mereka tahu kau ada di kota Lumenvale. Dan meski kita kabur, mereka pasti akan kejar." Razen mencoba berdiri tapi tubuhnya masih terlalu lemah. "Kita tidak bisa balik ke Lumenvale. Kita tidak bisa ke ibu kota Lunaria lewat jalur utama. Terlalu berisiko."
"Lalu kita mau kemana?"
Razen mengeluarkan peta yang sudah kusut dan robek di beberapa bagian. Dia membentangkannya di tanah.
"Ada jalur alternatif," ucapnya sambil menunjuk sebuah garis tipis di peta. "Lewat Whispering Woods. Hutan di mana pohon pohonnya katanya bisa berbisik. Tempat yang dihindari kebanyakan orang."
"Dihindari kenapa?"
"Karena di sana ada sisa sihir kuno yang membuat orang mudah tersesat. Dan kadang ada monster Tier B atau C yang berkeliaran." Razen menatap Ash. "Tapi dengan kondisi kita sekarang, itu risiko yang lebih baik daripada bertemu Nightshade lagi."
Ash melihat ke Eveline. "Kau setuju?"
Eveline mengangguk. "Nightshade tidak akan masuk ke Whispering Woods dengan mudah. Mereka lebih suka medan yang bisa dikontrol. Hutan seperti itu terlalu acak untuk taktik mereka."
"Baiklah," ucap Ash sambil mencoba berdiri. Kakinya sedikit goyah tapi masih kuat. "Kapan kita berangkat?"
"Setelah matahari sedikit naik. Kita butuh istirahat beberapa jam lagi. Terutama aku dan Eveline." Razen menutup matanya. "Potion penyembuhan membantu, tapi tubuh masih perlu waktu untuk pulih sepenuhnya."
"Aku akan jaga," ucap Ash. "Kalian istirahat."
"Kau baru bangun dari pingsan," protes Eveline.
"Tapi aku tidak terluka parah seperti kalian berdua. Lagipula..." Ash menatap tangannya lagi. "Aku tidak yakin bisa tidur sekarang."
Razen dan Eveline bertukar pandang, lalu mengangguk.
"Baiklah," ucap Razen. "Tapi kalau ada apa- apa, bangunkan kami. Jangan coba-voba jadi pahlawan lagi."
"Aku janji."
---
Beberapa jam berlalu dalam keheningan. Razen dan Eveline tertidur karena kelelahan. Ash duduk di dekat mulut gua, menatap hutan di luar yang perlahan terang karena matahari pagi.
Pikirannya tidak tenang.
Dia membunuh.
Tangannya sendiri yang melakukannya. Meski dia tidak ingat detail lengkapnya, dia bisa merasakan sisa-sisa dari perasaan itu. Kepuasan saat tulang Vera patah. Kenikmatan saat darah musuh tumpah.
Itu bukan perasaannya.
Atau setidaknya, dia tidak mau percaya itu perasaannya.
"Kau masih di sana kan?" bisiknya ke dalam dirinya sendiri. "Uroboros. Atau apapun namamu."
Tidak ada jawaban langsung. Tapi dia merasakan getaran samar di dadanya. Seperti seseorang mengetuk dari dalam.
"Kenapa kau keluar? Kenapa sekarang?"
Kali ini jawaban datang. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan perasaan yang langsung muncul di benaknya.
*Mereka menyakitimu. Menyakiti yang kau sayangi. Aku hanya melindungi.*
"Dengan membunuh?"
*Dengan menghilangkan ancaman. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan?*
"Tapi aku mau jadu pembunuh."
*Lemah. Dalam diriku, sudah ada ribuan nyawa yang lenyap. Dua nyawa lagi tidak mengubah apapun.*
Ash merasakan dadanya sesak. "Aku bukan kau. Aku Ash. Aku manusia."
Hening sejenak. Lalu jawaban yang datang terasa... sedih.
*Untuk sekarang. Tapi semakin sering aku keluar, semakin tipis garis itu. Suatu hari, kau akan lupa dimana Ash berakhir dan aku dimulai.*
"Apa tujuan mu sebenarnya?"
*Aku.. Hanya ingin pulang"
"Pulang? Kemana? Dan bagaimana caranya?"
Uroboros tak lagi menjawab. Dia meninggalkan Ash dengan semua pertanyaannya itu.
Tapi untuk pertama kalinya, Ash merasakan Uroboros tidak seperti monster menakutkan di dalam dirinya. Tapi seperti... tahanan yang terpaksa harus tinggal dengan orang baru.
"Kita sama sama terjebak ya?" bisik Ash.
Eveline terbangun, duduk dengan gerakan tiba tiba seperti orang yang mimpi buruk.
Ash langsung berdiri dan mendekat. "Eveline? Kau baik baik saja?"
Eveline napasnya cepat, matanya liar sebentar sebelum fokus pada Ash. "Aku... aku bermimpi."
"Mimpi apa?"
"Tentang masa lalu. Tentang keluarga." Dia memeluk lututnya. "Tentang kenapa aku kabur."
Ash duduk di sampingnya. "Kau mau cerita?"
Eveline terdiam lama. Lalu dengan suara pelan yang hampir berbisik, dia mulai bercerita.
"Keluarga Nightshade bukan hanya assassin. Kami adalah... pabrik. Pabrik pembunuh." Dia menatap tangannya. "Sejak aku di beli oleh mereka, aku dan beberapa anak kecil disana dilatih. Tidak ada masa kecil. Tidak ada bermain. Hanya latihan, misi, dan hukuman kalau gagal."
"Hukuman seperti apa?"
"Dikurung di ruang gelap tanpa makanan. Dipukul sampai tidak bisa berdiri. Atau..." suaranya bergetar, "...disuruh membunuh teman latihan yang gagal."
Ash merasakan dadanya seperti ditekan batu besar. "Mereka menyuruhmu... membunuh temanmu sendiri?"
Eveline mengangguk pelan. "Itu ujian terakhir sebelum jadi assassin penuh. Kau harus membunuh orang yang sudah berlatih bersamamu selama bertahun tahun. Untuk membuktikan tidak ada ikatan emosional yang mengganggumu."
"Dan kau... kau lakukan itu?"
"Aku mencoba." Air mata mulai turun di pipi Eveline. "Tapi aku tidak bisa. Tanganku gemetar. Belati ku jatuh. Dan teman ku... dia melihatku dengan mata yang berterima kasih. Seperti dia senang aku tidak membunuhnya."
"Lalu?"
"Instruktur ku yang membunuhnya. Di depan mataku. Sambil bilang aku terlalu lemah. Terlalu lembut. Tidak layak jadi Nightshade." Eveline menghapus air matanya. "Mereka memukulku sampai aku pingsan. Lalu saat aku bangun, mereka bilang aku gagal total. Aku diberi satu kesempatan terakhir: bunuh target yang mereka tentukan, atau aku sendiri yang akan dibunuh."
"Dan kau kabur."
"Ya. Di tengah malam. Tanpa membawa apapun kecuali dua belati. Aku lari dan tidak pernah menoleh ke belakang." Eveline menatap Ash. "Sampai kemarin. Mereka menemukan ku. Dan hampir membunuh orang-orang tak bersalah."
Ash memeluk Eveline tanpa berpikir. Eveline kaku sebentar, tidak terbiasa dengan sentuhan hangat. Tapi perlahan, dia membalas pelukan itu.
"Kau tidak lemah," bisik Ash. "Kau kuat. Karena kau punya hati. Karena kau peduli. Itu bukan kelemahan. Itu yang membuat kau manusia."
Eveline menangis di bahu Ash. Tidak keras. Hanya tangis pelan yang sudah ditahan bertahun tahun.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku. Terima kasih sudah peduli."
"Selalu," jawab Ash. "Aku akan selalu peduli."
Mereka duduk seperti itu untuk beberapa waktu, saling memberi kehangatan di gua dingin itu.
Dari sudut, Razen membuka satu matanya, melihat mereka, lalu tersenyum kecil sebelum kembali tidur.
Keluarga kecil ini mungkin rusak. Mungkin penuh luka. Tapi mereka punya satu sama lain.
Dan bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.
---
Siang hari, mereka akhirnya bersiap untuk berangkat. Razen masih sedikit kesakitan tapi bisa berjalan. Eveline sudah lebih baik meski masih terlihat pucat.
"Whispering Woods," ucap Razen sambil menatap garis pepohonan lebat di kejauhan. "Tempat yang tidak pernah kuharap akan ku masuki."
"Kenapa?" tanya Ash.
"Karena di sana, kau bisa mendengar bisikan. Bisikan yang bukan dari angin. Bisikan yang bisa membuatmu gila kalau kau dengarkan terlalu lama."
"Kedengarannya menyenangkan," ucap Ash sarkastik. "Jadi rencananya apa? Masuk, jalan cepat cepat, keluar?"
"Kurang lebih. Dan apapun yang kalian dengar, JANGAN DENGARKAN. Tutup telinga kalau perlu. Fokus pada jalan di depan." Razen menatap mereka berdua. "Ini penting. Banyak orang masuk ke hutan itu dan tidak pernah keluar karena mereka percaya pada bisikan."
"Bisikan bilang apa?" tanya Eveline.
"Rahasia. Kebohongan. Ketakutan terdalammu. Apapun yang bisa membuatmu berhenti dan tersesat." Razen menarik napas. "Siap?"
Ash dan Eveline mengangguk.
Mereka melangkah masuk ke Whispering Woods.
Dan segera, Ash mendengarnya.
Bisikan.
Lembut. Seperti angin. Tapi ada kata kata di sana. Kata kata yang dia tidak bisa tangkap sepenuhnya tapi terasa... familiar.
*Ash... kau tidak akan selamat... kau akan kehilangan mereka... seperti kau kehilangan semuanya...*
Ash menggelengkan kepalanya. "Jangan dengarkan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Itu cuma ilusi."
Tapi bisikan itu terus ada. Terus mengganggu.
Dan perjalanan mereka lewat hutan terkutuk itu baru saja dimulai.