NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Pengirim Kejutan

‘Kasus Gaun Putih’ adalah sebutan yang akhir-akhir ini banyak digunakan masyarakat luas untuk sejumlah kasus penemuan jasad wanita tanpa identitas.

Penyebabnya adalah karena kesemua korban yang ditemukan cenderung memiliki beberapa kemiripan, dan yang paling mencolok adalah mereka selalu ditemukan mengenakan gaun berwarna putih dengan gaya yang hampir mirip. Bahkan pada kasus yang sekarang ini sedang hangat diperbincangkan juga demikian; korban ditemukan terbalut midi-dress berwarna putih.

Namun satu hal yang membuat kasus ini semakin mengerikan adalah penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwajib seolah hanya gencar dilakukan ketika kasus itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan warga. Tetapi jikalau kemudian muncul sebuah berita baru, maka kasus itu seperti tenggelam tanpa pernah naik lagi ke permukaan.

Hal itu adalah apa yang membuat pikiran Addam dan Naya menjadi sangat kalut. Sebab sekarang saja, laporan yang pernah Naya buat seperti berjalan di tempat. Tidak pernah ada berita yang tersiar ataupun informasi lebih tentang proses penyelidikan.

Naya berdecak. “Coba aja kalau aku punya temen detektif...”

Dan tepat setelah mendengar ucapan Naya barusan, raut wajah Addam mendadak terlihat lebih cerah.

“Nay! Aku baru inget. Aku punya temen, dia anggota yang kebetulan ditugasin di sini,” kata Addam. Binar matanya mengatakan harapan besar yang muncul dalam hatinya.

“Beneran, Kak?”

“Iya, Nay. Sebentar,” Addam menyalakan ponselnya dan menggulir layarnya dengan cepat.

“Mahesa...” gumam Addam sambil mencari nama dalam daftar kontak.

Kemudian Addam segera menghubungi kontak yang telah berhasil ditemukannya itu. Untungnya, panggilan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapat jawaban.

“Hallo? Mahesa?” Addam membuka obrolan jarak jauhnya.

“Dam? Apa? Tiba-tiba banget nelpon?” tanya Mahesa keheranan.

Mahesa Arkana, seorang detektif berpengalaman yang bertugas di Satuan Reserse Kriminal, merupakan salah satu teman baik yang Addam miliki. Hubungan pertemanan mereka terjalin sejak bangku SMA dan terus bertahan hingga kini.

Meski usianya masih sekitar 30-an, tetapi Mahesa sudah memiliki sejumlah prestasi, termasuk keterlibatannya dalam memecahkan beberapa kasus kriminal yang menyita perhatian publik.

Tubuh tegapnya sangat cocok dibalut kemeja panjang yang lengannya digulung hingga siku-menampakkan otot lengannya yang tampak terlatih dengan baik. Dan hal itu merupakan salah satu kebiasaan yang lama-lama tampak seperti menjadi ciri khasnya. Sederhana memang, tapi detail kecil itu cukup untuk mematri ingatan akan sosok Mahesa.

Kembali lagi pada perbincangan Addam dan Mahesa pada sore hari itu. Setelah Addam berhasil tersambung dengan Mahesa, pria itu tak langsung menceritakan permasalahan yang tengah dihadapinya.

“Sa. Gue... Lagi butuh bantuan lo. Tapi rasanya kurang etis kalau gue omongin lewat telpon ...” Addam menahan ucapannya. Matanya melirik Naya yang saat itu terduduk di sebelahnya dan menunggu hasil pembicaraan jarak jauhnya dengan Mahesa.

“Apaan tuh, Dam? Kayaknya serius banget?” Mahesa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Gue juga rada bingung gimana ngasih tahunya. Lo ada waktu, Sa? Bisa gak kalau nanti ketemu langsung?” Tanya Addam dengan penuh harap.

“Mmm...” Mahesa berpikir sejenak, “mungkin nanti malem ya, Dam. Entar gue kabarin lagi,” Mahesa melirik tumpukan berkas di meja kerjanya.

“Oh, oke, Sa. Makasih banyak... Sorry ganggu,” pamit Addam singkat.

“Ya elah. Santai aja, Dam. Kayak sama siapa aja. Oke, bye” Mahesa mengakhiri sambungan telpon itu dengan sebuah pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

‘Kenapa, ya? Gak biasanya,’ pikirnya.

Addam terlihat bisa bernafas lebih lega setelah sambungan telpon itu berakhir.

“Gimana, Kak?” tanya Naya penasaran.

“Belum, Nay. Aku pengen ngomong langsung, tapi masih nunggu dia senggang dulu. Gak enak rasanya kalau ngomongin hal seserius ini cuma dari telpon,” jawab Addam lesu.

Naya mengangguk. “Oh, oke... Tapi Kak, please libatin aku, ya? Aku beneran khawatir banget sama Astrid ...” pinta Naya pada pria di hadapannya.

“Iya, Nay. Sekarang, kamu pulang aja dulu. Nanti kalau ada kabar lagi dari Mahesa, aku kabarin kamu.” Addam membalas dengan lembut.

“Iya Kak, makasih...” Naya segera berdiri dan bergegas menuju tempat tinggalnya lagi.

Sementara itu, Addam masih duduk di ambang pintu dengan pikiran yang terus mengawang jauh. Sejak tadi, ia tak berhenti bertanya-tanya, kenapa semua kejadian ini terasa sangat janggal?

Saat itu, Addam kembali teringat pesan aneh yang beberapa minggu lalu diterimanya dari sebuah akun anonim.

Awalnya Addam mengabaikan pesan itu karena pengirimnya anonim dan Addam mengira itu adalah akun palsu yang sedang iseng. Dan tentang foto itu, Addam juga berpikir bahwa bisa saja foto itu hanyalah rekayasa AI alias kecerdasan buatan.

Kemudian, beberapa hari sebelum Adam pindah ke area kontrakannya sekarang, akun anonim itu mengirim tautan berita tentang penemuan jasad wanita yang mengenakan gaun berwarna putih di daerah Jakarta Barat. Sebuah foto seorang wanita yang tubuhnya terikat di dalam koper juga dikirimkan oleh akun itu.

Terakhir, akun anonim itu mengirim Addam sebuah pesan teks yang isinya: “Masih tak mau menuruti ucapanku?”

Pada titik itu Addam benar-benar dihadapkan dengan ketakutan yang luar biasa. Kenapa seseorang mengirimnya pesan misterius itu? Siapa orang itu? Kenapa orang itu seolah memang menargetkan Addam dan Astrid?

Dan sekarang ini, ketika Addam tengah diliputi kebingungan tentang nasib Astrid, sebuah pesan dari akun yang sama juga kembali Addam terima.

@ 1111worst || Apa kau suka kejutan dariku?

Isi pesan itu benar-benar mengejutkan Addam. Jantungnya seperti berhenti berdetak ketika pria itu membaca kata demi kata yang dikirimkan padanya. Sesaat kemudian gurat wajahnya terlihat menegang.

‘Apa selama ini, orang ini mengintaiku?’ pikir Addam.

“Di mana Astrid?” Addam membalas pesan dari akun anonim itu dengan amarah yang menyala-nyala.

Tak butuh waktu lama, akun anonim itu akhirnya membalas pesan Addam.

@ 1111worst || “Adikmu yang cantik ini ada di tempat yang sangat dia sukai. Jika kau ingin menemuinya, datanglah saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Oh iya, gadis di sebelahmu terlihat lumayan juga…”

Addam berdecak. Rasanya akan sia-sia saja jika dirinya terus membalas pesan tak masuk akal itu. Karenanya, Addam menekan ikon berbentuk telpon dan mencoba tersambung dengan si pengirim pesan itu.

Namun, usahanya juga tak membuahkan hasil yang diharapkan. Sebab alih-alih terhubung dengan seseorang di sebrang sana, Addam justru kembali mendapat pesan yang membuat dadanya terasa sesak.

Akun anonim itu lalu mengirimkan sebuah foto yang sama dengan foto yang diterima Naya melalui paket itu. Sebuah pesan baru juga menyusul foto yang dikirimkannya barusan.

@ 1111worst || Lihat. Dia bahkan terlihat sangat pintar berpose!

Addam menggenggam ponselnya kuat-kuat. Nafasnya semakin terasa berat. Kali ini air yang menerobos jatuh dari pelupuk matanya muncul bukan hanya karena rasa sedih, air mata itu juga hadir seolah tengah meredam kemarahan yang sangat membara dalam hatinya.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!