Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hari-hari berikutnya aku bekerja dengan sangat keras. Pagi sampai malam aku habiskan waktu di dapur kecilku, menyiapkan ayam geprek yang kini semakin banyak peminatnya. Bahkan Alea terpaksa aku titipkan kepada tetangga. Nanti setiap bulan aku akan membayarnya, yang penting Alea tetap terjaga dengan baik saat aku bekerja.
Meski terasa berat meninggalkan Alea, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus kuat. Aku harus bisa mengumpulkan uang itu.
Syukurlah aku tidak sendirian.
Leon sering datang membantu. Kadang dia mengantarkan pesanan, kadang juga membantu menyiapkan bahan di dapur. Walau sering mengeluh karena kepedasan saat menggoreng ayam, dia tetap saja datang hampir setiap hari.
“Ran, kalau kamu terus kerja kayak gini bisa sakit,” katanya suatu malam saat melihatku masih membungkus pesanan yang belum selesai.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Kalau aku berhenti, uangnya gak akan cukup.”
Leon menghela napas, tapi dia tidak membantah lagi.
Arumi juga banyak membantu. Dia yang mengurus pesanan online dan promosi di media sosial. Berkat dia, warung ayam geprekku semakin dikenal banyak orang.
Pesanan datang silih berganti.
Kadang aku sampai tidak sempat duduk.
Hari demi hari berlalu dengan sangat melelahkan, tetapi setiap kali melihat kotak uang yang semakin penuh, hatiku terasa sedikit lega.
Sampai akhirnya, pada suatu malam aku menghitung semua uang yang berhasil kukumpulkan.
Tanganku gemetar.
“Tiga puluh juta…” gumamku pelan.
Mataku berkaca-kaca.
Semua kerja keras ini akhirnya tidak sia-sia. Aku berhasil mengumpulkan uang yang mereka minta.
Leon yang berdiri di dekatku tersenyum bangga.
“Lihat kan, kamu pasti bisa, Ran.”
Aku menatap uang itu lama sekali.
Bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi karena setiap lembar uang itu adalah bukti perjuanganku… untuk hidup bebas dari Bram.
--
Hari berikutnya Leon mengantarku ke kedai seperti biasa. Pagi itu jalanan masih cukup sepi. Aku duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilku, sementara Leon menyetir dengan santai.
“Aneh,” gumam Leon tiba-tiba.
Aku menoleh. “Aneh apanya?”
“Kedai kamu makin terkenal, pesanan makin banyak… tapi pemiliknya malah makin kurus.”
Aku mendengus pelan. “Ya capek kerja, bukan kayak dokter yang kerjanya cuma duduk nulis resep.”
Leon langsung menoleh cepat. “Eh, siapa bilang? Dokter juga capek tahu. Apalagi kalau pasiennya keras kepala.”
“Contohnya?”
Leon melirikku sekilas lalu tersenyum miring.
“Kamu.”
Aku langsung mengerutkan dahi. “Loh? Aku kan bukan pasien kamu.”
“Iya sih,” katanya santai. “Tapi kalau kamu sakit, yang paling panik pasti aku.”
Aku langsung terdiam sebentar.
“Kenapa kamu yang panik?” tanyaku pura-pura biasa.
Leon terkekeh kecil. “Ya masa tetangga kamu.”
Aku memalingkan wajah ke jendela, mencoba menyembunyikan senyum yang tiba-tiba muncul.
Mobil berhenti di depan kedai.
Saat aku hendak turun, Leon tiba-tiba memanggilku.
“Ran.”
Aku menoleh. “Apa?”
Leon menatapku sebentar, lalu berkata dengan nada santai,
“Kalau suatu hari nanti kamu sudah sukses… jangan lupa ya.”
“Lupa apa?”
“Kalau dulu ada dokter ganteng yang tiap hari nganterin kamu.”
Aku langsung melotot. “Ganteng dari mana?”
Leon pura-pura kaget. “Loh? Kamu baru sadar sekarang?”
Aku spontan tertawa.
“Ayo cepat turun,” katanya sambil tersenyum. “Nanti aku telat praktik gara-gara nganterin bos ayam geprek.”
Aku membuka pintu mobil, tapi sebelum benar-benar turun aku berkata pelan,
“Leon.”
“Hm?”
“Makasih ya.”
Leon hanya tersenyum kecil, tapi entah kenapa tatapannya membuat pipiku terasa hangat.
“Kalau mau berterima kasih,” katanya santai,
“nanti traktir aku ayam geprek level 10.”
Aku langsung melotot lagi.
“Kamu mau mati ya makan level 10?”
Leon tertawa keras.
Aku pun turun dari mobil Leon lalu masuk ke dalam kedaiku. Dari luar saja sudah terdengar suara penggorengan yang berisik dan aroma ayam goreng yang menggoda.
Begitu aku masuk, Arumi yang sedang membungkus pesanan langsung menoleh padaku dengan senyum jahilnya.
“Wah wah wah…” katanya sambil menyipitkan mata. “Diantar dokter lagi nih.”
Aku langsung mengerutkan dahi. “Ih apaan sih.”
Arumi mendekat sambil melipat tangan di dada.
“Setiap pagi diantar, setiap malam dijemput. Jangan-jangan bukan cuma pelanggan ayam geprek yang nempel, tapi dokternya juga.”
Aku langsung menyikut lengannya pelan.
“Ngaco kamu. Dia cuma bantuin.”
Arumi terkekeh.
“Bantuin apa? Antar jemput atau… jaga hati?”
Pipiku langsung terasa hangat.
“Arumi!” protesku.
Arumi malah makin menggoda.
“Tadi aku lihat loh dari jendela. Kalian ngobrol di mobil lama banget. Terus kamu turun sambil senyum-senyum sendiri.”
Aku langsung gugup.
“Mana ada!”
Arumi mendekat lagi sambil berbisik jahil,
“Rania… kamu salting ya?”
Aku spontan mengambil lap dapur lalu melemparnya ke arah Arumi.
“Kerja sana! Pesanan banyak tuh!”
Arumi tertawa keras sambil menghindar.
“Iya iya bos ayam geprek. Tapi satu hal…”
“Apa lagi?” kataku kesal.
Arumi tersenyum lebar.
“Dokter Leon itu… kalau lihat kamu matanya beda loh.”
Aku yang sedang mengambil ayam goreng langsung berhenti sebentar.
“Beda gimana?” tanyaku pelan tanpa sadar.
Arumi menyenggol lenganku sambil tersenyum nakal.
“Kayak orang yang lagi jatuh cinta.”
Aku langsung salah memegang penjepit ayam sampai hampir menjatuhkan ayam goreng.
Arumi makin tertawa melihat wajahku yang langsung memerah.
Karyawan-karyawan yang sedang bekerja di dapur ternyata ikut mendengarkan ucapan Arumi. Mereka langsung saling pandang lalu tersenyum-senyum menahan tawa.
Salah satu dari mereka, Dika, bahkan sampai berbisik ke temannya, tapi cukup keras hingga aku mendengarnya.
“Pantes tiap pagi ada mobil dokter parkir depan kedai,” katanya sambil nyengir.
Aku langsung menoleh tajam.
“Dika!”
Dia langsung pura-pura sibuk membungkus pesanan.
“Iya bu bos… saya kerja kok,” katanya cepat, tapi senyumnya masih terlihat.
Arumi malah menepuk meja sambil tertawa.
“Lihat kan! Bukan cuma aku yang sadar.”
Aku menghela napas panjang sambil menutup wajah sebentar karena malu.
“Kalian ini kerja atau gosip sih?” gerutuku.
Karyawan lain, Santi, ikut nimbrung sambil tertawa kecil.
“Kerja kok, Bu. Tapi kalau bos diantar dokter ganteng tiap hari, ya susah juga nggak diperhatiin.”
“Dia bukan apa-apa!” seruku cepat.
Arumi langsung menaikkan alisnya.
“Oh iya? Bukan apa-apa?”
Aku langsung terdiam.
Arumi mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil berbisik pelan tapi sengaja dibuat dramatis.
“Tapi kalau dia tiba-tiba nembak kamu… kamu nolak?”
Aku langsung membeku.
Beberapa karyawan yang mendengar langsung menahan tawa sambil menunggu jawabanku.
“Arumi!” protesku lagi dengan wajah memerah.
Arumi malah tertawa puas.
“Ih lihat tuh! Bos kita beneran salting!”
Suasana dapur langsung ramai dengan tawa kecil para karyawan, sementara aku hanya bisa menggeleng sambil menutupi pipiku yang terasa panas.
“Udah sana kerja, Dika! Sebentar lagi kamu delivery!” seruku sambil melipat tangan di dada.
Dika yang sedang memegang kantong pesanan langsung berdiri tegak seperti tentara.
“Siap bu dokter— eh Bu bos!” serunya cepat.
Suasana dapur langsung hening satu detik.
“DIKA!!” bentakku.
Arumi langsung menutup mulutnya menahan tawa, sementara karyawan lain sudah gemetar menahan ketawa.
Dika langsung meringis lebar sambil menggaruk tengkuknya.
“Iya bos, maaf… refleks,” katanya.
“Refleks apanya?!”
Arumi akhirnya tidak tahan lalu tertawa keras.
“Refleks manggil kamu bu dokter kali, Ran. Kan tiap hari bareng dokter.”
Aku langsung mengambil sendok kayu di meja.
“Arumi kamu juga!”
Dika buru-buru mengangkat kedua tangannya.
“Ampun bos! Saya delivery aja deh daripada digeprek beneran!”
“Cepat pergi sana!” kataku.
“Iya bos!” serunya sambil mengambil motor dan pesanan.
Sebelum benar-benar pergi, Dika masih sempat berkata sambil nyengir,
“Kalau nanti nikah sama dokter, jangan lupa undangannya ya bos!”
Aku langsung mengambil lap dapur dan melemparnya.
“PERGI SANA!”
Dika langsung kabur keluar kedai sambil tertawa.
Arumi yang masih tertawa sampai memegang perut menepuk pundakku.
“Ran… serius deh…”
“Apa lagi?” kataku kesal tapi malu.
Arumi menyeringai nakal.
“Kayaknya sebentar lagi status kamu bukan bu bos lagi…”
Aku menyipitkan mata.
“Terus?”
Arumi mendekat lalu berbisik dramatis,
“Tapi… Bu dokter.”
****