Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12
...MASALAH HATI YANG TAK TERENCANA...
Hari itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah waktu ikut bingung dengan apa yang sedang terjadi di kepala Ryn Moa. Sejak pagi, sejak drama sarapan bersama Namjoon yang mendadak berubah jadi tontonan gratis bagi satu geng penuh rasa ingin tahu dan dua pria yang berpura-pura tak peduli tapi jelas mengamati dari kejauhan, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan satu hal. Bukan dua. Tapi campuran perasaan yang terlalu ramai untuk hati seorang gadis yang baru dua bulan menginjakkan kaki di kampus ini.
Ia bahkan tidak benar-benar fokus di kelas. Pena di tangannya bergerak otomatis, menyalin tulisan di papan tulis tanpa makna. Sesekali ia menatap kosong ke depan, lalu kembali teringat ekspresi Namjoon pagi tadi, tenang, dewasa, dengan senyum tipis yang membuat jantungnya melakukan salto kecil tanpa izin. Dan seperti adegan potong cepat dalam drama, wajah lain muncul di pikirannya. Suka Taehyung, Dekat dengan J-Hope, Mulai nyaman dengan Namjoon. Dan semuanya terjadi hanya dalam kurun dua bulan sejak ia masuk sebagai mahasiswa baru.
Jika ada buku panduan hidup berjudul “Apa yang Harus Dilakukan Jika Tiga Pria Datang Bersamaan”, Ryn Moa yakin ia akan membelinya dalam keadaan panik. Tidak ada pelajaran hidup yang mempersiapkannya untuk skenario ini. Ia pernah membayangkan kehidupan kuliah, bangun pagi dengan susu atau kopi sachet, duduk di kelas, mencatat, pulang, mengeluh tugas. Paling banter jatuh cinta diam-diam pada satu orang Taehyung, dan selesai.
Nyatanya, semesta seperti sedang iseng. Itulah sebabnya, begitu jam kosong tiba, Ryn Moa kabur ke tempat favoritnya yang baru ia temukan seminggu lalu, lapangan rumput belakang perpustakaan. Tempat itu agak tersembunyi, jarang dilewati mahasiswa kecuali mereka yang benar-benar ingin menyendiri atau, seperti Ryn Moa, ingin mengeluh pada langit tanpa dihakimi. Ia menjatuhkan diri ke rumput dengan desahan panjang, tubuhnya telentang, rambutnya terurai acak. tercium samar bau tanah dan rumput segar bercampur dengan aroma buku tua dari arah gedung perpustakaan. Matahari siang tidak terlalu terik, cukup hangat untuk membuat orang malas berpikir.
Ryn Moa berbaring telentang di lapangan rumput belakang perpustakaan, buku catatan menutupi wajahnya. Enam temannya duduk mengelilingi seperti penjaga ritual kurban. Formasi mereka memang terlihat mencurigakan dari jauh. Enam gadis duduk melingkar, ekspresi beragam dari prihatin sampai terhibur, sementara satu korban tergeletak di tengah, menyerah pada takdir. Ida yang duduk paling dekat menggeser posisi, menatap Ryn Moa dengan alis berkerut. Dari semuanya, Ida selalu jadi yang paling sensitif terhadap perubahan emosi.
“Ryn Moa…” Ida menatapnya prihatin. “Kamu punya masalah berat ya?”
Dari balik buku catatan yang menutup wajahnya, terdengar dengusan kecil. Ryn Moa tidak menggerakkan tubuhnya, hanya sedikit memiringkan kepala seolah malas menghadapi dunia.
“Ini semua salah kampus ini. Cowoknya aneh-aneh…”
Windi langsung menyambar dengan tawa pendek, matanya berbinar penuh semangat gosip. Ia memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menusuk tepat sasaran.
“Yang aneh kamuuu,” potong Windi. “Baru dua minggu udah nabrak Namjoon dua kali, ditaksir J-Hope juga kayaknya… dan sekarang Taehyung juga kayaknya mulai ngeh kamu ada.”
Kalimat itu menghantam Ryn Moa lebih keras dari yang ia akui. Ia mengerang pelan, menekan buku catatan lebih kuat ke wajahnya, seolah itu bisa menghalangi kenyataan.
“Kukira hidup kuliah akan tenang…” Ryn Moa menggerutu.
Nada suaranya lirih, hampir seperti keluhan pada semesta yang tidak mendengarkan perjanjian awal. Arella yang duduk sambil selonjoran mengunyah roti dengan santai, menatap Ryn Moa dengan ekspresi datar tapi tajam. Ia tipe yang selalu ingin memastikan fakta sebelum menarik kesimpulan.
“Ryn Moa, kamu naksir Taehyung kan?” Arella memastikan sambil mengunyah roti.
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya membawa sejarah panjang. Tahun-tahun menatap dari jauh, menyebut nama itu dalam hati, dan mengira perasaan tersebut aman karena satu arah.
“Iya,” jawab Ryn Moa jujur. “Sejak SMA. Dia itu crush bertahun-tahun.”
Melly yang duduk di sebelah Arella mengangguk pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya penuh rasa ingin tahu yang lembut, tidak menghakimi.
“Kamu deket sama J-Hope, kan?” Melly menambah.
Ryn Moa menghela napas panjang. J-Hope selalu terasa seperti matahari, hangat, ceria, dan entah bagaimana selalu muncul di waktu yang tepat.
“Iya… karena dia gampang diajak ngobrol…” Ryn Moa menutup wajahnya makin dalam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi semua tahu arti di baliknya. Gampang diajak ngobrol berarti nyaman. Dan nyaman adalah bahaya terbesar dalam urusan perasaan. Celine yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara, nadanya tenang seperti sedang mengamati eksperimen sosial.
“Dan kamu nyaman sama Namjoon?” Celine ikut nimbrung.
Pertanyaan terakhir itu seperti tombol pemicu. Ryn Moa mendadak bangkit setengah duduk, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke rumput dengan dramatis. Ryn Moa mengangkat kedua tangan ke udara.
“SAYA TIDAK MINTA INI!!”
Suara teriakannya menggema sedikit, membuat dua mahasiswa yang lewat di kejauhan menoleh heran sebelum buru-buru melanjutkan langkah.
Enam sahabatnya tertawa serempak. Tawa itu pecah, keras dan jujur. Ada yang sampai memegangi perut, ada yang hampir menjatuhkan botol minum. Bagi mereka, kekacauan Ryn Moa adalah hiburan terbaik hari itu. Ody yang duduk bersila sambil memainkan rumput di tangannya akhirnya angkat bicara, mencoba terdengar bijak meski senyumnya masih mengembang dan menyimpulkan,
“Jadi kamu tu kaya drama Korea versi murah, eh, maksudku, versi realita.”
Kalimat itu sukses membuat tawa kedua meledak. Bahkan Ryn Moa sendiri tidak bisa menahan senyum pahit dari balik buku catatannya.
“Tolooong…”. Ryn Moa memohon pada langit.
Ia benar-benar menatap ke atas sekarang, buku catatan tergeser ke samping, memperlihatkan wajahnya yang lelah tapi jujur. Awan putih melayang tenang, seolah mengejek kekacauan batinnya. Tapi masalah hati rupanya belum selesai hari itu. Karena jauh dari sana, di sudut kampus yang berbeda, dua pasang mata kembali bertemu tanpa sengaja. Taehyung yang bersandar di dinding gedung fakultas, dengan tangan dimasukan ke saku jaket, menatap ke arah lapangan belakang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dan J-Hope yang baru saja keluar dari gedung latihan, senyumnya sedikit memudar saat melihat arah pandang yang sama. Sementara itu, Namjoon dengan kopi dingin di tangannya, berhenti melangkah sejenak, alisnya berkerut samar saat mendengar suara tawa dari kejauhan. Entah kenapa, ia merasa suara itu terlalu familiar.
Dan Ryn Moa?
Ia masih di sana, berbaring di rumput, dengan segala kegundahan hati nya, terhadap tiga pria yang tiba-tiba bergantian mengusik pikiran nya. Ia tidak tahu bahwa semesta belum selesai mempermainkannya.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....