Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: TABIR KELAM MASA LALU
Revan mematikan mesin mobil sepenuhnya. Suasana di dalam kabin menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan deru napas Valerie yang memburu karena rasa ingin tahu. Revan menatap lurus ke depan, jemarinya yang terluka mencengkeram kemudi dengan erat.
"Erie, kau selalu bertanya-tanya kenapa Kakek begitu keras padamu, tapi di sisi lain dia memberiku kekuasaan penuh untuk menjagamu," suara Revan terdengar berat dan serak.
Valerie mengangguk pelan. "Aku pikir itu karena dia tidak mempercayaiku. Dia pikir aku anak bodoh yang hanya bisa merusak nama baik keluarga."
"Bukan kau yang dia takutkan, Erie. Tapi Adrian."
Valerie tersentak. "Kak Adrian? Tapi dia cucu kesayangan Kakek. Dia sukses, dia dokter, dia..."
"Dia berbahaya," potong Revan cepat. Ia menoleh ke arah Valerie dengan tatapan yang sangat kelam. "Kakek tahu sesuatu yang tidak kau ketahui. Sejak remaja, Adrian memiliki kecenderungan manipulatif yang ekstrem. Dia terobsesi pada kekuasaan dan kendali. Kakek menemukan bukti bahwa Adrian secara perlahan mencoba meracuni pikiran kedua orang tuamu untuk membenci setiap langkahmu, agar dia menjadi satu-satunya ahli waris yang tersisa."
Valerie menggelengkan kepala, tidak percaya. "Tidak mungkin... Kak Adrian memang kaku, tapi dia tidak mungkin sejahat itu."
"Kakek memiliki catatan medis rahasia Adrian," lanjut Revan. "Adrian memiliki gangguan kepribadian antisosial. Dia tidak memiliki empati. Itulah alasan Kakek memintaku kembali dari London. Bukan untuk menjadi 'anjing penjaga' perusahaan, tapi untuk menjadi tameng bagimu. Kakek tahu, jika harta itu jatuh ke tangan Adrian tanpa ada orang yang mengendalikan hukumnya, kau tidak akan pernah selamat. Dia akan menyingkirkanmu demi penguasaan aset sepenuhnya."
Revan mengambil sebuah amplop kecil dari laci mobil dan menyerahkannya pada Valerie. Di dalamnya terdapat surat wasiat pribadi Kakek yang ditulis dengan tangan yang gemetar.
"Revan, nikahi Valerie. Bukan untuk mengekangnya, tapi untuk memberikan dia perlindungan hukum yang sah agar Adrian tidak bisa menyentuhnya secara finansial maupun fisik. Hanya kau yang bisa menahan kegilaan kakak kandungnya sendiri."
Valerie membaca surat itu dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh. Selama ini ia mengira pernikahan ini adalah hukuman karena kecerobohannya di bar, namun ternyata ini adalah rencana penyelamatan terakhir dari kakeknya yang sedang sekarat.
"Jadi... malam itu di bar..." Valerie berbisik.
"Malam itu, Arsenio dan Adrian bekerja sama," jelas Revan. "Arsenio ingin memilikimu untuk hartamu, dan Adrian ingin kau jatuh dalam skandal agar Kakek mencoret namamu dari ahli waris. Mereka tidak menyangka aku akan datang dan justru mengambil tanggung jawab itu dengan menikahimu secara resmi. Pernikahan ini menghancurkan rencana Adrian untuk membuangmu ke jalanan."
Valerie terisak. Ia menyadari betapa sendirinya Revan selama ini. Revan membiarkan dirinya dihina sebagai "anak ART yang haus kekuasaan", dan dibenci oleh Valerie, hanya demi menjaga rahasia kelam kakaknya agar Valerie tidak hancur karena kenyataan pahit itu.
"Kenapa Mas tidak bilang dari awal?" tanya Valerie terisak.
Revan mengusap air mata di pipi Valerie dengan ibu jarinya yang kasar. "Karena aku ingin kau tetap melihat kakakmu sebagai sosok yang kau cintai, Erie. Aku tidak ingin merenggut satu-satunya keluarga yang kau pikir peduli padamu. Tapi sekarang, mereka sudah mulai bergerak terang-terangan. Aku tidak bisa lagi diam."
Valerie menatap Revan dengan pandangan baru. Pria di hadapannya bukan lagi "Paman Tua" yang menyebalkan, melainkan satu-satunya manusia yang bersedia menjadi musuh dunia demi keselamatannya.
Malam itu, hujan turun membasuh kota, menciptakan suasana melankolis di dalam apartemen. Valerie tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada surat wasiat Kakek dan pengakuan Revan di dalam mobil tadi. Ia berjalan perlahan menuju ruang kerja Revan, berniat mengembalikan amplop wasiat itu.
Pintu ruang kerja sedikit terbuka. Valerie melihat Revan duduk di kursi kebesarannya, namun pria itu tidak sedang bekerja. Ia sedang menatap sebuah foto kecil yang usang di bawah lampu meja yang temaram. Wajah Revan tampak begitu rapuh, sangat jauh dari imej dosen hukum yang tangguh.
"Mas?" panggil Valerie pelan.
Revan tersentak, dengan cepat ia menyelipkan foto itu ke dalam laci, namun Valerie sudah terlanjur melihatnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengintip," ucap Valerie sambil mendekat. "Tadi aku melihat foto itu... itu ibumu, kan?"
Revan terdiam cukup lama, napasnya terasa berat. Ia kemudian menarik laci itu kembali dan mengeluarkan foto seorang wanita berseragam pelayan yang sedang tersenyum lembut, menggendong seorang anak laki-laki kecil—Revan.
"Namanya Sarah," suara Revan serak. "Dia bukan hanya pelayan di rumahmu, Erie. Dia adalah wanita yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menutupi dosa besar ayahmu."
Valerie mengerutkan kening, jantungnya berdegup kencang. "Dosa apa, Mas?"
Revan bangkit, berjalan ke arah jendela yang basah oleh hujan. "tujuh belas tahun lalu, ayahmu terlibat dalam skandal penggelapan dana yayasan panti asuhan yang dikelola keluarga Adiwijaya. Kakekmu sangat murka. Ayahmu hampir dipenjara dan dicoret dari ahli waris. Tapi ibuku... demi kesetiaannya pada Kakek yang telah menolongnya saat ia sebatang kara, ia dipaksa memberikan kesaksian palsu bahwa dialah yang melakukan kesalahan administratif itu."
Valerie menutup mulutnya dengan tangan, syok. "Jadi... ibumu difitnah demi menyelamatkan ayahku?"
"Bukan hanya difitnah, Erie. Ibuku harus menanggung malu, dihina oleh seluruh keluarga besar, dan akhirnya jatuh sakit karena depresi dan kelelahan kerja. Dan ayahmu? Dia bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih. Baginya, ibuku hanyalah alat yang bisa dibeli dengan uang."
Air mata Valerie jatuh. "Mas... kenapa kau masih mau menolongku?" bisik Valerie terisak. "Keluargaku sudah menghancurkan ibumu. Kau punya setiap alasan untuk membiarkan aku dihancurkan oleh Kak Adrian. Kau punya hak untuk membenciku."
Revan berbalik. Ia melangkah mendekati Valerie, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya yang hangat. Matanya yang biasanya dingin kini memancarkan kesedihan yang mendalam sekaligus kasih sayang yang tulus.
"Karena kau tidak sama dengan mereka, Erie," bisik Revan. "Malam ketika ibuku meninggal, kau adalah satu-satunya orang di rumah itu yang menangis di samping tempat tidurnya. Kau yang masih kecil saat itu memberikan sekuntum bunga mawar plastik padanya dan berkata, Bi Sarah, jangan pergi, nanti tidak ada yang menjagaku lagi.'"
Revan mengusap air mata Valerie dengan ibu jarinya. "Saat itu aku bersumpah, jika aku berhasil menjadi pria yang kuat, aku akan menjadi jawaban dari permintaanmu. Aku akan menjagamu, bukan karena aku berhutang pada Kakek, tapi karena kau adalah satu-satunya cahaya di rumah yang gelap itu."
Valerie pecah dalam tangis. Ia menghambur ke pelukan Revan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia merasakan detak jantung Revan yang stabil, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Revan memeluknya erat, mencium puncak kepala Valerie dengan penuh pengabdian. "Jangan pernah merasa bersalah atas dosa orang tuamu, Erie," gumam Revan di telinganya. "Dendam itu sudah lama mati. Yang tersisa sekarang hanyalah janjiku padamu."
Momen itu mengubah segalanya. Valerie menyadari bahwa cinta Revan bukan tumbuh dari ambisi, melainkan dari pengorbanan yang luar biasa.