NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Hujan Dan Jarak Yang Terbentang

Langit Jakarta sore itu seolah mengerti suasana hati Hannah Humaira. Awan kelabu menggantung rendah, tebal dan berat, siap menumpahkan isinya kapan saja. Angin berhembus kencang, menerbangkan daun-daun kering di pelataran Fakultas Ilmu Budaya, menciptakan suasana melankolis yang pekat.

Hannah duduk sendirian di halte bis kampus. Kuliah sudah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Rere dan Sinta sudah pulang lebih dulu setelah gagal membujuk Hannah untuk ikut nongkrong di kafe dekat kampus. Hannah menolak dengan alasan klasik: "kurang enak badan".

Fisiknya sehat, tapi hatinya yang sakit.

Sejak bangun tidur tadi pagi, bayangan mimpi buruk itu tidak mau pergi. Sosok wanita tanpa wajah dengan gaun merah marun itu terus menghantui pikirannya. Setiap kali ponselnya bergetar, Hannah takut itu adalah pesan dari Akbar yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menjemput karena ada urusan dengan "wanita lain".

Ketakutan irasional itu mencekik logikanya. Hannah tahu itu konyol. Hannah tahu Akbar adalah suami yang setia. Tapi rasa insecure yang sudah tertanam bahwa dia hanyalah bocah ingusan yang tidak selevel dengan Akbar menyuburkan benih mimpi itu menjadi pohon keraguan raksasa.

Drrt... Drrt...

Ponsel di pangkuan Hannah bergetar. Nama "Mas Akbar" muncul di layar.

Jantung Hannah berdegup kencang, namun bukan karena antusiasme seperti biasanya. Ada rasa enggan yang menyeruak. Ia tidak ingin melihat wajah Akbar sekarang. Ia takut jika melihat wajah suaminya, ia akan teringat senyum Akbar pada wanita berbaju merah di mimpinya itu. Ia belum siap menghadapi rasa sakit imajiner itu.

Hannah menggeser layar untuk membaca pesan.

Mas Akbar:

Dek, Mas sudah jalan dari kantor. Macet sedikit di tol dalam kota. Kamu tunggu di lobi fakultas ya, jangan di pinggir jalan. Mendung banget ini.

Hannah menatap pesan itu lama sekali. Jempolnya melayang di atas keyboard, ragu.

Haruskah ia menurut? Masuk ke mobil mewah yang nyaman, mencium tangan suaminya, dan berpura-pura baik-baik saja?

Tidak, batin Hannah berontak. Aku butuh ruang. Aku butuh sendiri.

Dengan tangan sedikit gemetar, Hannah mengetik balasan.

Hannah:

Nggak usah dijemput, Mas. Hannah pulang sendiri saja.

Status pesan berubah menjadi centang dua biru. Detik berikutnya, status Akbar berubah menjadi Typing... yang cukup lama, lalu berhenti, lalu Typing... lagi. Hannah bisa membayangkan kebingungan di wajah suaminya.

Mas Akbar:

Lho? Kenapa? Mas sudah setengah jalan ini. Hujan sebentar lagi turun, Dek. Bahaya kalau naik ojek.

Hannah:

Hannah mau mampir toko buku dulu, cari referensi tugas. Lama. Mas langsung pulang saja istirahat. Jangan dipaksa ya, Mas. Hannah lagi pengen sendiri.

Hannah menekan tombol kirim dengan perasaan campur aduk. Ia berbohong. Ia tidak berniat ke toko buku. Ia hanya ingin merasakan menjadi Hannah yang "biasa" lagi. Hannah yang mandiri, yang berdesakan di angkutan umum, yang tidak bergantung pada fasilitas mewah suaminya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa tanpa Akbar pun, ia bisa bertahan hidup.

Ponselnya hening selama dua menit penuh. Akbar pasti sedang menimbang-nimbang di seberang sana. Akbar adalah pria yang logis, tapi juga sangat menghargai keputusan orang lain.

Akhirnya, balasan itu datang.

Mas Akbar:

Ya sudah kalau itu maumu. Mas tidak akan memaksa. Tapi tolong, pastikan HP aktif terus dan kabari kalau sudah naik kendaraan. Hati-hati, Humaira.

Hannah menghela napas panjang, separuh lega, separuh kecewa. Kecewa karena Akbar menyerah begitu saja? Entahlah. Hati wanita memang rumit.

Tak lama kemudian, sebuah bus kota berwarna oranye berhenti di halte. Hannah naik, menyelip di antara kerumunan penumpang yang berbau keringat dan debu. Ia mendapatkan tempat duduk di pojok belakang.

Bus melaju, berguncang-guncang melewati jalanan aspal yang mulai basah oleh gerimis. Hannah menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin.

Di dalam bus yang bising ini, Hannah melihat realitas. Di depannya ada seorang ibu yang memangku anak balita yang menangis, di sampingnya ada mahasiswa yang tertidur kelelahan dengan mulut terbuka. Ini adalah dunia nyata. Dunia yang jauh dari kemewahan mobil SUV Akbar yang wangi dan senyap.

Apa aku pantas berada di sisi Mas Akbar? pertanyaan itu muncul lagi.

Mimpi semalam seolah menjadi peringatan alam bawah sadar: "Lihat dirimu, Hannah. Kamu cuma gadis biasa. Sementara Akbar adalah raja di menaranya. Cepat atau lambat, dia akan mencari ratu yang sesungguhnya. Wanita berbaju merah itu... mungkin adalah masa depan yang tak terelakkan."

Air mata Hannah menetes, menyatu dengan rintik hujan yang mulai menderas di luar jendela. Sepanjang perjalanan satu jam itu, Hannah membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan yang tak beralasan, menikmati peran sebagai korban dari perasaannya sendiri.

Sementara itu, di rumah minimalis bernuansa monokrom.

Muhammad Akbar sudah sampai lebih dulu. Ia duduk di sofa ruang tamu, masih mengenakan pakaian kerjanya. Lampu ruang tamu sengaja ia nyalakan terang benderang, berharap bisa mengusir suasana suram yang dibawa Hannah sejak pagi tadi.

Akbar menatap layar ponselnya. Pukul lima sore. Seharusnya Hannah sudah sampai jika tidak macet parah.

Pria itu memijat pelipisnya. Ia bingung. Sangat bingung.

Sebagai seorang insinyur dan manajer proyek, Akbar terbiasa menghadapi masalah yang jelas. Beton retak? Suntik epoksi. Besi kurang? Tambah pesanan. Anggaran bocor? Audit ulang. Semuanya ada solusi logisnya.

Tapi menghadapi diamnya Hannah? Akbar merasa seperti kontraktor yang disuruh membangun gedung tanpa gambar desain. Blind.

"Apa salahku?" Akbar bertanya pada dirinya sendiri untuk keseratus kalinya hari ini.

Apakah karena kejadian makan malam dengan Annisa minggu lalu? Tapi Hannah sudah tertawa setelah itu. Apakah karena dia kurang memberi uang jajan? Rasanya kartu kredit tambahan yang ia berikan belum tersentuh. Atau Hannah sakit? Tapi Hannah bilang hanya ingin ke toko buku.

"Wanita," desah Akbar frustrasi. "Rumitnya ngalahin hitungan struktur jembatan gantung."

Meski begitu, Akbar tidak marah. Sedikit pun tidak. Ia ingat pesan Abah Hannah waktu itu: "Hannah itu anak tunggal, kadang perasaannya halus sekali. Kalau dia ngambek, jangan dilawan keras. Tunggu saja."

Jadi Akbar menunggu. Ia menyiapkan teh hangat di dalam tumbler agar tetap panas saat Hannah datang. Ia bahkan sudah memesan martabak manis keju kesukaan Hannah lewat aplikasi, berharap gula bisa memperbaiki suasana hati istrinya.

Pukul setengah enam sore, suara pagar didorong terdengar.

Akbar langsung berdiri, berjalan menuju pintu utama. Hujan di luar sudah cukup deras.

Pintu terbuka. Sosok Hannah muncul. Gamisnya sedikit basah di bagian bawah, ujung jilbabnya lembap terkena cipratan air. Wajahnya pucat dan lelah, tanpa senyum.

"Assalamualaikum," ucap Hannah lirih, nyaris tak terdengar.

"Wa’alaikumsalam," jawab Akbar lembut. Ia menahan diri untuk tidak langsung memberondong pertanyaan.

Akbar mengambil tas jinjing Hannah yang terlihat berat. "Kehujanan, Dek? Kok basah begini?"

"Sedikit, pas turun dari angkot lari ke pagar," jawab Hannah singkat, menghindari tatapan mata Akbar.

"Mana buku yang kamu beli?" tanya Akbar basa-basi, mencoba mencari topik obrolan netral.

Tubuh Hannah menegang sejenak. Ia lupa kebohongannya.

"Nggak... nggak ada yang cocok, Mas. Stoknya habis," jawab Hannah gugup, lalu buru-buru melepas sepatunya. "Hannah mau mandi dulu. Dingin."

Tanpa menunggu respon suaminya, Hannah berjalan cepat melewati Akbar, menyeberangi ruang tamu, dan masuk ke kamarnya (kamar mereka, karena barang-barang Akbar masih di sana).

Klik.

Suara kunci pintu diputar terdengar jelas di telinga Akbar.

Akbar berdiri mematung di ruang tamu, memegang tas Hannah yang basah. Rasa dingin dari tas itu merambat ke tangannya, lalu ke hatinya.

Pintu itu terkunci lagi. Bukan hanya pintu kamar, tapi pintu hati Hannah yang sempat terbuka lebar minggu lalu, kini tertutup rapat kembali.

Akbar menghela napas panjang, menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan pandangan sendu. Ia tidak akan mengetuk. Ia tidak akan memaksa masuk. Jika Hannah butuh ruang, ia akan memberikannya, meski itu berarti ia harus menahan rindu dan rasa penasaran yang menyiksa sendirian di luar sini.

"Istirahatlah, Humaira," bisik Akbar pada pintu kayu yang bisu itu.

Malam itu, hujan turun semakin deras, seolah menjadi tirai air yang memisahkan dua hati yang sedang berusaha saling mengeja rasa di bawah satu atap yang sama.

Sampai sini mohon klik suka & vote 🙏

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!