NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Ibu kepala sekolah itu bernama Marlina. Ia menghela napas panjang, seolah menarik seluruh beban yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Tangannya gemetar saat menopang cangkir di depannya. Lalu ia mulai bercerita.

“Lima tahun lalu, tepatnya tahun 2019,” katanya pelan. “Ada seorang siswi bernama Nirmala.”

Aku dan Zaki saling pandang, lalu kembali fokus padanya.

“Nirmala anak seorang PSK,” lanjut Marlina, suaranya menurun. “Tapi dia cantik dan sangat pintar. Dia masuk ke SMP Nusantara Global lewat jalur siswa berprestasi.”

Aku mencatat cepat di buku kecilku.

“Aku menyukainya sebagai murid,” kata Marlina jujur. “Alasannya sekolah di sini sangat sederhana. Dia ingin berprestasi, lulus SMP, lanjut SMA, lalu kuliah sambil bekerja. Cita-cita terbesarnya cuma satu, membuat ibunya berhenti menjajakan tubuhnya.”

Mata Marlina mulai berkaca-kaca.

“Sejak kelas tujuh dia selalu juara kelas. Bahkan sempat jadi juara umum. Itu yang jadi awal masalah,” katanya. “Anak-anak dari keluarga kaya tidak terima. Nirmala tidak punya fasilitas apa pun, tidak ikut les mahal, tapi mengungguli mereka di semua mata pelajaran.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah.

“Memasuki kelas delapan, prestasinya anjlok. Tidak masuk peringkat sama sekali. Wajahnya murung, sering melamun. Dan semua itu bermula dari satu nama. Riska.”

Nama itu terasa familiar di kepalaku.

“Riska anak orang kaya. Sejak SD selalu juara umum. Tapi sejak ada Nirmala, dia tersingkir jadi nomor dua,” ujar Marlina. “Diam-diam Riska menyelidiki latar belakang Nirmala. Dan saat tahu Nirmala anak seorang PSK, semuanya berubah.”

Aku bisa menebak ke mana arah ceritanya.

“Teman-teman mulai menjauh. Ada yang merasa jijik, ada yang takut namanya ikut tercemar. Nirmala mulai mengalami perundungan,” lanjut Marlina lirih.

Ia terdiam lama, lalu berkata dengan suara bergetar, “Riska kakeknya seorang jenderal. Ayahnya pengusaha kaya, salah satu donatur besar sekolah ini, masih kerabat dengan pemilik yayasan. Kami hanya pegawai. Setiap kali Riska berbuat keterlaluan, kami memilih diam. Kalau keluarga Riska tahu kami menegurnya, hari itu juga aku pasti dipecat.”

Aku mengangguk. Aku tahu rasanya tak berdaya di bawah tekanan kekuasaan.

“Awal kelas delapan, masuk murid baru bernama Salman,” katanya melanjutkan. “Dia keturunan Sultan Dubai. Tampan, kaya, dan jadi pusat perhatian, termasuk bagi Riska.”

Marlina menarik napas. “Tapi Salman justru tertarik pada Nirmala. Sejak itu, tidak ada yang berani merundung Nirmala. Salman melindunginya. Dia tahu latar belakang Nirmala, tapi tidak pernah merendahkannya.”

Harapan sempat muncul, pikirku. Tapi pasti ada sesuatu yang menghancurkannya.

“Februari 2019,” suara Marlina melemah, “Salman harus ke Dubai selama seminggu.”

Aku menajamkan pendengaran.

“Tanggal sebelas Februari 2019, ibu Nirmala, namanya Lusi, datang ke sekolah membawa sebuah rekaman suara.”

Tanganku berhenti menulis.

“Dalam rekaman itu,” lanjut Marlina sambil terisak, “terdengar jeritan Nirmala. Dia menyebut satu per satu nama orang yang merundungnya. Saat kejadian itu, Nirmala diam-diam menelepon ibunya. Panggilan itu terekam.”

Ruangan terasa semakin sempit.

“Ibu Nirmala datang panik, mencari anaknya. Aku langsung memeriksa CCTV gudang,” kata Marlina, air matanya jatuh. “Dan aku melihat semuanya.”

Ia menutup wajahnya sesaat.

“Nirmala dijambak. Ditampar. Ditendang. Dilempari telur busuk,” suaranya pecah. “Bahkan… bahkan dia dipaksa memakan tikus hidup.”

Dadaku bergejolak menahan amarah.

“Pelakunya dua puluh orang,” lanjut Marlina. “Lima belas siswa dan lima siswi.”

Aku mengepalkan tangan. “Lalu apa yang ibu lakukan?” tanyaku, suaraku bergetar menahan geram.

“Bapak pikir saya bisa apa, Pak,” ucap Ibu Marlina dengan suara bergetar.

Ia menunduk sejenak, lalu menatapku kembali dengan mata yang tampak lelah. “Kalau hanya dipecat, itu tidak masalah, Pak. Tapi mereka itu berkuasa. Saya tahu mereka gila. Dan setelah ini, saya memohon kepada Bapak untuk melindungi keluarga saya,” pintanya tulus, nyaris seperti orang yang sedang menggantungkan hidup pada seutas benang.

Aku menganggukkan kepala pelan. Dalam hati, aku sudah mengambil keputusan. Siapa pun yang berkontribusi pada pemecahan kasus ini akan aku lindungi, apa pun risikonya.

“Lalu bagaimana nasib Nirmala?” tanya Zaki, suaranya terdengar hati-hati.

“Berdasarkan laporan polisi, Nirmala ditemukan tewas akibat kecelakaan di luar kota,” jawab Ibu Marlina lirih.

Nada suaranya datar, namun jelas sekali ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ada sesuatu yang disembunyikan, atau mungkin memang disembunyikan darinya.

“Apakah kasus ini pernah ditangani polisi?” tanyaku sambil menyandarkan punggung ke kursi.

“Pernah,” jawabnya singkat.

Aku mengernyitkan dahi. Seingatku, tidak pernah ada kejadian besar seperti ini tercatat. Zaki tampak berpikir keras. Polsek Pasar Rebo adalah wilayah tugasnya sekarang, meski ia baru satu tahun di sana karena sebelumnya lama bertugas di Polda.

“Terus bagaimana kelanjutannya?” tanyaku penasaran.

“Ibu Lusi datang bersama beberapa orang polisi. Yang saya ingat, nama pimpinan mereka adalah Pak Romi,” jelas Ibu Marlina.

Aku mencoba mengingat nama itu, namun sia-sia. Seolah nama tersebut ditelan bumi. Tidak ada satu pun potongan ingatan yang muncul.

“Lalu apa yang terjadi, Bu?” desakku.

Ibu Marlina mengambil gelas air di hadapannya, meneguknya perlahan, lalu menyeka air mata dengan tisu. Tangannya gemetar.

“Terjadi penangkapan terhadap dua puluh orang siswa. Itu peristiwa besar bagi sekolah kami. Setelah itu, kejadian tersebut kami tutup rapat,” katanya pelan.

Aku sempat merasa lega. Setidaknya, pada saat itu petugas telah melakukan hal yang benar. Namun kelegaan itu segera sirna ketika aku sadar, aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar ini. Aku menoleh ke arah Zaki. Ia hanya menggelengkan kepala, menandakan dirinya juga tidak tahu apa-apa.

“Lalu selanjutnya bagaimana, Bu?” tanyaku lagi.

“Ini yang akan membuat Bapak kaget,” ucap Ibu Marlina.

Rasa penasaranku semakin membuncah. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang tidak masuk akal di balik semua ini.

“Anak-anak itu ditahan hanya satu jam. Setelah itu dibebaskan dengan alasan mereka masih di bawah umur.”

Aku mengangguk pelan. Dilema klasik penanganan kenakalan remaja. Dibiarkan akan membahayakan orang lain, diproses hukum akan dituduh melanggar hak asasi manusia.

“Dan yang lebih gila lagi,” lanjut Ibu Marlina dengan suara bergetar, “seluruh anggota Polsek Pasar Rebo dimutasi ke daerah perbatasan tak lama setelah penangkapan itu. Mereka dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan disebut pelanggaran berat. Kapolsek langsung dipecat, sedangkan Pak Romi dipecat tidak hormat.”

Aku terdiam. Mutasi besar-besaran lima tahun lalu itu memang pernah kudengar. Saat itu, kasusnya disebut sebagai pelanggaran HAM berat. Baru sekarang aku mengetahui cerita sebenarnya.

“Hanya itu yang bisa saya sampaikan, Pak,” katanya pasrah.

Ibu Marlina lalu menyerahkan selembar daftar nama kepadaku. “Ini adalah siswa-siswa yang pernah ditangkap karena melakukan perundungan terhadap Nirmala,” ujarnya lirih.

Aku tahu ia berada di bawah tekanan berat. Kami sama-sama bawahan yang dipaksa patuh pada arahan atasan. Bedanya, untuk kasus ini, mungkin aku akan melabrak semua batasan.

Aku membaca daftar itu. Doni, Alex, Rizki, Rudi, dan Rully. Nama-nama itu benar-benar tercantum, bersama lima belas orang lainnya yang kemungkinan besar akan menjadi target berikutnya.

“Pak, saya mohon,” ucapnya penuh harap. “Lindungi saya dan keluarga saya.”

Aku melirik jam tangan. Jarum pendek dan panjang sudah menunjuk angka sebelas tiga puluh. Waktu kami semakin sempit, sementara masalah justru baru mulai terbuka.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!