Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan yang Bernama Pilihan
Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika Matteo menyadari satu hal yang membuat dadanya mengeras:
rumah tua itu terlalu tenang.
Bukan tenang yang aman.
Tenang yang menunggu.
Ia berdiri di dapur kecil, memeriksa ponsel tanpa sinyal. Carmela masih tertidur di sofa ruang depan, tubuhnya meringkuk, satu tangan menggenggam mantel seolah dunia bisa diremas agar berhenti bergerak. Matteo menatapnya lama—terlalu lama untuk ukuran seseorang yang terbiasa bertindak cepat.
Ia tidak ingin membangunkannya.
Karena begitu Carmela membuka mata, semua keputusan tak terelakkan akan dimulai.
—
Telepon satelit bergetar.
Ricardo.
Matteo menjawab tanpa suara. “Bicara.”
“Dia bergerak,” kata Ricardo tanpa basa-basi. “Bukan ke arahmu. Ke arah masa lalu.”
Matteo menegang. “Maksudmu?”
“Ayah tirinya.”
Dunia berhenti berputar.
“Ayah tirinya sudah mati,” kata Matteo dingin.
“Tidak,” jawab Ricardo. “Dia menghilang. Dan sekarang—dia muncul kembali. Di tangan Lorenzo.”
Matteo menutup mata, rahangnya mengeras. Semua potongan mulai menyatu, dan gambarnya buruk. Terlalu buruk.
“Dia menginginkan apa?” tanya Matteo akhirnya.
Ricardo terdiam sejenak. “Dia menginginkanmu datang. Sendirian.”
—
Carmela terbangun oleh keheningan yang tidak wajar.
Matteo duduk di kursi, punggungnya kaku, wajahnya seperti patung yang retak perlahan. Carmela langsung tahu—ini bukan kabar kecil.
“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Matteo menatapnya. Tidak langsung menjawab. Seperti sedang memilih mana yang akan ia hancurkan lebih dulu: kebohongan atau perlindungan.
“Lorenzo tahu tentang ayah tirimu,” katanya akhirnya.
Carmela membeku.
Itu bukan luka lama. Itu luka yang tidak pernah sembuh.
“Dia… hidup?” suara Carmela nyaris tak terdengar.
“Ya.”
Air mata tidak langsung jatuh. Yang datang lebih dulu adalah kemarahan dingin—yang lama disimpan, yang selama ini ia pura-pura kubur.
“Dia tidak punya hak atas hidupku,” kata Carmela, suaranya bergetar. “Dia tidak pernah punya.”
Matteo berdiri dan mendekat. “Aku tahu.”
“Tidak,” Carmela menggeleng, menatap Matteo tajam. “Kau tidak tahu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup di rumah yang seharusnya aman tapi setiap malam terasa seperti perang.”
Matteo terdiam. Ia tidak menyela.
“Aku pergi bukan hanya karena miskin,” lanjut Carmela, napasnya memburu. “Aku pergi karena kalau aku tinggal, aku akan mati perlahan.”
Kata-kata itu jatuh berat, menggema di ruangan sempit.
Matteo mengulurkan tangan, tapi berhenti di udara. “Lorenzo menggunakan itu sebagai umpan.”
“Untukmu,” kata Carmela pahit.
“Untuk kita,” koreksi Matteo.
—
Rencananya sederhana. Terlalu sederhana untuk disebut adil.
Lorenzo ingin Matteo datang ke pelabuhan tua—tempat transaksi lama, tempat banyak rahasia dikubur. Sebagai gantinya, Carmela dan ayah tirinya akan dilepaskan.
Tidak ada jaminan.
Hanya janji dari orang yang hidup dari pengkhianatan.
“Aku akan pergi,” kata Matteo.
“Tidak,” jawab Carmela cepat.
“Aku tidak meminta izin.”
“Aku tidak melarang karena takut,” suara Carmela meninggi. “Aku melarang karena aku tahu—Lorenzo tidak akan menepati janji.”
Matteo menatapnya dalam-dalam. “Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa?” mata Carmela basah, tapi tatapannya tajam. “Kenapa kau masih mau masuk ke sana?”
Karena aku sudah terlalu jauh.
Karena aku tidak tahu cara hidup tanpa darah.
Karena jika aku tidak pergi, dia akan terus mengambil orang-orang yang kau cintai.
Matteo tidak mengatakan itu.
Yang ia katakan hanya, “Karena aku tidak akan membiarkan masa lalumu menjadi senjata selamanya.”
—
Carmela tertawa kecil—patah. “Kau pikir ini tentang dia?”
Ia mendekat, berdiri tepat di depan Matteo. “Ini tentang aku. Tentang apakah aku masih anak yang bisa dipaksa kembali ke kandang.”
Matteo mengangkat wajah Carmela dengan dua jari, lembut tapi tegas. “Kau bukan anak itu lagi.”
“Lalu jangan perlakukan aku seperti yang harus ditinggalkan demi dilindungi,” balas Carmela.
Keheningan memanjang.
Akhirnya, Matteo mengangguk pelan. “Baik. Kau ikut.”
Keputusan itu terasa seperti menarik pelatuk tanpa tahu siapa yang akan jatuh.
—
Pelabuhan tua berdiri seperti bangkai. Besi berkarat, lampu setengah mati, laut hitam berkilat tanpa janji. Mobil Matteo berhenti jauh dari titik temu. Ricardo sudah menunggu, wajahnya tegang.
“Ini kesalahan,” gumam Ricardo.
“Semua pilihan hari ini salah,” jawab Matteo. “Aku hanya memilih yang bisa kutanggung.”
Carmela turun dari mobil, tubuhnya tegak meski tangan dingin. Ia melihat pria itu sebelum Matteo—ayah tirinya, diikat, wajahnya menua, mata yang dulu menakutkan kini kosong.
Tidak ada lega.
Hanya kehampaan.
“Carmela kecil,” suara Lorenzo terdengar dari bayangan. “Akhirnya kita bertemu.”
Matteo melangkah maju. “Ini aku yang kau mau.”
Lorenzo tertawa pelan. “Selalu begitu. Kau datang membawa cinta, dan kau pikir itu membuatmu kuat.”
Ia melirik Carmela. “Padahal, itu yang membuatmu mudah dipatahkan.”
“Lepaskan mereka,” kata Matteo.
“Pilih,” jawab Lorenzo ringan. “Aku akan melepaskan satu. Yang lain… tetap di sini.”
Carmela menoleh pada Matteo. Jantungnya berdegup liar, tapi wajahnya tenang.
“Jangan,” katanya pelan. “Jangan pilih aku karena rasa bersalah.”
Matteo menatapnya. Untuk sesaat, dunia menyempit hanya pada dua pasang mata.
“Aku memilihmu,” kata Matteo.
Dan dalam kata itu, ia mengorbankan segalanya.
—
Kekacauan meledak cepat.
Tembakan. Teriakan. Ricardo bergerak. Matteo menarik Carmela ke belakang peti kontainer. Lorenzo menghilang ke bayangan, tertawa.
Ayah tiri Carmela terjatuh—bebas, tapi terluka.
Carmela menatapnya sekali. Tidak ada pelukan. Tidak ada maaf.
Hanya satu kalimat: “Kau tidak lagi memilikiku.”
Mereka melarikan diri di bawah hujan peluru yang tidak mengejar, hanya mengingatkan.
—
Di mobil, napas Carmela tersengal. Matteo berdarah di lengan, tapi sadar. Mereka lolos.
Untuk sekarang.
“Ini belum selesai,” kata Ricardo dari kursi depan.
“Aku tahu,” jawab Matteo.
Carmela menyentuh tangan Matteo, menggenggamnya erat. “Apa pun yang terjadi selanjutnya… aku tidak akan lari sendiri.”
Matteo membalas genggaman itu. “Dan aku tidak akan memilih tanpamu.”
Di kejauhan, pelabuhan tenggelam kembali ke kegelapan—menyimpan janji balas dendam.