Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Wahyu dan suaminya membawa Nafis menginap di sebuah hotel di Surabaya. Karena kebetulan mereka ada acara di hotel yang sama keesokan harinya.
Nafis memilih duduk di balkon kamar hotelnya. Menatap langit Surabaya yang malam ini begitu cerah. Sedari tadi otaknya begitu buntu.meskipun sudah menghubungi budhe Nur untuk memastikan apakah Hanafi membawa putrinya pulang ke pati atau tidak, dia masih belum bisa tenang.
Sementara nomer ponsel Hanafi sendiri tidak bisa di hubungi. Ketakutan kembali mendera dalam diri Nafis. Karena memang biasanya ummi mertuannya cenderung terlalu nekad jika di tentang begini.
" Nak dimana pun kamu saat ini, bunda harap kamu baik-baik saja. Kamu berhak marah sama bunda tapi, bunda harap kamu tidak membenci bunda. Semoga nenekmu tidak berbicara yang tidak-tidak. Jika pun iya bunda harap kamu sudah lebih bijak menanggapinya "
Nafis menengelamkan wajahnya dia atara dua lututnya. Sementara kedua tangannya memeluk lututnya dengan erat.
" Hamba takut ya Rabb " lirihnya.
Wahyu yang baru tiba mendekat lalu, memeluk adiknya itu erat. Dia tau betapa penuhnya otak adiknya saat ini.
Dengan lembut ibu satu anak itu mengusap pungung adiknya. Tak ayal dia pun menangis. Tak memnyangka adik yang dulu paling ceria dan paling bisa meraimakan suasana itu kini terpuruk dalam luka.
Sedari awal adiknya bercerita, Wahyu selalu meneteskan air mata setiap kali selesai sholat dan menguntai doa untuk ketabahan hati adiknya.
" Sudah ada yang bisa di hubungi belum keluaga Hanafi ?" Nafis mendongak lalu mengangguk. Dengan lembut Wahyu menghapus air mata Nafis.
" Baru saja budhe Nur kakaknya abi Rahmad mengabari jika mas Hanafi sudah di rumah tapi, tidak sama Zizah mbak. Dia bawa putri ku kemana mbak ?" tangis Nafis kembali pecah.
" Tenang, kita cari Azizah sama-sama. Saran mbak kamu pulang dulu dan matur ke om dan mas-mas mu"
" Aku justru besok mau langsung ke Pati aja mbak "
" Dek.."
" Aku janji mbak, apapun hasilnya nanti aku akan langsung bicara sama bapak dan ibu"
" Naik apa kamu kesana ?"
" Rencana mau naik pesawat sampai semarang mbak. Baru nanti perjalanan darat sama kang Tejo dari sana."
" Mbak tau kamu punya pertimbangan sendiri dek tapi, janji kamu akan kuat menghadapi apapun disana."
" Iya mbak, aku akan minta Andini untuk menemaniku nanti "
" Itu jauh lebih bagus " Wahyu memeluk tubuh adiknya yang dia rasa semakin kurus saja.
" Terus tadi urusan di pesantren sudah beres ?" Nafis mengangguk.
" Aku malu mbak, bisa-bisanya Zizah nunggak administrasi pesantren dan sekolah selama 8 bulan. Padahal mbak aku blokir ATM yang Hanafi bawa itu baru 4 bulan."
" Maksud kamu kartu ATM kamu di bawa Hanafi gitu ?"
" Iya mbak, khusus buat biaya Administrasi Zizah di pondok. Setelah kenaikan kelas lalu, mas Hanafi yang pengang karena aku sering lupa "
" Terus yang ngisi saldonya siapa ?"
" Aku mbak"
" Ya salam dek, kamu udah tau suami modelan begitu masih kamu kasih kepercayaan ?" Nafis tertunduk. Dia akui memang sedikit sembrono soal ini.
" Terus mbak Tanya sekarang, fungsi Hanafi jadi suami kamu itu apa ?" Nafis terdiam.
" Ya Allah, kamu di kasih berapa satu bulan sama Hanafi ?"
" Sudah dua tahun ini hanya 2 juta mbak. Itupun kadang dia minta lagi dengan Alasan buat beli bensin "
" Ya Allah, kamu kenapa kuat amat sih dek. Terus buat biaya rumah tangga dari kamu dong ?" Nafis mengangguk.
" Gitu dia PD mau poligami, mau di kasih makan apa coba istrinya ?"
" Satu aja nggak di kasih nafkah dengan benar "
" Total berapa kamu tadi nutup administrasinya Zizah ?"
" 20 juta lebih mbak "
" Ya Salam.."
" Itu duit buat sekolah anak dia tilep buat apa coba ?"
" Aku nggak masalah uangnya mbak tapi, cara Hanafi membawa keluar Zizah dari pondok itu lho yang bikin malu. Dia memboyong anaknya tanpa pamit ke pengasuh pesantrennya."
Tanpa mereka sadari sedari awal pembicaraan ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan mereka. Farid rupanya ada di hotel yang sama dengan Nafis. Dia baru selesai Syuting salah satu judul film.
Tujuannya ingin merokok sebentar di balkon bareng Ahmad Asistennya, tidak taunya malah mendengar sesuatu yang tidak terduga.
Awalnya dia pikir bukan Nafis yang dia kenal tapi, begitu mengintip dari sela-sela roster dia terkejut. Rupanya benar itu Nafis yang dia kenal. Pantas kemaren waktu dia konsultasi wajah Nafis sedikit berbeda.
" Ya Allah bos, kasian amat ya bunda Nafis. Lha kalau bos laki di poroti wajar ya kan, lha ini perempuan lho, itu lakinya hatinya di mana ya ?"
" Padalah dia wanita hebat banget lho Mat, kayaknya kita musti tolongin deh Mat. Kamu telfon Miranti buat kesini Mad"
" Kita mau nolonginnya gimana sih bos, yang ada kalau wartawan lihat malah kacau lho ?"
" Yang jangan sampai ada yang lihat dong "
" Jangan lah bos, kasian bunda Nafisnya kalau sampai ada wartawan lihat."
" Lha kamu pikir aku mau ngapain sih, aku juga pakai ukuran kali Mat sebelum bertindak"
" Terserah deh bos, aku jemput Ranti bentar "
Farid masih duduk termenung di sofa, tidak menyangka wanita sebaik Nafis harus mengalami nasib rumah tangga yang begitu pelik.
" Kamu terlalu pandai menutupi semuanya mbak Nafis " Ucapnya pelan.
" Bagaimana kamu menjalani ini sendiri selama itu ?"
Sementara itu di kamar sebelah Nafis masih belum juga terpejam, ibunya baru saja menelfon. Dia memang menitipkan Naufal pada ibunya, karena kalau diajak juga kasihan. Beruntung Naufal tidak rewel, ibunya hanya merasa kepikiran dirinya katanya.
" Berarti kamu belum bertemu Azizah nduk?"
" Belum bu, kebetulan kan masih besok penjemputannya."
" Sekarang kamu tidur di mana ?"
" Di hotel sama mbak Wahyu bu, kebetulan besok mbak Wahyu dan mas Andi ada acara di Surabaya."
" Syukurlah kalau ada mbakmu, salamin ya nduk. Ibu juga sudah lama tidak ketemu mbak mu "
" Iya bu, Naufal tidak rewel kan bu ?"
" Tidak nduk, malah manut banget. Tadi sempat ikut ibu ke pasar nganter makan siang buat bapak. Ya Allah nduk pulang bawa jajanan banyak banget."
" Beli buk ?"
" ndak nduk, di kasih sama tentanga di pasar. Mereka pada gemes sama Naufal, katanya mirip kamu pas kecil"
" Alhamdulillah kalau begitu bu "
" Ya udah nduk, bapak ngajak ke masjid "
" Njeh bu, Pesenan makanan Nafis juga sudah datang"
Begitu sambungan telfon terputus Nafis menangis sejadi-jadinya. Dia merasa bersalah sudah membohongi ibunya. Ingin rasanya tadi langsung jujur tapi, pasti orang tuannya khawatir dan langsung terbang menyusulnya ke Surabaya.
Nafis memilih keluar kamar dan berjalan menuju restoran Hotel. Dia ingin menenangkan diri sejenak dengan meminuk secangkir kopi. Dia memilih cafe yang berada di roof top hotel. Hanya penghuni kamar VVIP yang bisa menikmati fasilitas ini. Jadi tidak terlalu ramai.
Secangkir kopi Nafis pesan dengan sepotong black forest favoritnya. Dia sengaja memilih kursi di ujung agar bisa melihat bintang.
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.