NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

​Sesi latihan dance yang melelahkan baru saja berakhir. Keringat membasahi pelipis Mori, membuat beberapa helai rambutnya menempel di leher. Ia baru saja hendak mengemas botol minumnya saat Vano—yang setia menunggu di pinggir aula—berjalan mendekat dengan senyum teduh yang selalu konsisten.

​"Latihan yang hebat, Mori. Kamu kelihatan sangat berbakat di panggung," puji Vano sambil menyodorkan handuk kecil yang masih terbungkus plastik, tanda itu baru dibeli.

​Mori tersenyum tipis, merasa dihargai. "Makasih, Kak Vano. Masih banyak yang harus diperbaiki, sih."

​"Hari sudah sore, dan mendung lagi. Mau aku antar pulang? Aku bawa mobil hari ini, jadi kamu nggak perlu khawatir kehujanan lagi," tawar Vano. Suaranya lembut, sangat kontras dengan keributan yang biasanya dibuat Lian.

​Mori baru saja hendak mengangguk saat sebuah suara berat memotong dari arah belakang.

​"Dia nggak bisa pulang sekarang," Lian muncul dengan kaos jersey yang basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya—visual Gabriel Guevara yang tampak sangat maskulin sekaligus berbahaya. "Kita ada rapat kelas mendadak soal konsep kostum pensi. Di kelas. Sekarang."

​Mori mengernyitkan dahi, menatap Lian dengan tatapan penuh selidik. "Rapat kelas? Kok gue nggak tahu? Jessica sama yang lain aja udah pada mau balik."

​"Emang ada rapat, Li?" tanya Mori curiga, nadanya datar.

​Lian terdiam sejenak, otaknya berputar cepat mencari pembenaran. "Ada. Baru aja gue mutusin di grup kelas. Lo aja yang nggak cek HP."

​Sebelum perdebatan itu berlanjut, sebuah suara centil yang sangat dikenali Mori memecah ketegangan.

​"Lian sayang!"

​Alina berjalan masuk ke aula dengan gaya angkuhnya yang biasa. Masa skorsingnya sudah berakhir, dan dia tampak lebih "siap tempur" dari sebelumnya. Bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala membentuk senyum lebar saat dia langsung menghampiri Lian dan menggelayut di lengannya.

​"Lian, aku kangen banget sekolah! Eh, aku denger kamu bawa motor hari ini? Anterin aku pulang ya? Sopir aku lagi izin, dan aku males banget pesen taksi online," rengek Alina, sama sekali mengabaikan keberadaan Mori dan Vano.

​Lian tampak risih, dia mencoba melepas tangan Alina, tapi gadis itu justru semakin erat memeluk lengannya. Mata Alina kemudian melirik ke arah Mori dengan tatapan penuh kebencian yang masih sama seperti sebelum dia diskors.

​"Oh, hai Mori. Masih sibuk... 'berurusan' sama Lian ya?" sindir Alina dengan nada meremehkan.

​Mori hanya membalas dengan tatapan dingin. Dia beralih ke Vano. "Kak Vano, kayaknya rapatnya emang nggak ada. Jadi, aku—"

​"Ada rapatnya!" potong Lian cepat. Dia menatap Mori tajam, seolah memberikan kode agar Mori tidak pergi dengan Vano. "Alina, lo pulang sendiri atau bareng Jojo aja. Gue ada urusan kelas sama Mori."

​Alina memanyunkan bibirnya, mukanya langsung berubah drastis. "Lian! Kok kamu gitu sih? Kita kan udah lama nggak ketemu! Lagian rapat kelas bisa besok kan? Sekarang kamu anter aku dulu!"

​Tarik Ulur Ego

​Vano yang melihat situasi itu hanya tersenyum tenang, khas seorang pemimpin yang tidak mudah terpancing emosi. "Lian, sepertinya Alina lebih butuh bantuan kamu sekarang. Kalau soal koordinasi pensi, aku bisa bantu Mori bahas di jalan atau nanti lewat telepon."

​Lian mengepalkan tangannya. Dia benci betapa dewasanya Vano bersikap, karena itu membuatnya terlihat seperti bocah yang sedang tantrum. Namun, Lian tetaplah Lian. Red flag-nya berkibar kencang saat melihat Vano mulai menyentuh tas Mori untuk membantunya membawakan.

​"Nggak usah repot, Van. Urusan kelas 10-B biar jadi urusan anak 10-B," desis Lian. Dia melepaskan tangan Alina dengan kasar. "Al, gue bilang nggak bisa ya nggak bisa. Jangan manja."

​Mori yang merasa situasi ini semakin memuakkan akhirnya angkat bicara. "Cukup. Gue nggak mau rapat kalau suasananya kayak gini. Dan gue juga nggak mau pulang sama siapa-siapa."

​Mori menyambar tasnya dari tangan Vano. "Kak Vano, maaf ya, aku pulang sendiri aja naik ojek. Lian, kalau emang ada rapat, bahas di grup aja. Gue capek."

​Mori melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan aula yang mendadak sunyi.

​Lian tidak membiarkan Mori pergi begitu saja. Dia mengabaikan Alina yang memanggil-manggil namanya dengan suara melengking dan berlari mengejar Mori sampai ke parkiran.

​"Mori! Tunggu!" Lian menarik lengan Mori saat gadis itu baru saja hendak memesan ojek lewat ponselnya.

​"Apa lagi sih, Lian?! Lo nggak liat Alina nungguin lo? Lo nggak liat Kak Vano jadi nggak enak gara-gara kelakuan lo yang nggak jelas?" teriak Mori emosi.

​Lian memutar tubuh Mori agar menghadapnya. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi, membasahi wajah mereka berdua. Visual Gabriel Guevara-nya tampak kacau, matanya menunjukkan rasa frustrasi yang mendalam.

​"Gue nggak peduli sama Alina! Dan gue lebih nggak peduli lagi sama si Vano itu!" ucap Lian lantang. "Gue cuma nggak mau lo pergi sama dia, Mor. Apa itu susah banget buat lo ngerti?"

​"Kenapa? Kenapa lo nggak mau gue pergi sama dia? Lo bukan siapa-siapa gue, Lian! Lo cuma pasang dance gue karena lo licik!"

​Lian mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Mori. Hawa panas dari tubuhnya terasa di tengah dinginnya rintik hujan. "Karena gue cemburu, oke?! Gue cemburu liat lo senyum sama dia, gue cemburu liat dia nyentuh rambut lo, dan gue benci fakta bahwa dia bisa bersikap baik sedangkan gue cuma bisa bikin lo marah!"

​Mori terdiam. Seluruh kata-kata pedas yang sudah di ujung lidahnya mendadak hilang. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar. Pengakuan jujur dari Lian—sesuatu yang sangat tidak "Lian banget"—bikin radarnya benar-benar lumpuh.

​Di kejauhan, Alina berdiri di koridor, menyaksikan adegan itu dengan mata yang berkaca-kaca karena marah. Dia mengepalkan tangan, kebenciannya pada Mori sudah mencapai puncaknya.

​"Lian..." bisik Mori parau.

​Lian tidak menjawab. Dia hanya menatap Mori dengan tatapan memohon yang sangat dalam. "Sore ini... biarin gue yang anter lo pulang. Sekali ini aja, tanpa drama, tanpa tebar pesona. Cuma gue sama lo."

​Mori melihat ke arah gerbang, di mana mobil Vano baru saja melintas pergi. Lalu dia melihat Lian, cowok red flag yang baru saja meruntuhkan harga dirinya demi sebuah pengakuan.

​Akhirnya, Mori menghela napas panjang dan naik ke boncengan motor Ninja Lian. Lian tersenyum tipis—kali ini senyum yang tulus, bukan senyum kemenangan—dan menjalankan motornya menembus hujan, meninggalkan Alina yang berteriak frustrasi di belakang mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!