Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Residu yang Tertinggal
Aruna masih terpaku di kursinya, menatap layar laptop yang terhubung ke mesin VR. Nama [PROJECT: FATE BREAKER] seolah berdenyut di depan matanya. Protokol enkripsi itu terlihat begitu kokoh, namun jemarinya bergerak sendiri, seolah di tuntun sesuatu.
Ia mengetikkan satu nama yang terus terngiang sejak ia bangun tadi.
A-U-R-I-S-T-E-L-A.
Klik.
Folder itu terbuka, memuntahkan tumpukan log log yang bergerak liar. Bersamaan dengan terbukanya data itu, sebuah hantaman rasa sakit yang luar biasa nenusuk tajam kedalam kepalanya. Aruna memegangi pelipisnya. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang mencoba mendobrak keluar dari dalam, memaksa masuk memori yang belum siap ia terima sepenuhnya.
Aruna menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata erat-erat untuk menahan denyut tajam yang membelah kepalanya. Di balik kelopak matanya, kegelapan itu terasa begitu menekan.
"Ugh..."
Tepat saat ia merasa tidak kuat lagi menahan serangan itu, udara di sekelilingnya berubah. Aroma debu apartemen dan logam panas mesin VR mendadak hilang, digantikan oleh wangi bunga Melati yang sangat familiar, seakan-akan dia sangat mengenalinya.
Ada sebuah sentuhan yang sangat nyata.
Jemari yang hangat dan halus menyentuh puncak kepalanya, membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Sentuhan itu kemudian berpindah; sebuah ibu jari dengan lembut mengusap dahinya, tepat di titik pusat rasa sakitnya, berulang kali dengan gerakan yang sangat akrab. Setiap kali usapan itu menyentuhnya, rasa sakit di kepalanya mereda secara perlahan.
"Tunggu sebentar lagi... jangan dipaksa," sebuah bisikan lembut terdengar begitu dekat, seolah sosok itu berdiri tepat di samping kursinya.
"Ibu...?" Aruna berbisik dengan bibir bergetar.
Begitu kata itu terucap, sensasi hangat di dahinya mendadak berubah menjadi pusaran energi yang menarik seluruh kesadarannya.
"ibu akan selalu ada di sampingmu, sayang..."
Aruna merasakan tubuhnya tidak lagi bersandar pada kursi plastik, melainkan pada permukaan batu yang dingin dan halus. Dinginnya batu altar itu meresap ke balik punggungnya. Ia menghirup udara yang mendadak terasa jauh lebih segar dan mengandung aroma hutan setelah hujan.
"Putri? Putri Auristela! Bangun!"
Suara itu berat, serak, dan penuh kepanikan.
Aruna perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat bukan lagi langit-langit apartemen, melainkan rimbunnya dedaunan Hutan Primordial yang bercahaya keperakan di bawah langit malam. Dan tepat di atasnya, wajah Asher yang tampak sangat kacau dan hitam menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takut sekaligus lega yang luar biasa.
"Asher...?" suara Aruna terdengar sangat tipis.
"Syukurlah... kamu sudah sadar..." Asher langsung meraih bahu Aruna, menariknya dalam pelukannya. Aruna bisa merasakan jantung Asher yang berdegup sangat kencang, seolah pria itu baru saja melihat Aruna mati di depannya.
"Kau sempat menghilang... tubuhmu seolah memudar tadi," bisik Asher tepat di telinganya, tangannya memeluk Aruna dengan sangat erat.
Aruna terdiam, ia menyentuh dahinya sendiri. Hangat usapan dari tangan ibunya tadi masih terasa sangat nyata di sana, bersinggungan dengan jemari Asher yang kini ikut mengusap wajahnya dengan cemas.
"Aku balik, Asher..." gumam Aruna.
"Putri... Jangan pernah..." suara Asher tertahan, berat dan serak. "Jangan pernah menghilang seperti itu lagi.
Aruna masih mematung, pipinya bersandar langsung pada Asher aroma sandalwood dan peppermint dari tubuh pria itu kini bercampur dengan aroma tajam obat-obatan, menciptakan sensasi yang sangat nyata . Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdetak sangat kencang. Ingatan tentang apartemennya, laptopnya, dan bisikan ibunya masih bergetar di kepalanya, namun panas dari tubuh Asher-lah yang akhirnya benar-benar membakar sisa-sisa keraguan dalam dirinya.
"Asher, aku... tadi melihat Ibuku."
Asher perlahan merenggangkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap menangkup wajah Aruna dengan protektif. Matanya yang tajam menatap dalam ke Aruna. Dalam kondisi telanjang dada dengan perban yang sedikit bergeser karena gerakannya yang tiba-tiba, Asher terlihat jauh lebih rapuh, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang sanggup membakar apapun.
"Siapa? Siapa yang kau lihat di balik cahaya itu?" tanya Asher, suaranya rendah dan penuh penekanan.
"Ibuku," bisik Aruna. Matanya mulai berkaca-kaca. "Dia menyentuhku, Asher. Dia mengusap dahiku dan bilang dia akan selalu ada di sampingku. Dan rasanya... rasanya sangat nyata. Lebih nyata daripada dunia yang baru saja kutinggalkan."
Asher terdiam. Rahang ksatria itu mengeras, menahan emosi yang bergejolak. Ia mengusap air mata yang jatuh di pipi Aruna dengan ibu jarinya yang kasar. Tangannya yang besar kini bersinggungan dengan sisa hangat dari usapan Reina di dahi Aruna.
"Ibumu... pasti akan selalu menjagamu," gumam Asher pelan. "Altar ini... mungkin dia bereaksi terhadap kehadiran jiwanya. Yang membawa kamu kembali, Putri. Kamu hampir meninggalkan aku di sini sendirian."
Aruna menatap ke sekeliling. Hutan Primordial terasa lebih hidup sekarang. Ia bisa mendengar bisikan pepohonan, merasakan aliran energi di tanah yang ia duduki. Kemampuan sensorik Auristela mulai menyatu dengan kesadaran Aruna.
Ia memperhatikan Asher kembali. Pria ini sudah berkorban terlalu banyak. Zirahnya hancur, tubuhnya penuh luka, dan dia sedang berjaga di sampingnya dalam kondisi yang jauh dari kata layak bagi seorang ksatria agung.
"Terima kasih sudah melindungiku, Asher," ucap Aruna pelan. Ia mengangkat tangannya, menyentuh perban di bahu Asher yang sedikit mengendur. "Aku tidak akan pergi lagi. Aku berjanji."
Asher menatap Aruna dengan pandangan yang dalam, seolah sedang mencoba memahat wajah gadis itu ke dalam ingatannya agar tidak pernah hilang lagi. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih bedebar kencang, kemudian membantu Aruna berdiri.
Aruna masih sedikit tidak terbiasa, kakinya terasa lemas setelah ditarik paksa dari dimensi modern. Dengan sigap, Asher melingkarkan lengannya di pinggang Aruna, menyokong berat tubuhnya. Kulit lengan Asher yang bersentuhan langsung dengan kulit Aruna memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hutan di sekitar mereka seolah menyambut kembalinya sang putri; bunga-bunga night-bloom di semak-semak mulai mekar lebih lebar, memancarkan cahaya biru neon yang menerangi jalan mereka.
"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," Asher memperingatkan, matanya menyapu kegelapan di balik pepohonan dengan waspada. "Ledakan energi dari altar tadi pasti sudah sampai ke telinga para pengejar."
Aruna mengangguk paham. Ia merasakan insting bertarungnya yang tumpul mulai menajam kembali. "Kita cari tempat persembunyian yang lebih dalam. Dan kau..." Aruna melirik kondisi Asher yang memprihatinkan, zirahnya yang sudah hancur kini hanya tersisa kain kasa di dada. "Kita harus mencari cara untuk mengobati lukamu dengan benar. Koyo itu tidak akan bertahan selamanya."
Asher hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajah hitamnya yang lelah terlihat sedikit lebih cerah. "Selama kau bersamaku, luka-luka ini hanyalah pengingat bahwa aku masih hidup untuk melindungimu."
Mereka pun berjalan menembus kabut tipis hutan primordial. Aruna berjalan di samping ksatria berperban itu, membiarkan kehangatan tangan Asher menuntunnya masuk lebih dalam ke dalam misteri yang disebut sebagai takdir.
Ding!
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher : 95% ] (Bonus/Catatan) : "Melihatmu hampir memudar tadi membuatku sadar; dunia ini tidak memiliki arti apa pun jika kau tidak ada di dalamnya. Kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih memilih untuk tetap disini."]
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya