Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Filter Skincare
"Uhuk! Uhuk!"
Aruna menutupi hidungnya dengan lipatan lengan baju, namun rasa perih mulai menjalar ke paru-parunya. Udara di sekitarnya tidak lagi jernih; kabut kuning pucat hasil reaksi Holy Rain dan kristal Nebula mulai menebal, menciptakan kabut maut yang menelan cahaya pipa-pipa uap di sekeliling mereka. Pandangan Aruna mulai kabur, sementara suara desisan gas yang keluar dari celah pipa terdengar seperti bisikan maut.
"S!al! Manaku... rasanya seperti ditarik keluar paksa!" gerutu Verdy. Ia mencoba menghantam jeruji saluran udara dengan palu godamnya, namun dentingan logamnya terdengar lemah. Tanpa dukungan mana, kekuatan fisiknya merosot tajam. Lengannya tampak gemetar hebat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Di belakang mereka, Asher berlutut dengan satu kaki. Pedang Solis-Aeterna tertancap di tanah sebagai penyangga tubuhnya yang gemetar. Sisa racun metalik dan tekanan gas kuning benar-benar kombinasi yang buruk bagi tubuhnya yang belum pulih.
'Sistem! Cepat! Berikan aku masker! Apa saja yang bisa menyaring gas ini sebelum kita semua m4ti di sini!' teriak Aruna dalam batinnya yang kalang kabut.
Ding!
[M-me-m-mp-prosess p-p-permintaan h-host...
M-m-memanggil p-p-penutup m-muka p-p-penyerap r-racun...
M-m-memanggil a-alat p-p-pelindung o-optik...]
Syuuut!
Tiga buah sachet kecil berwarna hitam mengkilap dan empat buah kacamata renang dengan tali kenyal berwarna mencolok jatuh tepat di depan Aruna. Aruna mematung sesaat. 'Masker wajah charcoal?! Sistem rongsokan! Aku minta alat penyelamat, bukan paket perawatan kulit di tengah medan perang! Terus ini lagi! kenapa ada kacamata renang anak-anak?!' Aruna melirik sachet yang bertuliskan "Extra Deep Pore Cleansing" dengan gambar wajah yang mulus. Ia ingin menangis, tapi paru-parunya yang terbakar tidak mengizinkannya.
"Putri Auristela... benda... uhuk... apa itu?" tanya Asher.
"Benda yang akan menyelamatkan nyawa kita! Diam dan jangan protes!" Aruna menyobek saset pertama hingga cairannya yang kental muncrat sedikit ke bajunya. Lalu dengan gerakan brutal ia mengoleskan seluruh lumpur hitam pekat itu ke wajah Asher hingga hampir tak bisa dikenali.
"P-Putri?! Ini... Dingin... dan lengket..." Asher terkesiap saat cairan pekat itu menutupi seluruh wajahnya, bahkan bulu matanya pun tak luput dari sapuan lumpur hitam.
Aruna mengabaikannya dan menyobek saset kedua, lalu langsung mengoles isinya ke muka Verdy yang sedang mangap mau protes. "Diam dan terima saja, Verdy! Ini demi paru-parumu!" bentak Aruna.
"Puih! Puih! Apa-apaan lumpur ini?! Baunya seperti bunga, tapi rasanya kaku seperti diplester semen!" protes Verdy sambil berusaha mengeluarkan sisa masker yang hampir masuk ke mulutnya. "Auristela, Kamu mau menyelamatkanku atau mau menjadikanku patung pajangan, hah?!"
Tanpa membalas, Aruna memasangkan kacamata renang ke kepala Verdy dengan kencang hingga matanya sedikit tertarik ke samping. Ia lalu beralih menyobek saset ketiga untuk dirinya sendiri. Dengan gerakan cepat, ia meratakan lumpur hitam itu ke seluruh wajahnya, lalu sisa yang menempel di jarinya ia totolkan asal ke hidung dan sekitar mulut si Oyen sebagai perlindungan darurat. Aruna juga memasangkan kacamata renang terkecil ke kepala si kucing orange itu. Si Oyen hanya bisa mengerjapkan matanya, bingung kenapa wajahnya mendadak kaku.
-#-
Di sisi lain pemukiman, Luna sedang berjuang sekuat tenaga. Wajahnya tampak pucat pasi saat ia menyalurkan mana. Rambutnya berkibar hebat saat ia merentangkan tangan, menciptakan angin puting beliung raksasa untuk menghalau kabut kuning agar tidak masuk ke area pemukiman.
"Tutup semua katup udara! Lindungi anak-anak ke dalam Aula Pelindung!" teriak Luna pada penduduk desa yang panik. Para Dwarf kecil berlarian sambil membawa tas-tas berisi kristal penting, sementara beberapa dari mereka terbatuk-batuk hebat. Cahaya ungu dari mata Luna meredup setiap kali anginnya bergesekan dengan gas korosif tersebut. Darah segar menetes dari sudut bibirnya akibat terlalu memaksakan dirinya. "Auristela... semoga kamu selamat..." bisiknya sebelum meluncurkan satu lagi badai angin untuk mementalkan proyektil gas yang mendekat.
-#-
"Mereka di sana! Habisi!!"
Sepuluh Ksatria Suci bertopeng maju, melepaskan tembakan panah cahaya. Sring! Sring! Anak panah itu mendesis di udara, membelah kabut kuning dengan lintasan putih yang menyilaukan.
Asher bangkit. Dengan wajah hitam legam yang mulai mengeras dan kacamata renang biru di matanya, ia menerjang maju. SLASH! Dua ksatria penyerang terpental saat pedang Asher menghantam perisai mereka. Logam beradu dengan logam, menciptakan percikan api.
"MIAAAWWW!"
Tiba-tiba si Oyen melompat dari atas tumpukan pipa. Dengan satu gerakan gesit, si kucing orange itu mendarat di atas kepala Ksatria Suci dan merobek topeng mereka. Sret! Sret! "Aakh! Kucing s!alan! Lepaskan!" teriak salah satu ksatria saat si Oyen menggigit telinganya dengan beringas. Si Oyen mencakar tanpa ampun, memanfaatkan ketidaksigapan musuh yang terkejut melihat kucing berkacamata renang. Gerakan si Oyen membuat formasi musuh berantakan. Mereka panik bukan hanya karena cakaran, tapi karena wajah "hitam" Asher dan Aruna yang tampak seperti iblis dari kegelapan.
"Oyen, kemari!" panggil Aruna. Si Oyen melakukan salto di udara dan mendarat di pundak Aruna dengan wajah sombong, seolah sedang menunggu pujian.
"Verdy, sekarang!"
BOOM! Jeruji besi akhirnya hancur berkat hantaman terakhir Verdy yang mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. "Meluncur!" teriak Aruna.
Mereka berempat meluncur masuk ke dalam kegelapan pipa pembuangan, meninggalkan para Ksatria Suci yang masih syok melihat "pasukan muka hitam dan kucing berkumis hitam" yang baru saja menghilang ke lubang pembuangan. Para ksatria itu terdiam di depan lubang, saling pandang dengan bingung. "Apa yang baru saja kita lawan?" gumam salah satu dari mereka sambil memegangi topengnya yang hancur.
Di dalam pipa, Aruna merasakan tubuhnya meluncur liar di atas lumut licin yang dingin. Suara tawa histeris hampir meledak dari tenggorokannya saat ia melihat Asher meluncur di sampingnya dengan wajah kaku sehitam arang. Tekanan angin membuat masker mereka mengeras dua kali lebih cepat. Aruna ingin berteriak memberi peringatan agar mereka bersiap saat mendarat, namun otot wajahnya sudah terkunci rapat oleh sisa lumpur charcoal yang mengering.
Ding!
[T-terde-teksii k-kede-katan d-dengan Asher de Volland : 88%. (Catatan: Asher merasa w-wajahnya s-sangat s-segar dan k-kencang. Ia b-berpikir Putri Auristela adalah o-orang yang s-sangat teliti m-menjaga tim b-bahkan di s-saat m-maut menjemput).]
"Jiizz" telinga Oyen yang tertutup tali kacamata renang bergerak gelisah. Bukan karena takut ketinggian, tapi karena instingnya menangkap sesuatu yang tidak beres di ujung lorong gelap ini.