"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Tiga Hari Lagi
"Ya ampun, sial sekali hidupku," gumam Dea setelah melihat dua garis merah di tespek tersebut. sedikitpun dia tidak merasa haru melihat hasilnya, yang ada justru merasa benci.
Saat ini hidupnya terlalu berantakan untuk memiliki seorang bayi, belum lagi bayi ini akan membuatnya jadi bahan tertawaan semua orang dan juga bentuk kekecewaan kedua orang tuanya.
"Huh, aku harus menggugurkannya," ucap Dea dengan yakin, jika bisa dia bahkan ingin menghapus semua jejak bayi tersebut di dalam rahimnya.
Sumpah, Dea benar-benar tidak menginginkan bayi tersebut. Setelah perasaan benci menguasai hatinya, kini tiba-tiba Dea menangis, berganti rasa sedih yang begitu menyayat dada.
"Kamu bodoh sekali De, bodoh," makinya pada diri sendiri.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Dea harus segera keluar dari kamar mandi tersebut. Harus menenggelamkan semua perasaan kacaunya sekarang. Sebelum keluar, Dea lebih dulu menghapus air mata. Meski sudah hancur lebur namun dia tak ingin terlihat menyedihkan.
Beberapa saat kemudian Dea akhirnya kembali ke kantor, setelah kembali merias dirinya agar tetap terlihat baik-baik saja.
"De, bagaimana keadaanmu sekarang? sudah diminum obat mualnya?" tanya Millie, dia langsung bertanya saat Dea duduk di kursinya.
"Aman Mil, aku juga sudah minum obat mualnya," jawab Dea dengan tersenyum, padahal dia tidak membeli obat mual tersebut. Sementara tespek yang dia beli pun sudah dibuangnya di tempat sampah apotek tadi.
"Syukurlah kalau begitu, sebentar lagi jam istirahat. Kamu harus makan banyak biar tidak jatuh sakit."
"Iya Mil, oh ya jam istirahat nanti aku izin keluar sebentar ya. Tiba-tiba mamaku ingin bertemu jadi kami akan bertemu di luar," kata Dea, satu kebohongan yang dia lakukan untuk segera membuang bayi di dalam perutnya.
Dea tidak benar-benar bertemu dengan sang mama, melainkan ingin pergi ke rumah sakit untuk mendiskusikan semua ini. Tapi yang jelas Dea tidak menginginkan anak tersebut. sepanjang perjalanan kembali ke kantor tadi Dea juga sudah mencari banyak informasi di internet. Tindakan aborsi memanglah tindakan ilegal tapi jika keadaannya memungkinkan maka tindakan tersebut bisa dilangsungkan.
Dea bisa mengatakan pada sang dokter bahwa anak ini hasil perkossaan dan dia tak ingin mengandungnya.
Dea yakin dengan alasan tersebut sang dokter akan menyetujui tindakan aborsinya.
"Oke, tapi izin juga dengan asisten Juan ya," ucap Millie dan Dea mengangguk sebagai jawaban.
Saat jam istirahat tiba Dea hendak langsung menuju ruangan asisten Juan, karena baginya dia sudah tidak memiliki banyak waktu. Tindakan aborsi ini harus segera dilakukan sebelum bayinya semakin tumbuh besar. Tapi belum sempat melangkah menuju ruangan Juan, tiba-tiba pintu ruang kerja Alex terbuka dan pria itu malah memanggilnya.
"Dea, masuk ke ruanganku," titah Alex. Sebenarnya bisa saja dia memanggil sang sekretaris melalui telepon yang tersambung. Tapi dia pilih memanggilnya secara langsung seperti ini.
"Baik, Tuan," jawab Dea yang tak bisa menolak apapun keinginan sang boss.
Dea dan Millie saling pandang sejenak, Millie yang ikut prihatin karena Dea tidak bisa langsung pergi menemui mamanya. Atau bahkan sepertinya pertemuan itu tidak mungkin terjadi. karena apapun yang berhubungan dengan tuan Alex pasti akan lama.
"Tuan, Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dea setelah masuk ke dalam ruang kerja Alex, dia pun menutup pintunya dengan pelan.
Nada bicaranya mungkin terdengar biasa saja tapi saat ini hati Dea benar-benar sakit. Pertama karena Dea tak tahu anak siapa yang sedang dia kandung, Juan atau Alex. Dan jika ini adalah anak Alex pun Dea tidak bisa membagikan semua kegelisahannya.
Tentang hal ini harus dia tanggung sendiri, semua kesedihan, semua rasa takut, semua rasa hina harus dia terima sendirian.
'Alex KB, tidak mungkin aku hamil dengannya. Tapi Juan, dulu aku juga meminta untuk semuanya harus dilupakan,' batin Dea lirih.
"Kunci pintunya," titah Alex, bukannya menjawab pertanyaan Dea, dia justru memberi perintah seperti ini. Alex tidak ingin pintu itu hanya tertutup tapi juga harus terkunci.
Jika sudah seperti ini Dea jelas sangat tahu ke mana arah pertemuan mereka, Alex pasti ingin menyentuhnya. Jadi Dea patuh dan segera mengunci pintu. Lalu mendekati Alex dan bersandiwara menjadi istri rahasia pria tersebut. "Kenapa tiba-tiba ingin melakukannya, tadi malam kan sudah," ucap Dea yang tidak lagi bicara dengan formal.
Dia mendekati Alex yang masih duduk di kursi kerjanya, biasanya Dea akan langsung duduk dipangkuan pria tersebut tapi kali ini Dea justru berdiri di depan Alex, terhalang oleh meja kerja..
Alex menatap Dea lekat, selalu memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh sekretarisnya tersebut.
"Tapi sebelum itu, Aku ingin bicara serius denganmu," ucap Dea kemudian.
"Apa? Uang lima miliar masih kurang untukmu?"
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Aku sudah menulis surat pengunduran diri, nanti akan ku serahkan pada pihak HRD. Aku ingin hubungan kita segera diakhiri," ucap Dea tanpa keraguan sedikitpun. Keputusan yang akhirnya dia ambil karena kehamilan yang tak diinginkan.
Dea tidak bisa menunggu keputusan ini diucapkan oleh Alex, jadi Dea yang mengatakannya lebih dulu.
Jika bisa Dea harus segera keluar dari perusahaan ini sebelum melakukan tindakan aborsi. Dea tak tahu setelahnya apakah hidupnya akan baik-baik saja, atau bahkan mungkin Dea membutuhkan banyak waktu untuk pemulihan.
Dea tidak tahu, saat ini pikirannya buntu. namun satu hal yang pasti, hubungannya dengan Alex harus segera diakhiri.
Sementara Alex langsung terdiam, tiap kali membicarakan hal ini emosinya selalu terpancing. Namun sayangnya Alex tidak bisa menunjukkan emosinya tersebut, yang bisa dia lakukan hanyalah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Tiap kali Dea membicarakan tentang perpisahan dia merasa seperti dicampakkan oleh sang sekretaris. Dea adalah satu-satunya wanita yang berani memperlakukannya seperti ini, karena seharusnya Dea memohon untuk tetap berada di sisinya. Bahkan Setelah dia menikah dengan Anita seharusnya Dea masih memohon-mohon untuk tetap jadi istri simpanannya.
"Tapi bagaimana? Aku belum puas dengan tubuhmu," jawab Alex, hanya inilah satu-satunya cara yang dia punya untuk tetap mempertahankan Dea berada di sisinya. Tapi kata-kata itu juga bukan hanya alasan tapi memang yang sebenarnya Alex rasakan. Entah kenapa dia juga heran, kenapa tak pernah puas atas tubuh Dea.
Bahkan sekarang Dea jadi lebih berisi, Kenapa begitu seksi tiap kali dia menungganginya.
"Kita putuskan sekarang, 3 hari lagi hubungan kita berakhir," ucap Dea.
"Buru-buru sekali, apa kamu memiliki pria lain?"
"Setiap detik aku bahkan berada di sampingmu, kenapa bisa pertanyaan itu kamu ucapkan."
"Baiklah, tiga hari lagi. Sekarang puaskan dulu dulu, aku ingin keluar di mulutmu."
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰