Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMUA KEBUTUHAN DARI AKU!
Maira kini sudah berdiri di depan ruko dua lantai milik Ana, yang mana lantai bawah dijadikan sebagai tempat bengkel suaminya dan lantai atas diperuntukkan sebagai tempat tinggal mereka.
Setelah diberi tahu oleh suami Ana kalau iparnya itu sedang di atas, Maira memilih menunggu di luar ruko. Tak lama, Ana turun tanpa senyum, tanpa ajakan masuk. Mereka bicara di bawah, berdiri berhadapan, tanpa basa-basi.
“Aku nggak mau bertele-tele, Mbak.” Suara Maira datar, tapi tegas. “Aku ke sini mau tanya langsung soal uang seratus juta yang Farid transfer ke rekening Mbak.” Lanjut Maira.
Ana menaikkan alis, menyilangkan tangan di dada. “Oh, itu. Cuma karena uang segitu kamu sampai datang ke sini?”
Maira tak menjawab, hanya menatap lurus. Hening sejenak.
“Memangnya kenapa kalau aku pinjam uang suamimu? Seratus juta itu Farid yang transfer, kan? Berarti dia rela. Kenapa kamu yang repot?” Ana tertawa kecil, lalu mendengus.
Tangan Maira bersedekap, tetap tenang. “Aku cuma tanya, Mbak. Uang itu dipakai untuk apa? Kenapa mas Farid transfer uang sebanyak itu ke mbak?”
Ana mendengus sinis. “Untuk bayar sewa ruko, nutupin hutang bengkel, dan beli barang-barang bengkel. Kenapa? Kamu mau nagih? Kalau iya, balik aja deh. Uangnya nggak ada!”
Maira mengerjapkan mata sekali. Tapi tak bicara. Ia hanya menatap tajam dan datar ke arah iparnya.
“Jangan pelit jadi ipar, Mai. Uang kamu kan banyak. Masa cuma seratus juta heboh begitu?” Ucap Ana lagi, nada suaranya penuh sindiran. “Lagian aku ini kakaknya Farid. Wajar dong kalau dibantu.”
Maira menarik napas panjang. Dalam hatinya ia bertanya, kenapa semua orang di sekelilingnya seolah-olah selalu mengukur dirinya dari jumlah uang yang ia punya?
Kenapa setiap kali menyangkut soal uang, ia selalu dianggap pelit?
Ia melirik ke arah bengkel di belakang Ana tampak sepi, tak ada aktivitas, bahkan rak-rak perlengkapan pun nyaris kosong. Padahal Ana tadi mengatakan uang itu dipakai untuk membeli barang-barang bengkel.
Tak ada gunanya lagi berbicara dengan iparnya itu. Ia datang hanya untuk menanyakan ke mana perginya uang sebanyak itu yang ditransfer Farid, tetapi seperti biasa Ana justru menyambutnya dengan sikap ketus.
“Ya udah. Aku cuma mau tanya itu aja." Ucap Maira akhirnya, sebelum berbalik menuju mobilnya.
Setelah mobil Maira menjauh dari ruko, Ana masuk dengan langkah cepat, mengambil ponsel lalu menekan nomor Farid.
“Farid…” Suara Ana terdengar geram begitu panggilan tersambung. “Istri kamu itu keterlaluan sekali! Dia datang-datang langsung menagih uang seratus juta, di depan bengkel pula! Padahal orang-orang lagi ramai dibengkel. Malu mbak di depan umum!”
Nada suaranya meninggi, seolah benar-benar tersudut. Tapi kenyataannya Ana hanya memutar fakta, menambahkan bumbu di sana-sini untuk menggiring emosi Farid.
Padahal tadi Maira berbicara dengan tenang. Tak ada suara tinggi, tak ada kata kasar. Hanya pertanyaan lugas mengenai untuk apa uang yang di transfer oleh Farid padanya.
Namun meskipun begitu, ia tetap tak suka pada Maira yang menanyakan perihal uang yang dipinjam padanya.
•
•
“Maira, tadi kamu datang ke rumah Mbak Ana?” Suara Farid terdengar pelan, namun penuh tanda tanya.
Maira menoleh dari meja rias, menatap tajam ke arah suaminya. Tak ada kata yang keluar, hanya senyum sinis yang perlahan muncul di wajahnya.
“Iya… terus, dia bilang apa lagi?”
Farid melanjutkan, suaranya mulai terdengar lebih tegang. “Kamu nagih uang yang Mas pinjamkan ke dia? Kenapa, Mai? Mbak Ana tadi nelfon Mas, dia malu katanya di tagih di depan pelanggan nya!”
Tak ada jawaban langsung dari Maira. Ia kembali mengoleskan krim malam ke wajahnya, lalu menatap Farid dari cermin dengan tatapan dingin.
“Kalau menurut Mas, dia ngomong gitu yaudah… percaya aja.” Nada bicaranya tenang, tapi tajam.
“Mai, harusnya kamu nggak bersikap seperti itu ke ipar kamu…”
Mendengar teguran suaminya, Maira berbalik dan berdiri dari kursinya. “Mas sekarang pintar sekali nasihatin aku, ya? Itu tabungan bersama kita, Mas. Kenapa Mas bisa transfer uang sebanyak itu ke Mbak Ana tanpa ngomong dulu ke aku?”
Farid sempat terdiam. “Ka… karena dia keluarga kita, Mai. Dia kan kakakku, ipar kamu juga. Dia juga lagi butuh Mai, nanti katanya pasti diganti."
“Ipar, ya?” Maira menyeringai pahit. “Kalau gitu, Vina siapa? Dia itu ipar aku juga? Atau simpenan kamu? Sampai kamu rela keluar malam-malam terus bantu dia dengan 45 juta buat orang yang dia tabrak. Dan juga... masuk ke rumahnya, berduaan sampai ganti baju segala di rumah dia pula!”
Suasana kamar mendadak panas. Maira meletakkan botol kaca di meja rias dengan suara berdentum—tak dilempar, tapi cukup menunjukkan emosi yang tak lagi ia tahan.
Langkah kaki Farid termundur. Ia tak menyangka Maira tahu soal itu juga.
"Darimana dia tahu?" Batin Farid yang mulai gelagapan mencari alasan.
“Aku minta izin pakai tabungan kita untuk nerusin proyek restoran, Mas bilang jangan karena itu proyekku sendiri, malah suruh aku pakai uang pribadi.” Nada suara Maira mulai meninggi. “Tapi waktu ke perempuan lain dan ke kakak kamu… kamu kasih aja dengan entengnya. Tanpa mikir, tanpa izin. Sukarela!” Pekiknya, beruntung kamar yang ia miliki kedap suara hingga mungkin ibunya tak tahu apa yang terjadi di dalam kamar.
Maira terdiam sejenak, lalu menatap suaminya dengan tatapan kecewa yang lebih menyakitkan dari teriakan apa pun.
“Kamu pikir aku ini apa, Mas? Mesin uang? Tempat untuk nabung, tapi nggak pernah dianggap ada saat harus bikin keputusan penting?”
Farid yang mulai terpojok mendekat dan memegang kedua lengan Maira. “Sayang, kamu jangan salah paham, ya. Mas ke rumah dia itu cuma… ya karena kemarin nggak sengaja nabrak Vina. Terus waktu nolongin, baju Mas basah. Jadi Mas ganti baju di rumah dia. Mas nggak ngapa-ngapain, sumpah.”
Namun Maira langsung menepis tangannya. Tatapannya tajam, senyumnya menyeringai penuh luka. “Oh ya? Makanya Mas sampai harus bohong soal pakaian itu, ya?”
Ia melipat tangan di dada, suaranya mulai meninggi namun masih terkendali.
“Kenapa nggak ganti baju ke rumah ibu?... Dulu Mas yang selalu bilang—jangan berduaan sama lawan jenis, jaga jarak. Tapi sekarang? Mas sendiri yang ngelakuin!”
Farid tergagap. Mulutnya terbuka, tapi tak ada penjelasan yang terasa cukup untuk menjelaskan pada Maira. Di satu sisi ia merasa tak bersalah karena merasa tak berselingkuh namun di sisi lain ia mengerti mengapa istrinya marah padanya.
“Aku nggak mau tahu, mau kamu selingkuh atau apa diluaran sana, terserah! Aku cuma mau uang yang kamu transfer ke mereka itu balik ke aku. Secepatnya!” Nada suara Maira berubah menjadi tajam, nyaris seperti perintah.
“Mas harus ingat ya, selama ini… kebutuhan rumah ini, uang bulanan buat Ibu kamu, bahkan kadang uang jajan adik kamu—itu dari aku! Dari aku yang transfer setiap bulan!” Suara Maira bergetar.
Matanya menatap Farid tajam. “Dan aku ingat, Mas… aku udah dua tahun ini nggak terima jatah bulanan sebagai istri. “Aku memang nggak pernah nanya. Aku pikir, mungkin Mas lagi ada kebutuhan lain. Mungkin ada tanggungan lain yang belum sempat Mas ceritain.”
Sesaat kemudian nada suaranya menajam. “Tapi mulai bulan depan…” Maira menatap tajam, rahangnya mengeras. “Jangan harap aku masih mau transfer untuk Ibu Mas. Jangan harap!”
Maira sengaja menegaskan itu. Bukan semata karena ucapan Farid barusan, tapi karena sikap Bu Neni siang tadi saat dirinya datang ke rumah.
Tatapan sinis, ucapan pedas, hingga sindiran-sindiran yang menyakitkan—seolah-olah ia adalah menantu yang hanya datang kalau butuh sesuatu.
Padahal dulu, wanita itu begitu hangat padanya dulu. Tapi kini, entah mengapa, semua berubah. Maira tidak tahu sejak kapan.
Sementara soal Ana—iparnya yang tak pernah benar-benar akrab dengannya, Maira sudah cukup lama menyadari bahwa hubungan mereka hanya sebatas formalitas.
Kata-kata Maira barusan bagai hantaman di wajah Farid. Ia tahu, ia bersalah. Tapi ia juga tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Karena kenyataannya… ia memang sedang banyak cicilan.
Maira memang selama ini tahu jika Farid menyukai barang-barang branded, sepatu mahal, jam tangan elegan, parfum berkelas. Tapi Maira tidak tahu kalau semua itu dibeli dengan mencicil.
Farid tertunduk. Dalam hatinya, muncul pertanyaan kalau Maira berhenti transfer untuk ibunya, lalu siapa yang harus menanggung?
Ia tahu jawabannya, dirinya sendiri. Tapi untuk saat ini, bahkan untuk itu pun ia belum siap.