Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAKET DARI DAMIAN
Setelah seharian ini mood nya di bikin beratkan gara-gara Damian, Ziva memilih maskeran tebal-tebal, karena menurutnya, menghadapi Damian butuh nutrisi kulit ekstra agar tidak cepat keriput.
"Awas saja, nanti bakal aku balas," ucap Ziva, menggerutu.
Setelah meratakan wajah nya dengan masker warna putih, kemudian Ziva mengambil handphonenya, jari-jarinya dengan lincah membuka grup chat "Trio Cecan" untuk melakukan panggilan grup video.
"GUYS! GUE MAU MATI AJA RASANYA!"
Teriak Ziva begitu wajah Viola dan Tiara muncul di layar.
Viola, yang sepertinya sedang makan martabak, hampir tersedak.
"Busett, Zi! Itu muka lo kenapa putih semua gitu? Lo mau nakutin Damian apa gimana?" tanya Viola, kaget.
"Ini masker, Vio! Masker anti-darah tinggi!" jawab Ziva, ngegas.
"Sumpah ya, kalian harus tahu apa yang terjadi di butik tadi, s kutub utara itu bener-bener nggak punya filter kalau ngomong!" ucap Ziva, menggebu-gebu.
"Kenapa lagi, Zi? Tadi kan dia udah jemput kamu dengan gagah berani ke kafe," tanya Tiara, tersenyum tenang.
"Gagah berani apanya? Dia itu kayak pengawas ujian yang mau jemput murid nyontek, Ti!" jawab Ziva, mulai berdiri dan mondar-mandir di kamarnya.
"Bayangin ya, gue disuruh nyoba gaun sampe sepuluh kali. Sepuluh kali, Ti, Vio! Kaki gue udah mau copot!" teriak Ziva, frustasi.
"Terus reaksinya gimana?" tanya Viola antusias, dengan mata berbinar-binar.
"Pasti dia terpana kan melihat kecantikan sahabat gue yang paripurna ini?" lanjut Viola, antusias.
"Terpana pala lo peyang!" umpat Ziva gemas.
"Setiap gue keluar, dia cuma bilang Terlalu banyak bahan, Ganti! Tidak elegan, Terlalu santai. Dia pikir gue lagi audisi jadi gorden apa gimana? Terus pas akhirnya dapet yang cocok, dia cuma bilang Ini yang kumau. Nggak ada manis-manisnya!" cerocos Ziva, mengingat kejadian tadi waktu di butik tadi.
"Tapi akhirnya dapet kan yang dia suka?" tanya Tiara, menaikan sebelah alisnya.
"Iya, dapet, tapi dengerin bagian paling gongnya!" jawab Ziva duduk kembali dengan dramatis.
"Begitu dapet gaunnya, tiba-tiba asistennya dapet telpon, katanya ada masalah di kantor. Dan tahu nggak dia ngomong apa? Dia bilang. Aku harus pergi, urusan ini jauh lebih penting. Terus gue ditinggal gitu aja sama Riko! Gue berasa kayak paket COD yang di titipin ke kurir!" lanjut Ziva, kembali berteriak.
"Hahaha! Sumpah, Zi, gue nggak tahan!" ucap Viola tertawa terbahak-bahak.
"Damian Alexander emang beda level ya. Orang lain kalau liat lo pake baju pengantin pasti langsung pengen ijab kabul di tempat, lah dia malah kepikiran saham!" lanjut Viola di sela-sela tawa besarnya.
"Bener-bener robot, Vio! Gue curiga di dalem dadanya bukan jantung, tapi baterai litium," ucap Ziva, menggerutu.
"Terus ya, di jalan pulang, gue maki-maki dia lewat si Riko. Gue bilang ke Riko, sampein ke bos lo, gue bukan saham yang bisa diabaikan! Kalau dia nggak bisa hargai orang, mending gue hapus dia dari daftar calon suami!" ucap Ziva, menambahi.
"Kasihan Riko, Zi. Dia cuma kerja, malah jadi sasaran empuk mulut pedas kamu," ucap Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biarin! Biar dia tahu kalau calon istrinya ini bukan pajangan butik!" jawab Ziva menarik napas dalam, lalu mencopot maskernya dengan kasar.
"Tapi yang paling bikin gue kesel, kenapa tadi pas dia natap gue lama gitu, jantung gue malah olahraga maraton? Pasti karena gue laper kan? Iya kan?" tanya Ziva, pada mereka berdua.
"NAH! Itu dia! Lo baper kan? Ngaku lo!" ucap Viola langsung menunjuk ke arah kamera ponselnya.
"Nggak! Gue nggak baper! Gue cuma shock aja liat ada manusia se-nyebelin itu tapi mukanya ciptaan Tuhan yang paling niat," jawab Ziva cepat, wajahnya memerah yang untungnya tersamarkan sisa-sisa masker.
"Halah, bilang aja lo mulai terpesona sama pesona kulkas dua belas pintu itu," goda Viola lagi.
"Diem lo, Vio! Pokoknya besok kalau dia dateng lagi, gue bakal pasang muka tembok. Gue bakal tunjukin kalau Ziva Putri Willson itu mahal harganya!" ucap Ziva penuh tekad.
Tepat saat itu, ponsel Ziva berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal, tapi dia tahu betul siapa pemilik aura dingin di balik ketikan itu.
Sedang asyik-asyiknya curhat, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan pelan.
Tok
Tok
Tok
"Non Ziva? Ada kiriman paket, Non," suara Bi Sumi, asisten rumah tangga senior di kediaman Willson, terdengar dari balik pintu.
"Paket apaan Bi malam-malam begini? Dari kurir belanjaan online Ziva ya?" tanya Ziva mengernyitkan dahi nya.
"Ini Non bisa lihat sendiri," jawab Bi Sumi
Ziva beranjak membuka pintu. Namun, matanya langsung membelalak saat melihat Bi Sumi berdiri membawa dua buah kotak beludru hitam yang terlihat sangat mahal dan sebuah buket bunga mawar merah yang ukurannya cukup untuk menutupi tubuh Bi Sumi.
"Ini dari siapa, Bi?" tanya Ziva, suaranya naik satu oktaf.
"Katanya dari Tuan Damian, Non. Baru saja diantar sama asistennya, Mas Riko," jawab Bi Sumi sambil tersenyum lebar.
Ziva menerima buket bunga itu dengan perasaan campur aduk, lalu dia kembali masuk ke kamar dan meletakkan bunga serta kotak perhiasan itu di atas tempat tidur.
"Bentar guys! Jangan dimatiin telponnya!" seru Ziva ke arah ponselnya yang masih tersambung video call dengan Viola dan Tiara.
"Ada apa, Zi? Kok muka lo kayak abis liat hantu?" tanya Viola di seberang sana.
"Lihat nih! Si Robot kirim bunga sama kotak-kotak misterius!" ucap Ziva mengarahkan kamera ponselnya ke arah buket bunga raksasa itu.
"WHAT?!"
"Tadi lo bilang dia nggak punya perasaan, sekarang dia kirim bunga segede gaban?!" pekik Viola histeris.
"Buka kotaknya, Zi! Cepetan!" teriak Viola tidak sabaran.
Ziva membuka kotak beludru pertama, yang isinya adalah sebuah kalung berlian dengan desain yang sangat elegan namun terlihat sangat kokoh. Di kotak kedua, terdapat sepasang anting yang senada.
"Gila! Itu harganya pasti bisa buat beli satu butik cabang baru lo, Zi," gumam Tiara yang ikut terpana melihat kilauan berlian di layar ponselnya.
Ziva menemukan sebuah kartu kecil terselip di antara mawar-mawar itu. Dia membacanya dengan suara keras agar sahabatnya dengar:
"Bunga ini bukan hasil nemu di jalan, dan perhiasan ini, anggap saja sebagai permintaan maaf ku. Pakai, dan jangan banyak protes. Selamat malam, Gadis Nakal."
Hening sejenak.
"GADIS NAKAL?!" teriak Viola pecah.
"Sumpah, Zi! Gue tarik ucapan gue soal dia robot. Dia itu bukan robot, dia itu predator yang lagi ngetes mangsanya!" lanjut Viola, menggeleng-gelengkan kepalanya.
damian emng keren.....dia ga gntar lwan abangnya ziva yg posesif plus galak,d intimidasi dia mlah sntai aja....
btw,kening ziva udh ga virgin lg dong.....🤣🤣🤣....
jangan2 masa lalu damian ,atau pelakor thor ????
suwun u/ crazy upnya