cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebingungan
Hidup bersama di kamar kos semakin membuat hubungan antara Rohita, Dewi, dan Devi semakin erat. Meskipun terkadang ada sedikit kekacauan—seperti ketika Rohita marah karena Devi tidak sengaja merusak buku catatan nya, atau ketika Dewi merasa malu karena tidak bisa membantu pekerjaan rumah tangga dengan baik—namun mereka selalu menemukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Suatu malam, setelah mereka makan malam bersama dan bercerita tentang pengalaman masing-masing, mereka memutuskan untuk tidur lebih awal karena keesokan harinya mereka punya rencana untuk pergi keluar bersama.
Devi yang biasanya ceria sudah mulai kembali seperti sedia kala. Dia bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah terjadi padanya saat masih bekerja di tempat sebelumnya, membuat Rohita dan Dewi tertawa terbahak-bahak. Setelah itu, mereka masing-masing membersihkan diri dan memasuki kamar tidur yang sama. Rohita tidur di kasur yang paling dekat dengan pintu, Dewi di tengah, dan Devi di sisi paling dalam kamar yang menghadap jendela. Cahaya lampu bohlam yang sedikit redup memberikan penerangan yang cukup untuk membuat kamar tidak terlalu gelap.
Mereka sudah mulai mengantuk dan hampir tertidur, ketika tiba-tiba lampu kamar itu padam total. Kegelapan yang mendadak membuat semua orang terkejut. Devi yang sedang dalam keadaan hampir tertidur langsung terbangun dengan kaget dan suara sedikit teriak keluar dari mulutnya. “Aduh! Kenapa lampunya mati tiba-tiba?” ujar Devi dengan suara yang sedikit gemetar. Rohita segera duduk tegak di atas kasurnya dan mencoba mencari senter yang biasanya dia simpan di laci meja kecil. “Tenang saja, mungkin hanya pemadaman listrik sementara. Aku akan mencari senter untuk menerangi kamar,” ujar Rohita dengan nada yang tenang, meskipun dia juga sedikit terkejut dengan kegelapan yang mendadak.
Dewi yang pemalu dan sedikit takut dengan kegelapan mulai merasa cemas. Tubuhnya sedikit menggigil dan dia secara tidak sengaja mendekat ke arah Rohita yang sedang mencoba mencari senter. “Rohita… aku takut,” ujar Dewi dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar. Rohita menghentikan gerakannya sejenak dan menjangkau tangan nya untuk meraih tangan Dewi. “Tenang, Dewi. Aku ada di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu,” ujar Rohita dengan nada yang hangat dan menenangkan. Di sisi lain kamar, Devi juga merasa sedikit takut. Meskipun dia biasanya sangat ceria dan tidak mudah takut, kegelapan yang mendadak membuatnya merasa tidak nyaman.
Setelah beberapa saat mencari, Rohita akhirnya menemukan senter di dalam tas nya. Dia menyalakannya dan cahaya putih yang terang menerangi kamar. Devi melihat bahwa wajah Dewi masih sedikit pucat karena ketakutan, sementara Rohita sedang memeriksa sakelar lampu untuk memastikan bahwa masalahnya hanya pada pemadaman listrik. “Sepertinya memang pemadaman listrik. Kita harus menunggu beberapa saat saja, mungkin dalam waktu singkat listrik akan kembali menyala,” kata Rohita sambil menempatkan senter di atas meja agar cahaya nya bisa menyebar ke seluruh kamar.
Mereka kemudian kembali ke masing-masing kasurnya, namun tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak. Devi masih merasa sedikit gelisah, sementara Dewi terus memegang tangan Rohita yang berada di sebelahnya. Rohita sendiri tetap tenang, mencoba memberikan rasa aman kepada kedua teman nya itu. Kegelapan yang tiba-tiba ternyata membuat hubungan mereka semakin erat, karena mereka saling menguatkan satu sama lain dalam kondisi yang tidak menyenangkan itu.
Setelah lampu padam dan Rohita menyalakan senter, suasana kamar menjadi lebih tenang namun masih ada rasa ketegangan yang tersisa. Devi yang masih merasa sedikit takut tidak bisa tidur, tubuhnya sering bergerak dan matanya terus melihat sekeliling kamar yang diterangi oleh cahaya senter yang redup. Dewi juga masih tidak bisa tidur, dia tetap memegang tangan Rohita dengan erat, dan wajahnya yang pemalu tampak semakin merah karena kedekatan mereka. Rohita sendiri sedang mencoba untuk tetap tenang, meskipun dia merasakan getaran dari tangan Dewi yang menunjukkan bahwa dia masih cemas.
Tiba-tiba, Devi merasa ingin mendekat ke arah kedua teman nya itu agar merasa lebih aman. Dia perlahan-lahan berdiri dari kasurnya dan berjalan dengan hati-hati menuju arah Dewi yang sedang berbaring di tengah kamar. “Dewi… bisakah aku mendekat saja? Aku masih merasa sedikit takut,” ujar Devi dengan suara pelan. Dewi mengangguk dengan cepat dan menggeser tubuh nya agar ada tempat yang cukup untuk Devi berbaring di sebelahnya. Devi kemudian berbaring dengan hati-hati, dan karena kamar yang gelap dan sedikit tergesa-gesa, dia secara tidak sengaja menyentuh bibir Dewi dengan bibirnya sendiri.
Kedua gadis itu langsung terkejut dan tubuh mereka menjadi kaku. Devi segera menjauh dengan wajah yang penuh rasa malu dan ketakutan. “Maafkan aku, Dewi! Aku tidak sengaja! Aku benar-benar tidak bermaksud!” ujar Devi dengan suara gemetar, sementara air mata mulai muncul di sudut matanya. Dewi sendiri juga sangat terkejut, wajahnya menjadi sangat merah dan dia tidak bisa berkata apa-apa. Dalam keadaan panik dan rasa malu yang luar biasa, dia langsung bergerak cepat dan memeluk tubuh Rohita yang sedang berada di sebelahnya dengan erat.
Rohita terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Dia melihat Devi yang sedang menangis dan Dewi yang sedang memeluknya dengan erat, dan dia segera mencoba menenangkan mereka berdua. “Tenang saja, tidak apa-apa. Itu hanya kecelakaan kecil,” ujar Rohita dengan nada yang lembut dan menenangkan. Dia kemudian menepuk punggung Dewi yang masih memeluknya, sementara dengan tangan lain dia menepuk pundak Devi yang sedang menangis. “Kita semua merasa tidak nyaman karena kegelapan dan ketakutan. Tidak ada yang salah dengan itu,” tambah Rohita.
Devi akhirnya berhenti menangis dan mengangkat kepalanya dengan wajah yang masih merah karena rasa malu. “Aku benar-benar minta maaf, Dewi. Aku tidak bermaksud menyakitimu atau membuatmu tidak nyaman,” ujar Devi dengan suara yang sudah lebih tenang. Dewi yang masih memeluk Rohita perlahan-lahan melepaskan pelukan nya dan melihat Devi dengan wajah yang masih sedikit merah. “Tidak apa-apa, Devi. Aku tahu kamu tidak sengaja,” ujar Dewi dengan suara pelan, masih merasa sedikit malu karena kejadian tersebut.
Rohita kemudian menarik kedua gadis itu untuk duduk bersama di kasurnya, dengan senter yang masih menyala di atas meja memberikan cahaya yang cukup. “Kita tidak perlu khawatir tentang hal itu. Yang penting kita saling mengerti dan tidak ada yang tersakiti,” kata Rohita dengan nada yang hangat. Devi mengangguk perlahan, sementara Dewi masih sering menundukkan kepala karena rasa malu yang belum hilang.
Mereka kemudian mulai berbicara tentang hal-hal lain untuk mengalihkan perhatian dari kejadian yang tidak diinginkan itu. Devi bercerita tentang rencana nya untuk mencari pekerjaan baru, sementara Dewi menceritakan tentang hobinya yang baru saja dia mulai kembangkan—melukis. Rohita juga berbagi tentang rencana nya untuk melanjutkan pendidikan setelah bekerja selama beberapa waktu. Suasana yang tadinya tegang perlahan kembali menjadi hangat dan nyaman, seperti biasanya ketika mereka tiga berbicara bersama.
Akhirnya, setelah merasa cukup tenang dan lelah, mereka kembali ke masing-masing kasurnya. Meskipun kejadian tadi masih sedikit terasa di benak mereka, namun mereka tahu bahwa persahabatan mereka lebih kuat dari itu. Kegelapan yang tiba-tiba ternyata membawa kejutan yang tidak diharapkan, namun juga membuat mereka lebih memahami satu sama lain.
Beberapa hari setelah kejadian di kamar kos, kondisi mereka kembali seperti biasa. Devi sudah mulai menemukan semangat ceria nya kembali, bahkan sudah mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Dewi juga semakin percaya diri dalam berbicara, meskipun sifat pemalu nya masih terkadang muncul. Rohita pun lebih bisa mengendalikan emosi nya, meskipun terkadang masih marah karena hal-hal kecil.
Suatu pagi, Rohita mengusulkan untuk pergi ke sebuah tempat rekreasi yang baru saja dibuka. “Kita sudah terlalu lama tidak keluar bersama. Ayo kita pergi ke sana dengan motor ku saja. Pasti akan menyenangkan!” ujar Rohita dengan semangat tinggi. Devi langsung bersetuju dengan wajah yang ceria, sementara Dewi hanya mengangguk dengan sedikit ragu namun tetap merasa senang bisa keluar bersama teman-teman nya.
Rohita menyetir motor dengan percaya diri, sementara Devi dan Dewi duduk di belakang sebagai penumpang. Devi selalu bersandar dengan riang, menikmati angin yang menerpa wajahnya dan menyanyi lagu-lagu kesukaannya dengan suara keras. Dewi lebih tenang, hanya menikmati pemandangan yang lewat dan kadang-kadang menyapa orang yang mereka lewati dengan senyum lembut.
Namun, setelah berkendara selama sekitar satu jam, Rohita merasa bahwa jalan yang mereka lalui semakin tidak dikenal. Jalan yang tadinya beraspal mulai berubah menjadi jalan tanah yang penuh dengan lubang-lubang dan batu-batu. Tanah sekitar juga semakin jarang ada rumah atau orang yang lewat. “Kok rasanya jalan nya tidak seperti yang aku ingat ya?” ujar Rohita dengan suara sedikit cemas, mulai memperlambat kecepatan motor.
Devi yang tadinya sedang senang menyanyi juga mulai merasa tidak nyaman. “Rohita, kamu yakin jalan nya benar? Kayaknya kita sudah masuk ke tempat yang sangat sepi nih,” kata Devi dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Dewi juga mengangguk dengan wajah yang khawatir, dia menggenggam bahu Devi dengan erat karena merasa sedikit takut.
Rohita mencoba mencari tanda arah atau papan petunjuk, namun tidak ada satu pun yang bisa ditemukan. Jalan yang mereka lalui semakin menyempit dan menuju ke arah yang lebih terpencil. Akhirnya, setelah berkendara selama beberapa menit lagi, Rohita memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat yang sedikit lapang. “Kita harus berhenti di sini saja. Kayaknya kita tersesat deh,” ujar Rohita dengan nada yang sedikit marah karena kesalahannya sendiri dalam memilih jalan.
Mereka turun dari motor dan melihat sekeliling. Tempat itu benar-benar terpencil—tidak ada rumah, tidak ada orang, hanya tanah dan beberapa pohon yang tumbuh liar. Matahari mulai terik dan mereka merasa sedikit haus serta lapar. Devi mencoba tetap ceria dengan berkata, “Tidak apa-apa, kita pasti bisa menemukan jalan keluar dari sini. Kita hanya perlu mencari saja.” Dewi juga menambahkan, “Ya, benar. Kita bisa berjalan kaki sebentar untuk mencari tahu di mana kita berada.”
Rohita menghela napas dan menyesal karena tidak lebih hati-hati dalam memilih rute perjalanan. Namun dia segera menenangkan diri dan berkata, “Baiklah, kita akan mencari jalan keluar bersama. Mari kita periksa barang-barang yang kita bawa dulu, mungkin ada yang bisa membantu kita.” Mereka kemudian mulai memeriksa tas yang mereka bawa, berharap ada sesuatu yang bisa membantu mereka menemukan jalan pulang atau setidaknya bertemu orang yang bisa memberikan bantuan.