Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.4
Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan Sekte Darah Besi. Desa Qinghe perlahan kembali normal, meski ketakutan masih menggantung di udara seperti kabut pagi yang enggan pergi.
Shen Yu dinyatakan sembuh total oleh tabib desa. Bagi orang tuanya, kesembuhannya adalah keajaiban. Namun bagi Shen Yu, ini adalah kelahiran kembali.
Sejak ia bangun, dunia terasa berbeda. Penglihatannya menjadi tajam; ia bisa melihat pola serat pada daun dari jarak sepuluh langkah. Tubuhnya yang dulu lemah dan cepat lelah kini terasa ringan, seolah beban gravitasi telah dikurangi separuhnya.
Sore itu, dengan alasan mencari rumput untuk ternak, Shen Yu menyelinap ke balik bukit batu di pinggir sungai—tempat tersembunyi favoritnya.
Ia duduk bersila di atas batu datar, meniru pose meditasi yang digambarkan dalam buku tua robek miliknya. Selama bertahun-tahun ia mencoba pose ini tanpa hasil, hanya dianggap sebagai "duduk melamun" oleh ayahnya.
“Tarik napas, bayangkan udara bukan sekadar angin, tapi aliran sungai yang bercahaya…” Shen Yu mengulang mantra dalam benaknya.
Dulu, itu hanya imajinasi kosong. Namun hari ini, berkat tubuhnya yang telah dibersihkan kotorannya oleh Giok Retak, sesuatu terjadi.
Saat ia menarik napas panjang, ia merasakan sensasi hangat menggelitik di kulitnya. Partikel-partikel tak kasat mata di udara Qi Alam tertarik perlahan ke arahnya, meresap melalui pori-pori, mengalir melalui meridian yang kini terbuka, dan berkumpul di perut bawahnya (Dantian).
Itu bukan arus besar, hanya setetes embun di tengah gurun. Namun, sensasi itu memabukkan.
Huuu...
Shen Yu menghembuskan napas, dan uap putih tipis keluar dari mulutnya, melesat lurus seperti anak panah sejauh satu jengkal sebelum buyar.
[Pemurnian Qi - Tingkat 1 (Awal)]
Ia membuka mata. Ada kilatan cahaya samar di pupilnya yang segera menghilang.
"Aku berhasil..." bisiknya, menatap kedua tangannya. "Aku bukan lagi manusia fana seutuhnya."
Ia mengambil sebuah batu sungai seukuran kepalan tangan dewasa. Dengan sedikit aliran Qi ke telapak tangannya, ia meremas batu itu.
Krak!
Batu keras itu retak hancur. Shen Yu tersenyum lebar, jantungnya berdebar kencang karena kegembiraan. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama.
Telinganya yang kini tajam menangkap suara aneh.
Cit... Ciiiit...
Suara itu datang dari arah lumbung padi desa yang berjarak sekitar dua ratus meter. Itu bukan suara tikus biasa. Nadanya terlalu tinggi, menusuk telinga dengan frekuensi yang membuat kepala pening.
Wajah Shen Yu berubah serius. Ia teringat ancaman pria berjubah merah itu. "Jika kalian menyembunyikan sesuatu..."
Mungkinkah mereka meninggalkan "mata"?
Matahari mulai terbenam. Bayangan memanjang. Shen Yu tidak pulang ke rumah, melainkan bergerak mengendap-endap menuju lumbung desa.
Suasana di sekitar lumbung sunyi senyap. Anjing penjaga lumbung tergeletak di tanah, tidak bergerak. Shen Yu mendekat dan memeriksa anjing itu. Mati. Lehernya memiliki dua lubang kecil yang rapi, dan tubuhnya kering kerontang—darahnya telah dihisap habis.
Bulu kuduk Shen Yu meremang. Binatang iblis.
Tiba-tiba, dari atap lumbung yang gelap, sepasang mata merah menyala terbuka.
Sreeeeet!
Makhluk itu terjun bebas ke arah Shen Yu.
Shen Yu bereaksi murni karena insting barunya. Ia melempar tubuhnya ke samping, berguling di tanah berdebu.
Sesosok makhluk mendarat di tempat ia berdiri tadi. Itu adalah kelelawar, tapi ukurannya sebesar elang. Bulunya hitam berminyak, dan matanya merah menyala memancarkan kecerdasan jahat.
Kelelawar Mata Darah (Tingkat Rendah - Setara Pemurnian Qi Tingkat 1)
Makhluk itu mendesis, memamerkan taringnya yang berlumuran darah anjing. Ia bukan hanya binatang buas; ia adalah Familiar binatang peliharaan yang ditinggalkan kultivator untuk mengawasi. Jika makhluk ini kembali ke tuannya dan melaporkan adanya aura Qi di desa ini, Shen Yu dan seluruh desa tamat.
"Kau tidak boleh pergi dari sini," desis Shen Yu, mencabut parang pemotong rumput dari pinggangnya.
Kelelawar itu tampaknya meremehkan Shen Yu. Ia mengepakkan sayapnya, menciptakan hembusan angin yang menerbangkan debu, lalu melesat maju dengan kecepatan mengerikan, mengincar leher Shen Yu.
Cepat! Terlalu cepat untuk mata orang biasa!
Tapi Shen Yu kini bisa melihat lintasannya.
Ia tidak mundur. Ia menyalurkan seluruh sisa Qi yang baru saja ia kumpulkan ke lengan kanannya. Ototnya menegang, urat-urat menonjol.
"Mati!"
Shen Yu mengayunkan parang itu secara horizontal.
Trang!
Parang beradu dengan cakar kelelawar itu, memercikkan bunga api. Kekuatan benturannya membuat tangan Shen Yu mati rasa, dan parang besinya retak. Namun, kelelawar itu juga terpental mundur, sayap kirinya robek sedikit.
Makhluk itu tampak terkejut. Ia tidak menyangka "semut" ini bisa melawan. Ia memekik marah, gelombang suara sonik menghantam kepala Shen Yu, membuatnya pusing seketika.
Shen Yu terhuyung. Kelelawar itu memanfaatkan kesempatan, menukik lagi untuk membunuh.
Dalam kepanikan, tangan kiri Shen Yu secara tidak sadar menyentuh dadanya, tempat Giok Retak tersimpan.
Tiba-tiba, rasa dingin dari Giok itu menjalar ke kepalanya, membersihkan rasa pusing akibat serangan sonik itu dalam sekejap.
Pikiran Shen Yu menjadi jernih sebening kristal. Waktu seolah melambat. Ia melihat leher kelelawar yang terbuka saat makhluk itu membuka mulut untuk menggigit.
Tanpa ragu, Shen Yu menjatuhkan parangnya yang rusak, dan dengan tangan kosong yang dialiri Qi, ia menerjang maju. Bukan untuk memukul, tapi untuk menangkap.
Ia mencengkeram leher kelelawar itu di udara.
Cakar makhluk itu mencabik lengan Shen Yu, merobek kulit dan daging, tapi Shen Yu tidak melepaskannya. Ia membanting makhluk itu ke tanah dengan sekuat tenaga, lalu menghantamkan batu sungai yang masih ia genggam di tangan kanan ke kepala makhluk itu.
Buagh!
Buagh!
Buagh!
Tiga kali hantaman keras. Jeritan makhluk itu berhenti. Kepala kelelawar itu hancur.
Shen Yu jatuh terduduk, napasnya memburu. Darah segar mengalir dari luka cakar di lengan kirinya. Ia menatap bangkai makhluk mengerikan itu dengan campuran rasa jijik dan takut.
Ini adalah pertarungan pertamanya. Ia menang, tapi ia menyadari betapa lemahnya dirinya. Seekor binatang mata-mata tingkat rendah saja hampir membunuhnya.
Ia segera menyeret bangkai itu, menguburnya dalam-dalam di tumpukan kompos di belakang lumbung agar baunya tersamar, lalu berlari ke sungai untuk mencuci luka dan darahnya.
Malam itu, Shen Yu menatap langit-langit kamarnya sambil menahan perih di lengannya yang dibalut kain perca.
Desa ini tidak lagi aman. Matanya telah terbuka. Musuh ada di mana-mana. Jika ia tetap tinggal, cepat atau lambat ia akan membawa petaka bagi orang tuanya.
"Aku harus pergi," putusnya dalam hati. "Aku harus menjadi kuat di luar sana, agar tidak ada yang berani menyentuh tempat ini."