Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Bernama Rumah
Mobil pikup tua itu terus melaju sekitar empat puluh menit. Lestari nggak tau mereka lewat mana aja—dia cuma natap jendela dengan pandangan kosong, ngeliat gedung-gedung, warung-warung, orang-orang yang jalan, yang hidup normal. Hidup yang nggak bakal pernah dia rasain lagi.
Akhirnya mobilnya belok masuk ke sebuah gang sempit. Gangnya lebih sempit dari gang di kampung Lestari, bahkan mobil pikap itu hampir nggak muat—spionnya nyerempet tembok kiri kanan. Jalanannya rusak, berlubang, becek bekas hujan semalam.
"Udah sampe," gumam Dyon sambil matiin mesin. Suara mesinnya masih batuk-batuk sebentar sebelum akhirnya bener-bener mati.
Lestari ngeliat keluar. Rumah-rumah di sini... padat banget. Nempel satu sama lain, kayak korek api yang disusun rapat. Cat-catnya udah pada kusam, ada yang malah nggak dicat sama sekali, cuma tembok bata merah polos. Selokan di pinggir jalan penuh sampah, baunya... ugh, Lestari langsung nutup hidung.
Di depan mobil ada sebuah rumah kecil—lebih kecil dari rumah kontrakan Lestari. Tembok nya warna hijau pudar, atapnya genteng merah yang beberapa udah pecah. Ada pagar besi berkarat, pintunya setengah terbuka—atau lebih tepatnya miring karena engsel bawahnya udah copot.
"Turun." Dyon udah keluar duluan, buka pintu Lestari dari luar, narik tangannya kasar.
Lestari turun dengan kaki gemetar. Kakinya hampir nyangkut di ujung kebaya yang kepanjangan, untung nggak jatuh.
Dyon ngeliat pagar yang terbuka miring itu, mukanya langsung berubah kesel. "Sialan, gerbangnya rusak lagi." Dia menoleh ke rumah sebelah kanan, teriak keras. "PAK DENGKLEK! PAK DENGKLEK TOLONGIN BUKAIN GERBANG!"
Pak Dengklek—nama yang aneh—itu bapak-bapak tua yang lagi duduk di teras rumahnya. Umurnya mungkin tujuh puluhan, rambutnya putih semua, punggungnya bungkuk. Dia lagi mengupas singkong sambil dengerin radio jadul yang suaranya sember.
Bapak itu noleh, tapi mukanya bingung. "HAH?!"
"BUKAIN GERBANG, PAK!"
"HAH?! KANDANG AYAM?!"
Dyon melotot. Urat di lehernya mulai keliatan. "GERBANG! GERBAAAAAANG!"
"OOOOH, KANDANG!" Pak Dengklek berdiri, jalan pelan ke belakang rumahnya—ke arah kandang ayam—terus buka pintu kandangnya. Ayam-ayam pada keluar, kotek-kotek ribut.
"BUKAAAAAAN! BUKAN KANDANG AYAM TOLOL! GERBANG RUMAH GUE!"
Tapi Pak Dengklek nggak denger. Dia malah senyum-senyum sendiri, kayaknya bangga udah nolongin. "UDAH, YON! UDAH GUE BUKAIN!"
Dyon narik rambutnya sendiri, frustasi. "BAPAK TUA BUDEG SIALAN! GERBANG, BUKAN KANDANG!"
Lestari... entah kenapa... bibirnya sedikit terangkat. Hampir senyum. Pemandangan ini... konyol banget. Di tengah semua kesedihan, ketakutan, keputusasaan yang dia rasain, ada momen absurd kayak gini. Pak Dengklek masih berdiri di depan kandang ayamnya, lambaian tangan ke Dyon dengan senyum lebar tanpa gigi.
Tapi sebelum senyumnya bener-bener keluar—
"LO SENYUM?!"
Lestari langsung kaget. Senyumnya langsung hilang.
Dyon melotot ke arahnya, mukanya merah, matanya melebar. "GUE LAGI KESEL, LO MALAH SENYUM?! LO PIKIR INI LUCU?!"
"A—aku nggak—"
"JANGAN BOHONG! GUE LIAT LO MAU SENYUM!" Dyon melangkah maju, tangannya nunjuk-nunjuk muka Lestari. "Dengar ya, mulai sekarang lo JANGAN PERNAH senyum kalau gue lagi marah! Lo ngerti nggak?!"
Lestari ngangguk cepet, tubuhnya mundur sampe punggungnya nabrak mobil.
"JAWAB PAKE SUARA!"
"N—ngerti..."
"NGERTI APA?!"
"Ngerti... nggak... nggak boleh senyum kalau kamu lagi marah..." Suaranya gemetar parah.
Dyon menatapnya beberapa detik, napasnya berat, terus dia ludah ke tanah—tepat di samping kaki Lestari. "Bener. Inget baik-baik."
Dia berbalik, jalan ke arah gerbang, menyepak gerbang yang miring itu sampe terbuka lebar—KRANG. "Pak Dengklek bego," gerutunya sambil masuk.
Lestari berdiri diem di tempatnya. Jantungnya masih dag-dig-dug. Kakinya lemes. Dia ngeliat Pak Dengklek yang masih berdiri di kandang ayam, sekarang lagi ngumpulin ayam-ayamnya yang pada lari. Bapak itu nggak nyadar apa-apa. Nggak tau kalau dia baru aja—secara nggak sengaja—membuat Lestari kena marah.
"MASUK! JANGAN CUMA BENGONG!" teriak Dyon dari dalam.
Lestari cepet-cepet masuk, nutup gerbang yang miring itu seadanya.
Rumahnya... Tuhan, rumahnya...
Lebih sempit dari yang Lestari bayangin. Ruang tamunya cuma muat buat empat orang duduk—ada satu sofa lusuh warna cokelat yang dudukan nya udah kempes, meja kecil yang cat nya mengelupas, sama TV tabung jadul yang layarnya udah agak buram.
Lantainya keramik putih—tapi udah nggak putih lagi, udah abu-abu kotor, beberapa keramiknya retak. Dinding nya cat hijau lumut yang udah mengelupas sana-sini, kelihatan semen abu-abunya. Langit-langitnya rendah, cuma setinggi tiga meter-an, penuh sarang laba-laba di sudut-sudutnya.
Baunya... campuran rokok basi, bau apek, bau makanan tengik, sama bau... apa ya... bau kayak kaki yang nggak dicuci seminggu.
Di sofa, duduk seorang wanita paruh baya.
Wulandari.
Ibu Dyon.
Usianya mungkin lima puluhan awal, tapi keliatan lebih tua. Kulitnya keriput, terutama di dahi sama di sekitar mata. Rambutnya diikat konde ketat di belakang kepala—konde yang kenceng banget sampe bikin wajahnya keliatan ketarik ke belakang. Bajunya daster batik lusuh, ada noda di bagian dada—noda kecap kayaknya.
Dia lagi mengupas bawang sambil nonton TV. Acara gosip siang. Suaranya keras banget, sampe bikin kuping Lestari sakit.
Wulandari noleh waktu denger pintu dibuka. Matanya langsung natap Lestari dari atas sampe bawah. Natap nya lama. Ngejatuhin. Kayak lagi ngejudge barang dagangan di pasar.
"Ini istri lo?" tanyanya datar ke Dyon.
"Iya, Mah. Namanya Lestari."
Wulandari menyeringai. Seringai yang... gimana ya, ngeri. "Kurus. Culun. Jelek pula."
Lestari menunduk. Nggak berani ngeliat.
Dyon ketawa. Ketawanya keras, agak kayak orang kesetanan. "Yang penting murah, Mah. Gak usah bayar mahar mahal-mahal, tinggal lunasi hutang. Dapet pembantu gratis pula."
Pembantu gratis.
Lestari ngerasa sesuatu menyesakan dadanya. Bukan hati—karena hatinya udah mati. Tapi dadanya sesak, berasa susah napas.
"Hmm... iya juga sih." Wulandari berdiri, jalan mendekat ke Lestari. Tangannya yang kasar—penuh kapalan—ngangkat dagu Lestari paksa, membuat mereka bertatapan. "Tapi mukanya lumayan lah. Bisa dipake. Cuma badannya keliatan lemah. Lo bisa kerja berat nggak?"
"S—saya... saya bisa, Bu..." Suara Lestari hampir nggak kedengeran.
"Bu?" Wulandari menjilat bibir bawahnya yang kering pecah-pecah. "Jangan panggil gue Bu. Panggil Mamah. Lo sekarang udah istri Dyon, otomatis lo menantunya gue."
"Ma—maaf... Mamah..."
"Bagus." Wulandari melepas dagu Lestari, terus ngelap tangannya di daster—kayak abis megang sesuatu yang kotor. "Dyon, kamar dia yang mana?"
"Yang belakang aja, Mah. Yang biasa buat gudang."
"Oke. Sini, Lo." Wulandari ngangguk ke arah belakang, jalan duluan.
Lestari ngikutin dengan langkah pelan. Mereka lewat dapur sempit—kompornya kotor, penuh kerak minyak, wastafelnya penuh piring kotor yang udah ditumbuhi jamur. Baunya... ya ampun, Lestari hampir muntah.
Terus mereka sampe di sebuah pintu kecil di ujung. Pintunya kayu, udah lapuk, ada lubang kecil di bagian bawah—mungkin bekas tikus.
Wulandari buka pintunya—krieeeet—bunyi engselnya nyaring, bikin merinding.
"Ini kamar lo."
Lestari ngeliat ke dalem.
Kamar? Ini... ini gudang beneran. Ukurannya cuma dua kali tiga meter. Nggak ada jendela, cuma lubang angin kecil di atas yang dikasih teralis besi. Lantainya semen polos yang udah retak-retak, nggak pake keramik. Dindingnya bata merah polos, nggak diplester, nggak dicat.
Di lantai ada tikar pandan lusuh yang udah sobek di beberapa bagian. Di atasnya ada selimut—selimut yang warnanya udah nggak jelas, abu-abu kehitaman, bolong-bolong dimakan ngengat.
Itu aja. Nggak ada kasur. Nggak ada bantal. Nggak ada lemari. Nggak ada apa-apa.
Di sudut ruangan ada kardus-kardus tua berdebu, sama ember plastik retak.
"Lumayan kan? Masih ada atap." Wulandari ketawa pelan. "Lo tidur di sini. Jangan harap bisa tidur sekamar sama Dyon sebelum lo buktiin lo bisa jadi istri berguna."
Istri berguna. Apa maksudnya?
"Yang dimaksud berguna tuh," Wulandari melipat tangan di dada, "lo harus masak, nyuci, ngepel, nyapu, beberes rumah, nyuci piring, nyuci baju Dyon sama gue, belanja ke pasar, ngurus semua. Ngerti?"
Lestari ngangguk pelan.
"Besok lo bangun jam empat pagi. Masak sarapan. Abis itu beresin rumah. Dyon berangkat kerja jam tujuh, lo harus udah siapin semuanya sebelum itu. Kalau dia telat gara-gara lo, gue tampar lo. Ngerti?"
"N—ngerti, Mamah..."
"Bagus." Wulandari berbalik, mau pergi, tapi berhenti sebentar di pintu. Nggak noleh, cuma bilang, "Oh iya, satu lagi. Lo makan belakangan. Setelah gue sama Dyon selesai. Lo makan sisa. Jangan berani-beraninya makan duluan. Nanti gue tau."
Pintu ditutup.
Krieeeet.
BRAK.
Lestari sendirian di kamar—nggak, di gudang itu.
Gelap. Cuma ada sedikit cahaya dari lubang angin di atas. Udara nya pengap, bau apek, bau tanah lembab.
Lestari jalan pelan ke tikar, duduk di sana. Tikar nya kasar, beberapa bagiannya nyangkut di kulit kakinya yang halus. Dia ambil selimut bolong itu, cium baunya—bau keringetan, bau nggak dicuci bertahun-tahun.
Dia peluk selimut itu erat, meskipun baunya bikin mual.
Terus dia nangis.
Nangis lagi.
Nangis sampai nggak ada suara. Cuma air mata yang ngalir, tubuh yang getar, napas yang tersendat-sendat.
"Ya Allah... ini... ini yang Kau kasih ke aku? Ini ujian atau... atau hukuman...?"
Nggak ada jawaban. Cuma suara tikus yang lari-lari di langit-langit.
Malem itu—sekitar jam sembilan—Lestari masih duduk di tikar, memeluk lutut. Dia nggak bergerak. Nggak tau harus ngapain. Dari luar denger suara TV keras, suara tawa Dyon sama Wulandari.
Tiba-tiba pintu dibuka keras—BRAK.
Lestari kaget, noleh.
Dyon berdiri di pintu. Matanya merah. Merah banget. Mukanya agak memerah juga, napasnya bau—bau alkohol menyengat.
Mabuk.
"Eh... istri..." Suaranya agak cadel. Dia masuk, nutup pintu belakangnya, mengunci.
Jantung Lestari langsung dag-dig-dug. Dia mundur sampe punggungnya nempel tembok.
"K—kamu... kamu ngapain...?"
Dyon nyengir. Seringai menjijikkan. "Lo pikir ngapain? Lo kan istri gue sekarang. Artinya... lo punya kewajiban."
"A—aku... aku belum siap..."
"SIAP NGGAK SIAP GUE NGGAK PEDULI!" Dyon teriak, langsung narik tangan Lestari keras, membanting dia ke tikar.
"JANGAN! JANGAN TOLONG—"
Tapi Dyon nggak denger. Atau dia denger tapi nggak peduli.
Yang terjadi selanjutnya...
Lestari nggak bisa ceritain dengan kata-kata.
Sakit. Sakit banget. Bukan cuma sakit fisik—itu udah pasti—tapi sakit yang jauh lebih dalam. Sakit yang merusak jiwa.
Dyon brutal. Kasar. Nggak ada kelembutan, nggak ada perhatian, nggak ada... kemanusiaan.
Lestari nangis. Teriak. Minta tolong. Tapi nggak ada yang datang. Wulandari di luar mungkin denger, tapi dia nggak datang. Malah suara TV yang semakin terdengar keras.
Setelah selesai—setelah Dyon puas—dia berdiri, narik celana nya, terus keluar begitu aja.
Nggak ada sepatah kata.
Nggak ada "maaf".
Nggak ada "makasih".
Nggak ada apa-apa.
Pintu ditutup lagi—BRAK.
Lestari tergeletak di tikar. Tubuhnya sakit semua. Kakinya, perutnya, dadanya, semuanya. Kebaya nya sobek di beberapa bagian. Rambutnya yang tadinya rapi sekarang berantakan, ada yang nyangkut di tikar.
Dia nggak bisa gerak. Cuma bisa nangis dalam diam. Air matanya ngalir ke pelipis, turun ke telinga, ke tikar.
Dari luar, suara Dyon ngomong keras ke Wulandari.
"Akhirnya gue punya pembantu gratis dan gue bisa puasin nafsu gue tiap hari!"
Tawa mereka meledak.
Lestari nutup telinga pake kedua tangan, tapi tetep kedengeran.
Dia meringkuk, posisi janin, peluk tubuhnya sendiri yang gemetar.
"Ibu... Ibu maafin aku... aku harusnya kabur... harusnya aku lebih berani..."
Tapi sekarang udah terlambat.
Udah terlambat.
**hook chapter (hapus aja kalo mau post)
Pagi datang tanpa belas kasihan.
Sekitar jam lima subuh, Lestari terbangun—bukan karena alarm, tapi karena pintu digedor keras.
"BANGUN! LO KIRA BISA TIDUR SAMPE SIANG?!"
Suara Wulandari.
Lestari bangun dengan susah payah. Badannya sakit semua. Setiap gerakan bikin dia meringis. Dia liat ke bawah—ada bercak darah di tikar. Darahnya.
Dia buru-buru berdiri, limbung, hampir jatuh. Pintu dibuka. Wulandari berdiri di sana, tangan di pinggang, muka jutek.
"Cepet mandi terus masak. Dyon mau sarapan jam enam. Kalau telat, lo tau sendiri."
Wulandari pergi.
Lestari berdiri sendirian, di kamar gelap itu, dengan tubuh yang sakit dan jiwa yang mulai retak.
Ini baru malam pertama.
Dan dia nggak tau gimana bisa bertahan untuk malam-malam berikutnya.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁