Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Merubah Panggilan
"Bintang ingin Anda membantu bintang untuk menulis kaligrafi di lukisan milik Bintang, apa Anda bersedia..." Bintang bertanya dengan dagu yang menggantung dimeja, dan posisi yang berdiri dengan lutut.
"Baik... Tapi kau harus memenuhi satu permintaan ku." Xavier ikut mengajukan satu syarat pada Bintang yang membuat Bintang terdiam sejenak.
"Baik... Asalkan persyaratan Anda masih dalam batas yang wajar, maka Bintang pasti akan mengabulkannya." Sahut Bintang dengan yakin, jika apa yang diucapkan tadi, itu jawaban yang paling bijaksana untuk mereka.
"Ganti panggilan mu untuk ku," Xavier berkata sambil membuang mukanya kesamping.
"Maksud Anda?" Tampak Bintang menatap dirinya dengan sorot mata yang bingung serta mata yang mengerjap lucu.
"Jangan panggil aku Tuan muda lagi, itu bisa membuat orang luar berasumsi yang bukan-bukan tentang ku, itu juga bisa mempengaruhi imej serta saham AX Crops ." Xavier beralasan dengan suara yang setengah gugup.
"Benarkah? Kalau begitu bintang harus mengganti dengan panggilan apa? Jangan salah paham Bintang hanya takut membuat Anda salah paham lagi," Ucap Bintang terkejut sambil menggoyang-goyangkan tangannya dengan wajah panik, saat melihat Xavier yang menatapnya dalam.
"Samakan saja dengan panggilan mu untuk Axel," Sahut Xavier dan langsung meminum air agar gelas itu bisa menutupi separuh wajahnya yang mendadak terasa panas setelah mengucapkan kalimat itu.
"Baik..." Sahut Bintang cepat.
"Coba kau panggil,"
"Kak Xavier?"
"Persingkat..."
" Hah!" Bintang terkejut, tapi, tatapan serta raut wajah xavier membuatnya sedikit mengerti jika xavier tidak ingin dipanggil begitu, lalu tak lama kemudian tampak mata bulat itu berbinar.
"Kak... Kak Vier?" Sahut Bintang ragu-ragu, karena Dia tahu, hanya orang-orang terdekatnya saja yang diizinkan memanggil dirinya dengan panggilan begitu.
"Hemmm..." Sahut Xavier hanya dengan deheman saja, untuk mengurangi rasa gugup saat mendengar Bintang memanggil nama kecilnya.
Hany Bintang satu-satunya gadis yang Dia izinkannya memanggilnya dengan ujung namanya, Vier.
"Baiklah... Kau ingin aku menulis apa?" Xavier berkata setelah bisa mengendalikan hati dan ekspresi wajahnya.
"Ini... Lihat Bintang sudah membuat puisinya, Kak Vier hanya tinggal menulis saja." Ucap Bintang dengan riang sambil mengeluarkan selembar kertas yang berisikan puisi yang ditulisnya.
"Bagus... Aku tidak menyangka jika kau sangat berbakat dibidang ini." Ucap Xavier setelah membaca puisi pendek milik Bintang.
"Kak... Terima kasih..." Ucap Bintang dengan tulus, membuat Xavier tertegun sejenak.
'Sorot mata dan senyum itu lagi, mengapa hanya dengan satu tatapan dan senyum busa sangat mempengaruhi ku,' Ucap Xavier dengan gelisah.
"Tuan... Ini file yang berisi data Anda minta..." Ucap Mark setelah mengetuk pintu terlebih dahulu lalu melirik Bintang yang masih berada dalam ruangan itu dan seolah acuh terhadap apa yang akan mereka bahas.
"Kelompok itu lagi, aku rasa mereka diperintahkan oleh orang yang sama," Mark menyampaikan pendapatnya setelah melihat kode dari Xavier yang mengatakan tidak masalah atas kehadiran Bintang.
"Kirimkan tubuhnya ke mansion mereka untuk memberi peringatan untuk mereka," Sahut Xavier datar.
'Astaga... Bukankah seharusnya aku tidak berda diruangan ini, ini bukanlah sesuatu yang bisa aku dengarkan dengan bebas.' Ucap Bintang menciut sambil mengusap tengkuknya.
#####
"Apakah kalian juga merasakan jika jalang itu semakin menjauh?" Ucap Saka sambil meletakkan ponselnya.
Aurora yang mendengar saudaranya mulai membicarakan Bintang seketika emosi, ingatnya kembali pada kejadian yang dialaminya tadi siang.
Penembakan misterius saat mereka tengah latihan menembak. Aurora ingat, penembakan itu tidak terjadi dalam kehidupan nya yang sebelumnya.
Tapi, yang membuat Aurora semakin emosi karena dirinya melihat Bintang yang sangat dilindungi oleh Xavier, hingga tidak lepas dari pelukannya.
'Dasar Jalang murahan, bisa-bisanya Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa menempel pada Xavier. Dan mengapa juga Xavier membiarkan Bintang menempel padanya, tidak... Ini tidak bisa dibiarkan, posisi Nyonya Alexander hanya bisa menjadi milik gue,'
'Dan posisi Bintang tidak akan bisa lebih tinggi dari kaki gue, karena takdir hidupnya untuk menjadi keset gue dan gue injak-injak seumur hidupnya.' Tersungging senyum licik dibibir mungil itu.
"Itu hanya triknya saja, untuk menarik perhatian kakak... Bukankah dulu juga Dia pernah begitu, tapi setelah satu Minggu kemudian, sifat aslinya kembali lagi..." Sahut Aurora lembut dan penuh maksud.
"Pagi pula kita ini saudaranya yang lebih tua, jadi sudah seharusnya Dia yang harus datang dan meminta maaf pada kita." Lanjut Aurora lagi dengan geram membuat ketiga kakaknya yang lain seketika langsung setuju, hanya meninggalkan Kalla yang masih merasa bimbang dan gelisah.
"Kak... Bukankah 3 hari lagi ulang tahun Kak Dewa... Rora rasa Bintang sengaja mengabaikan kita semua, untuk memberikan kado... Setelah itu kembali lagi menjadi Bintang yang seperti dulu, Bintang sang penjilat." Ucap Aurora berapi-api.
"Kau benar... Ini hanya triknya saja, Dia fikir dengan Dia sengaja mengabaikan kita itu akan bisa merubah keadaan nya dan nilainya dimata kita... Mimpi..." Ucap Saka emosi.
"Oh ya... Jika selama ini kita benar-bena mengabaikannya, maka beri Dia sedikit dorongan, kirimkan alamat restoran yang sudah kita booking padanya... Agar Dia tidak tersesat seperti biasanya, aku ingin melihat kado apa yang sudah Dia persiapkan untukku jali ini." Ucap Dewa dengan sedikit semangat.
"Apa lagi yang bisa jalang itu berikan selain dari barang-barang yang tidak berguna" Sahut Saka dengan tertawa mengejek.
Sedangkan Aurora sudah mempunyai rencana tersendiri untuk mempermalukan Bintang