Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
Bab 1 🩷 Victim blaming (Dia, si sayap kupu-kupu yang patah)
...----------------...
Bukan karena tak cantik, bukan karena tak mampu, namun ia tak pernah bisa melawan dengan segala kekurangannya.
Lemah, adalah alasan terbesar tekanan yang didapatkan. Dan karena sisi lemahnya itu, ia selalu menjadi yang paling dikucilkan, ditekan dan dirundung. Tak ada teman yang membantu, sebab....berteman artinya ikut menerima apa yang dirasakan.
"Eitss! Mau ngelawan? Mau ngelawan?! Atau gue ambil ininya!"
Tangannya meraih-raih udara dengan gelengan kepala yang kencang, "jangan please!"
Hahahahah!
Sudah kali kesekiannya semenjak mereka tau jika ia memiliki riwayat asma, mereka mempermainkan tangisnya.
Gadis berkucir satu itu meraih kotak makan dimana bekalnya sudah tidak lagi utuh, sebab diambil paksa, setelah berhasil mengejar sebuah benda sumber nafasnya yang dilempar dan masuk ke bawah bangku, hingga kepalanya sempat terbentur beberapa kali.
Bekal mama yang seharusnya ia makan, justru harus ia relakan dimakan teman-teman yang biasa melakukan itu. Belum lagi tugas-tugas sekolah, yang harus selalu ia bagi bersama, dan sukarela ia kerjakan milik mereka demi tak dikucilkan untuk beberapa waktu.
Mereka, mengikrarkan diri, lewat pesona, pertemanan, dan power sebagai penguasa kelas---lingkungan sekolah tidak tertulis. Bukan pengurus organisasi intra sekolah, bukan pula MPK atau majelis perwakilan kelas, namun jaringan 'teman' mereka berada di dalamnya. Di dalam organisasi yang begitu disegani siswa.
Ia berjalan diantara koridor sekolah yang telah hampir sepi, sebab jam pulang sekolah sudah sejak tadi. Seharusnya jadwal piketnya bukan hari ini, melainkan telah terlewat 3 hari yang lalu. Tapi khusus untuknya, dalam satu pekan bisa jadi 4 hari jadwal piket. Sebab, ia sering di tahan untuk mengerjakan piket mereka.
Ting!
Mas Elok
De, dimana? Mas udah di depan gerbang?
Ia berlarian dengan gema ayunan langkah sepatu yang mengisi sudut-sudut kelas dimana pintunya tertutup.
Stop bullying!
Katakan tidak pada perundungan!
Mulai dari sekolah lalu ke dunia, hentikan bibit bullying sejak dini!
Dan poster-poster yang ditempel pihak OSIS serta para pengurus mading sekolah, hanya akan jadi suara nyaring tanpa makna berarti, hanya akan menjadi suara sumbang yang tertiup angin saja bersama harapan sekolah, sebab sayapnya telah patah....
Bukan tidak pernah melapor, bukan tidak pernah melawan. Namun saat ia mencoba mengadu yang didapatkan adalah....
Taktik manipulatif----gaslighting, membuatnya merasa meragukan persepsinya sendiri, dengan memutar balikan fakta. Guilt tripping, membuatnya merasa bersalah agar melakukan apa yang diinginkan mereka dengan mengungkit jika, mereka sering mengajaknya bicara, tidak membeda-bedakan teman.
Manipulasi emosional, memanfaatkan kelemahan emosionalnya dengan mengancam, memaksa agar bisa mengendalikan. Serta, victim blaming....dimana ia justru disalahkan atas kejadian buruk yang dialaminya bahkan tak segan dimintai pertanggungjawaban pula.
Suruh siapa dianya bengong!
Lagian dia kan punya asma, udah tau punya asma, alat inhaler nya dimainin jatoh sendiri repot sendiri!
Orang pendiem terus mojok-an gitu siapa yang mau temenan.
Mana saya tau kalo dia ngga mau, kan saya juga ngga maksa. Lagian juga saya ikut jatoh, gara-gara dia.
Terkadang, mereka juga playing victim dan menghasut teman lain demi memperkuat ancamannya, mengintimidasi agar tak mampu melawan dan tak memiliki teman. Sejak awal, ia tau....jika akan menjadi sasaran empuk sebab, tidak ada yang se-diam dirinya, tidak ada yang se-baik dirinya, tidak ada yang se-CUPU dirinya, dan se-penyakitan dirinya. Dan aksi ini, sudah terjadi sekian lama.
Ia menyeka keringat saat berhasil lolos dari koridor yang terasa pengap, hingga meloloskan nafasnya tepat di depan parkiran.
Mas Elok, ia masih menunggu dengan helm yang masih terpasang di kepala, "Mas!" sapanya.
"Kok lama, ngapain dulu? Jangan bilang nongki-nongki...dibilangin mending tidur di rumah." Ia menarik kepala sang adik, yang kemudian membuatnya notice jika disana ada sarang laba-laba menempel, "ngapain sih? Emang ada ekskul kuda lumping ya? Sampe kotoran nempel-nempel begini di rambut?" tawanya renyah membuat gadis ini manyun, "udah yu ah! Aku ngga mau bahas, pulang aja!"
Ia berkata jujur, memang tak ingin membahas apapun tentang sekolah. Jika biasanya siapapun anak sekolah akan begitu riang bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah, namun dirinya....seolah ingin menghapus ingatan itu.
Ia begitu lahap menyantap makan siang. Masakan mama memang paling the best, cukup magic menghapus sedikit rasa sedihnya siang itu, menghilangkan bunyi kruyukk di perutnya.
"Bekalnya habis?" tanya mama membuat ia diam sejenak demi mengambil nafas yang menyerbu tiba-tiba mengisi paru-paru namun mampu membuat detakan jantung itu diam sejenak, "abis, ma." tangan lentik itu mendorong kacamata agar lebih nyaman dan melekat kuat, tak pergi kemanapun.
/
Ia berjalan ke arah kamar, menatap dalam-dalam dirinya lewat pantulan cermin dan melepas kacamata. Tidak ada yang berubah di pandangannya, wajahnya itu tetap seperti biasanya, pandangannya juga. Hanya saja ia ia mundur beberapa langkah, maka wajahnya akan terasa berbayang.
Ting!
Rere
Asma, tugas makalah seni rupa jangan lupa punya gue.
Bahkan ia diam saja saat namanya diganti seenak jidat, dengan mencibir apa yang dideritanya. Ia menghela nafas, menatap kalender demi menghitung sisa nafasnya berada di sekolah menengah pertama itu. Berharap besok, di sekolah baru...semua belenggu itu bebas. Mungkin ia juga harus membuat perubahan di dirinya terutama penampilan, menutup semua kekurangan dari pengetahuan orang lain, agar nasib buruk ini tak kembali menimpanya.
Rere
Heh asma, denger ngga Lo? Jangan di read doang. Udah bosen baik-baik aja?
Oke. Balasnya.
Ia datang seperti biasanya, yang tak biasa adalah ia membawa tiga buah makalah, bukan karena ia terlalu rajin, namun hanya memastikan jika besok ia akan baik-baik saja menghirup nafas di sekolah ini.
Hasil kerja otaknya, hasil lelahnya semalam ia serahkan dalam bentuk makalah berjilid tugas seni rupa.
Ada senyum puas dari mereka, "good girl. Ntar SMA dimana?" tanya nya digelengi, "ngga tau. Kayanya pesantren."
Ia berdecih, namun kemudian mendorongnya untuk enyah. Lantas obrolan tentang lawan jenis kembali menghiasi pojok bangkunya. Sementara dirinya, harus puas dengan menghirup alat inhaler.
Sore ini...ia memutuskan untuk mulai melakukan latihan pernafasan, menjalani terapi dan olahraga mengolah nafas yang mama programkan untuknya agar asma yang dideritanya tidak terlalu mengganggu. Atau setidaknya mengurangi intensitas pemakaian inhaler pada waktu-waktu tertentu seperti sekarang, cuaca dingin, udara, alergen, aktivitas berat, stress, asap rokok, emosi, flu/pilek, asam lambung dan posisi tidur tertentu di malam hari.
.
.
.
Welcome di ceritaku yang selanjutnya. Well, cerita lama yang sudah bertahun-tahun ada di list baru kali ini bisa terealisasikan. Karena ini cerita yang sudah lama sekali, jadi jangan heran atau bertanya-tanya jika nanti ke depan ada sesuatu yang beda dari alur cerita yang dulu dan hanya beberapa bab itu. Anggap saja ini bentuk upgrade dan penyegaran. Termasuk demi *taste* tersendiri di karya ini 🙏🙏
Karya ini juga kubuat, agar se-aman dan senyaman mungkin jikalau pembaca baru tidak membaca cerita sebelumnya. Karena aku akan menyuguhkan dengan alur baru meski mencatat dan mengikuti poin-poin alur di cerita sebelumnya. 🤗
Tak bosan mengingatkan ya, silahkan melipir bagi pembaca yang hanya ingin melihat-lihat saja tanpa membaca sampai tuntas. Karena jika kamu sudah membaca bab 1 maka kamu sudah teken kontrak sama aku untuk membaca sampai karya end. Hargailah usaha kami, para penulis 🙏
Oh ya, sempat di cerita kemarin. Entah pembaca baru atau lama tapi tidak menyadari. Beliau bertanya, "thor, kenapa tulisanmu miring-miring sih?!" komentnya, lalu menghilang bagai asap. Next, jika beliau datang ke cerita ini, Monggo...pembaca lain yang mungkin sudah menemani saya berkarya barang 1 dan 2 karya sebelumnya bisa bantu saya menjelaskan, arti tulisan yang saya buat miring, atau tebal itu apa maksudnya. 🤗
Jangan membebaniku juga ya... dengan pernyataan, "teh cerita ini ngga kocak, ngga ngakak," sumpeehhh itu jadi beban buatku, ngga boleh ya dek, Kaka, mbak, sistah. Ini cerita, bukan naskah stand up comedy. Bijaklah berkomentar.
Happy reading all 💞💞
.
.
.
.
saya suka 😍😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣