NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waspada

Keinginan yang begitu kuat, begitu menariknya, hingga ia tanpa sadar melangkah maju, kakinya bergerak sendiri, seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat menuju tepi kolam, menuju sumber kebahagiaan itu, seolah… seolah ada sesuatu yang kini harus ia kejar, sesuatu yang kini harus ia miliki, sesuatu yang harus ia dekap, sesuatu yang....tiba-tiba, di tengah renungannya, Queenora merasakan sebuah getaran dingin merayapi punggungnya.

Getaran itu bukan karena angin, melainkan sebuah peringatan, bisikan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Iya menoleh dan ....

.

.

.

Beberapa hari telah berlalu sejak pagi yang canggung namun penuh pengakuan di tepi kolam itu. Hari-hari itu dipenuhi dengan kehangatan Elios, tawa-tawa kecilnya di dalam air, dan tatapan Darian yang kini jauh lebih lembut.

Namun, bagi Queenora, setiap langkah maju dalam kedekatan terasa seperti tali yang melilit lehernya. Setiap kali Darian menunjukkan sisi rentannya, setiap kali Queenora merasakan percikan harapan, bayangan gelap dari gudang itu akan muncul.

 Foto di antara tumpukan barang-barang Luna, foto Darian, kakaknya, dan seorang pria yang wajahnya terlalu familiar dengan mimpi buruknya, adalah duri yang menusuknya.

Queenora tahu, ia tidak bisa mengabaikannya. Kehangatan yang baru saja ia rasakan, pengakuan Darian yang menyentuh itu, justru memperparah ketakutannya.

Semakin dekat ia dengan Darian, semakin besar risiko yang ia ambil. Bagaimana jika Darian adalah bagian dari dunia yang sama dengan para monster itu? Bagaimana jika Darian, tanpa sadar, melindungi mereka, atau bahkan lebih buruk, memercayai kebohongan Arya tentang dirinya? Queenora tahu, ia harus mencari tahu.

Sore ini saat Darian sedang sibuk di kantornya dan Elios tertidur pulas setelah menyusu, Queenora memutuskan untuk mulai bertindak.

Jantungnya berdebar kencang saat ia melangkah menuju gudang tua di belakang rumah. Udara di sana selalu terasa pengap, dingin, dan berbau debu, seolah menyimpan semua kenangan yang ingin dilupakan.

Mata Quuenora bergerak liar mencari-cari di antara tumpukan kotak, berharap menemukan foto fisik itu lagi, yang akan menjadi bukti konkret. Ia ingat menaruhnya di bawah tumpukan jurnal Luna. Namun, setelah mengaduk-aduk selama beberapa menit, foto itu tidak ada.

Hilang?

Tapi kemana?

Kepala Queenora mulai pusing. Apakah ia salah ingat? Atau seseorang telah memindahkannya? Rasa parno mulai merayapi dirinya. Ini tidak akan mudah. Ia membutuhkan cara yang lebih baik. Iya memutuskan untuk menyudahi percarian.

Dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan Elios sendirian di kamarnya.

Malam harinya, setelah makan malam yang tenang, Queenora menunggu Darian masuk ke ruang kerjanya. Setelah ia melihat Darian, masih dengan kemeja kerjanya, membawa laptop dan beberapa dokumen.

Pria itu pasti akan sibuk, pikir Queenora. Ini mungkin kesempatannya.

Quuenora sengaja menunggu hingga larut, memastikan semua lampu di rumah padam dan hanya cahaya remang dari ruang kerja Darian yang masih menyala.

Elios sudah tertidur pulas di kamarnya, dan Queenora telah memastikan tidak ada seorang pun yang terjaga. Dengan napas tertahan, ia melangkah keluar dari kamar Elios, mengendap-endap di koridor yang gelap.

Jantungnya berdebar, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Ia merasa seperti seorang pencuri, seorang penyusup, yang akan melanggar privasi orang lain. Tapi ia bertekad. Untuk Elios. Untuk dirinya sendiri. Ia harus tahu, harus.

Pintu ruang kerja Darian sedikit terbuka. Dari celah itu, Queenora bisa melihat punggung Darian yang tegap, duduk di depan layar komputer desktopnya.

Wanita dengan baju tidur itu menghela napas lega. Darian tidak menggunakan laptopnya. Ia menunggu lagi, mungkin setengah jam, sampai ia mendengar suara kursi bergeser dan langkah kaki Darian menjauh. Queenora bersembunyi di balik pilar, menunggu hingga Darian benar-benar masuk ke kamarnya.

Setelah memastikan Darian sudah di dalam kamarnya, Queenora perlahan mendekati ruang kerja. Udara di sana masih hangat dari kehadiran Darian. Layar komputer desktop masih menyala, menampilkan screensaver gelap. Queenora mendekat, ragu-ragu. Ia menggerakkan mouse. Layar langsung menampilkan password screen.

"Astaga," bisiknya pelan, rasa frustrasi menyergapnya.

Quuenora mulai mencoba tanggal lahir Elios. Salah. Tanggal lahir Luna. Salah. Tanggal pernikahannya. Salah. Ia mencoba beberapa kombinasi angka yang mungkin penting bagi Darian, tapi tidak ada yang berhasil.

Ia hampir menyerah, rasa takut dicampur kecewa membuatnya ingin berbalik. Namun, naluri bertahan hidupnya menjerit. Dia tidak bisa berhenti sekarang. Ia sudah terlalu jauh. Ia melihat ke sekeliling meja Darian, mencari petunjuk. Sebuah notes kecil. Tidak ada. Pena. Hanya pena.

Lalu, matanya tertuju pada sebuah sticky note yang tertempel di monitor, nyaris tak terlihat. Di sana, tertulis sebuah nama. "Luna." Dan di bawahnya, serangkaian angka. Dia meninggalkannya begitu saja? Ini terlalu mudah. Atau Darian begitu percaya diri tidak ada yang akan berani menyentuh komputernya?

Dengan tangan gemetar, Queenora mengetikkan angka-angka itu. Layar berubah.

Welcome.

Rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya, disusul oleh rasa bersalah yang menusuk. Ia baru saja melanggar batasan terbesar Darian. Tapi tidak ada waktu untuk penyesalan. Ia mulai mencari. Ia membuka folder-folder, mencari yang berlabel "Foto," "Kenangan," atau "Pribadi."

Butuh waktu beberapa menit untuk menavigasi file yang terstruktur rapi. Darian memang seorang pengusaha yang terorganisir, bahkan dalam hal file pribadinya. Akhirnya, ia menemukan sebuah folder bernama "Old College Days." Jantungnya berdetak kencang. Ini dia.

Quuenora membukanya dengan gemetar. Ratusan foto bermunculan. Darian yang lebih muda, dengan senyum yang lebih bebas, di tengah keramaian pesta, di lapangan olahraga, di kampus.

Queenora menggeser foto-foto itu, matanya mencari sosok yang ia takuti. Lalu, ia menemukannya. Sebuah foto pesta, di sebuah bar yang ramai.

Darian berdiri di tengah, merangkul seorang gadis yang Queenora kenali sebagai Luna. Di samping Darian, dengan cengiran lebar, berdiri Arya. Kakaknya. Dan di sisi lain, tertawa lepas, memegang gelas minuman, adalah pria itu. Wajahnya, tawa kasarnya, tatapan cabulnya, semuanya terlalu jelas.

Tangannya gemetar, ia memperbesar foto itu. Tidak ada keraguan. Itu Arya. Dan itu mereka. Para monster yang menghantuinya. Dan Darian… Darian ada di sana, di tengah-tengah mereka. Mereka terlihat akrab. Terlalu akrab untuk sekedar teman biasa.

Napas Queenora tercekat. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya. Bagaimana bisa? Darian, pria yang kini mulai ia percayai, pria yang menunjukkan kerentanan, yang mulai mencintai Elios, ternyata memiliki hubungan dengan orang-orang yang menghancurkannya? Jika Darian dekat dengan Arya, apa artinya itu? Arya pasti sudah menceritakan versi ceritanya sendiri, versi di mana Queenora adalah gadis nakal, pembohong, pembawa sial. Darian mungkin akan memercayai kakaknya sendiri daripada dirinya.

Semua kehangatan yang baru saja ia rasakan menguap, digantikan oleh gelombang es yang membekukan. Quuenora menarik diri dari monitor, menjauh seolah layar itu bisa membakarnya.

Ketakutan yang selama ini ia coba kubur, kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh. Ia tidak aman di sini. Tidak pernah aman. Darian… Darian mungkin tidak akan pernah melihatnya sebagai korban. Ia akan melihatnya sebagai barang rusak, kotor, dan pembawa sial, persis seperti yang keluarganya katakan.

Ia harus pergi. Ia harus menyusun rencana. Ia tidak bisa lagi terlalu dekat dengan Darian. Ia harus melindungi dirinya sendiri.

Beberapa hari berikutnya, Queenora kembali membangun dinding di sekelilingnya. Ia menjadi lebih pendiam, senyumnya tidak lagi seluas di tepi kolam. Ia menjawab Darian dengan singkat, menjaga jarak fisik, dan menghindari kontak mata sebisa mungkin. Darian mungkin menyadarinya, sesekali ia menatap Queenora dengan kerutan di dahinya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Namun, Queenora berhasil mempertahankan topengnya. Ia adalah penyintas, dan ia tahu bagaimana bersembunyi.

Ia mulai mengamati setiap gerak-gerik Darian, setiap panggilan teleponnya, setiap interaksinya. Ia menjadi penyiasat rahasia, memetakan potensi jalan keluar, mencari tahu siapa yang bisa ia percayai dan siapa yang tidak.

Jika Darian benar-benar akan berpihak pada kakaknya, Queenora harus siap untuk melarikan diri, untuk melindungi Elios dari kehancuran yang akan ia bawa. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi beban. Ia tidak akan membiarkan Elios menderita karena masa lalunya.

Suatu sore, saat Queenora sedang menggendong Elios yang baru selesai menyusu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Queenora tersentak kaget, jantungnya melonjak.

Darian berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat sedikit bingung dengan ekspresi terkejut Queenora. Ia memegang selembar kemeja kecil berwarna biru muda dengan motif beruang.

“Maaf, aku mengagetkanmu,” kata Darian, suaranya terdengar lembut, namun Queenora sudah menaikkan pertahanannya.

“Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Queenora, suaranya datar, mencoba menyembunyikan getaran di dalamnya. Ia memeluk Elios lebih erat, seolah melindungi bayi itu dari ancaman yang tak terlihat.

Darian melangkah masuk beberapa langkah, menjulurkan tangannya yang memegang kemeja itu ke arah Queenora.

“Elios pikir membutuhkan ini,” katanya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang dulu terasa menenangkan, kini terasa seperti tipuan.

“Aku membelinya tadi pagi. Kupikir warnanya cocok untuknya.”

Queenora ragu sejenak. Ia melihat kemeja itu. Memang lucu, dengan gambar beruang yang sedang bermain bola. Elios pasti akan menyukainya. Ia mengulurkan tangannya yang bebas untuk mengambil kemeja itu.

Saat jari-jari mereka bersentuhan, sebuah sengatan listrik yang singkat dan canggung menjalar di kulit Queenora.

Sensasi itu terlalu kuat, terlalu tiba-tiba. Ia langsung menarik tangannya, seolah tersengat api. Darian juga tampak terkejut, matanya melebar, dan ia buru-buru menarik tangannya. Keheningan yang tiba-tiba memenuhi ruangan terasa lebih tebal, lebih berat, daripada udara di gudang tua itu. Mereka berdua berdiri kaku, menatap satu sama lain, di tengah-tengah Elios yang polos dan gembira.

1
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
Indah MB
tajam tajam kata katamu.... seram seram perbuatanmu, tak tahan mata dan telinga .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!