Area (***), Novel ini menceritakan seorang wanita bernama Riani yang selama pernikahannya selalu di khianati suaminya, hingga akhirnya dia bertemu dengan mantan pacarnya Teddy, yang masih sangat perhatian, mencintainya, namun tanpa di sangka cinta pertamanya yang dia kira sudah meninggal ternyata masih hidup dan mengejar cintanya kembali, dan dia mengidap sakit kepribadian ganda.
Akankah Riani tetap setia pada suaminya Radja, atau kembali dengan mantan pacarnya Teddy, atau bahkan dia bersimpati pada cinta pertamanya Ethan, meski dia pernah menorehkan luka yang teramat dalam
Perasaan Riani dalam dilema...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srikandi Hayaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMPUNG BULE GILI TRAWANGAN
Riani meninggalkan Radja dengan langkah pasti, memantapkan diri, dia mencoba untuk tegar dan berusaha agar tidak menangis lagi, karena baginya sudah cukup luka di hatinya.
Setelah dia menghubungi Zoya dan mengetahui di mana keberadaan Zoya dan Randi, dengan segera dia mempercepat langkahnya menuju ke arah mereka yang sudah terlihat olehnya.
"Ayo sebaiknya kita segera berangkat sekarang, hari sudah terlalu siang, takut nantinya tidak dapat menyebrang, karena seperti yang kita tahu cuaca saat ini sulit untuk di prediksi" kata Riani setelah sampai di depan Zoya dan Randi.
"Iya, kak Riani betul, ayo Bli sebaiknya kita segera berangkat sekarang" jawab Zoya.
"Baik, ayo mba kita naik cidomo sekarang mumpung masih ada yang kosong" ajak Randi yang langsung di ikuti Riani dan Zoya berjalan menuju ke arah cidomo yang terparkir di depan mereka dan langsung menaikinya.
Cidomo pun berjalan melaju ke arah dermaga kecil.
"Sebenarnya dengan cidomo ini kita bisa menuju ke gili trawangan dan juga ada alternatif lain ke Gili trawangan, yaitu menggunakan transportasi darat kendaraan bernama bemo, tapi takut telalu banyak makan waktu, karena gili trawangan merupakan pulau terjauh dari dua pulau yang lainnya jadi saya lebih memilih jalur laut karena akan lebih cepat sampai ke tujuan" kata Randi menjelaskan di tengah-tengah perjalanan.
"Tapi dengan menggunakan transportasi laut bukankah akan lebih mahal biayanya Bli?" tanya Zoya.
"Tidak masalah mengenai biayanya, biarpun mahal asalkan segera sampai di rumah kalian dan bisa secepatnya bertemu dengan nenek dan kakek kalian..."
"Iya juga sih kak, karena memang jarak dari kapal bersandar menuju rumah kami lebih dekat di bandingkan menggunakan transportasi darat karena harus berjalan kaki lagi kurang lebih dua ratus meter menuju ke rumah kami dari pemberhentian cidomo ataupun bemo, karena jalan menuju ke rumah kami tidak bisa di masuki oleh kendaraan roda empat atau kendaraan besar lainnya" kata Zoya ikut menjelaskan juga, hingga membuat Riani mengerti dan sedikit banyak mempunyai gambaran mengenai letak rumah kakek dan nenek mereka.
.............
Dan hanya butuh waktu kurang dari setengah jam mereka pun sampai.
Dengan segera mereka bertiga naik ke dalam perahu setelah memesan dan membayar tiket mereka.
Tanpa menunggu lama, perahu sudah penuh dengan penumpang, segera perahu melaju menuju ke pulau gili trawangan.
Dalam perjalanan Riani menatap kosong pemandangan laut di depannya, dia teringat kembali pada perbincangan terakhir antara dia dengan Radja maupun Teddy dan dia berharap semuanya selesai saat dia meninggalkan mereka di gili meno dan tidak akan menemui dirinya lagi.
Dan dia juga berharap semoga rumah Randi dan Zoya bisa untuknya bersembunyi dari kejaran dua pria yang pernah melukai hatinya tersebut dan mendapatkan ketenangan di sana.
Tanpa Riani sadari ternyata perahu yang dia tumpangi hampir sampai pada tujuan, dari kejauhan terlihat berjejer penginapan dan resort di tepi pantai.
Perlahan-lahan perahu menepi di bibir pantai, setelah perahu telah benar-benar berhenti sang kemudi pun memberi aba-aba untuk berhati-hati menuruni perahu.
Satu per-satu para penumpangpun turun dengan mengikuti intruksi dari sang kemudi, begitu pula dengan Riani, Randi dan Zoya.
Setelah ketiganya turun, Zoya tiba-tiba menarik tangan Riani dengan kuatnya dan berlari sambil membawanya menuju sepasang orang tua dengan usia senja yang kompak langsung berdiri melihat kedatangan mereka bertiga.
Rianipun langsung tahu kalau kedua orang tua tersebut pastilah kakek dan nenek mereka berdua yang sengaja menyambut kedatangan kedua cucunya tersebut.
"Pekak! Dadong!" (panggilan untuk kakek dan nenek dalam bahasa Bali) teriak Zoya yang langsung menubruk dan memeluk nenek dan kakeknya dengan erat terlihat dengan jelas ada kerinduan dan kasih sayang yang sangat dalam diantara mereka, hingga pemandangan tersebut membuat iri di hati Riani.
"Begitulah adikku mba, setiap pulang, kakek dan nenek kami pasti akan menunggu kami di tempat itu seperti biasanya, dan setiap kali pula Zoya akan bertindak heboh seperti itu dan dia tidak perduli kalau banyak orang yang memperhatikan tingkahnya itu" kata Randi yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Riani yang berdiri melihat pemandangan keharmonisan sebuah keluarga hingga membuatnya tersentak dari lamunannya.
"Itu bagus Randi, andai aku bisa bersikap cuek dan tidak perduli seperti dia, sungguh aku pasti akan bahagia rasanya..." Jawab Riani sambil matanya berkeliling menyusuri pemandangan di sekitarnya.
Ternyata memang benar, apa yang orang-orang dan media masa katakan, kalau gili trawangan terkenal dengan kampung bulenya, itu terlihat dari banyaknya bule yang berlalu lalang dan berdiam diri di sekitar resort, hotel dan rumah penduduk.
Ada yang berjemur, berenang dan duduk ngobrol santai sambil menikmati pemandangan di laut gili trawangan.
"Kak Riani, Bli ayo cepat sini!" teriak Zoya sambil melambaikan tangannya ke arah Riani dan Randi.
Tanpa di komando lagi, Riani dan Randi pun langsung berjalan beriringan ke arah Zoya dan kakek neneknya.
Sesampainya di depan kakek nenek dari Zoya dan Randi, Riani segera menyapa dan mencium secara bergantian punggung tangan keduanya.
"Selamat datang di kampung kami nak..." Kata Dadong, atau neneknya Zoya.
"Terima kasih banyak atas sambutan hangat Pekak dan Dadong ini, saya jadi merasa seperti berada dengan keluarga sendiri" jawab Riani sopan.
"Kami sudah menganggap nak Riani seperti cucu dan keluarga kami sendiri semenjak nak Riani menolong Zoya cucu kami..." Jawab Pekak (kakek) dengan suara kharismatiknya.
"Saya jadi merasa seperti mempunyai keluarga baru lagi, sekali lagi terima kasih..." Kata Riani terharu sambil kembali mencium hormat punggung tangan kedua orang tua tersebut, keduanya lalu membelai lembut kepala Riani.
"Bagaimana dengan kabarmu Putu (panggilan cucu dalam bahasa Bali)?" tanya Pekak pada Randi cucunya.
"Randi dan Zoya baik Pekak, dan kami masih di berkati Sang Hyang Widhi dengan kesehatan" jawab Randi, terlihat di mata Riani kalau Randi sosok pria yang masih taat beragama dan beribadah, jarang di dunia yang sudah sangat modern dan pergaulan bebas seperti sekarang ini masih ada pemuda yang masih taat beragama seperti itu.
Terbesit ada rasa kagum dan bangga di hati Riani, karena bisa mengenal keluarga yang masih mengingat Tuhan di hati mereka, meski kepercayaan mereka berbeda dengan Riani tapi terlihat dengan jelas kalau mereka sangat menghormati dan menghargai agama lain meski mereka sendiri beragama Hindu, itu Riani ketahui saat mereka menyusuri sepanjang jalan menuju rumah dan berpapasan dengan salah satu warga yang mereka kenal dengan tanpa canggung dan sangat fasih Pekak dan Dadong menyapa dengan mengucapkan salam yang sudah biasa umat muslim lakukan untuk menyapa, membuat Riani sendiri yang beragama muslim merasa sangat terharu.
Memang keberagaman agama, etnis dan kebudayaan yang ada di Indonesia patut kita banggakan, semboyan "BHINEKA TUNGGAL IKA" meski berbeda tetap satu juga memang benar adanya, karena saat ini Riani merasakan langsung hal itu.
Saat menelusuri deretan rumah yang halamannya di hiasi tanaman hijau nan asri di padu dengan warna warni bunga yang harumnya tercium hingga ke jalanan, membuat angan Riani melayang di kampung halaman kelahirannya.
Suasana yang ia rasakan saat ini seolah mengingatkannya akan suasana yang sama dengan kampung halamannya itu.
Lamunanya seketika buyar saat dia terhenti seketika dan hampir saja menabrak tubuh Randi yang berada di depannya karena dia kaget sekaligus kagum saat melihat Pekak dan Dagong berhenti di depan salah satu rumah bule dan ngobrol dengan pemiliknya menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan lancar, seolah-olah bahasa inggris itu sudah menjadi bahasa mereka sehari-hari.
"Pekak dan Dagong kamu fasih banget bahasa inggrisnya ya Ran?" kata Riani berdecak kagum.
"Itu mungkin karena Pekak jadi ketua RW jadi sering berinteraksi dengan warga-warga asing di sini, selain itu juga bahasa inggris di sini menjadi bahasa wajib ke-dua setelah bahasa Indonesia" jawab Randi.
"Sebutan untuk Gili Trawangan sebagai kampung bule, apakah itu memang benar?"
"Tidak benar sepenuhnya, karena penduduk asli dari Gili Trawangan sendiri adalah penduduk lokal dari Bali dan Lombok, sedangkan warga asing sendiri sebagai pendatang baru, entah itu karena pernikahan silang, ada kerja sama bisnis dan investasi ataupun memang mereka benar-benar ingin tinggal sebagai warga kampung ini" jawab Randi lagi, Rianipun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti penjelasan dari Randi.
Ada kebanggaan tersendiri dia di lahirkan di Indonesia, karena keindahan kepulaunnya bisa menarik warga asing untuk rela tinggal di Indonesia, salah satunya di Gili Trawangan ini, yang keelokan alamnya terdengar dan termasyur di kancah Internasional, hingga menarik warga asing untuk sekedar berwisata ataupun menetap tinggal di pulau ini, hingga Gili Trawangan terkenal dengan sebutan kampung bule, selama kearifan dan keharafiaan penduduk lokal sendiri tetap ada maka keasrian dan keaslian lokal akan tetap terjaga...
.............
NB:
Terima kasih banyak ya kakak-kakak pembaca yang masih aktif dengan mengikuti kelanjutan novelku ini dan maaf sekali jika saya jarang sekali up date setiap episodenya di karenakan kesibukan yang semakin padat.
Jangan lupa tetap baca, like, vote dan sharing novel ku ya kak...
TERIMA KASIH😘😘😘
Novel omah yg baru berjudul EPIPHANY, sudah up loh..
Bunda wow hebat bunda ku udah sampai epesode 100 lebih ,kirito bangga punya bunda yang jago