NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Tanah Merah dan Diplomasi Kopi ​Padalarang

Kabupaten Bandung Barat.

​Matahari bersinar terik, seolah ingin membakar kulit siapa saja yang berani menapakkan kaki di hamparan tanah merah seluas lima hektar itu. Debu beterbangan setiap kali angin berhembus, menciptakan kabut tipis berwarna jingga yang menyesakkan napas.

​Di kejauhan, bukit-bukit kapur berdiri kokoh, menjadi saksi bisu sengketa yang telah berlangsung bertahun-tahun di lahan ini.

​Fatih memarkir motor Supra-nya di pinggir jalan aspal yang berlubang. Ia melepas helm, menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya. Di boncengan belakang, Zalina turun dengan hati-hati. Hari ini, Zalina mengenakan gamis berbahan katun yang menyerap keringat dan kerudung instan, serta sepatu sneakers. Bukan tampilan desainer kantoran, tapi tampilan lapangan.

​"Panas banget ya, Mas," gumam Zalina sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. Ia memandang hamparan lahan kosong di depan mereka. Lahan yang seharusnya menjadi lokasi proyek Cluster Griya Harapan.

​"Iya. Ini yang dibilang Pak Gunawan," Fatih menatap nanar ke arah gerbang masuk lahan.

​Di sana, tidak ada sambutan karpet merah atau pita peresmian. Yang ada adalah sebuah portal bambu reyot yang dipalang melintang. Di tiang portal itu, berkibar bendera-bendera ormas (organisasi masyarakat) berwarna loreng oranye-hitam yang sudah kusam.

​Dan di pos penjagaan darurat yang terbuat dari triplek bekas, duduk sekelompok laki-laki bertubuh kekar. Mereka merokok, tertawa keras, dan... ada beberapa golok yang tergeletak santai di atas meja kopi mereka.

​"Zal," suara Fatih merendah, mode waspada penuh. "Kamu tunggu di sini aja ya? Di warung kelontong itu." Fatih menunjuk warung kecil lima puluh meter dari lokasi.

​Zalina menggeleng tegas. "Nggak. Aku ini Partner Mas. Kalau Mas maju, aku maju. Lagian kalau aku sendirian di warung, terus mereka macem-macem, siapa yang lindungi aku? Mending aku di belakang punggung Mas."

​Fatih berpikir sejenak. Benar juga. Meninggalkan Zalina sendirian di daerah rawan ini justru berbahaya.

​"Oke. Tapi janji, jangan lepas pegangan dari sabuk Mas. Kalau Mas bilang lari, kamu lari ke arah motor. Jangan nengok belakang."

​Zalina menelan ludah, lalu mengangguk. Tangannya mencengkeram ujung kemeja flanel Fatih erat-erat.

​Mereka berdua berjalan mendekati portal itu. Langkah kaki Fatih mantap, meski jantungnya berdegup kencang melafalkan Ayat Kursi.

​Jarak tinggal sepuluh meter.

​Salah satu preman yang sedang main kartu remi melihat kedatangan mereka. Ia menyenggol temannya. Seketika, lima orang pria bangkit berdiri. Wajah mereka garang, kulit terbakar matahari, dan tatapan mata yang tidak bersahabat.

​"Woy! Berhenti!" teriak salah satu dari mereka, pria kurus kering dengan tato naga di leher. "Mau ngapain lu pada? Ini tanah sengketa! Dilarang masuk!"

​Fatih berhenti. Ia mengangkat tangan kanan, gestur damai.

​"Assalamu'alaikum, Kang," sapa Fatih sopan, suaranya tenang namun bervolume jelas. "Saya Fatih, arsitek dari Grand Horizon. Saya ditugaskan untuk survei lahan hari ini."

​Mendengar nama "Grand Horizon", suasana mendadak berubah tegang. Pria bertato itu meludah ke tanah. Cuih.

​"Grand Horizon? Perusahaan maling itu?" Pria itu tertawa sinis, lalu mencabut golok yang terselip di pinggangnya—masih dalam sarung, tapi gesturnya jelas mengancam. "Heh, denger ya. Bos lu itu belum bayar uang koordinasi bulan lalu. Sekarang malah kirim kroco ginian. Lu mau nyetor nyawa?"

​Zalina tersentak kaget di belakang Fatih, mencengkeram baju suaminya makin kuat.

​Fatih tidak mundur selangkah pun. Ia tahu psikologi lapangan. Jika ia mundur, ia dianggap lemah dan akan diperas habis-habisan. Jika ia melawan fisik, ia mati konyol.

​"Saya bukan kroco, Kang. Saya arsitek penanggung jawab," jawab Fatih tegas. "Dan saya datang ke sini bukan untuk berantem. Saya mau ketemu pimpinan Akang. Ada yang perlu saya bicarakan baik-baik."

​"Pimpinan? Lu siapa mau ketemu Bang Baron?"

​"Bilang saja, saya bawa tawaran yang lebih menguntungkan daripada sekadar uang koordinasi recehan."

​Para preman itu saling pandang. Kata "menguntungkan" selalu menarik perhatian mereka.

​Tiba-tiba, pintu pos penjagaan terbuka. Keluarlah seorang pria yang jauh lebih besar dari yang lain. Tingginya hampir dua meter, kepalanya botak licin, dan ia mengenakan jaket kulit hitam meski cuaca sedang panas neraka. Di jari-jarinya terpasang cincin batu akik besar-besar.

​Bang Baron. Penguasa Tanah Merah.

​Bang Baron berjalan lambat mendekati Fatih. Aura intimidasi menguar kuat darinya. Ia berhenti tepat di depan Fatih, menunduk sedikit karena Fatih lebih pendek darinya. Bau tembakau menyengat tercium dari napasnya.

​"Lu yang namanya Fatih?" suara Bang Baron berat dan serak, seperti suara mesin diesel rusak. "Yang kemarin dicariin anak buah gue di kontrakan?"

​Fatih menatap mata Bang Baron lurus-lurus. Tidak menantang, tapi tidak tunduk. "Betul, Bang. Maaf kemarin saya tidak ada di rumah. Jadi saya datang sendiri ke sini sekarang."

​Bang Baron menyeringai, memperlihatkan gigi yang kuning karena nikotin. "Punya nyali juga lu. Biasanya arsitek kota itu cengeng. Liat golok dikit langsung ngompol."

​Baron melirik Zalina yang bersembunyi di punggung Fatih. "Itu siapa? Istri lu? Cantik amat. Sayang kalau jadi janda muda hari ini."

​Fatih menggeser tubuhnya, menutupi pandangan Baron ke arah Zalina sepenuhnya. Tatapan Fatih berubah dingin. "Bang, urusan kita soal tanah. Jangan bawa-bawa keluarga. Itu pantangan laki-laki, kan?"

​Baron terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggelegar. "Hahaha! Boleh juga lu. Oke, to the point. Lu mau apa? Kalau lu mau ukur tanah ini, langkahi dulu mayat anak buah gue. Grand Horizon janjiin ganti rugi buat warga sini, tapi sampe sekarang nol besar! Kami nggak akan biarin satu batu bata pun berdiri di sini!"

​Fatih sudah menduga ini. Masalah klasik pengembang: Janji manis di awal, lalu lupa saat proyek jalan.

​"Bang," Fatih menurunkan nada bicaranya, mengajjak bicara seperti teman. "Saya tahu Grand Horizon mungkin brengsek soal administrasi. Tapi saya arsiteknya. Desain ada di tangan saya. Saya punya wewenang buat ngatur apa yang dibangun di sini."

​Fatih mengeluarkan gulungan kertas desain dari tas tabungnya.

​"Saya nggak bawa duit tunai buat Bang Baron hari ini," lanjut Fatih. "Tapi saya bawa ini."

​Fatih membuka gulungan kertas itu di atas kap mobil rongsokan yang ada di dekat situ.

​"Apaan nih? Gambar cacing?" cibir anak buah Baron.

​"Ini desain pasar," kata Fatih.

​Bang Baron mengernyitkan dahi. "Pasar?"

​"Iya," Fatih menunjuk satu area di pojok gambar denah. "Di desain asli Grand Horizon, area depan ini mau dibikin taman bunga yang dipagerin tinggi. Cuma buat keindahan visual."

​Fatih menatap Baron.

​"Tapi saya ubah. Saya hapus taman bunganya. Saya ganti jadi area komersial terbuka. Kios-kios semi permanen seluas 500 meter persegi."

​Baron mulai tertarik. Ia mendekat melihat gambar itu.

​"Bang Baron punya berapa anak buah yang nganggur? 50 orang? 100 orang?" tanya Fatih. "Kalau proyek ini jalan, Bang Baron dapet uang keamanan, itu standar. Habis duitnya buat beli rokok seminggu. Tapi kalau kios-kios ini dibangun..."

​Fatih memberi jeda dramatis.

​"...Abang bisa kelola kios-kios ini. Istri-istri anak buah Abang bisa jualan di sini. Warga asli sini bisa dagang sayur, dagang kopi, buat ngelayanin 500 kepala keluarga yang bakal tinggal di perumahan ini nanti. Itu duit ngalir tiap hari, Bang. Seumur hidup. Bukan cuma sekali bayar di depan."

​Baron terdiam. Otaknya berputar. Selama ini pengembang lain hanya memberinya "uang damai" sekali di awal, lalu setelah proyek jadi, satpam perumahan dari yayasan luar yang mengambil alih, dan anak buah Baron diusir.

​Tawaran Fatih ini... beda. Ini tawaran sustainable (berkelanjutan).

​"Lu... lu serius bisa atur begitu?" tanya Baron, nadanya mulai ragu tapi penuh harap. "Gunawan si pelit itu mana mau kasih lahan buat pasar warga?"

​"Gunawan peduli sama duit, Bang," jawab Fatih cerdas. "Saya akan yakinkan dia, kalau ada pasar di depan, nilai jual rumahnya bakal naik karena fasilitas lengkap. Dan saya akan bilang, syarat supaya proyek ini aman dari gangguan adalah dengan membangun pasar ini. Dia pasti setuju daripada rugi alat berat dibakar."

​Zalina yang mendengarkan dari belakang menatap punggung suaminya dengan takjub.

​Masya Allah... batin Zalina. Fatih tidak menggunakan kekerasan. Fatih menggunakan empati. Fatih melihat kebutuhan preman-preman ini: mereka bukan jahat, mereka lapar. Mereka butuh pekerjaan jangka panjang, bukan sekadar uang palak.

​Baron menatap Fatih lama, lalu beralih menatap anak buahnya yang tampak berbisik-bisik antusias ("Wah, lumayan tuh kalau Bini gue bisa jualan nasi uduk di situ").

​Wajah garang Baron perlahan melunak. Ia menepuk bahu Fatih keras sekali sampai Fatih terhuyung.

​"Hahaha! Gila lu! Arsitek sinting!" seru Baron. "Baru kali ini gue ketemu orang berdasi yang mikirin perut anak buah gue."

​Baron berbalik, berteriak pada anak buahnya. "Woy! Simpen golok lu pada! Bikin malu aja! Tamu kita ini bukan kroco! Dia... apa ya istilahnya... Konsultan!"

​Para preman itu tertawa, suasana cair seketika.

​"Bikinin kopi!" perintah Baron. "Jangan kopi saset! Kopi tubruk yang enak! Kasih gula aren!"

​Baron merangkul Fatih (sedikit terlalu erat, bau ketiaknya lumayan menyengat, tapi Fatih menahannya demi diplomasi). "Ayo duduk, Mas Fatih. Kita ngobrolin detailnya. Kalau beneran lu bisa bikinin pasar buat warga sini, gue jamin, nggak akan ada satu lalat pun yang ganggu proyek lu. Gue sendiri yang jagain tiap malem."

​Fatih menghela napas lega yang panjang. Sangat panjang.

​Ia menoleh ke Zalina, mengedipkan sebelah mata. Zalina tersenyum lebar, mengacungkan jempol gemetar.

​Di bawah terik matahari Padalarang dan debu tanah merah, kesepakatan itu terjadi. Bukan di atas meja marmer ber-AC dengan materai 10.000, tapi di atas kap mobil rongsok, ditemani segelas kopi tubruk dalam gelas belimbing yang pinggirnya gumpil.

​Hari itu, Fatih tidak hanya memenangkan lahan sengketa. Ia memenangkan hati para penjaganya.

​Namun, Fatih belum tahu satu hal.

​Bahwa di balik kemudahan ini, ada bahaya lain yang mengintai. Bang Baron memang penguasa lapangan, tapi dia bukan pemain tunggal. Ada kekuatan lain yang lebih besar, lebih rapi, dan lebih kejam yang sedang mengincar lahan yang sama.

​Seseorang yang duduk di kursi empuk DPRD, yang memiliki kepentingan agar proyek Grand Horizon ini gagal total supaya lahannya bisa diambil alih oleh perusahaannya sendiri.

​Saat Fatih dan Zalina pulang sore harinya dengan perasaan lega, sebuah mobil sedan mewah mengamati mereka dari kejauhan. Di dalamnya, seorang pria paruh baya dengan cincin emas besar di jari manisnya sedang menelepon.

​"Halo? Iya. Si arsitek itu berhasil jinakin Baron," ucap pria itu dingin. "Cerdas juga dia. Tapi sayang, dia masuk ke kolam hiu."

​"Lakukan Rencana B. Kita mainkan isu izin lingkungan. Kita bikin warga menolak pembangunan masjid yang dia desain. Kita lihat seberapa kuat imannya."

​Malam harinya, di kontrakan Fatih.

​Zalina sedang memijat bahu Fatih yang pegal. Aroma minyak kayu putih memenuhi ruang tamu kecil itu.

​"Mas hebat banget tadi," puji Zalina. "Aku deg-degan pas Bang Baron keluarin golok. Eh, Mas malah ajak ngomongin pasar."

​Fatih meringis pelan saat Zalina menekan titik yang sakit. "Itu ilmu kepepet, Zal. Mas cuma inget hadits Nabi: Barangsiapa yang mempermudah urusan saudaranya, Allah akan mempermudah urusannya. Mas pikir, preman juga manusia. Mereka punya anak istri. Kalau kita kasih solusi buat keluarga mereka, hati mereka pasti luluh."

​"Tapi Mas... aku liat tatapan salah satu anak buahnya tadi. Ada yang nggak suka pas Mas salaman sama Bang Baron. Kayaknya ada yang iri."

​Fatih terdiam. Insting Zalina biasanya tajam.

​"Kita waspada aja ya. Yang penting sekarang kita fokus revisi desain buat diajukan ke Pak Gunawan. Pasar itu harus masuk akal secara budget, biar disetujui."

​Tiba-tiba, lampu kontrakan mereka berkedip-kedip. Pet. Pet. Byar. Mati lampu.

​Gelap gulita.

​"Yah... token habis ya Mas?" tanya Zalina.

​"Perasaan baru diisi kemarin, Zal. Masih banyak kok," Fatih meraba-raba mencari senter.

​Fatih berjalan ke jendela, mengintip keluar. Aneh. Lampu tetangga kiri kanan menyala terang. Hanya rumah mereka yang mati.

​"Zal, pakai kerudungmu," perintah Fatih, nadanya berubah serius.

​Fatih mengambil senter, lalu keluar rumah untuk mengecek meteran listrik.

​Saat senter menyorot ke arah meteran listrik di dinding luar, Fatih terkejut.

​Kabel meteran listriknya bukan putus karena konslet. Tapi dipotong. Potongannya rapi, bekas tang potong.

​Dan di dinding putih di samping meteran itu, ada tulisan dari cat semprot merah yang masih basah. Tulisan yang membuat darah Fatih berdesir.

​JANGAN SOK JADI PAHLAWAN KESIANGAN.

PULANG ATAU HILANG.

​Ini bukan tulisan preman Bang Baron (tulisannya beda dengan yang di batu bata dulu). Ini lebih rapi. Dan pesan "Pulang atau Hilang" itu... itu kode ancaman tingkat tinggi.

​Zalina menyusul keluar dengan penerangan lampu HP.

​"Mas... kenapa?"

​Fatih buru-buru menutupi tulisan di tembok itu dengan badannya. "Nggak apa-apa, Zal. Sekringnya putus. Kayaknya ada yang iseng."

​"Mas jangan bohong. Aku cium bau cat pilox," Zalina mendorong pelan tubuh Fatih.

​Senter HP Zalina menyorot tulisan merah itu.

​Zalina membekap mulutnya. "Ya Allah... Siapa lagi ini, Mas? Erlangga udah dipenjara. Bang Baron udah jadi temen. Siapa lagi yang benci sama kita?"

​Fatih memeluk istrinya di tengah kegelapan teras. Matanya tajam menyapu sekeliling gang yang sepi. Ia merasakan ada mata-mata yang sedang mengawasi mereka dari kegelapan.

​"Dunia bisnis properti itu kotor, Zal," bisik Fatih. "Kita baru aja nyenggol piring nasi seseorang yang lebih besar dari Bang Baron."

​Fatih menuntun Zalina masuk, mengunci pintu, dan menggeser lemari plastik untuk mengganjal pintu.

​"Besok kita nggak boleh tidur di sini," putus Fatih. "Terlalu bahaya. Kita nginep di ruko Kedai Kopi aja sementara. Di sana ada Pak Burhan dan satpam."

​Malam itu, mereka tidur dalam kegelapan, hanya diterangi lilin kecil. Fatih tidak tidur sedetikpun. Ia duduk di samping Zalina yang terlelap gelisah, tangan kanannya memegang tongkat kasti, bibirnya tak henti berdzikir.

​Fatih sadar, ia baru saja naik level. Musuhnya bukan lagi mahasiswa manja (Erlangga) atau preman kampung (Baron). Musuhnya sekarang adalah Mafia Tanah.

​Dan untuk melawan mafia, Fatih butuh lebih dari sekadar "Diplomasi Kopi". Ia butuh strategi perang.

​(Bersambung ke Bab 13...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!