NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saatnya Lepas Landas

Maggie mengambil kacamata hitam dari kepalanya dan melepas syal. Dia merasa konyol, terlalu norak, padahal seharusnya bisa lebih praktis.

Saat menata barang-barangnya di meja kecil, sopir limusin masuk membawa tas popok, tas tangannya, dan sling, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.

Saat kembali melewati dapur kecil, dia bertanya pada Larry, “Kamu ikut sama kami saat tiba di Jogjakarta?”

Larry menggeleng. “Sayangnya enggak. Kakaknya Kael, Joann, akan berangkat dari Amerika. Begitu kita mendarat dan pilot cukup istirahat, kami langsung kembali ke Amerika untuk menjemputnya.”

“Oh. Kupikir mereka udah di Jogjakarta.”

“Monica dan Sierra udah. Dia ingin santai saja. Dia sedang hamil.”

Maggie samar-samar teringat kalau Joann sempat menyebutkannya saat sesi mentoring mereka dua bulan lalu.

“Kapan dia melahirkan?” tanya Maggie.

“Enggak sampai November.”

“Berarti dia masih di fase enak,” katanya.

Larry mengangguk paham.

Syukurlah Larry ada di sini. Kehadirannya membantu meredakan rasa canggung bepergian dengan pria yang nyaris tidak dikenalnya.

Di bagian utama jet, Kael berdiri di samping sang bayi. Mata Biann terbuka dan ia melihat sekeliling dengan penasaran.

“Kami lagi ngobrol,” kata Kael. “Aku lagi ngajarin dia biar dia bisa punya jet pribadi.”

Maggie tertawa. “Pasti sangat berguna.”

Wajah Kael berubah serius. “Bahkan dulu waktu masih kecil, aku dan Joann cuma jadi tukang membersihkan kandang kuda. Hal kayak gini bisa terjadi pada siapa aja.”

“Oh. Begitu.” Maggie sadar betapa sedikitnya dia tahu tentang pria itu.

Pintu kokpit terbuka dan seorang pria ramah dengan janggut keabu-abuan menengok keluar. Pasti ini Cesar, sang pilot. “Kita akan lepas landas begitu Rere tiba.”

“Terima kasih,” kata Kael. “Harusnya kali ini aku tinggalin.”

Cesar tertawa. “Kamu selalu bilang begitu.” Ia langsung kembali ke kokpit.

Biann mulai gelisah, jadi Maggie melepas sabuknya dan menggendongnya di bahu. “Apa maksudnya itu?”

“Rere itu anggota kru lainnya. Dia kopilot, sangat pintar, tapi terkenal telat.”

“Aku enggak menyangka kamu atau Joann bisa enggak pecat dia.”

Kael tertawa. “Rere sepadan. Dia bisa apa saja. Menerbangkan pesawat. Lompat dari pesawat. Dia juga bodyguard. Seharusnya dia main film action”

Larry mendekat. “Maggie, kamu mau aku hangatkan botol atau berencana menyusuinya saat lepas landas?”

Maggie melirik Kael. Dia belum benar-benar memikirkannya. Menyusui Biann, sering kali jadi adu kuat antara moncong bayi dan payudara.

“Pakai botol aja,” katanya.

“Kamu mau ASI kamu?” tanya Larry.

Dia mengangguk, dan Larry kembali ke dapur, sementara Maggie duduk di salah satu kursi putar.

“Aku suka dia,” katanya pada Kael.

Kael bergeser ke kursi di sebelahnya, menaikkan penopang kaki, lalu menopang kepala dengan tangan. “Kita semua begitu. Dia pintar melayani kami.”

Kael menguap.

Suara keras dari bawah pesawat membuatnya terkejut. Biann merasakan sentakan itu dan langsung menangis.

Maggie menepuk punggung Biann. “Kayaknya kita bakal nangis bareng selama perjalanan ini.”

“Tenang,” kata Kael. “Semuanya aman.”

Larry kembali membawa botol susu dan sling. “Biar aku bantu kamu siap-siap. Serahin bayi manis ini dulu supaya kamu bisa pasang sabuk. Cesar lepas landasnya halus, tapi kadang ada sedikit turbulensi.”

Maggie meletakkan botol di meja kecil di antara kursi mereka dan menyodorkannya ke Biann. Sabuk pengamannya dari kulit halus, beda jauh dengan sabuk seadanya di pesawat komersil.

Maggie melingkarkan nya di pinggang, lalu mengencangkan. Sling itu mudah disampirkan ke bahu dan dibuka lebar.

Larry membelai Biann. Tangisnya berhenti. “Balik lagi ke Mama, ya?” katanya, lalu menyerahkan Biann kembali.

Saat Biann sudah nyaman di sling dan menyedot botol dengan tenang, Maggie ikut rileks.

“Ada lagi?” tanya Larry.

“Aku udah oke,” kata Maggie. Dia melirik Kael. Sepertinya pria itu sudah pingsan. “Dia emang gampang banget ketiduran?”

“Enggak. Tapi dia capek, terbang jauh untuk menjemput kamu.” Larry menuju lemari di atas bangku empuk dan mengambil bantal serta selimut. “Tapi aku bisa paham kenapa ini sepenting itu.”

Larry meletakkan bantal dan selimut sambil mengedipkan mata, lalu kembali ke dapur.

Satu menit panjang berlalu. Biann minum dengan lahap. Dia memang selalu cepat kalau pakai botol. Maggie bertanya-tanya apakah pilot satunya akan muncul.

Namun, seperti kata Kael, terdengar derap sepatu di tangga dan seorang perempuan muda berkulit cokelat, ramping, menerobos masuk. “Aku di sini. Jangan tinggalin aku.”

Kael membuka satu mata. “Syukurlah kamu datang, Rere.”

Rere berbalik menutup dan mengunci pintu di pesawat. Dia berhenti saat melihatnya. “Sekarang aku paham, kenapa kita musti langsung balik ke Amerika.”

Suara logam berdentang dari luar pintu. Sepertinya tangga sedang dilepas dan dijauhkan.

“Sudah kubilang,” kata Kael. Rere mengangguk dan tersenyum ke arahnya.

“Jangan dengarin dia,” gumam Kael ke Maggie.

Rere menghilang ke kokpit. Tak lama kemudian, mesin menyala dengan dengungan dan erangan.

Maggie menunduk. Botol susu hampir habis dan mereka bahkan belum lepas landas. Dia menoleh ke Kael. Pria itu terikat di kursinya, mata terpejam lagi. Maggie tidak tahu apakah dia benar-benar tertidur.

Kalau payudara itu harus keluar, ya keluar saja. Kael sudah melihat lebih dari cukup saat Biann lahir, kalaupun dia sedang melihatnya sekarang.

Baru Maggie sadari, dia belum memberi tahu siapa pun soal kepergiannya. Bahkan kakaknya.

Saat pesawat mulai bergerak di landasan, dia repot mengeluarkan HP dari balik bra, satu-satunya tempat menyimpannya.

Dia cepat mengetik pesan untuk Jennie. "Kael jemput aku. Lagi ke Jogjakarta. Ketemu besok. Kita ngobrol nanti. Mau lepas landas pakai jet-nya."

Dia menunduk dan mengecup kepala Biann. Bayinya sudah tertidur. “Ini bakal jadi cerita buat cucu-cucuku nanti,” bisiknya.

Dia menyelipkan botol ke lipatan sling dan bersandar di kursi.

Saat pesawat lepas landas dengan dua laki-laki tertidur pulas, Maggie hampir tidak percaya ada di mana dirinya sekarang.

Dia tidak tahu bagaimana bisa sampai di titik ini, tapi dia sedang menuju Jogjakarta dengan seorang miliarder di sisinya dan seorang bayi di pelukannya.

...𓂃✍︎...

...Hati yang marah akan selalu bisa menemukan orang yang dia benci....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!