NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Riwayat

Malam terasa tenang di kediaman Arga. Setelah makan malam, Arga duduk di ruang keluarga menemani Luna yang sedang asyik mewarnai.

“Luna lagi mewarnai apa?” tanya Arga sambil melirik buku gambar di tangan keponakannya.

“Ini,” jawab Luna antusias sambil mengangkat bukunya.

“Luna lagi mewarnai gambar Kak Vara sama Luna.”

Arga tersenyum tipis.

“Tadi Luna gambar waktu ikut Kak Vara kerja,” lanjut Luna sambil tetap fokus.

“Tapi belum sempat diwarnai, jadi belum Luna kasih lihat ke Kak Vara.”

“Wah, bagus sekali,” puji Arga.

“Luna lanjutkan di kamar ya. Om mau keluar sebentar.”

Luna menoleh.

“Om mau ke mana?”

“Ke tempat biasa. Ada sesuatu yang harus Om selesaikan,” jawab Arga singkat.

Luna mengangguk patuh, lalu bertanya pelan,

“Om… besok Om sibuk nggak?”

Arga terdiam sejenak, berpikir.

“Besok kan Minggu. Om tidak ada jadwal, kecuali kalau ada hal mendadak. Kenapa?”

Luna tampak ragu, lalu berkata,

“Luna mau ajak Om jalan-jalan.”

“Ke mana?” tanya Arga lembut.

“Ke pantai,” jawab Luna cepat, lalu suaranya merendah.

“Tapi… kita ajak Kak Vara ya, Om?”

Arga terdiam. Nama itu kembali muncul.

“Kalau Om tidak mengizinkan, tidak apa-apa,” ucap Luna pelan sambil mulai membereskan alat mewarnainya.

“Ayo, Bi, kita ke kamar.”

“Iya,” sahut Bi Rina lembut yang tak jauh dari Luna berada.

“Ia, besok kita pergi bersama,” kata Arga akhirnya.

Luna langsung berbalik.

“Benar, Om?” matanya berbinar.

“Terima kasih!” Luna berlari memeluk Arga erat.

“Om pergi dulu. Luna istirahat sama Bi Rina,” ujar Arga sambil membalas pelukan itu.

Luna mengangguk ceria dan berjalan ke atas bersama Bi Rina.

Tak lama kemudian, Arga meninggalkan rumah menuju tempat yang selama ini menjadi saksi sisi gelap hidupnya.

---

Hampir setengah jam perjalanan, Arga tiba di sebuah bangunan tua yang tersembunyi di balik gudang-gudang kosong. Lampu temaram menggantung rendah, udara lembap bercampur bau besi dan debu. Dinding beton retak, lantai dingin, dan keheningan yang menekan—tempat yang tidak pernah ramah bagi siapa pun.

Erick sudah menunggu.

“Di mana dia?” tanya Arga datar.

“Di dalam,” jawab Erick singkat, lalu mengiringinya.

Di tengah ruangan remang, seorang pria duduk terikat di kursi. Wajahnya lebam, napasnya berat.

“Jadi ini orangnya?” ucap Arga dingin.

“Iya,” kata Erick.

“Dia terlibat, tapi tidak mau membuka mulut soal siapa dalang kecelakaan itu.”

Arga melangkah mendekat.

“Dengan keadaan seperti ini, kau masih memilih setia,” katanya lirih.

“Setia pada tuanmu. Sungguh luar biasa”

Pria itu hanya terdiam.

“Ikat dia,” perintah Arga.

Anak buah nya bergerak cepat. Pria itu diangkat, lalu didirikan dengan tangan terikat ke atas. Arga meraih cambuk yang tergeletak di atas meja.

Suara cambukan memecah keheningan. Teriakan tertahan menggema di ruangan.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Arga, suaranya rendah namun mengancam.

“Aku… tidak tahu,” jawab pria itu terbata.

“Aku hanya menjalankan perintah.”

Cambukan kembali mendarat. Ruangan dipenuhi Suara decitan cambuk dan erangan yang tertahan.

Setelah beberapa saat, tubuh pria itu melemas, kepalanya tertunduk ia tak sadarkan diri.

Arga berhenti. Wajahnya tetap dingin, matanya kosong.

“Biarkan dia,” ucap Arga singkat.

Ia berbalik, melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Arga melangkah memasuki ruangan lain di gedung itu. Berbeda dengan ruang sebelumnya, ruangan ini tertata rapi dan bersih. Sebuah meja kerja besar berada di tengah, lengkap dengan komputer, berkas, dan beberapa senjata yang tersimpan rapi di dalam laci besi. Ini adalah ruang pribadinya.

Ia duduk di kursi kebesarannya dan menatap Erick.

“Erick, apa yang aku minta kemarin tentang wanita itu sudah kamu dapatkan?” tanya Arga tanpa basa-basi.

“Sudah,” jawab Erick.

“Namanya Zivara Amaira. Kau sudah tahu itu.”

Erick berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Yang mengejutkan, kehidupannya tak jauh berbeda dengan Luna.”

Alis Arga sedikit terangkat.

“Maksudmu?”

“Dia yatim piatu,” jelas Erick.

“Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Soal kecelakaan itu, belum bisa dipastikan murni atau disengaja, seperti kakakmu.”

Arga terdiam.

“Bedanya,” lanjut Erick,

“Luna masih memiliki keluarga yang menyayangi dan melindunginya. Sedangkan Vara… hidup bersama keluarga bibinya yang memperlakukannya dengan kejam. Ia bahkan diusir karena tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. Kekasihnya pun berselingkuh dengan sepupunya sendiri.”

Erick meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.

“Untuk data pendidikan dan riwayat lainnya, kau bisa lihat sendiri di sini.”

Arga membuka map itu perlahan, membaca satu per satu isinya.

“Mungkin karena nasib mereka yang hampir sama,” gumam Arga,

“itu sebabnya Luna cepat akrab dengannya.”

“Bisa jadi,” jawab Erick singkat.

Vara baru saja merebahkan tubuhnya ketika ponselnya bergetar. Nama Luna tertera di layar.

“Halo, Luna?” sapa Vara lembut.

“Kak Vara!” suara ceria Luna langsung terdengar.

“Kakak besok sibuk nggak?”

Vara tersenyum kecil.

“Tidak, kenapa?”

“Besok Luna mau ke pantai sama Om Arga,” ucap Luna antusias.

“Luna mau Kak Vara ikut!”

Vara terdiam sejenak.

“Luna… apa Om Arga tidak keberatan?”

“Tidak!” jawab Luna cepat.

“Om sudah bilang boleh. Kak Vara ikut ya… ya?”

Nada harap di suara Luna membuat Vara tak kuasa menolak.

“Iya… Kakak ikut.”

“Horeee! Terima kasih, Kak Vara!” seru Luna sebelum menutup panggilan.

Vara menatap langit-langit kamarnya, menghela napas panjang.

Kalau bukan karena Luna, ia tahu pasti dirinya tak akan berani ikut.

---

Pagi ini, Luna sudah siap sejak subuh. Dengan semangat, ia mondar-mandir di dapur memastikan semuanya beres.

“Bi, sudah siap?” tanya Luna.

“Sudah, Non,” jawab Bi Wina sambil tersenyum.

“Bekalnya sudah Bibi siapkan dan dimasukkan ke dalam tas.”

“Terima kasih, Bi!”

“Om mana?” tanya Luna lagi.

“Mungkin masih di atas,” jawab Bi Wina.

Luna langsung berlari ke lantai atas.

“Om! Om!” panggilnya sambil mengetuk pintu.

Arga yang baru saja menutup panggilan telepon membuka pintu.

“Luna, kamu sudah siap,?”

“Sudah dong!” Luna berputar kecil menunjukkan penampilannya.

Luna mengenakan gaun katun warna putih gading dengan motif kecil biru laut, dipadukan topi pantai lebar warna krem, sandal datar, dan tas ransel kecil. Rambutnya dikepang dua, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

“Om tampan sekali,” puji Luna polos.

“Kamu baru tahu Om mu ini tampan?” balas Arga sambil mencubit pipi Luna gemas.

Luna tertawa bahagia.

“Ayo, Om! Nanti kesiangan!”

Arga tersenyum dan mengikuti langkah Luna yang menarik tangannya.

Di rumah Vara, ia baru saja memasukkan beberapa makanan ke dalam tas bekal ketika suara klakson terdengar dari depan.

Vara keluar dan mendapati Luna melambaikan tangan dari dalam mobil, sementara Arga berdiri di samping pintu.

“Pagi, Kak Vara!” seru Luna.

Vara mengangguk sopan.

“Pagi, Tuan Arga.”

Arga hanya membalas singkat.

“Masuklah.”

Vara membuka pintu belakang dan duduk di samping Luna.

“Kakak kenapa duduk di sini? Kenapa tidak di depan?” tanya Luna polos.

“Kakak di sini saja,” jawab Vara lembut.

“Biar Luna ada temannya.”

“Iya juga,” sahut Luna.

“Tapi Om sendirian.”

Vara hanya tersenyum kecil, tak tahu harus menjawab apa.

“Kalau sudah siap, kita berangkat,” ucap Arga tidak ingin Luna mengoceh lebih jauh.

“Berangkat!” seru Luna penuh semangat.

Pantai pagi ini begitu cerah. Angin laut berembus lembut, suara ombak menyambut kedatangan mereka.

Vara dengan sigap membentangkan tikar di bawah pohon kelapa, lalu menyusun makanan dengan rapi. Gerakannya cekatan, seolah sudah terbiasa mengurus segalanya sendiri.

Arga memperhatikannya sekilas.

“Kak Vara!” panggil Luna.

“Ayo main pasir!”

“Kita ajak Om juga,” tambah Luna sambil menarik tangan Arga.

Arga sempat ragu, namun akhirnya ikut duduk di pasir. Luna tertawa senang melihat pamannya mencoba membuat istana pasir dengan wajah kaku.

“Om salah,” kata Luna.

“Harus begini.”

Vara tersenyum dan ikut membantu. Tanpa disadari, mereka bertiga tertawa bersama.

Saat makan, Luna duduk di tengah.

“Kak Vara masakannya enak, ia kan Om?” ucap Luna sambil menyuap.

“Terima kasih,” jawab Vara

Arga mengangguk pelan.

“ Ia enak,”

Vara menoleh, sedikit terkejut. Itu pujian pertama yang ia dengar dari Arga.

Tanpa mereka sadari, di antara kecanggungan yang masih tersisa, perlahan tercipta kebersamaan yang akan mengubah keadaan.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!