Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbang Bersama Kecoa dan Pelukan Spontan
Jam dinding di ruangan divisi gudang menunjukkan pukul 11.00 tepat. Suara perut-perut lapar mulai bersahutan seperti orkestra kodok. Aroma kopi sachet dan pop mie mulai menguar dari pantry.
Aku sedang sibuk membereskan meja kerjaku yang berantakan. Tumpukan kertas faktur kutata rapi, pulpen-pulpen kumasukkan ke dalam tempat pensil dari kaleng bekas.
"Oke, rapi," gumamku puas. "Tinggal nunggu jam 12 buat makan siang sama Mas Adi."
Mengingat janji itu, perutku mulas karena gugup. Apa yang harus aku obrolin nanti? Politik kantor? Cuaca? Atau resep nasi goreng? Duh, jangan sampe aku keselek soto di depan dia.
Tiba-tiba, suasana kantor yang tadinya berisik mendadak hening. Hening yang sangat familiar. Hening yang menandakan kedatangan "Yang Mulia".
Aku menoleh ke arah pintu. Benar saja. Adi Pratama melangkah masuk.
Dia melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang digulung lengannya, memperlihatkan jam tangan mahalnya. Dia berjalan santai, tapi karismanya membuat semua orang otomatis pura-pura sibuk ngetik.
Dia berjalan lurus ke arah mejaku di pojok.
"Hai, Sifa," sapanya dengan senyum yang bikin meleleh. "Lagi sibuk?"
"Eh, Mas Adi..." Aku buru-buru berdiri, merapikan rokku. "Nggak kok, Mas. Udah beres-beres. Mas Adi kok ke sini? Kan janjinya jam 12?"
"Iya, tadi meeting selesai lebih cepet. Saya pikir mending jemput kamu sekarang, biar kita dapet tempat duduk enak di kantin. Katanya kantin kalau jam 12 penuh banget kayak pasar malem," jelas Adi santai.
"Oh... gitu..." Aku mengangguk-angguk kaku.
Teman-teman sekantor curi-curi pandang, berbisik-bisik iri. "Gila, dijemput Bos langsung ke meja kerja!"
Tiba-tiba, pergelangan tanganku bergetar aneh. Bukan getaran notifikasi biasa, tapi getaran ritmik yang nakal.
"Peringatan: Tingkat kecanggungan terdeteksi 90 persen. Lo berdua kaku banget kayak kanebo kering. Butuh pelumas interaksi," suara Chrono terdengar usil di kepalaku.
"Apaan sih, Chrono? Jangan macem-macem ya!" ancamku dalam hati.
"Tenang. Gue cuma mau mempraktekkan Teori Jembatan Gantung. Kalau orang ngerasa takut bareng-bareng, detak jantung mereka bakal sinkron dan disalahartikan sebagai rasa cinta. Science, baby!"
"Hah? Maksud kamu—"
Belum sempat aku protes, Chrono mengaktifkan proyektor hologram mininya. Proyektor yang biasanya dia pake buat nampilin data, kali ini diarahkan ke lantai tepat di bawah kakiku.
Dan yang muncul bukan grafik saham.
Tapi seekor Kecoa Jerman Raksasa.
Hologram itu begitu nyata, lengkap dengan detail sayap cokelat mengkilap dan sungut yang bergerak-gerak menjijikkan. Dan parahnya, Chrono memprogram kecoa virtual itu untuk melakukan manuver paling menakutkan di dunia: Mode Terbang.
WUUUT!
Kecoa hologram itu "terbang" melesat dari lantai, mengarah lurus ke wajahku dengan suara kepakan sayap bzzzt yang disimulasikan lewat speaker kecil jam tangan.
"KYAAAAAAA!"
Aku menjerit histeris. Refleks pertahananku aktif. Otak rasional mati, otak reptil mengambil alih.
Aku melompat. Bukan melompat mundur, tapi melompat ke depan. Ke satu-satunya tempat perlindungan terdekat yang kokoh.
Adi.
HAP!
Dalam hitungan detik, aku sudah bergelayut di tubuh Adi. Kedua tanganku melingkar erat di lehernya, wajahku terbenam di dada bidangnya yang wangi. Dan yang paling memalukan... kedua kakiku secara refleks melingkar di pinggangnya, menyilang di belakang punggungnya.
Posisi Koala. Sempurna.
Adi, yang kaget setengah mati karena diterjang proyektil manusia seberat 45 kilogram, sempat terhuyung ke belakang. Tapi untungnya dia rajin gym. Kakinya yang kokoh berhasil menahan beban kami berdua agar tidak jatuh terjengkang.
Tangannya secara insting menahan pinggang dan pahaku agar aku tidak merosot.
"Sifa?!" seru Adi kaget. "Kenapa?! Ada apa?!"
"KECOA! KECOA TERBANG, MAS! GEDE BANGET!" teriakku histeris, masih memejamkan mata erat-erat, membenamkan wajahku makin dalam ke kemejanya.
Hening.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Tidak ada suara kepakan sayap. Tidak ada jeritan orang lain.
Adi menengok kanan-kiri. Lantai bersih. Dinding bersih. Tidak ada tanda-tanda serangga laknat itu. Tentu saja, karena Chrono sudah mematikan proyektornya sambil tertawa jahat dalam diam.
"Mana kecoanya?" tanya Adi bingung, tapi suaranya terdengar geli. "Saya nggak liat apa-apa, Sifa."
Aku membuka mata perlahan. Mengintip sedikit.
Bersih.
Hanya ada tatapan melongo dari Pak Burhan dan seluruh staf divisi gudang yang menonton adegan live action drama Korea ini dengan mulut menganga.
Lalu kesadaranku kembali.
Aku menyadari posisiku.
Aku... memeluk CEO.
Kakiku... melingkar di pinggangnya.
Dan tangannya... memegang pahaku.
Darahku mendadak berhenti mengalir. Wajahku memanas, mungkin suhunya sudah 100 derajat Celcius. Rasanya aku ingin meledak jadi debu saat ini juga.
"Ehm..." dehem Adi pelan, napasnya terasa hangat di telingaku. "Sifa... kamu nyaman di situ?"
Aku langsung melepaskan pelukanku seperti kena setrum. Aku melompat turun dari gendongan Adi, hampir keserimpet kakiku sendiri.
"Ma-ma-maaf, Mas! Maaf banget! Tadi ada kecoa! Sumpah! Gede banget! Terus dia ilang! Mungkin dia ninja!" cerocosku panik, merapikan baju dan rambutku yang berantakan. Aku tidak berani menatap mata Adi. Aku menunduk dalam-dalam, menatap sepatu pantofel Adi yang mengkilap.
"Misi sukses. Kontak fisik level intim tercapai. Detak jantung Adi: 130 bpm. Sama kayak lo. Selamat, kalian jodoh," lapor Chrono tanpa dosa.
"Awas kamu ya, Chrono! Nanti malem aku rendem kamu di beras!" ancamku sambil menahan tangis malu.
Adi berdehem lagi, merapikan kerah kemejanya yang kusut bekas cengkeramanku. Wajahnya juga memerah, telinganya merah padam. Dia terlihat salah tingkah, tapi ada senyum geli yang tertahan di bibirnya.
"Ya... ya sudah. Mungkin kecoanya takut sama kamu," kata Adi mencoba mencairkan suasana. "Atau mungkin dia cuma mau nyari alesan buat kita pelukan."
Kata-kata itu membuatku makin ingin gali kubur di bawah ubin. Teman-teman kantor mulai bersuit-suit godain.
"Cieee... takut kecoa apa modus, Fa?"
"Wah, Pak Adi menang banyak nih!"
"Sudah, sudah! Bubar! Kembali kerja!" tegur Adi tegas pada karyawan lain, meski dia sendiri masih senyum-senyum. Dia menatapku lembut. "Ayo, Sifa. Kita ke kantin. Di sini udaranya jadi... panas."
Aku mengangguk kaku, berjalan mengekor di belakang Adi seperti anak ayam. Jalanku jadi aneh karena lututku masih lemas sisa adrenalin pelukan tadi.
Sesampainya di kantin, kehebohan jilid dua terjadi.
Begitu Adi melangkah masuk, suasana kantin yang riuh rendah mendadak senyap. Semua mata tertuju pada kami. Sang CEO makan di kantin umum! Dan dia membawa "Gadis Dansa" yang viral itu!
Adi dengan santai mengambil nampan plastik. "Ayo, Sifa. Kamu mau makan apa? Soto ayam? Atau mau nasi rames?"
"So-soto aja, Mas. Samain," jawabku pelan, masih menunduk. Aku merasa seperti selebriti yang dikejar paparazzi. Tatapan ratusan orang ini bikin aku nggak nafsu makan.
Kami duduk di meja tengah yang kebetulan kosong. Adi meletakkan mangkok soto kami.
"Sifa," panggil Adi.
"Iya, Mas?" Aku masih menunduk, mengaduk-aduk soto dengan sendok.
"Liat saya dong. Jangan liatin toge terus. Togenya nggak bakal naksir kamu."
Aku mengangkat wajah pelan-pelan. Menatap Adi yang sedang menopang dagu, menatapku dengan geli.
"Masih malu soal kejadian tadi?" tanyanya.
Aku mengangguk jujur. "Malu banget, Mas. Sifa nggak sopan. Meluk-meluk bos di depan umum. Pasti Sifa dikira cewek gatel."
"Hei," Adi meraih tanganku di atas meja, menggenggamnya erat. "Dengerin saya. Saya nggak keberatan dipeluk kamu. Malah... jujur aja, saya kaget tapi seneng."
Mataku membelalak. "Hah?"
"Saya seneng karena itu nunjukin kalau kamu nganggep saya tempat yang aman," jelas Adi tulus. "Pas kamu takut, insting kamu lari ke saya. Itu artinya, alam bawah sadar kamu percaya sama saya. Dan bagi laki-laki, dipercaya itu perasaan yang hebat, Sifa."
Kata-kata Adi menyentuh hatiku yang paling dalam. Dia tidak marah. Dia malah merasa terhormat.
"Makasih, Mas..." bisikku haru. "Mas Adi emang tempat paling aman buat Sifa."
"Nah, gitu dong. Senyum," Adi tersenyum lebar. "Sekarang makan sotonya sebelum dingin. Oh ya, sambil makan, saya mau tanya serius."
"Tanya apa, Mas?"
"Tadi pagi saya liat laporan keuangan kamu di HRD. Bukan ngintip ya, tapi prosedur audit. Saya liat kamu nggak ambil pinjaman karyawan, padahal... maaf, saya denger ada isu rentenir di lingkungan rumah kamu?"
Jantungku berhenti lagi. Adi tau?
"Mas Adi... tau dari mana?"
"Saya punya telinga di mana-mana, Sifa," jawab Adi misterius (padahal mungkin dia denger dari satpam yang tetanggaan sama Sifa). "Kenapa kamu nggak bilang sama saya? Saya bisa bantu."
Aku melepaskan tanganku dari genggaman Adi, kembali memegang sendok. "Sifa nggak mau ngerepotin Mas Adi. Sifa mau nyelesaiin masalah Sifa sendiri. Sifa punya harga diri, Mas."
Adi menatapku kagum. "Harga diri. Itu barang langka zaman sekarang. Tapi Sifa, minta tolong itu bukan berarti nggak punya harga diri. Itu artinya kita manusia sosial. Tapi oke, saya hargai prinsip kamu."
Adi mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar kartu nama.
"Kalau kamu nggak mau dikasih uang cuma-cuma, gimana kalau kita bisnis?" tawar Adi.
"Bisnis?"
"Iya. Saya denger kamu pinter masak. Nasi goreng kamu semalem (yang kamu ceritain di chat) kedengerannya enak. Gimana kalau kamu jadi supplier makan siang pribadi saya? Saya bosen makanan katering kantor yang rasanya kayak kertas."
Mataku berbinar. Ini dia! Peluang yang Chrono bilang!
"Beneran, Mas? Mas Adi mau makan masakan Sifa?"
"Mau banget. Saya bayar dua kali lipat harga pasaran. Anggap aja bayaran buat 'gizi' dan 'cinta' yang kamu masukin ke masakannya," goda Adi.
"Deal!" seruku semangat, menjabat tangan Adi. "Mulai besok, Sifa bawain bekal spesial buat Mas Adi. Menu random terserah Sifa ya?"
"Siap, Bos Sifa," Adi tertawa.
Di tengah keramaian kantin, di antara denting sendok dan mangkok, kesepakatan bisnis—dan kesepakatan hati—terjalin.
Aku melirik jam tanganku. Chrono berkedip biru lembut.
"See? Gue bilang juga apa. Kecoa terbang itu metode bonding paling efektif. You're welcome," kata Chrono bangga.
Aku tersenyum, mengelus layarnya diam-diam. "Makasih, Wingman."
Siang itu, soto ayam kantin rasanya jadi makanan paling enak sedunia. Bukan karena micinnya, tapi karena aku memakannya bersama seseorang yang bersedia menangkapku saat aku jatuh—baik jatuh karena kecoa, maupun jatuh cinta.
semangat kakak