alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh dua
Duduk.."
Perintah langit terdengar dingin, wajah pria itu masih terlihat kelam menahan marah, alia mematuhi dan duduk di depan langit yang kesal.
"Apakah saya perlu menjelaskan sekarang pak?, laporan hari ini sudah bu wirda kirim ke email bapak" tanya alia memastikan.
Pria di hadapannya itu masih terlihat kesal, langit melihat alia dengan tatapan yang cukup membingungkan, namun pria itu akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, aku sudah membaca laporan itu tadi"
"Jadi untuk apa, bapak memanggil saya kemari?" alia menatap langit penasaran, matanya memicing mengamati langit yang duduk salah tingkah.
"Aku hanya.., tidak ingin melihatmu ngobrol dengan bara tadi" gugup langit menjawab, wajahnya tak lagi kelam. Wajah alia terlihat lega, hembusan nafasnya memperjelas kondisinya hatinya yang lega.
"Saya pikir, saya dipanggil karena membuat kesalahan"
Langit tersenyum simpul, mata elangnya itu terlihat lembut, sesaat alia terkesima.
"Maaf yah Alia, aku nggak bisa menutupi ketidak sukaanku tadi, jujur aku nggak rela melihatmu dengan bara"
Alia diam, ia hanya menatap lekat pria yang sedang tersenyum malu di hadapannya ini.
"Kalau bapak tidak ada keperluan lagi, bisakah saya kembali ke ruangan saya sekarang?" Alia pamit dengan sopan dan langit menganggukkan kepala.
"Bolehkah... nanti malam aku berkunjung, alia?"
Alia yang sudah memegang handle pintu, tertahan sesaat. Ia menoleh ke arah langit yang sedikit gugup, binar mata pria itu penuh harap. Alia menghela nafasnya, ia ingin menolak, mulutnya hendak mengatakan jangan, namun mata pria itu sejalan dengan seonggok daging yang ada di dalam dadanya saat ini.
Sekali lagi alia menoleh, tatapan pria itu masih membiusnya, akhirnya kepala alia mengangguk, sebelum ia beranjak pergi meninggalkan langit yang tersenyum manis penuh terima kasih.
Alia berjalan tenang menuju kursinya, dengusan halus terdengar dari mulutnya. Sungguh ia heran apa yang terjadi dengan dirinya akhir-akhir ini, mengapa rasa takut jika berdekatan dengan langit tak lagi dirasakannya, mengapa sekarang ia tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran pria itu.
Apakah hatinya sudah memaafkan semua perbuatan langit, apakah tubuhnya sudah melupakan semua trauma itu.
'Ah..tidak, mana mungkin secepat itu' gumam alia seraya menggelengkan kepalanya,
"Eh..lu kenapa?" sebuah tepukan lembut di punggung alia, membuatnya tersadar.
"Kaget tahu!.." sembur alia meraba dadanya yang berdebar terkejut, matanya memelototi sania yang cekikikan.
"Kamu kenapa geleng-geleng, dengerin musik dj? Tapi nggak pake airphone." Sania masih tertawa, tangannya celamitan memeriksa telinga alia yang meliukkan badannya menolak dan menghindari tangan sania.
"Apaan sih, niaaa!"
Alia menepis tangan sania, berlari kecil meninggalkan gadis yang emang rada usil itu.
Sania masih tertawa ngakak, ikut berlari mengejar alia yang sudah duduk di kursinya dengan tenang.
"Eh Al!, kamu tahu nggak gosip terkini, tentang bos ganteng kita?"
Sania bertanya dengan suara berbisik, kedua tangannya di letakkan di sisi kedua mulutnya, membentuk corong ke arah alia yang hanya mengernyitkan sebelah matanya.
Wajahnya terlihat tidak begitu tertarik, alia berusaha terlihat tidak perduli, agar sania tidak meneruskan niatnya menggosip. Namun wanita sedikit gemoy itu tetap membisikkan lagi kelanjutannya gosipnya,
"Clara sudah mendeklarasikan dirinya berpacaran dengan pak langit, kamu tahu?"
Alia menoleh terkejut, kerutan di keningnya terlihat penasaran, ia tidak menjawab ataupun bereaksi berlebihan, mulutnya tetap diam, namun matanya menuntut informasi lebih, Sania tersenyum melihat alia yang mulai tertarik.
"semua orang tahu kalau clara menyukai pak langit, setiap hari ada saja cara yang akan dilakukan clara agar bisa masuk ke ruangan bos, tapi belakangan ini, aku sering lihat dia nggak berhasil.."
Sania terdiam, menarik nafasnya dalam. Ceritanya yang berapi-api membuatnya kehabisan nafas.
"Dan kamu tahu alia, ternyata cinta clara bertepuk sebelah tangan, aku tahu kalau pak langit..menyukaimu"
"Uhukk..." Alia tersedak, air yang sedang diminumnya dari tumbler muncrat membasahi lengan baju sania, gadis lucu itu berdecak kesal, menyeka air yang membasahi lengan bajunya.
"Ihhh..kamu jorok" gerutu sania seraya menyodorkan tisu.
"Emang kamu nggak sadar, kalau bos suka sama kamu?"
"Kamu, ngaco ah.." alia mengusap bibirnya yang basah,
"Nggak mungkin banget sekelas pak langit, suka sama single mother kek aku"
Alia berbohong, ia tak mau sania tahu sesuatu yang terjadi antara dia dan langit.
"Aku bukan bocah kemarin sore, al. Aku tahu dari sorot mata pak langit. Jika beliau menatapmu, tatapannya itu dalam banget, dan yah..lembut"
Sania menatap alia serius, gadis sedikit gemoy yang biasanya selalu kocak itu, saat ini terlihat sangat serius. Alia melengos jengah, tatapan dan ucapan sania itu membuatnya seperti sedang di telanjangi.
"Plisss deh niaa, jangan ngarang ah.."
Alia masih berusaha mengelak, walaupun semua yang sania ucapkan itu benar, ia juga tahu kalau langit sedang berusaha memohon maaf darinya, namun hatinya tidak begitu yakin kalau semua itu langit lakukan karena menyukai dirinya. Setahu alia, langit hanya ingin maaf darinya karena ia adalah ibunya luka.
"Jangan bodoh alia, pak langit menyukaimu, aku tahu sejak awal. Sejak pertama kali dia melihatmu, aku tahu dia menyukaimu".
Ucapan sania terus menari-nari dalam benaknya, sesampainya di rumah, ia bersamaan tiba dengan luka anaknya yang diantar oleh babysitter yang alia sewa untuk mengurus luka dari pergi sekolah, sampai ia pulang kerja.
"Maaf bu Alia, hari ini saya antar luka cepat, saya ada urusan sedikit" wajah mbak susi terlihat tak enak hati, karena seharusnya jam kerja babysitter luka itu dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore, tapi ini baru jam 4 dia sudah mengantar luka pulang. Wajah wanita itu terlihat merasa bersalah, Alia tersenyum menenangkan.
"Nggak apa-apa mbak susi, lagian saya juga udah dirumah kok"
"Makasih yah bu Alia" ucapnya sopan seraya pamit pulang. Alia menatap kepergian mbak susi yang ternyata di tunggu oleh suaminya.
"Bunda..." panggil luka mengagetkan alia yang masih menatap jalanan.
"Heummmm..." sahut alia lembut menunduk, menatap binar mata indah putranya yang berkejap lucu, tangannya mengelus-elus rambut ikal luka.
"Luka kangen ayah!"
Alia terkesiap, bocah ganteng di hadapannya ini tak lagi sungkan menyebut langit ayahnya. Walau alia belum menceritakan pada luka siapa sebenarnya langit, tapi sepertinya ikatan darah mereka terlalu kuat. Luka sangat menyukai langit, setiap hari bocah laki-laki ini tak pernah bosan menanyakan tentang langit.
"Kapan ayah datang, bunda?"
Rengekkan manja luka menyadarkan alia dari lamunannya. Ia merengkuh tubuh putranya dengan tangan kirinya, mengajak bocah itu masuk ke dalam rumah, namun luka memberontak, matanya mulai berair. Gerakan tubuh luka mulai mengeras, alia tahu putranya akan menangis.
"Sayang..! Kan nggak mungkin ayah setiap hari kemari!" Ucap alia berusaha menenangkan luka yang mulai menghentak-hentakkan tubuhnya.
"Kenapa nggak mungkin?, ayah yoyo terus-terus berada di rumah yoyo bunda!, bobok di rumah yoyo" protes luka, suaranya mulai bergetar.
"Kenapa ayah luka, nggak kayak ayah yoyo?"
Mata abu-abu putranya itu menatapnya menuntut jawaban, alia terdiam, sungguh ia tidak tahu harus menjawab apa. Jawaban apa yang bisa alia berikan kepada bocah 5 tahun yang sedang merengek ini.
"Karena ayah luka, kerjanya jauh. Jadi nggak bisa setiap hari nemenin anak ayah yang ganteng"
Tiba-tiba langit nongol entah darimana, merengkuh tubuh bocah laki-laki yang melompat-lompat riang, bahagia menyambut kedatangan ayahnya.
Langit memeluk tubuh luka erat, membopong tubuh putranya itu ke dalam rumah, dengan tangan kanannya yang terlihat menjinjing sesuatu. Alia melangkah mengikuti langit, wajahnya terlihat cerah.
Bersambung....