NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama / Enemy to Lovers
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 23: Undangan Reuni

​"Pelet?"

​Rigel terkekeh pelan, suara tawanya berat dan renyah. Dia tidak menjawab pertanyaan konyol Alea. Sebaliknya, pria itu menunduk, melingkarkan lengannya di pinggang dan bawah lutut Alea, lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah ke atas meja kerjanya.

​"Gue nanya serius, Rigel!" sentak Alea, meski tangannya refleks mencengkeram bahu Rigel agar tidak jatuh. "Turunin! Gue bukan pajangan meja!"

​"Duduk diam. Kaki kamu berdarah," perintah Rigel tegas.

​Rigel berlutut di lantai, mengabaikan jas dokternya yang menyapu ubin. Dia mengangkat telapak kaki Alea yang kotor, hitam, dan lecet parah karena nekat menuruni lima puluh lantai tanpa alas kaki. Dengan telaten, Rigel mengambil kapas dan cairan antiseptik dari laci meja, lalu mulai membersihkan luka-luka itu.

​"Aww! Perih!" desis Alea.

​"Tahan. Siapa suruh jadi Spiderman?" Rigel meniup pelan luka di tumit Alea. "Lain kali kalau mau kabur, pakai lift barang. Jangan siksa badan sendiri. Saya nggak akan lari ke mana-mana kok."

​Alea terdiam, menatap ubun-ubun Rigel. Jantungnya berulah lagi. Perlakuan sederhana ini—seorang dokter bedah saraf berlutut membersihkan kaki kotornya—membuat benteng pertahanan Alea runtuh total.

​Tring!

​Ponsel cadangan Alea yang entah bagaimana berhasil dia selundupkan di balik bra—satu-satunya tempat yang tidak digeledah bodyguard Papa—berbunyi nyaring.

​Alea merogohnya dengan susah payah. Pesan WhatsApp masuk dari grup neraka: "Alumni High School Elite 2015".

Anabella (​Bella) (Si Ular Kobra): Guys! Jangan lupa malam ini Reuni Akbar di The Royal Glass House ya! Wajib bawa pasangan! Gue mau kenalin tunangan gue, pewaris tambang batu bara. Yang jomblo atau pasangannya 'kentang', mending skip aja deh daripada minder. XOXO.

​"Sialan!" umpat Alea, meremas ponselnya. "Si Bella cari gara-gara!"

​"Kenapa? Mantan parasit kamu yang lain?" tanya Rigel tanpa mendongak, masih sibuk membalut kaki Alea.

​"Bukan! Ini musuh bebuyutan gue dari jaman SMA. Si Bella. Dia sengaja bikin acara reuni dadakan cuma buat pamer tunangannya yang juragan tambang," Alea mendengus kasar. "Gue nggak bisa dateng. Muka gue kayak gembel, kaki pincang karena lari, dan gue nggak punya gandengan. Kalau gue dateng sendiri, si Bella bakal ngetawain gue sampai tujuh turunan."

​"Datang saja," ucap Rigel santai. Dia berdiri, membuang kapas kotor ke tempat sampah.

​"Gimana caranya?! Papa pasti ngeblokir semua akses gue. Dan gue nggak punya pasangan yang selevel sama tunangan Bella!"

​"Saya temani," potong Rigel singkat.

​Alea melongo. Dia memindai penampilan Rigel. Jas dokter putih, di dalamnya ada kaos polo biru dongker polos tanpa merek, dan celana bahan standar. Wajahnya memang ganteng level dewa, tapi di mata kaum sosialita seperti Bella, ganteng saja tidak cukup. Harus ada bau uang.

​"Lo? Nemenin gue?" Alea ragu. "Rigel, ini bukan acara puskesmas. Ini acara pamer harta. Bella itu matanya kayak mesin kasir. Dia bakal ngehina lo habis-habisan kalau lo dateng pake..." Alea menunjuk kaos polo Rigel. "...baju santai begini. Gue nggak mau lo sakit hati."

​Rigel tersenyum miring. Dia mencondongkan wajahnya ke depan wajah Alea.

​"Kamu takut saya dihina, atau kamu malu punya pasangan dokter biasa?"

​"Bukan gitu!" sanggah Alea cepat. "Gue cuma... gue cuma nggak mau lo direndahin sama mereka. Lo nggak tau sejahat apa mulut mereka."

​"Biarin aja mereka menggonggong. Yang penting Ratu Saham ada di sana buat bungkam mereka, kan?" Rigel mengedipkan sebelah matanya. "Saya jemput kamu nanti malam di pintu belakang rumah sakit. Pakai baju terbaik kamu. Jangan bikin saya malu."

​Malam itu, di depan lobi The Royal Glass House, sebuah kelab privat paling eksklusif di Jakarta Selatan.

​Deretan mobil mewah mengantre di area valet. Ada Ferrari merah, Lamborghini kuning, dan Rolls Royce hitam mengkilap. Para tamu turun dengan gaun malam berkilauan dan jas rancangan desainer ternama.

​Di tengah antrean mobil supercar itu, sebuah mobil tua silver tahun 2000-an menyelip masuk dengan suara mesin yang agak brebet.

​Cuit! Cuit!

​Petugas valet melambaikan tangan dengan wajah malas, menyuruh mobil tua itu minggir.

​"Mas, Grab dilarang masuk lobi utama! Lewat samping!" teriak petugas valet ketus.

​Kaca jendela mobil itu turun. Rigel menatap petugas itu datar.

​"Saya tamu undangan," ucap Rigel sambil menyodorkan kunci mobil.

​Petugas itu mendengus, menerima kunci dengan dua jari seolah benda itu menjijikkan.

​Pintu penumpang terbuka. Alea turun. Dia terlihat menakjubkan dengan gaun hitam strapless yang memamerkan bahu mulusnya, dipadukan dengan kalung berlian—yang untungnya sempat dia ambil sebelum kabur. Kakinya yang lecet sudah ditutupi plester kulit dan heels tertutup.

​Rigel turun dari sisi pengemudi. Dia masih mengenakan kaos polo biru dongker polos yang tadi siang, hanya jas dokternya sudah dilepas. Celananya celana chino krem, dan sepatunya... masih sneakers putih yang agak buluk.

​"Lo yakin mau masuk pake baju gini?" bisik Alea cemas sambil menggandeng lengan Rigel erat. Dia merasa semua mata tertuju pada mereka—atau lebih tepatnya, pada ketimpangan penampilan mereka.

​"Nyaman kok. Bahannya adem," jawab Rigel cuek, melenggang masuk seolah dia pemilik gedung.

​Baru saja mereka melangkah masuk ke ballroom, suara cempreng yang sangat Alea benci langsung menyapa.

​"Ya ampun! Alea Ardiman! Si Ratu Saham dateng juga!"

​Bella berjalan mendekat dengan gaun emas penuh payet yang menyilaukan mata. Di tangannya ada gelas champagne, dan di sebelahnya berdiri pria buncit botak yang memakai jas norak dan jam tangan emas besar. Tunangannya.

​Bella memeluk Alea dengan gaya cipika-cipiki palsu, udara ketemu udara.

​"Gue kira lo nggak bakal dateng lho, Al. Soalnya denger-denger perusahaan lo lagi goyah ya? Kasian deh," sindir Bella langsung, senyumnya berbisa.

​"Perusahaan gue baik-baik aja, Bel. Makasih khawatirnya," balas Alea dingin.

​Mata Bella kemudian beralih ke pria di samping Alea. Dia memindai Rigel dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. Dia melihat kaos polo polos itu, celana murah itu, dan sepatu kets itu.

​Bella menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura kaget.

​"O-M-G. Ini siapa, Al? Pasangan lo?"

​Bella tertawa kecil, lalu menoleh ke tunangannya. "Yang, liat deh. Alea bawa gandengan baru."

​Bella kembali menatap Alea dengan tatapan iba yang menghina.

​"Duh, Al. Ganteng sih, tapi... kok bajunya santai banget? Ini acara black tie lho," Bella mencibir, matanya melirik kunci mobil tua yang dipegang Rigel.

​"Kayak pernah liat di rumah sakit. Pacar lo dokter umum ya? Atau lagi koas? Kasian banget. Tadi ke sini naik apa? Naik motor? Apa naik Grab hemat?"

​Tunangan Bella ikut tertawa. "Mungkin driver-nya Alea kali, Yang. Diajak masuk biar bisa makan gratis."

​Wajah Alea memerah padam. Egonya terbakar. Dia hendak membuka mulut untuk memaki Bella dan membeli harga diri Rigel, tapi Rigel menahan tangannya.

​Rigel tersenyum ramah—senyum yang terlalu ramah.

​"Saya dokter, Mbak. Kebetulan mobil dinas saya AC-nya lagi rusak, jadi kami buka jendela tadi. Maaf kalau saya bau matahari," jawab Rigel merendah, sangat merendah untuk meroket kemudian.

​"Oh, pantesan," Bella mengibaskan tangannya di depan hidung. "Pantes agak apek. Al, lo bangkrut ya? Sampai selera cowok lo turun drastis gini? Kalau butuh sumbangan, bilang aja. Tunangan gue bisa kasih lo kerjaan jadi sekretaris."

1
Aidil Kenzie Zie
ada-ada saja si Gavin 🤣🤣🤣
Mineaa
wkwkwkwk.....kopi ga tuh.......
aya Aya wae nich dokter satu......
Arix Zhufa
nah ini calon suami idaman....pasti klo udh nikah gk bakal pelit sama istri
Savana Liora: iya. mantap yak
total 1 replies
Arix Zhufa
mau baca cerita soal mama kiana & papa gavin ach
Savana Liora: bacalah kak. dijamin seru. dinikahi sang duda kaya judulnya
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
hati hati Alea macan mau ngamuk mending siap siap panggil pawangnya 🤣🤣
Mineaa
duiiihh..... papa gavin lg konslet kaya nya......hati hati pa.... mulutmu harimaumu....
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....
Tarwiyah Nasa
waht Alea mewarisi sifat kiana
Aidil Kenzie Zie
up lagi donk tor lagi sert
Aidil Kenzie Zie
👍 Dok
Nisa Naluri
hahahahah🤣....ngakak
Bu Dewi
lanjut kak
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kirain Rigel bakal pamer
Savana Liora: lihat lanjutannya besok. lebih daripada pamer
total 1 replies
Arix Zhufa
makin seru aja
Aidil Kenzie Zie
Papa Gavin nggak dicek dulu siapa sebenarnya dokter Rigel
Savana Liora: nantik2 katanya
total 1 replies
Arix Zhufa
ini adek tiri ya min?
Savana Liora: iya kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
panggil Mama Kia pawang papa Gavin
Aidil Kenzie Zie
Alea masuk jebakan Batman Arka 🤣🤣
Arix Zhufa
si arka dpt dobel untung...
Arix Zhufa
keren lo cerita nya
Arix Zhufa
gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!