Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temenin Aku
Baskara bersiap tidur di ranjang, matanya setengah terpejam Ririn hendak pergi, tapi tiba-tiba Baskara menarik lengannya.
Ririn terjatuh ke pelukannya.
“Pak, jangan begini,” gumam Ririn panik.
“Temenin aku Rin,” kata Baskara lembut.
Ririn menggeleng, gugup jantungnya berdebar kencang,
"Biarin saya pergi Pak," Ucap Ririn memohon
“Aku, janji nggak bakal ngapa-ngapain. Aku cuma, mau meluk kamu aja.”
Ririn menghela nafasnya, benar dan salah menjadi kabur saat ini.
Baskara tersenyum tipis, menundukkan kepalanya.
“Udah, jangan bicara tutup mata, dan tidur .”
Ririn menatap Baskara mulai berpikir mencari alasan.
“Tapi pak, aku belum mandi soalnya dari tadi aku sibuk ngurusin bapak.”
Baskara melepaskan pelukannya perlahan, Ririn merasa lega sekarang.
“Sana mandi dulu trus balik sini,” kata Baskara dengan nada yang santai.
Ririn mengangguk cepat, kemudian segera bergegas pergi ke kamar mandi.
“Haah, kenapa aku setuju ya? Ada apa sih sama aku,” gumamnya sambil berjalan masuk kamar mandi.
Di dalam, Ririn menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
“Kenapa setiap kali sama Pak Baskara, aku selalu kebingungan, tapi anehnya, hatiku juga meresa hangat," bisiknya pelan.
Baskara menyiapkan kaos putih bersih untuk Ririn, melipatnya rapi dan meletakkannya di tangannya.
Dia mengetuk pintu kamar mandi.
Ririn keluar dari kamar mandi, masih memakai kimono mandi yang basah di ujung lengan. Ia menatap Baskara sambil menahan senyum canggung.
“Sebenarnya, saya bisa pulang dulu, Pak,” ucapnya hati-hati, ragu.
Baskara mengerutkan alis sejenak, berpikir, lalu berkata pelan,
“Nggak usah, pakai aja ini. Aku nggak mau kamu berubah pikiran atau merasa nggak nyaman.”
Ririn menelan ludah, sedikit terkejut dengan nada lembut Baskara. Tanpa banyak bicara dia hanya mengangguk dan menerima kaos itu.
“Baik, Pak,” katanya, suaranya tenang tapi matanya sedikit bersinar.
Dia masuk ke kamar untuk mengganti baju, dan keluar beberapa menit kemudian dengan kaos putih itu, rambutnya masih agak basah dan wangi sabun mandi. Ririn melangkah pelan, sedikit gugup saat menghampiri Baskara.
Baskara menatapnya. Napasnya sedikit tertahan. Baskara menundukkan pandangan sejenak, menelan ludah, lalu menatap Ririn lagi.
“Aku cuma ingin bersama kamu aku nggak mau merusak ini, dengan nafsu atau apapun,” katanya pelan, tapi terdengar tegas.
Ririn menelan ludah, hatinya berdebar dia ingin bicara, ingin menolak, tapi sesuatu dalam tatapan Baskara membuatnya hanya diam.
“Pak… aku…” suaranya tercekat.
Baskara tersenyum tipis, melangkah maju, dan menarik Ririn ke pelukannya.
“Shh… jangan banyak bicara, aku cuma mau kita tidur nyenyak malam ini, tanpa obat tidur cukup kamu di sini,” katanya sambil menahan Ririn dalam pelukan hangatnya.
Ririn menutup matanya, merasakan kehangatan tubuh Baskara di sampingnya dia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri.
“Aku takut pak,” bisiknya, tapi kata-katanya terhenti. Baskara menepuk punggungnya perlahan.
“Diam saja aku cuma ingin kamu di sini, Rin. Aku nggak akan membuatmu merasa tidak nyaman Aku cuma mau sama kamu malam ini,” ucapnya lembut.
Ririn akhirnya menarik napas panjang, membiarkan dirinya dalam pelukan Baskara, hatinya campur aduk antara gugup, takut, tapi juga hangat dan nyaman.
“Baiklah… aku di sini, Pak,” gumamnya pelan.
Baskara tersenyum tipis, menundukkan kepalanya ke pundak Ririn, dan perlahan mereka tertidur bersama. Tubuh lelah, pikiran penat, semua hilang sejenak. Yang tersisa hanya kehangatan pelukan dan rasa aman yang aneh namun menenangkan.