NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib / Tamat
Popularitas:164.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Sisa-sisa kehangatan transaksi dengan Pak Hendra masih membekas di hati Anjeli, namun ia tahu bahwa dalam bertani, berhenti berarti mundur. Di tangannya kini ada sebuah kotak kayu kecil berisi rimpang jahe merah yang ia persiapkan dari Ruang Ajaib. Jahe-jahe ini bukan jahe biasa; kulitnya merah menyala dan aromanya sangat tajam bahkan sebelum dikupas.

"Jahe merah butuh waktu lebih lama dari kangkung, tapi harganya jauh lebih stabil dan mahal," gumam Anjeli.

Ia mulai menggali lubang-lubang kecil di pinggiran bedengan, tempat yang masih menyisakan sedikit ruang di bawah lindungan bayangan pohon mangga. Jahe merah menyukai tanah yang lembap tapi tidak tergenang air. Anjeli mencampurkan sedikit debu halus dari sisa pembakaran kayu dapur dengan tanah hitamnya untuk mencegah jamur.

Gani, sang jurnalis, ternyata belum pulang. Ia menginap di balai desa dan kembali pagi ini untuk mengambil foto detail tanah. Saat Anjeli sedang menanam jahe, Gani mendekat dengan raut wajah yang lebih serius dari kemarin.

"Anjeli, boleh saya bicara sebentar? Ini di luar urusan artikel," bisik Gani.

Anjeli meletakkan sekop kecilnya. "Ada apa, Mas Gani?"

"Tadi malam, saat saya berjalan kembali ke balai desa, saya melihat dua orang pria tak dikenal sedang mengobrol dengan Bu Sumi di ujung gang. Mereka membawa map dan menunjuk-nunjuk ke arah rumahmu. Salah satu dari mereka itu sepertinya mengikuti mobil Pak Hendra kemarin," jelas Gani pelan.

Anjeli terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "Mungkin itu orang suruhan pengacara Ibu, Mas. Mereka sedang mencari celah ekonomi kami."

Gani mengangguk. "Saya merasa mereka sedang memantau seberapa banyak hasil panenmu. Hati-hati, Anjeli. Keberhasilan yang terlalu cepat di tempat seperti ini bisa mengundang serigala.”

Siang harinya, karena persediaan air di rumah sedang menipis dan ia ingin menghemat air dari Ruang Ajaib untuk tanaman intinya, Anjeli pergi ke sumur umum desa untuk mencuci beberapa helai pakaian Aris dan ayahnya.

Di sana, Bu Sumi sudah berdiri dengan tangan di pinggang, sedang mengobrol dengan beberapa ibu-ibu lainnya. Suasana mendadak senyap saat Anjeli datang menjinjing ember.

"Duh, lihat itu si juragan sayur. Sudah kaya kok masih mau nyuci di sumur umum? Kenapa tidak beli mesin cuci saja pakai uang dari orang kota itu?" sindir Bu Sumi dengan suara keras.

Anjeli tidak menjawab. Ia mulai menimba air dengan tenang.

"Eh, Anjeli! Benar ya, kemarin ada wartawan foto-foto rumahmu?" tanya salah satu tetangga yang lebih netral. "Kamu mau masuk koran?"

"Halah, paling-paling masuk koran bagian Kriminal karena pakai obat-obatan terlarang buat tanaman!" sahut Bu Sumi ketus. "Aku dengar dari orang kota yang datang semalam, sayuran yang terlalu subur itu biasanya disuntik bahan kimia. Hati-hati saja warga sini kalau ikut makan, bisa-bisa mandul semua!"

Anjeli berhenti sejenak, menatap Bu Sumi dengan tenang namun tajam. "Bu Sumi, sayuran saya sudah diperiksa oleh pemilik restoran besar. Kalau memang ada kimia, mereka tidak akan mau beli. Dan soal orang kota semalam kalau mereka benar-benar ingin tahu tentang kesehatan sayuran saya, kenapa mereka tidak tanya langsung pada saya? Kenapa malah tanya pada Ibu yang tidak pernah menginjakkan kaki di kebun saya?"

Wajah Bu Sumi memerah. "Kurang ajar kamu ya! Sudah berani melawan orang tua!"

"Saya tidak melawan, Bu. Saya hanya meluruskan fakta," jawab Anjeli sambil mengangkat embernya yang sudah penuh dan berlalu pergi, meninggalkan Bu Sumi yang mengomel tak keruan.

Sesampainya di rumah, Anjeli merasa sedikit lelah secara mental. Namun, pemandangan di teras segera menghapus lelahnya. Pak Burhan sedang duduk di kursi kayu, bukan kursi roda. Di depannya, Aris sedang menunjukkan hasil mewarnainya yang baru.

"Lihat Ayah, Aris mewarnai jahe merah Kakak. Bagus tidak?"

Pak Burhan tertawa, suaranya terdengar jauh lebih kuat. "Bagus sekali, Ris. Nanti kalau jahenya sudah panen, kita buatkan wedang jahe buat Kakakmu supaya dia tidak capek."

Anjeli masuk dan memberikan senyum terbaiknya. Ia tidak menceritakan soal pria misterius atau sindiran Bu Sumi. "Ayah, hari ini jahe merahnya sudah tertanam semua. Di sela-sela tomat juga Anjeli tanam sedikit sawi putih supaya tanahnya tidak kosong."

"Hebat kamu, Nak. Oh…Iyaa, tadi Ayqh coba jalan sampai ke pagar depan tanpa tongkat. Ayah Berhasil lima langkah," lapor Pak Burhan bangga.

Anjeli mendekat dan memijat kaki ayahnya sebentar. "Alhamdulillah yah. Tapi Jangan terlalu dipaksa, ya Ayah. Pelan-pelan saja. Kita punya waktu."

Malam itu, sebelum tidur, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib. Ia mengambil satu liter Air Rohani murni untuk disiramkan ke jahe merah yang baru ia tanam di dunia nyata. Ia tahu, tekanan dari luar mulai menguat dari pengacara ibunya, dari kecemburuan tetangga, hingga mata-mata misterius.

"Kalian boleh mengintai," bisik Anjeli sambil menatap tanaman jahenya yang mulai menyerap air di bawah sinar bulan. "Tapi setiap inci tanah ini akan saya pertahankan demi mereka."

Di saku bajunya, ia meraba uang sisa penjualan kemarin. Tabungannya mulai menebal, tapi ia tahu, tantangan sesungguhnya akan muncul saat artikel Gani terbit nanti.

1
sasa adzka
😂😂😂 boleh gak itu mulut bu sumi d sumpel baru trus lakban🤭🤭.. kesel kali lah...
untung d komplek ku gak ada kaya gitu.. klo ada... behhhh
sasa adzka
hebat cerita thor.. perjuangan dari nol.. melawan ibu nya sendiri..
sampai tegang aku baca nya 🤭🤭
keren
sasa adzka
belum banyak baca nya ehhh malah ne air mata pada keluar tau gak thor😭.. sedih banget kehidupan anjeli... semoga itu cincin dimensi biar bisa bangkit lagi kehidupan nya... ahhh halu halu.. klo dunia reel gak ada.. yg ada kerja kerja kerja🤭
sasa adzka
baru mampir d cerita ini thor...
lanjut baca lagi aku ya😍😍😍
Setiawan
wkwkwk bapaknya malah cm ngawasi dr balik jendela alias ngumpet😄😄
Lesmana
wiiseehhh.. itu impian anjeli duit nya dr mana , thor ? kalo sponsor dr 3 mitra , kog anjeli gak ad rembukannya ?? anjeli bicara seakan2 sanggup bangun itu smua😁😁
Lesmana
sayang amat yah kristal kuning warisan kakeknya yg ditanam di tiang utama , tertinggal di rmh itu..
Lesmana
mksdnya bu sumi x yah..yg kepo dengki kan bu sumi , bukan anita🙄🙄
Setiawan
anjeli duduk dibelakang , trus kaki anjeli dikemanain ?? msk ke keranjangnya atau nyangkel ke dpn / kepinggang bpk nya ??🙄🙄
Setiawan
bukannya hasil panen anjeli udah dikontrak sama bu widya ?? apa cm sayur selada nya aja kah ?? pak hendra & bu widya tiba2 jg hilang kbr nya yah
Setiawan
laahh dibongkar pisan sama aris soal temu biru🤣🤣
Setiawan
loh handoko udah tau aja nama aris , perasaan blm kenalan🤭🤭
Setiawan
loh td anjeli gak ngenalin tanaman temu biru krn gak ada catatannya di buku kakek , kog skrng blng ada ??
Nia Risma
si Danu sama bu Sumi ngajak bercanda aja di situasi yg lagi heboh
gina altira
betul anjeli, jgn orang lain tahu tentang cincin ajaib mu
Nia Risma
dasar para pembenci,,coba saja usik mereka lagi,,
bakal kena karma lebih meyakitkan nanti,
Nia Risma
semangat anjeli,,bungkam mulut" orang yang iri dengki untuk menjatuhkanmu
Nia Risma
typo nih Thor,koq Bu Windi,,haruse Bu Widya khan
Nia Risma
kapan si sumsum kena karma sech,,Gedeg banget pengen nabok
gina altira
Dimana" ada aja orang yang iri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!