NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

19

Sisa-sisa kehangatan transaksi dengan Pak Hendra masih membekas di hati Anjeli, namun ia tahu bahwa dalam bertani, berhenti berarti mundur. Di tangannya kini ada sebuah kotak kayu kecil berisi rimpang jahe merah yang ia persiapkan dari Ruang Ajaib. Jahe-jahe ini bukan jahe biasa; kulitnya merah menyala dan aromanya sangat tajam bahkan sebelum dikupas.

"Jahe merah butuh waktu lebih lama dari kangkung, tapi harganya jauh lebih stabil dan mahal," gumam Anjeli.

Ia mulai menggali lubang-lubang kecil di pinggiran bedengan, tempat yang masih menyisakan sedikit ruang di bawah lindungan bayangan pohon mangga. Jahe merah menyukai tanah yang lembap tapi tidak tergenang air. Anjeli mencampurkan sedikit debu halus dari sisa pembakaran kayu dapur dengan tanah hitamnya untuk mencegah jamur.

Gani, sang jurnalis, ternyata belum pulang. Ia menginap di balai desa dan kembali pagi ini untuk mengambil foto detail tanah. Saat Anjeli sedang menanam jahe, Gani mendekat dengan raut wajah yang lebih serius dari kemarin.

"Anjeli, boleh saya bicara sebentar? Ini di luar urusan artikel," bisik Gani.

Anjeli meletakkan sekop kecilnya. "Ada apa, Mas Gani?"

"Tadi malam, saat saya berjalan kembali ke balai desa, saya melihat dua orang pria tak dikenal sedang mengobrol dengan Bu Sumi di ujung gang. Mereka membawa map dan menunjuk-nunjuk ke arah rumahmu. Salah satu dari mereka itu sepertinya mengikuti mobil Pak Hendra kemarin," jelas Gani pelan.

Anjeli terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "Mungkin itu orang suruhan pengacara Ibu, Mas. Mereka sedang mencari celah ekonomi kami."

Gani mengangguk. "Saya merasa mereka sedang memantau seberapa banyak hasil panenmu. Hati-hati, Anjeli. Keberhasilan yang terlalu cepat di tempat seperti ini bisa mengundang serigala.”

Siang harinya, karena persediaan air di rumah sedang menipis dan ia ingin menghemat air dari Ruang Ajaib untuk tanaman intinya, Anjeli pergi ke sumur umum desa untuk mencuci beberapa helai pakaian Aris dan ayahnya.

Di sana, Bu Sumi sudah berdiri dengan tangan di pinggang, sedang mengobrol dengan beberapa ibu-ibu lainnya. Suasana mendadak senyap saat Anjeli datang menjinjing ember.

"Duh, lihat itu si juragan sayur. Sudah kaya kok masih mau nyuci di sumur umum? Kenapa tidak beli mesin cuci saja pakai uang dari orang kota itu?" sindir Bu Sumi dengan suara keras.

Anjeli tidak menjawab. Ia mulai menimba air dengan tenang.

"Eh, Anjeli! Benar ya, kemarin ada wartawan foto-foto rumahmu?" tanya salah satu tetangga yang lebih netral. "Kamu mau masuk koran?"

"Halah, paling-paling masuk koran bagian Kriminal karena pakai obat-obatan terlarang buat tanaman!" sahut Bu Sumi ketus. "Aku dengar dari orang kota yang datang semalam, sayuran yang terlalu subur itu biasanya disuntik bahan kimia. Hati-hati saja warga sini kalau ikut makan, bisa-bisa mandul semua!"

Anjeli berhenti sejenak, menatap Bu Sumi dengan tenang namun tajam. "Bu Sumi, sayuran saya sudah diperiksa oleh pemilik restoran besar. Kalau memang ada kimia, mereka tidak akan mau beli. Dan soal orang kota semalam kalau mereka benar-benar ingin tahu tentang kesehatan sayuran saya, kenapa mereka tidak tanya langsung pada saya? Kenapa malah tanya pada Ibu yang tidak pernah menginjakkan kaki di kebun saya?"

Wajah Bu Sumi memerah. "Kurang ajar kamu ya! Sudah berani melawan orang tua!"

"Saya tidak melawan, Bu. Saya hanya meluruskan fakta," jawab Anjeli sambil mengangkat embernya yang sudah penuh dan berlalu pergi, meninggalkan Bu Sumi yang mengomel tak keruan.

Sesampainya di rumah, Anjeli merasa sedikit lelah secara mental. Namun, pemandangan di teras segera menghapus lelahnya. Pak Burhan sedang duduk di kursi kayu, bukan kursi roda. Di depannya, Aris sedang menunjukkan hasil mewarnainya yang baru.

"Lihat Ayah, Aris mewarnai jahe merah Kakak. Bagus tidak?"

Pak Burhan tertawa, suaranya terdengar jauh lebih kuat. "Bagus sekali, Ris. Nanti kalau jahenya sudah panen, kita buatkan wedang jahe buat Kakakmu supaya dia tidak capek."

Anjeli masuk dan memberikan senyum terbaiknya. Ia tidak menceritakan soal pria misterius atau sindiran Bu Sumi. "Ayah, hari ini jahe merahnya sudah tertanam semua. Di sela-sela tomat juga Anjeli tanam sedikit sawi putih supaya tanahnya tidak kosong."

"Hebat kamu, Nak. Oh…Iyaa, tadi Ayqh coba jalan sampai ke pagar depan tanpa tongkat. Ayah Berhasil lima langkah," lapor Pak Burhan bangga.

Anjeli mendekat dan memijat kaki ayahnya sebentar. "Alhamdulillah yah. Tapi Jangan terlalu dipaksa, ya Ayah. Pelan-pelan saja. Kita punya waktu."

Malam itu, sebelum tidur, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib. Ia mengambil satu liter Air Rohani murni untuk disiramkan ke jahe merah yang baru ia tanam di dunia nyata. Ia tahu, tekanan dari luar mulai menguat dari pengacara ibunya, dari kecemburuan tetangga, hingga mata-mata misterius.

"Kalian boleh mengintai," bisik Anjeli sambil menatap tanaman jahenya yang mulai menyerap air di bawah sinar bulan. "Tapi setiap inci tanah ini akan saya pertahankan demi mereka."

Di saku bajunya, ia meraba uang sisa penjualan kemarin. Tabungannya mulai menebal, tapi ia tahu, tantangan sesungguhnya akan muncul saat artikel Gani terbit nanti.

1
Wanita Aries
bagus thor gk bosen bacanya
Wanita Aries
emak dzolim ninggalkan hutang ke anjeli
Wanita Aries
kasian anjeli masa jd kuli panggul
@Mita🥰
wkwkwk pak Handoko gigit jari🤣🤣🤣
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!