“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
"Kau mau buka minimarket atau sedang berencana terkena diabetes massal, Jer?"
Edgar berdiri melongo di depan meja kerja Jeremy yang kini tertutup oleh gunungan batang cokelat berbagai merek.
Bukan cokelat artisan dari butik ternama di pusat kota Milan yang biasanya dibeli untuk hadiah relasi bisnis, melainkan cokelat-cokelat komersial yang tak ditemukan di rak supermarket.
Jeremy tidak menoleh. Ia sibuk memasukkan batang-batang cokelat itu ke dalam sebuah tas belanja dengan sangat serius, seolah sedang mengepak dokumen negara yang sangat rahasia.
"Bukan urusanmu, Ed. Pergi sana," gerutu Jeremy tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Satu... dua... lima puluh? Kau membeli lima puluh batang cokelat?" Edgar memungut salah satu batang cokelat, membacanya, lalu tertawa meledak. "Ini kan merek yang sama, yang kau bilang dibawa dibawa mahasiswa tadi pagi di depan kampus kan?! Jangan bilang kau... ya Tuhan, Jeremy Sebastian! Kau cemburu pada anak kuliahan?"
"Diam! Aku tidak cemburu!" Jeremy membanting sisa cokelat ke dalam tas. "Aku hanya berpikir kalau pengasuh anakku suka cokelat, lebih baik dia makan yang ku belikan daripada menerima pemberian dari pria tidak jelas yang kualitas cokelatnya diragukan kebersihannya!"
Edgar memegangi perutnya yang kaku karena tertawa. "Kualitas kebersihan? Itu cokelat bermerek internasional, Jer! Alasanmu benar-benar payah. Bilang saja kau panas hati melihat pengasuh putramu dipeluk pria lain dan diberi cokelat murahan itu."
Jeremy berdiri lalu merapikan jasnya dengan kaku. "Aku hanya menjaga standar kualitas di rumahku. Jika penghuni rumahku makan makanan sembarangan, itu akan mempengaruhi kinerjanya dalam menjaga Elio. Itu logika bisnis."
"Logika bisnis kepalamu!" Edgar menyusul Jeremy yang mulai melangkah keluar kantor dengan tas cokelat di tangannya. "Kalau kau tidak cemburu, kenapa tidak beli perhiasan saja? Kenapa harus cokelat yang persis sama?"
"Karena aku ingin membuktikan padanya bahwa apa pun yang pria itu berikan, aku bisa memberinya seribu kali lipat lebih banyak," desis Jeremy tajam. "Sekarang minggir, aku harus pulang."
Jeremy memacu mobilnya seolah sedang dalam misi penyelamatan dunia. Pikirannya terus terbayang wajah riang Cahaya saat menerima cokelat dari Alvino tadi pagi. Rasa panas di dadanya belum juga padam.
Begitu sampai di mansion, ia melihat Cahaya baru saja turun dari mobil Alvino di depan gerbang.
"Terima kasih ya, Vin. Besok-besok tidak usah jemput, aku tidak enak kalau terus merepotkan mu." suara Cahaya terdengar lembut dari balik pagar.
"Apa sih yang tidak buat kamu, Ay? Kabari ya kalau pinggangmu sakit lagi," Alvino mengusap kepala Cahaya sebelum akhirnya pergi.
Jeremy yang masih di dalam mobil memejamkan mata, tangannya mencengkeram tas cokelat itu.
"Kurang ajar. Dia benar-benar menganggap rumahku tempat kencan," gumamnya.
Jeremy turun dari mobil tepat saat Cahaya hendak masuk ke dalam rumah. Dengan langkah lebar dan wajah yang ditekuk, ia mencegat gadis itu.
"Oh, Om sudah pulang? Tumben cepat," sapa Cahaya heran, menatap Jeremy yang tampak aneh. "Lho, itu bawa apa besar sekali?"
Jeremy tidak menjawab. Ia langsung menyodorkan tas besar itu ke pelukan Cahaya dengan kasar.
"Ambil ini!"
Cahaya terhuyung menerima beban berat yang tiba-tiba. Ia mengintip ke dalam tas dan matanya membelalak.
"Cokelat? Om... Om jualan cokelat?"
"Makan itu sampai kau muak!" bentak Jeremy dengan telinga memerah.
"Mulai sekarang, dilarang membawa makanan dari luar ke dalam rumah ini. Jika kau ingin cokelat, minta padaku! Jangan menerima pemberian pria miskin yang hanya mampu beli satu batang."
Cahaya menatap tumpukan cokelat itu, lalu menatap Jeremy dengan tatapan tak percaya.
"Om... Om membeli ini semua karena tadi pagi melihat Alvino kasih saya cokelat?"
"Bukan! Aku hanya sedang beramal!"
"Om cemburu?" tanya Cahaya tidak peduli dengan wajah Jeremy yang semakin sangar. "Aduh, Om. Alvino itu pacar saya sejak SMA. Dia kasih satu batang karena dia tahu saya lagi diet manis, tapi dia ingin saya tetap senang. Kalau Om kasih sebanyak ini, yang ada saya obesitas, Om!"
"Aku tidak peduli! Buang pemberiannya dan makan punyaku!" Jeremy mendekatkan wajahnya, menatap Cahaya dengan intensitas yang membuat tawa gadis itu mendadak berhenti. "Dan satu lagi... jangan pernah biarkan dia memelukmu di depan properti ku. Itu melanggar estetika rumahku!"
Cahaya tertegun. Jantungnya berdetak kencang lagi. Ia bisa melihat kilatan amarah sekaligus sesuatu yang lain di mata Jeremy. Sesuatu yang terasa seperti rasa takut akan kehilangan.
"Tapi Om, ini kan masih di luar gerbang—"
"Aku tidak peduli! Masuk sekarang!" Jeremy merampas tas itu kembali dan menarik lengan Cahaya masuk ke dalam rumah dengan protektif.
Dari kejauhan, Martha yang melihat adegan itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tuan Muda Jeremy... sejak kapan dia jadi konyol hanya demi menarik perhatian seorang gadis muda?"
*
*
Malam itu, meja makan mansion dipenuhi oleh batang-batang cokelat. Elio yang melihat itu bersorak kegirangan, sementara Cahaya hanya bisa menatap Jeremy yang duduk dengan angkuh sambil memotong dagingnya dengan santai.
"Om benar-benar pria paling aneh yang pernah saya kenal," gumam Cahaya sambil membuka satu cokelat pemberian Jeremy.
"Dan kau adalah wanita paling beruntung karena aku tidak memecat mu setelah melihat adegan menjijikkan tadi pagi," balas Jeremy tanpa menoleh, meski jauh dalam hatinya ia merasa lega luar biasa melihat Cahaya memakan cokelat darinya.
"Dad, Lio—"
"Diam! Dan makan saja makan malammu tanpa banyak bertanya!" potong Jeremy.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭