Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARASIT DI BALIK KULIT
"Jadi, Nirmala... kita mau pergi ke koordinat itu sekarang? Kayaknya seru kalau kita lihat apa yang Julian tinggalkan di sana sebelum dia mampus."
Suara itu keluar dari mulut Lukas, namun nada bicaranya telah berubah total. Getaran suaranya kini berat, berwibawa, dan dingin—persis seperti dentang loncat maut yang bergema di ruang hampa. 'Lukas' berdiri tegak, membuang jauh-jauh sikap kikuknya. Senyumnya melebar melampaui batas kewajaran, hingga sudut bibirnya seolah ditarik oleh benang tak kasat mata. Matanya tidak lagi berkedip; sepasang bola mata itu kini hanya memantulkan kegelapan malam Jakarta tanpa menyisakan binar kemanusiaan sedikit pun.
Nirmala mencengkeram ponsel di tangannya hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya saat beradu dengan udara malam yang mendadak anjlok suhunya. Ia melangkah mundur, kakinya yang basah kuyup terasa berat menginjak pelataran Monas yang kini terasa seperti lantai es.
"Lo... lo bukan Lukas. Balikin dia, bajingan! Dimana lo sembunyiin Lukas yang asli?" Nirmala menggeram, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang mencekam.
Sosok di depannya tertawa—sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan ribuan jarum di atas piringan hitam. "Lukas yang asli? Dia masih ada di sana, Nirmala. Di sela-sela pecahan kaca yang kamu tinggalkan tadi. Dia sedang menangis, memanggil namamu di tengah kegelapan yang mulai memakan ingatannya. Sementara saya? Saya hanya meminjam 'jaket' ini agar bisa menemanimu di dunia yang membosankan ini."
Hujan yang turun di sekitar Monas mendadak berperilaku aneh. Butiran-butiran air itu tidak jatuh ke bumi, melainkan melayang diam di udara, membentuk tirai kristal yang memerangkap mereka dalam sebuah lingkaran maut. Realitas di sekitar mereka mulai retak; gedung-gedung di kejauhan tampak bergoyang seperti pantulan di atas air yang gelisah.
Nirmala menyadari bahwa sang Archivist tidak benar-benar hancur saat koin emosi itu meledak. Entitas itu telah berevolusi, menjadi parasit yang menempel pada frekuensi kepulangan mereka. Dengan gerakan naluriah, Nirmala meraih payung birunya yang patah, mencoba membangkitkan sisa-sisa pendar safir dari rangkanya. Namun, payung itu tetap mati, hanya seonggok rongsokan kain yang basah.
"Jangan buang-buang tenaga, Arsitek kecil," ucap sang Archivist sambil melangkah maju. "Pena perakmu sudah kehilangan tinta, dan payungmu sudah kehilangan napas. Kamu sekarang hanyalah manusia biasa dengan memori yang terlalu berat untuk dipikul. Berikan saya kunci yang kamu ambil dari masa lalu Elena, dan saya janji akan membiarkan 'Lukas' ini tetap utuh."
"Gue nggak bakal kasih apa-apa sama lo! Gue lebih milih mati daripada jadi pion lo lagi!" Nirmala menantang, ia mencoba mencari celah untuk lari, namun tirai hujan yang membeku di sekelilingnya terasa sekeras dinding beton.
"Mati? Di dunia saya, kematian adalah kemewahan yang tidak diizinkan bagi materi sepenting kamu," sang Archivist mengangkat tangan Lukas yang kini mulai terlihat transparan, memperlihatkan aliran cahaya perak di balik kulitnya. "Jika kamu tidak mau menyerahkannya secara sukarela, maka saya akan mengupas identitas anak ini lapis demi lapis sampai kamu tidak bisa lagi mengenali wajahnya."
Tiba-tiba, ponsel di tangan Nirmala kembali bergetar hebat. Kali ini bukan sebuah pesan teks, melainkan sebuah panggilan masuk tanpa nomor. Nirmala segera menempelkan ponsel itu ke telinganya, berharap ada keajaiban yang muncul dari frekuensi liar tersebut.
"Vio! Lo denger gue?!" suara Lukas terdengar sangat tipis, tertutup oleh bising statis yang menyakitkan telinga.
"Lukas! Lo dimana?! Gue... gue lagi bareng sesuatu yang mirip lo!" teriak Nirmala kalap.
"Gue kejepit di antara dua cermin di deket gerbang keluar! Sial, ini sakit banget, Vio! Si Pak Tua itu... dia nyuri bayangan gue! Jangan percaya apapun yang dia omongin! Di bawah Monas... ada terminal darurat Ordo yang masih aktif! Lo harus—"
Suara Lukas terputus oleh suara teriakan memilukan, diikuti oleh bunyi kaca yang pecah berantakan. 'Lukas' yang berdiri di depan Nirmala tersenyum makin lebar, seolah-olah ia menikmati setiap jeritan yang keluar dari frekuensi telepon tersebut.
"Kasihan sekali," gumam sang Archivist. "Dia pikir terminal darurat itu masih bisa menyelamatkan kalian. Padahal, terminal itu adalah alasan kenapa saya bisa ada di sini."
Nirmala menatap ponselnya yang kini layarnya retak dan mati total. Amarah yang tadinya tertahan kini meledak menjadi keberanian nekat. Ia teringat kata-kata Julian tentang pengorbanan dan utang. Jika Julian bisa menjatuhkan diri ke jurang demi mereka, maka ia tidak boleh menyerah begitu saja di sini.
Nirmala melepaskan payung birunya, membiarkan benda itu jatuh ke genangan air. Ia mengepalkan tangannya, memusatkan seluruh sisa energi "Jantung Waktu" yang menyatu di nadinya. Ia tidak butuh pena untuk menulis takdir; ia adalah takdir itu sendiri.
"Lo mau kunci ini, kan? Ambil kalau lo bisa, Pak Tua!"
Nirmala menerjang maju, bukan dengan senjata, melainkan dengan hantaman telapak tangan kirinya yang masih menyimpan bekas luka 'SEKARANG'. Saat tangannya bersentuhan dengan dada 'Lukas', sebuah ledakan cahaya biru dan perak meledak hebat, menghancurkan tirai hujan yang membeku di sekeliling mereka.
Guncangan itu membuat sang Archivist terpental keluar dari raga Lukas. Sosok bayangan hitam tinggi dengan jubah abu-abu muncul sesaat, melayang di udara dengan wajah yang retak-retak, sebelum akhirnya tersedot masuk ke dalam bayangan tugu Monas yang menjulang tinggi.
Raga Lukas jatuh tersungkur di atas aspal. Kali ini, ia tampak lebih nyata. Ia terengah-engah, matanya berkedip cepat, dan ekspresi bingungnya kembali muncul.
"Vio... aduh... kepala gue berasa mau pecah," rintih Lukas sambil memegangi keningnya. "Gue... gue tadi di mana? Gue mimpi lo dicekik sama raksasa jam dinding."
Nirmala berlutut di sampingnya, memeriksa nadi pemuda itu dengan cemas. "Lukas? Ini beneran lo? Lo tahu siapa gue?"
Lukas menatap Nirmala dengan tatapan sebal yang sangat familiar. "Ya elah, Kak. Lo itu Nirmala, mantan bos gue yang paling hobi bikin gue lembur tapi lupa bayar uang makan. Puas?"
Nirmala menghembuskan napas lega yang luar biasa. Ia memeluk Lukas erat, tidak peduli pada baju mereka yang basah kuyup oleh hujan yang kini kembali jatuh secara normal. "Syukurlah... jangan pernah pergi lagi, Kas. Gue nggak tahu harus gimana kalau lo ilang beneran."
"Eh, eh, santai, Kak. Jangan melow dulu. Kita masih dalam bahaya, kan?" Lukas melepaskan pelukan Nirmala, ia meraba sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang anehnya masih menyala. "Tadi pas gue 'kejepit', gue sempet liat sesuatu. Julian... dia nggak bener-bener narik raksasa itu ke bawah. Dia narik raksasa itu ke koordinat Kota Tua yang tadi dikirim ke ponsel gue."
Nirmala mengernyitkan dahi. "Jadi pesan itu... dari Julian?"
"Bukan cuma pesan. Itu umpan," Lukas menunjuk ke arah utara, ke arah Kota Tua yang tertutup kabut tebal malam itu. "Julian tahu Archivist bakal nyari celah lewat gue. Dia sengaja ngirim koordinat itu buat mancing Archivist masuk ke jebakan yang sebenernya."
Nirmala berdiri, membantu Lukas bangkit. "Terus apa yang ada di Kota Tua? Julian bilang itu Ruang Arsip Terlarang, kan?"
"Lebih dari itu, Vio," suara Lukas mendadak berubah menjadi sangat serius. "Di sana ada 'Pena Takdir' versi asli. Yang bisa nulis ulang sejarah tanpa ada yang bisa hapus lagi. Termasuk menghapus keberadaan Ordo Chronos selamanya dari muka bumi."
Nirmala menatap ke arah utara. Ia merasakan denyut di nadinya kembali menguat, seolah-olah koin di dalam dadanya bereaksi terhadap sesuatu yang ada di Kota Tua. Namun, di tengah kesunyian malam, sebuah suara langkah kaki sepatu pantofel terdengar mendekat dari arah belakang mereka.
Bukan satu orang. Tapi puluhan.
Nirmala dan Lukas berbalik. Di bawah temaram lampu taman Monas, berdiri puluhan pria berpakaian setelan jas hitam rapi. Mereka semua memegang payung hitam yang terbuka lebar, menutupi wajah mereka dari air hujan. Di tengah barisan itu, Alfred berdiri dengan wajah yang tidak lagi ramah. Ia memegang tongkat gagaknya, namun kali ini tongkat itu memancarkan cahaya merah darah.
"Nirmala," ucap Alfred dengan suara yang terdengar seperti ribuan orang berbicara bersamaan. "Permainan anak-anak dengan sang Archivist sudah selesai. Sekarang, serahkan Jantung Waktu itu kepada Ordo yang sebenarnya, atau Jakarta akan bangun besok pagi sebagai kota yang tidak pernah memiliki nama."
Nirmala menarik napas panjang, ia melirik Lukas yang kini sudah menyiapkan gawainya untuk bertarung sekali lagi.
"Kek, gue pikir kita temen," bisik Nirmala kecewa.
Alfred melangkah maju, membiarkan payungnya tertiup angin hingga menyingkapkan matanya yang kini sudah berubah menjadi roda gigi yang berputar cepat.
"Teman adalah konsep waktu yang sudah kedaluwarsa, Nirmala. Kamu tahu apa yang terjadi pada orang yang menolak panggilan Ordo di detik terakhir?"