NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kuas Bulu Serigala Roh

Paviliun Awan Hijau berdiri di distrik yang jauh berbeda dari gang kumuh tempat Guiren meringkuk semalam. Di sini, udara tidak berbau busuk, ia digantikan oleh aroma kayu tua yang dipoles dan wangi teh yang diseduh dengan suhu presisi.

Guiren melangkah melewati ambang pintu, tongkat kayunya mengetuk lantai marmer yang dingin. Visi Qi-nya menangkap struktur ruangan yang tertata, rak-rak tinggi yang menyimpan benda-benda dengan riak energi yang tenang namun berbobot. Di tengah semua itu, Nyonya Zhu duduk di balik meja kayu gaharu yang lebar.

"Kau datang tepat waktu," suara Nyonya Zhu menyambutnya tanpa basa-basi. "Letakkan tongkatmu. Di tempat ini, kau tidak membutuhkannya untuk melihat."

Guiren bersandar pada dinding, melepaskan pegangannya pada tongkat kayu itu. Ia merasa telanjang tanpa penyangga itu, namun ia tetap melangkah maju, mengikuti jejak energi cendana yang menguar dari sosok wanita itu.

Di atas meja, Nyonya Zhu meletakkan sebuah kotak memanjang yang terbuat dari perunggu hitam. Penutupnya dibuka, mengeluarkan bunyi logam yang tajam.

"Arang dan kertas sampah hanya akan mengotori tanganmu," ujar Nyonya Zhu. "Jika kau ingin melukis takdir, kau butuh perantara yang mampu menampung beban jiwamu."

Guiren meraba permukaan meja hingga jemarinya menyentuh sebuah benda silinder yang dingin. Ia mengangkatnya. Benda itu adalah sebuah kuas, namun beratnya tidak seperti kayu biasa. Batangnya terbuat dari tulang binatang yang telah mengeras seperti batu giok, dan bulunya terasa kasar namun kenyal saat disentuh.

"Kuas Bulu Serigala Roh," Nyonya Zhu menjelaskan. "Bulu-bulunya diambil dari tengkuk serigala yang hidup di puncak gunung bersalju, makhluk yang menghirup Qi dari udara tipis. Batangnya adalah tulang yang telah direndam dalam tinta es selama seratus tahun."

Guiren merasakan getaran samar dari kuas itu, seolah-olah benda itu memiliki denyut jantung sendiri.

"Cobalah," perintah Nyonya Zhu. "Jangan gunakan tinta biasa. Gunakan apa yang mengalir di dalam meridianmu."

Guiren memusatkan pikirannya. Ia memanggil aliran dingin yang ia sebut 'tinta' dari dalam dadanya, menggiringnya melewati lengan hingga ke ujung jari yang memegang kuas. Seketika, bulu kuas yang tadinya putih kusam berubah menjadi hitam pekat, seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya.

Ia mengayunkan kuas itu ke udara di depannya.

Sebuah garis hitam pekat terbentuk di udara, bukan sebagai uap, melainkan sebagai proyeksi energi yang padat. Dalam satu gerakan refleks, garis itu melesat maju seperti anak panah, menghantam sebuah bejana tanah liat di sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping.

Seketika itu juga, Guiren merasakan dadanya sesak. Rasanya seolah-olah ada lubang besar yang baru saja terbuka di dalam tubuhnya, menyedot habis tenaganya dalam satu tarikan napas. Pandangannya menggelap, dan ia terpaksa bertumpu pada meja agar tidak jatuh tersungkur.

"Itulah harganya," suara Nyonya Zhu terdengar dingin, tanpa ada niat untuk membantu. "Artefak bukan sekadar alat, ia adalah mulut yang lapar. Jika kau tidak memiliki kendali, ia akan meminum Qi-mu hingga kering, merobek meridianmu dari dalam, dan meninggalkanmu sebagai mayat tanpa jiwa."

Guiren mengatur napasnya yang memburu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia bisa merasakan denyut menyakitkan di sepanjang lengannya, sebuah peringatan bahwa tubuhnya belum benar-benar siap untuk kekuatan sebesar ini.

"Kenapa Anda memberikan ini kepada saya?" tanya Guiren dengan suara serak.

"Karena aku ingin melihat apakah kau cukup kuat untuk memegangnya, atau apakah kau akan hancur oleh bebanmu sendiri," Nyonya Zhu berdiri, bayangan energinya menyelimuti Guiren. "Dunia luar bukan lagi tempat untuk bersembunyi di balik kabut. Dengan kuas ini, kau bukan lagi pengemis yang meminta belas kasihan. Kau adalah ancaman."

Guiren meremas batang kuas tulang itu. Rasanya berat, bukan karena massa fisiknya, melainkan karena konsekuensi yang dibawanya. Ia teringat Xiaolian yang menunggunya di penginapan. Setiap inci kekuatan baru ini berarti risiko bagi nyawanya, namun tanpa itu, ia tidak akan pernah bisa menjamin fajar berikutnya bagi sang adik.

"Simpan kuas itu," kata Nyonya Zhu sambil menutup kotak perunggu. "Pelajari bagaimana cara memberinya makan tanpa membuat dirimu mati kelaparan. Kita akan lihat apakah kau bisa bertahan saat tinta ini mulai menuntut lebih banyak darah."

Guiren kembali mengambil tongkatnya, menyelipkan kuas serigala itu ke dalam lipatan jubahnya yang terdalam. Ia melangkah keluar dari Paviliun Awan Hijau dengan beban baru di pundaknya.

Ia memiliki senjata sekarang. Namun, ia juga baru saja menyadari bahwa ia sedang menggenggam seekor pemangsa yang siap menerkam tuannya sendiri setiap kali ia lengah.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!