NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:73
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sore itu, Nadia duduk tenang di salah satu sudut restoran mewah bersama Zane dan kliennya. Ia menjalankan tugasnya dengan profesional—mencatat, menyimak, dan sesekali menyerahkan dokumen yang dibutuhkan. Wajahnya datar, sikapnya sopan, tak ada sisa keceriaan pagi tadi yang tertinggal.

Meeting berjalan lancar dan akhirnya usai.

Begitu klien berpamitan dan meninggalkan meja, Nadia segera berdiri, merapikan map di tangannya. “Kalau begitu, saya permisi pulang dulu, Pak.”

Baru saja ia melangkah satu langkah, suara Zane kembali menahannya.

“Tunggu.”

Nadia menarik napas dalam, menahan desah yang hampir lolos. Ia berbalik dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Ada lagi, Pak?”

Zane bersandar santai di kursinya, menatap Nadia dengan sorot mata yang sulit ditebak—terlalu personal untuk sekadar atasan pada bawahan. “Makan dulu. Sebentar saja.”

Nadia terdiam. Dalam dadanya, rasa dongkol perlahan naik. Lagi-lagi begitu. Seolah Zane selalu punya alasan untuk menahannya lebih lama.“Saya rasa sekretaris Bapak—”

“Aku yang minta kamu.”

Kalimat itu memotong dengan tegas, tanpa memberi ruang penolakan.

Nadia mengepalkan jari di balik map. Ia mantan, ia atasan, dan kini bertingkah seolah masih punya hak atas waktunya. Namun Nadia terlalu terlatih untuk menunjukkan perasaan sebenarnya.

“Baik. Sebentar saja.”

Ia kembali duduk, menjaga jarak, menjaga sikap. Zane memberi isyarat pada pelayan, memesan makanan.

Suasana di meja itu terasa kaku, seolah udara di antara mereka menebal. Denting alat makan dan suara percakapan pengunjung lain terdengar samar, namun bagi Nadia dan Zane, dunia seakan menyempit hanya pada jarak yang tak nyaman itu.

Sebenarnya, Zane tak lagi membutuhkan Nadia. Pekerjaan sudah selesai, urusan dengan klien pun beres. Ia bisa saja membiarkan gadis itu pulang—dan menyerahkan semuanya pada sekretaris pribadinya, seperti seharusnya. Namun entah mengapa, ia terus mencari alasan agar Nadia tetap duduk di hadapannya.

Bekerja.

Itu satu-satunya dalih yang masuk akal.

Zane menyesap minumannya, berusaha terlihat santai. Tapi pikirannya berisik. Ada perasaan ganjil yang mengganggu—perasaan yang ia tolak mentah-mentah. Ia tak mengerti mengapa perubahan kecil pada Nadia, senyum cerah yang tak biasa itu, justru membuat dadanya terasa terusik.

Tidak masuk akal, batinnya kesal.

Ia menegakkan rahang, menghalau pikiran-pikiran yang tak seharusnya ada. Ia tidak mungkin—tidak seharusnya—menyukai gadis seperti Nadia. Terlalu sederhana. Terlalu polos. Terlalu… berbeda dari dunia yang biasa ia hidupi.

Sementara itu, Nadia duduk tenang dengan sikap profesional, meski hatinya mulai lelah. Ia bisa merasakan tatapan Zane yang sesekali jatuh padanya, terlalu lama untuk sekadar atasan memperhatikan bawahan. Namun ia memilih diam, membiarkan waktu berjalan sampai akhirnya ia benar-benar bisa pergi.

Tak satu pun dari mereka berbicara.

Namun keheningan itu penuh dengan hal-hal yang tak terucap—tentang masa lalu, tentang kendali, dan tentang perasaan yang coba ditekan mati-matian oleh Zane, meski justru semakin kuat ia sangkal.

Keheningan itu akhirnya pecah bukan oleh kata-kata, melainkan oleh gerakan kecil yang Zane sendiri tak sadari.

Sendok Nadia terhenti di udara.

Zane memperhatikannya terlalu saksama—cara jari Nadia menggenggam gagang sendok, cara ia meniup supnya pelan sebelum menyentuh bibir, bahkan cara alisnya sedikit mengernyit setiap kali mencicipi. Hal-hal sepele. Tak penting. Namun anehnya, matanya enggan beralih.

Zane mendecak pelan dalam hati.

Apa menariknya?

Ia tahu betul standar perempuan yang biasa berada di sekitarnya—ambisius, glamor, penuh kalkulasi. Sedangkan Nadia? Ia datang bekerja dengan sepatu datar yang sama hampir setiap hari, rambut dikuncir seadanya, dan ekspresi tenang yang terlalu… biasa.

Dan justru itu yang membuatnya kesal.

“Kamu selalu makan sepelan itu?” Zane tiba-tiba bersuara.

Nadia mengangkat wajahnya, jelas terkejut. “Hm? Maaf?”

“Dari tadi makanannya hampir tidak berkurang.” Nada Zane terdengar santai, tapi ada nada mengulik di baliknya.

Nadia melirik piringnya sekilas, lalu kembali menatap Zane dengan ekspresi datar. “Saya tidak tahu ada standar kecepatan makan di perusahaan.”

Zane tersenyum tipis. Bukan karena lucu—melainkan karena ia suka jawabannya.

Itu masalahnya.“Kamu selalu defensif,” katanya.

“Saya profesional,” balas Nadia singkat.

Zane bersandar lagi, menautkan jemari. “Profesional atau dingin?”

Nadia menahan napas. Pertanyaan itu terlalu personal. Ia menegakkan bahu, memasang senyum sopan yang sama seperti puluhan kali ia lakukan pada klien. “Kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya ingin pulang sekarang.”

Ada jeda. Zane menatapnya lama, lalu mendadak berkata, “Besok ikut aku ke site proyek.”

Nadia berkedip. “Besok? Tapi itu bukan—”

“Aku butuh kamu,” potong Zane cepat. Terlalu cepat. Ia sendiri menyadarinya dan berdeham. “Untuk pencatatan. Sekretaris utama sudah penuh jadwal.”

Alasan lagi. Dalih yang terasa makin tipis.

Nadia menunduk sejenak, menimbang. “Baik.”

Satu kata itu seharusnya cukup. Namun Zane justru merasa tidak puas.

Ia ingin lebih. Reaksi. Kekesalan. Penolakan. Apa pun selain ketenangan Nadia yang membuatnya merasa… tak berdaya.

Setelah makan selesai, Nadia berdiri lebih dulu. “Terima kasih atas jamuannya, Pak. Saya permisi.”

Zane mengangguk, tapi matanya terus mengikuti punggung Nadia sampai gadis itu menghilang di balik pintu restoran.

Baru setelah itu ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar.

Menyebalkan.

Ia mengganggu Nadia bukan karena suka—itu kesimpulan paling tidak masuk akal yang bisa ia terima. Ia hanya… ingin memastikan. Ingin tahu. Ingin melihat apakah Nadia akan retak, marah, atau menunjukkan sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Ia ingin menguasai situasi.

Itu saja.

Namun semakin sering ia mencari-cari alasan untuk mendekati Nadia—rapat dadakan, tugas tambahan, pesan singkat yang tak perlu—semakin sering pula ia mendapati dirinya memperhatikan hal-hal yang tak seharusnya ia pikirkan.

Senyum kecil Nadia saat membaca pesan lucu di ponselnya.

Nada suaranya yang berubah lembut saat berbicara dengan orang lain.

Cara ia tetap sopan meski jelas terganggu olehnya.

Zane memijat pelipisnya, frustrasi.

Tidak mungkin. Dia sama sekali tidak menarik. Dan justru karena itulah, Zane mulai curiga…bahwa masalahnya bukan pada Nadia, melainkan pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!