Diana harus menerima kenyataan pahit, kalau suami yang dia nikahi selama dua tahun ini sebenarnya telah menyembunyikan banyak rahasia darinya.
Di depan Diana, Rafli bersikap seolah dia suami yang baik dan setia. Tapi di belakang Rafli itu tukang selingkuh dan suka berjudi.
Hingga suatu ketika, Rafli kalah judi dan menjadikan Diana sebagai pelunas hutangnya. Diana di serahkan pada seorang pengusaha yang bersedia membayar hutang judinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Diana masih memeluk ibunya, ayahnya juga terlihat sangat sedih. Tapi kemudian datanglah Novi dan Reni yang baru saja pulang sekolah.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumusalam!"
"Kak Diana, kakak datang. Loh kenapa kakak dan ibu menangis? ada apa?" tanya Novi yang usianya lebih tua dari Reni.
Novi sudah kelas 12, sementara Reni kelas 10. Mereka baru pulang sekolah, menyalami Ahmad Subardjo, Murni, dan terakhir Diana.
Diana dan Murni sama-sama menyeka air matanya. Mereka tidak mau Novi dan Reni mengetahui masalah yang sedang di hadapi Diana. Hal itu akan membuat mereka menjadi kena imbasnya nanti. Mereka bisa saja tidak percaya pada pria karena takut akan di perlakukan seperti Diana.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya rindu pada ibu, bagaimana sekolah kalian?" tanya Diana.
"Semua lancar kak, sebentar lagi kan ujian. Setelah itu aku akan cari pekerjaan. Dengar-dengar di rumah pak camat butuh seorang asisten rumah tangga!" kata Novi yang terlihat bersemangat.
Diana terdiam, dia memikirkan hal itu. Novi itu cukup pintar, sayang sekali kalau tidak melanjutkan sekolah. Diana pun berpikir untuk kembali bekerja supaya bisa membiayai Novi kuliah, dia akan bicara dengan Andre nanti.
"Tidak apa-apa, asal pekerjaan itu halal. Ayah dan ibu akan selalu mendoakan mu!" kata Murni.
Mereka juga hanya bisa pasrah, pekerjaan Ahmad Subardjo dan dirinya hanya petani yang menggarap lahan orang. Jadi mereka tidak bisa menjanjikan apapun pada anak-anak mereka tentang pendidikan setelah SMA.
"Novi, Reni kalian masuk dulu ya. Ganti pakaian, dan makan dulu!" kata Diana yang ingin menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya.
Setelah kedua adiknya masuk ke dalam, Diana baru berkata.
"Sebenarnya mas Rafli bukan hanya berselingkuh Bu!" kata Diana yang membuat Murni terkejut bukan main.
"Apa maksudnya, dia kasar sama kamu? dia pukul kamu nak?" tanya Ahmad Subardjo yang terlihat emosional.
"Mas Rafli menjadikan aku pelunas hutangnya, dia memberikan aku pada pemilik kasino tempat dia bermain judi...!"
"Jadi dia main judi juga, astagfirullah. Kenapa tidak sekalian kamu buka saja di depan ayahnya tadi. Benar-benar itu di Rafli. Sudah pantas lah dia dapat penyakit parah itu, biar dia menderita!" kesal Murni.
"Astaghfirullah!" lirih Ahmad Subardjo tak menyangka nasib anak sulungnya jadi seperti itu.
"Tapi Diana sudah menikah dengan orang itu, pemilik kasino itu. Mas Rafli meminta aku menandatangani surat perceraian, tapi ternyata dia juga menyelipkan surat persetujuan aku harus menikahi orang itu!" kata Diana.
"Tega betul si Rafli itu!" keluh Murni.
"Jadi kamu sudah menikah, tapi apa bisa seperti itu?" tanya Ahmad Subardjo.
Diana mengangkat bahunya, dia lantas berkata.
"Kata orang itu bisa, dia sudah membuat surat perceraian ku dengan mas Rafli, terhitung tiga bulan yang lalu. Karena sebenarnya mas Rafli sudah selingkuh selama satu tahun, enam bulan ini kami bahkan tidak lagi tidur bersama, aku minta maaf karena sebenarnya aku terus lembur ayah, ibu. Tapi aku tidak bisa mengirim uang karena mas Rafli tak pernah pulang dengan gajinya, dia bilang kerampokan, untuk operasi ibunya, di pinjam teman, padahal uangnya habis di meja judi! jadi aku harus bayar cicilan rumah!" kata Diana jujur dan kembali menangis.
Murni juga langsung ikut menangis, dia tidak bisa bayangkan perasaan sang anak atas semua perilaku mantan suaminya itu. Murni memeluk Diana dan mengusap punggung anaknya itu beberapa kali.
Ahmad Subardjo juga sama, dia terlihat mengepalkan tangannya.
"Manusia macam apa dia, tega sekali. Dia punya adik perempuan kan, bagaimana kalau adik perempuannya yang di perlakukan suaminya kelak seperti ini? kejam sekali!" Isak tangis Murni sambil mencurahkan isi hatinya.
"Permisi!" kata Zul yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Siapa kamu?" tanya Ahmad Subardjo yang langsung waspada.
Murni dan Diana langsung menyeka air mata mereka.
"Ayah, dia anak buah Andre, suami Diana!" kata Diana.
"Nyonya, tuan menelepon!" kata Zul.
Diana lantas bangun dan keluar dari rumah setelah menerima ponsel yang di berikan oleh Zul.
"Halo!" kata Diana.
"Ada apa dengan suaramu? habis menangis?" tanya Andre.
"Sedikit! ada apa?" tanya Diana.
"Memangnya kalau mau telepon istri sendiri harus ada alasan tertentu?" tanya Andre lagi.
Diana sedikit menjauhkan telepon dari telinganya dan melihat ke layar ponsel milik Zul, Zul memberikan nama untuk kontak Andre itu bos besar.
"Tidak begitu, kamu kan orang sibuk...!"
"Aku sudah kirim uang pada Zul, kamu ajak keluarga mu keluar, makan dan belanja. Setelah itu kamu pulang, jam 9 malam kamu sudah harus ada di rumah, mengerti!" kata Andre.
"Tapi, aku mau menginap. Katanya kamu akan pergi tiga hari...!"
"Tidak jadi, jam 9 malam kamu sudah harus ada di rumah!"
"Tapi...!"
Tut Tut Tut Tut
Diana melihat layar ponsel Zul sudah berubah menjadi gambar hello Kitty. Mata Diana melebar.
'Hah, Zul suka hello Kitty, agak antimainstream ya!' batin Diana.
"Nyonya, tuan sudah kirim 5 juta, kata tuan nona bisa ajak keluarga nona makan dan belanja. Kalau kita berangkat sekarang. Kita bisa pulang jam lima sore nanti nyonya!" kata Zul.
Tak mau kehilangan moment bersama keluarga agak lama. Diana lantas masuk ke dalam rumah setelah memberikan ponsel Zul padanya.
Diana mengajak ayah, ibu dan kedua adiknya untuk makan di luar.
"Kak, seriusan mau makan sama belanja?" tanya Novi.
"Nak, sayang uangnya!" kata Murni.
Diana pikir, kalau dia saja di beli dari Rafli dengan harga 500 juta. Uang 5 juta itu pasti tidak ada apa-apanya untuk Andre.
"Bagaimana ya Bu, aku baru sehari jadi istrinya. Aku juga tidak tahu, kenapa dia tiba-tiba baik begini...!" Diana menjeda kalimatnya.
'Apa mungkin aku yang tidak tahu kalau dia memang sebenarnya baik?' batin Diana bertanya dalam hatinya.
"Tapi sayang juga kalau di lewatkan Bu, kita makan dan belanja seperlunya saja. Sisanya bisa kalian simpan, bagaimana?" tanya Diana.
Setelah di pertimbangkan, akhirnya Ahmad Subardjo dan Murni mau ikut. Mereka juga ingin membuat momen jalan-jalan bersama dengan anak-anak mereka. Mereka cukup respect dengan suami baru Diana. Karena sudah baik begini pada mereka.
Setelah makan dan jalan-jalan, juga belanja alat sekolah dan rumah. Diana pun pamit pulang.
Di sepanjang perjalanan pulang, Diana sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk berterima kasih atas kebahagiaan yang di berikan oleh Andre padanya dan keluarganya hari ini.
'Tapi kenapa dia tidak jadi pergi ya? ah itu bukan kapasitasku untuk bertanya. Aku buatkan makan malam saja, sebagai tanda terima kasih padanya!' batin Diana yang sudah menemukan cara berterima kasih pada Andre.
***
Bersambung...
terimakasih author
👍👍👍👍