Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Carmen Hamil dan kebenaran yang terungkap
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Carmen. Di bawah pengawasan ketat Samudera yang menganggapnya sedang sakit, Carmen hanya bisa berbaring kaku. Namun, pikirannya terus melayang ke arah tas kerja Bayu yang tergeletak di meja ruang tamu.
Sekitar pukul dua dini hari, Carmen mencoba turun dengan langkah sangat pelan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Bayu tertidur di sofa, menjaga laptop yang rusak dan tas kerjanya. Baru saja tangan Carmen hendak menyentuh ritsleting tas itu, Bayu bergerak.
"Nona Carmen? Sedang apa di sini?" tanya Bayu dengan suara serak khas orang bangun tidur. Matanya menatap Carmen dengan tatapan kecewa yang dalam. "Tuan Samudera sangat khawatir pada Anda, tolong kembalilah ke kamar. Laptop itu sudah hancur, jangan biarkan rasa bersalah Anda membuat Anda makin sakit."
Carmen mematung, tangannya ditarik kembali. "Aku... aku hanya ingin minum."
"Kembalilah ke kamar, Nona. Biar saya yang ambilkan," sahut Bayu dingin. Pria itu tampak sangat terpukul karena kerja kerasnya merestorasi video tersebut sia-sia dalam sekejap. Carmen pun gagal. Flashdisk itu tetap aman di tangan Bayu, siap dibawa ke ahli forensik digital pagi nanti.
Menjelang fajar, Carmen tidak perlu lagi berakting. Rasa mual yang luar biasa menghantamnya, perutnya serasa dikocok, dan seluruh ruangan berputar hebat. Vertigo menyerangnya hingga ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi.
"Carmen! Buka pintunya!" teriak Samudera dari luar. Tanpa menunggu jawaban, Samudera mendobrak pintu dan menemukan Carmen yang pucat pasi.
"Tidak usah, Om... aku cuma butuh istirahat," rintih Carmen.
"Tidak! Wajahmu sudah seperti mayat. Kita ke rumah sakit sekarang!" Samudera menggendongnya tanpa memedulikan penolakan Carmen. Pria itu begitu protektif, begitu mencemaskan "putri kecil" yang ia besarkan dengan kasih sayang.
Di rumah sakit, Samudera mondar-mandir di depan ruang periksa. Bayu berdiri tak jauh darinya, masih memeluk tas berisi flashdisk itu. Tak lama, dokter keluar dengan wajah serius.
"Dok, bagaimana kondisi Carmenita?" tanya Samudera cepat.
Dokter tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu menyodorkan sebuah amplop putih. "Silakan dibaca sendiri, Tuan Samudera. Ini hasil laboratorium darahnya."
Samudera merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengira akan menemukan hasil tentang anemia atau tipus. Namun, matanya terpaku pada satu baris kata yang seolah menyemburkan api: Positif Hamil.
Kertas itu terlepas dari jemarinya, melayang jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin.
Dunia Samudera seolah berhenti berputar. Ambisinya, nama baiknya, dan kasih sayangnya hancur berkeping-keping. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang amat sangat membakar dadanya.
Samudera melangkah masuk ke dalam kamar rawat Carmen dengan aura yang begitu gelap. Rahangnya menegang, matanya merah karena murka. Carmen yang sedang bersandar di bantal, menoleh dan langsung membeku melihat sorot mata Om nya yang biasanya hangat kini berubah menjadi nyalang seperti binatang buas.
"Carmenita," suara Samudera rendah namun menggetarkan ruangan. "Siapa pria yang telah menghamilimu? Ayo cepat katakan! Akan Om beri pelajaran pria brengsek itu!"
Deg!
Carmen merasa jantungnya berhenti berdetak. "Apa Om... a.. aku hamil?" tanyanya dengan suara nyaris hilang.
Samudera menerjang maju, mencengkeram kuat kedua bahu Carmen, mengguncangnya dengan kasar. "Iya, kau hamil! Siapa pria bejat yang sudah merusakmu di belakangku? Siapa yang berani menyentuhmu, Carmen?! Katakan namanya sekarang!" bentaknya hingga suaranya bergema di lorong rumah sakit.
Carmen hanya bisa terisak. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Ia ingin berteriak, ia ingin menunjuk wajah pria di depannya ini.
'Om, andaikan Om tahu siapa pria brengsek yang Om sebutkan itu... pasti Om akan syok, bahwa Om-lah pria brengsek itu!' batinnya menjerit, namun mulutnya tetap terkunci rapat oleh ketakutan.
Setelah dipulangkan paksa, Samudera tak lagi memandang Carmen sebagai keponakan kesayangan. Ia menyeret Carmen masuk ke kamar dan menguncinya dari luar.
"Jangan harap bisa keluar dari sini sebelum kau sebutkan nama pria itu! Kau hanya boleh keluar untuk makan jika lapar, itu pun di bawah pengawasan!" teriak Samudera dari balik pintu yang terkunci.
Di dalam kamar yang gelap, Carmen meringkuk di pojok tempat tidur. Ia membelai perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. Ironisnya, kini ia justru menyesali keberhasilannya merusak laptop Samudera kemarin.
"Tahu begitu, kemarin biarkan saja Om Sam tahu apa yang sebenarnya terjadi lewat CCTV itu," gumamnya pelan di sela isak tangis. "Sekarang di dalam rahimku telah tumbuh benihnya... dan aku tidak mungkin selamanya bungkam. Biarlah Om Sam tahu kebenarannya melalui rekaman CCTV itu. Aku pasrah!"
Di luar, Bayu sedang bersiap membawa laptop itu ke ahli data, tidak menyadari bahwa kebenaran yang dicari Samudera sebenarnya sudah ada di depan mata, namun terkubur di bawah rasa malu yang menyesakkan.
.
.
Samudera merasa kepalanya ingin pecah. Empat sloki whisky yang ia tenggak di kelab malam tadi tidak berhasil membilas rasa sesak di dadanya, justru membuat amarah dan rasa bersalah bercampur aduk menjadi satu. Sudah tiga hari ia mengurung Carmen, tiga hari ia memperlakukan gadis itu layaknya sebuah hukum an, padahal gadis itu tengah mengandung.
Di parkiran klub yang remang-remang, Bayu sudah menunggu dengan wajah tegang. Ia menyerahkan sebuah laptop baru milik kantor yang sudah terpasang flashdisk perak tersebut.
"Tuan, ahli forensik berhasil menyelamatkan datanya. File video dari Hotel Grand itu ada di folder utama," lapor Bayu pelan.
Samudera menyambar laptop itu, masuk ke dalam mobilnya, dan membanting pintu. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol play. Matanya yang merah karena alkohol kini melebar. Di layar, ia melihat bayangan dirinya sendiri yang berjalan sempoyongan karena pengaruh obat bius yang diberikan musuh bisnisnya malam itu. Ia melihat dirinya berhenti di depan sebuah pintu, merogoh saku, lalu masuk.
Namun, ada sesuatu yang ganjil. Samudera memundurkan video itu beberapa detik. Ia memicingkan mata melihat pelat nomor kamar yang tertempel di pintu kayu tersebut. Kemudian ia memutar cepat rekaman tersebut, sampai akhirnya menjelang pagi sekitar pukul lima, dan dari balik pintu muncul seorang wanita sambil menutup wajahnya dengan saputangannya, seolah ingin menyembunyikan identitasnya.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. "Angka itu...gadis itu."
Samudera menurunkan kaca mobil, wajahnya pucat pasi. "Bayu! Kemari!" bentaknya. Bayu segera mendekat. "Sepertinya aku telah salah masuk kamar. Bukankah waktu itu kau bilang kamarku adalah nomor 800, bukan 808? Tadi aku melihat angka di depan pintu itu bertuliskan 808!"
Bayu tertegun, ia mencoba mengingat-ingat catatan reservasi bulan lalu. Wajahnya ikut berubah pias saat menyadari keteledoran kecil yang berakibat fatal. "Maaf, Tuan... saya... saya harus memastikannya kembali ke hotel."
"Sebaiknya kita kembali ke hotel sekarang juga! Kita lihat siapa yang check-in di kamar itu!" perintah Samudera dengan suara parau.
Selama perjalanan, Samudera tidak berhenti meremas setir. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah jepitan rambut kecil berbentuk kupu-kupu dengan hiasan kristal yang sudah kusam. Jepitan yang ia temukan di atas lantai kamar 808 pagi itu. Ia selalu membawanya, berharap bisa menemukan pemiliknya untuk dimintai pertanggungjawaban atau sekadar menghapus rasa penasaran. Namun kini, jepitan itu terasa seperti bara api di telapak tangannya.
"Tolong Tuhan... jangan dia. Jangan Carmenita..." bisiknya lirih, hampir seperti doa yang putus asa.
Setibanya di Hotel Grand, Samudera melangkah dengan terburu-buru, mengabaikan tatapan orang-orang sekitarnya yang heran melihat pengusaha ternama itu tampil berantakan dengan aroma alkohol.
Awalnya, staf resepsionis menolak memberikan informasi privasi tamu. Namun, begitu manajer hotel turun tangan dan melihat siapa yang datang, ia segera membuka sistem data digital mereka.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan Samudera. Kami cek data tanggal 8 Maret untuk kamar 808," ujar sang manajer sopan.
Samudera berdiri kaku. Bayu di sampingnya menahan napas. Saat layar monitor berkedip dan memunculkan sebuah nama beserta foto kartu identitas yang di-scan, Samudera merasa seluruh oksigen di ruangan itu lenyap.
Nama Tamu: Carmenita S.P.
Kedua kaki Samudera terasa lemas tak bertulang. Ia harus berpegangan pada tepian meja marmer agar tidak jatuh tersungkur. Matanya menatap nanar foto Carmen yang tersenyum lugu di kartu identitas tersebut.
"Apa... ini tidak mungkin..." bisik Samudera dengan suara yang pecah. "Jadi Carmenita yang telah menginap di kamar 808? Jadi pria brengsek itu... adalah aku sendiri?"
Bayu yang mendengar gumaman itu tersentak hebat. Ia menoleh ke arah Tuannya dengan tatapan tidak percaya. "Tuan... maksud Anda..."
Samudera tidak menjawab. Ia teringat bagaimana ia membentak Carmen di rumah sakit, bagaimana ia mencaci "pria bejat" yang telah menghamili keponakannya, dan bagaimana ia mengurung gadis itu tanpa ampun selama tiga hari terakhir.
Ternyata, dialah pelakunya. Dialah pria yang selama ini ia cari untuk "diberi pelajaran".
Tanpa sepatah kata pun, Samudera berbalik dan berlari menuju mobil. Pikirannya hanya satu: Carmen. Ia harus pulang. Ia harus membebaskan gadis itu. Ketakutan yang amat sangat kini menghantuinya, bukan takut akan rahasianya terbongkar, melainkan takut akan kerusakan jiwa yang telah ia timbulkan pada gadis yang seharusnya ia lindungi.
"Bayu, cepat! Pulang ke rumah sekarang!" teriak Samudera sambil terisak. Air matanya pecah. Penyesalan itu datang terlambat, tepat saat benih yang ia tanam kini tengah tumbuh di rahim gadis yang ia panggil "putri kecil".
Bersambung...
lagian kamu jangan ngehina Carmen y,,kamu belum tau y klo istri nya singa lg marah? 🙈
hati2 Saaam!! singa betina d samping mu siap menerkam klo kamu melenceng sedikit..🤭
awas lho Sam klo kamu sampe nyakitin Carmen,,dia udh menyerahkan seluruh hidup nya bwt kamu..jangan sampe kamu berpaling dr Carmen,,awas aj klo itu sampe terjadi!!!! 👊
maka nya Sam jangan bergelut dgn kerjaan aj atuuh,,peka dikit..kan skarang kamu udh punya istri, masih belia bgt lg 🤭..skali kali cari tau pergaulan anak remaja kaya gimana, biar kamu jg ikutan muda lg..biarpun yaaaa kamu jg masih keliatan muda sih dr usia kamu, tp kan klo kamu selalu update tentang kehidupan remaja jd nilai plus bwt kamu...secara istri kamu tuh 'putri kecil' mu yg naik tingkat 😁