Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kehidupan di Balik Bukit dan Rahasia Kecil
Debu Jakarta akhirnya benar-benar tertinggal di belakang. Keputusan untuk meninggalkan ibu kota diambil hanya tiga hari setelah insiden pembakaran bengkel dan pembersihan kelompok Galang. Devan menyadari bahwa selama mereka masih berada di radius kekuasaan Black Roses, bayang-bayang masa lalu akan selalu menemukan celah untuk merayap masuk. Dengan sisa tabungan yang dikumpulkan Lia dari kerja paruh waktunya dan sisa penjualan aset Devan yang tidak terbakar, mereka menyewa sebuah rumah mungil di kaki bukit daerah asri di pinggiran Bandung.
Rumah itu sederhana, berdinding kayu dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke perkebunan teh. Tidak ada lagi suara knalpot yang memekakkan telinga, hanya suara gemericik air sungai dan angin yang berbisik di sela pepohonan pinus. Di sini, Devan dikenal sebagai "Mas Devan", seorang pemuda pendiam yang bekerja sebagai montir traktor dan mesin pertanian milik warga desa. Tidak ada yang tahu bahwa tangan yang sekarang sering memegang kunci inggris berkarat itu dulunya adalah tangan yang mampu menggerakkan ratusan motor hanya dengan satu isyarat.
Pagi itu, udara sangat dingin. Kabut tipis masih menyelimuti teras rumah mereka. Lia berdiri di depan jendela, menatap punggung Devan yang sedang membelah kayu bakar di halaman. Devan tampak jauh lebih sehat; kulitnya sedikit lebih gelap karena terpapar matahari ladang, dan gurat ketegangan di wajahnya mulai melunak.
Namun, di dalam rumah, Lia sedang berjuang dengan sesuatu yang belum berani ia katakan.
Sejak dua minggu terakhir, Lia merasa tubuhnya berubah. Setiap pagi, ia merasa mual yang luar biasa.
Bau kopi yang biasanya ia sukai kini membuatnya ingin muntah. Kepalanya sering pening, dan seleranya terhadap makanan menjadi sangat aneh. Awalnya, ia mengira itu hanya karena kelelahan akibat pindah rumah, namun instingnya berkata lain.
Lia melangkah ke kamar mandi, tangannya gemetar saat mengambil sebuah benda kecil yang baru saja ia beli dari apotek di pasar desa kemarin lusa. Dengan napas tertahan, ia menunggu. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia dikejar oleh kelompok
The Vipers.
Dua garis merah.
Lia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Air mata seketika mengalir, membasahi pipinya. Ada rasa bahagia yang membuncah, namun diiringi oleh ketakutan yang luar biasa. Mereka baru saja memulai hidup baru. Mereka baru saja lepas dari maut. Dan sekarang, ada nyawa baru yang tumbuh di dalam dirinya.
"Lia? Kamu di dalam?" suara ketukan pintu dari Devan mengejutkannya.
Lia segera menghapus air matanya dan menyembunyikan alat tes itu di balik handuk. "I-iya, Devan! Sebentar!"
Lia keluar dengan wajah yang masih pucat. Devan langsung menyadari ada yang tidak beres. Ia meletakkan tangannya di dahi Lia dengan cemas.
"Kamu pucat sekali. Sakit lagi? Apa karena udara pegunungan ini terlalu dingin untukmu?"
"Aku tidak apa-apa, Devan. Hanya sedikit pusing," bohong Lia, sambil mencoba tersenyum sealami mungkin.
Devan menarik Lia ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang selalu berhasil menenangkan Lia. "Istirahatlah. Jangan masak hari ini, aku akan beli bubur di depan. Kamu harus kuat, Lia. Kita sudah sampai sejauh ini."
Lia mengangguk di dada Devan. Ia ingin sekali mengatakannya saat itu juga, namun ia ragu. Ia tahu Devan sedang berjuang keras membangun reputasi barunya sebagai warga desa yang jujur. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Devan dengan kenyataan bahwa mereka akan segera menjadi orang tua di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Sore harinya, Devan pulang dengan wajah yang cerah. Ia membawa sebuah kabar baik. "Lia! Pak Kades bilang aku bisa memakai lahan kosong di samping balai desa untuk membangun bengkel sendiri. Bukan bengkel besar, hanya tempat kecil untuk memperbaiki motor warga. Ini awal yang bagus, kan?"
Lia menatap binar kebahagiaan di mata Devan. Sudah lama sekali ia tidak melihat Devan sesemangat ini tentang masa depan yang legal dan tenang.
"Itu luar biasa, Devan," ucap Lia sambil membelai rambut Devan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Devan heran. "Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
Lia menarik napas panjang. Ia merasa tidak adil jika Devan tidak tahu. Ia mengajak Devan duduk di kursi kayu di teras, tempat favorit mereka untuk melihat matahari terbenam.
"Devan... ingat saat kita di perpustakaan dulu? Kita pernah bicara tentang bagaimana rasanya memiliki masa depan yang benar-benar milik kita sendiri, tanpa bayang-bayang mawar hitam atau musuh?"
Devan mengangguk, menggenggam tangan Lia. "Tentu saja. Dan sekarang kita sedang menjalaninya, kan?"
Lia mengambil tangan Devan dan meletakkannya di atas perutnya yang masih rata. Devan tampak bingung sejenak, namun saat ia melihat mata Lia yang berkaca-kaca dan penuh makna, perlahan pupil matanya membesar. Seluruh tubuh Devan membeku.
"Lia... kamu...?" suara Devan tercekat.
"Ada kehidupan baru di sini, Devan," bisik Lia. "Buah dari cinta kita yang melewati badai. Kita akan menjadi orang tua."
Keheningan menyelimuti teras itu selama beberapa detik. Devan tidak bergerak, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses informasi sebesar itu.
Kemudian, perlahan-lahan, air mata jatuh dari sudut mata sang mantan Serigala Hitam. Ia berlutut di depan Lia, membenamkan wajahnya di pangkuan Lia sambil terisak pelan—bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang tak terkira.
"Terima kasih... terima kasih, Lia," gumam Devan berulang kali. "Aku tidak pernah menyangka... pria sepertiku, yang tangannya penuh darah dan oli, akan diberikan anugerah sebesar ini."
"Kamu pria yang baik, Devan. Dan kamu akan menjadi ayah yang luar biasa," Lia mengusap kepala Devan.
Malam itu, di bawah taburan bintang pegunungan, rencana mereka berubah.
Ini bukan lagi hanya tentang bertahan hidup atau melarikan diri dari masa lalu. Ini tentang membangun benteng yang lebih kuat untuk malaikat kecil yang akan segera hadir. Devan berjanji dalam hati, ia akan bekerja dua kali lebih keras, ia akan memastikan tidak ada satu pun debu masa lalunya yang akan menyentuh anak mereka nanti.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Lia tetap merasa waspada. Ia tahu bahwa perubahan status mereka dari pasangan pelarian menjadi sebuah keluarga akan membawa tanggung jawab yang lebih besar. Ia juga tahu, meskipun mereka jauh, Baron dan Black Roses mungkin suatu saat akan butuh bantuan, atau musuh lama mungkin masih menyimpan dendam yang belum tuntas.
"Apa pun yang terjadi nanti," Devan berbisik saat mereka hendak tidur, "anak ini tidak akan pernah tahu apa itu Black Roses. Dia hanya akan tahu bahwa ayahnya adalah seorang montir desa yang sangat mencintai ibunya."
Lia tersenyum dan memejamkan mata, merasakan tendangan imajiner di perutnya. Babak baru benar-benar dimulai, sebuah babak yang penuh dengan popok, tawa bayi, dan kehidupan normal yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka.