Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pergi ke Taman
Pagi datang dengan udara yang terasa lebih ringan dari biasanya. Cahaya matahari baru menampakkan wujudnya menyelinap melalui celah tirai, menyentuh wajah Nayla yang masih terpejam. Ia membuka mata perlahan, lalu tersenyum kecil, bukan karena tubuhnya sudah sepenuhnya pulih dari lelah, melainkan karena hatinya terasa lebih siap.
“Hari ini… semoga tidak seberat kemarin,” gumamnya pelan sambil duduk di tepi ranjang.
Ia merapikan tempat tidur, lalu melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, membantu menenangkan pikirannya. Nayla keluar kamar mandi , sambil membungkus rambut nya yang basah, dengan handuk kecil yang ia bawa.
Tok… tok…tok...
Terdengar ketukan pintu dari kamar nya.
Nayla yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya segera menghampiri pintu dan membukanya.
“Pagi, Nayla,” sapa Bibi Eli dengan senyum hangat.
“Pagi, Bi,” jawab Nayla ceria. “Ada apa, Bi?”
Bibi Eli melirik ke arah jam dinding di lorong. “Masih pagi sekali. Kamu sudah siap-siap?”
Nayla mengangguk. “Iya, Bi. Tuan Leon minta saya sudah ada di kamarnya sebelum jam tujuh.”
Ekspresi Bibi Eli berubah, bukan terkejut berlebihan, tapi jelas terkesan.
“Jarang sekali beliau minta ditemani sepagi ini,” katanya pelan. “Biasanya kalau pagi, tuan tidak akan mau diganggu..”
Ia menghela napas pendek. “Kalau nanti beliau agak sensitif, jangan diambil hati. Semenjak kejadian ini, Tuan Leon mudah lelah secara emosional.”
Nayla tersenyum kecil. “Saya mengerti, Bi. Saya akan berusaha menyesuaikan diri.”
Bibi Eli menepuk lengan Nayla lembut. “Yang penting kamu juga jaga diri. Jangan sampai lupa makan atau istirahat. Di rumah ini, semenjak tuan Leon lumpuh. Yang keras bukan cuma pekerjaannya, tapi perasaannya.”
Nayla mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mengingatkan, Bi.”
“Oh iya,” Bibi Eli menambahkan, “kalau nanti Tuan Leon minta apa-apa di luar kebiasaan, dan kemampuan mu, kamu bisa langsung sampaikan ke Bibi atau ke Nyonya. Jangan dipendam sendiri.”
Nayla tersenyum tulus. “Baik, Bi. Saya akan ingat apa yang bibi katakan.”
Bibi Eli mengangguk puas. “Kalau begitu, Bibi ke dapur dulu. Semoga pagi ini berjalan lancar.”
“Terima kasih, Bi,” ucap Nayla sebelum kembali menutup pintu.
--+
Pintu kamar Leon dibukanya dengan hati-hati. Ruangan itu masih tenang, tirai belum sepenuhnya terbuka. Leon terlihat masih terlelap di ranjang, wajahnya tampak lebih damai dibanding awal pertama Nayla melihat nya.
Nayla mendekat perlahan dan membungkuk sedikit di sisi ranjang.
“Tuan Leon,” panggilnya lembut.
Leon menggeliat pelan. Kelopak matanya terbuka sedikit, lalu menatap Nayla dengan pandangan buram.
“Jam berapa?” tanyanya serak.
“Lima belas menit lagi jam tujuh,” jawab Nayla.
Leon mengangguk kecil. “Bantu aku ke kursi roda. Aku ingin mandi.”
Tanpa banyak bicara, Nayla segera bersiap. Ia mendekat, membantu Leon menggeser tubuhnya dengan hati-hati. Saat itulah Leon menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Kau datang tepat waktu,” ucapnya tiba-tiba.
Nayla sedikit terkejut, namun tetap tersenyum tipis. “Itu memang tanggung jawab saya dan memang seharusnya, Tuan.”
Leon mengalihkan pandangannya. “Aku tidak suka menunggu.”
“Akan saya ingat,” jawab Nayla singkat, tanpa nada takut, ia tetap profesional.
Nayla membantu Leon berpindah ke kursi roda. Gerakannya cekatan namun lembut, seolah sudah memahami ritme tubuh Leon. Tidak ada bentakan pagi itu, tidak ada perintah berulang, hanya keheningan yang diisi kerja sama dalam diam.
Setelah Leon duduk dengan stabil, Nayla mendorong kursi roda menuju kamar mandi.
Pagi itu dimulai tanpa teriakan.
Tanpa kemarahan.
Dan bagi Nayla, itu sudah cukup menjadi tanda bahwa, meski perlahan Leon sedang belajar membuka pintu yang selama ini ia kunci dengan rapat.
---
Penampilan Leon sungguh berbeda pagi ini. Pakaian yang dikenakannya sederhana namun rapi, rambutnya ditata sekadarnya, menyisakan kesan segar yang jarang terlihat sejak beberapa waktu terakhir.
Nayla sedang merapikan perlengkapan mandi ketika suara Leon terdengar dari belakangnya.
“Dorong aku keluar.”
Nada suaranya datar, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Nayla berbalik, menatapnya sebentar.
“Keluar ke mana, Tuan?” tanyanya hati-hati.
Leon menoleh ke arah jendela, ke arah cahaya pagi yang mulai masuk. “Ke taman. Aku ingin menghirup udara segar.”
Tanpa membantah, Nayla segera mendorong kursi roda dan memastikan Leon duduk dengan posisi yang nyaman. Mereka keluar kamar dan menyusuri lorong rumah yang masih lengang. Lift membawa mereka turun perlahan, diiringi keheningan yang terasa mulai memudar.
Begitu pintu kaca menuju taman dibuka, udara pagi langsung menyambut. Sejuk dan bersih. Aroma dedaunan dan bunga basah oleh embun membuat langkah Nayla terhenti sesaat.
Taman itu terbentang luas, tertata rapi namun terasa hidup. Bunga-bunga tumbuh tanpa kesan berlebihan, kolam kecil di tengahnya memantulkan cahaya matahari pagi, sementara suara air yang mengalir pelan berpadu dengan kicau burung.
" berhenti disini saja," pinta Leon. Dadanya naik turun perlahan saat ia menarik napas dalam-dalam.
Sudah lama sekali ia tidak berada di tempat ini.
Nayla berdiri di sampingnya, matanya menyapu sekeliling dengan kagum. “Tempat ini tenang sekali,” ucapnya lirih.
Leon tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju pada satu sudut taman. “Mama yang paling sering ke sini,” kata Leon akhirnya. “Dia suka mengurus tanaman sendiri.”
Nayla mengangguk pelan. “Pantas saja terasa dirawat dengan hati.”
Leon terdiam cukup lama sebelum kembali bersuara. “Dulu… aku sering dipaksa bangun pagi hanya untuk menemaninya menyiram bunga. Waktu itu rasanya menyebalkan.” Bibirnya bergerak tipis, nyaris seperti senyum. “Sekarang, aku justru merindukan suasana itu.”
Nayla tidak menanggapi dengan kata-kata. Ia tahu, tidak semua cerita perlu ditimpali. Cukup didengarkan.
Saat itulah pintu samping rumah terbuka. Gaby melangkah keluar, membawa beberapa pot kecil. Ia awalnya hendak menuju taman untuk memindahkan beberapa tanaman kesayangannya, namun langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan yang tak biasa.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri mematung.
"Leon…kamu disini nak" suara Gaby bergetar menahan haru.
Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak mendekat. Gaby memilih berdiri di dekat pintu, cukup untuk memastikan bahwa pemandangan itu nyata. Bahunya mengendur, napasnya terasa lebih ringan.
“Syukurlah…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ia menoleh sekilas ke arah Nayla, lalu kembali menatap putranya dengan senyum tipis dan penuh harap. Tidak ada kata yang diucapkan, namun hatinya tahu, hari ini adalah awal yang baru untuk kehidupan putranya.
Di taman, Leon tetap duduk diam. Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa ketenangan yang selama ini terasa asing. Sedangkan tetap Nayla berdiri setia di sampingnya, tidak bersuara hanya menemani dalam diam.
Di antara mereka, tidak ada percakapan panjang.
Entah sadar atau tidak, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Leon mulai membuka diri.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎