Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Tempat Bersandar
Leon kembali ke ruang Elyra, nampak di sana Elyra duduk dengan patuh, senyumnya yang cantik mengembang di bibirnya. Leon tersenyum datang mendekat, suasana jadi hangat dan tanpa sadar Leon juga terbawa suasana.
"Kenapa kamu sangat cantik?" tanya Leon. Elyra terkekeh dan bangkit dari duduknya.
"Aku mau jual motorku, sekarang motor itu ada di rumah Aunty Nuah. Mau membelinya?" bujuk Elyra. Leon mendekat dan menundukkan wajahnya, membuat sejajar antara wajahnya dan wajah Elyra.
"Kamu menyayangi motor itu?" tanya Leon. Elyra mengangguk.
"Maka jangan dijual. Mulai hari ini kamu tinggal bersamaku. Semua kebutuhanmu aku yang tanggung, dan tugasmu hanya belajar." Elyra mengedipkan matanya beberapa kali.
"Aku nggak mau, aku tidak mau dijadikan peliharaan. Mengerti maksudku, bukan?" Leon terkekeh mendengar ucapan Elyra, dia mengecup sekilas kening Elyra.
"Tidak sekarang membayarnya, anggap saja aku melakukan investasi. Kamu juga cukup berbakat dan berprestasi di sekolah." Leon tersenyum tulus. Elyra mengangguk pada akhirnya.
'Aku ingin berharap, bolehkah? Apa tidak apa-apa? Aku ingin mempercayai seseorang sekali lagi, Tuhan,' ucap Elyra dalam hati kecilnya.
"Jadi, apa sekarang mau jadi pacarku?" Leon kembali lagi dalam mode bujukannya.
"Itu terlalu cepat." Elyra tersenyum tulus kali ini. Leon mengambil tas kecil dari laci kamar itu, barang yang semula dibawa Elyra.
"Ayo pulang!" ajak Leon. Elyra mengangguk dan tangannya digandeng Leon keluar dari rumah sakit itu.
[Kenyataannya lebih tragis dari ini, karena saat itu Leon sempat baku hantam dulu. Tapi aku skip, dan sekilas saja takut ada orang yang tersindir.]
Mereka akhirnya pergi, bukan ke kosan Elyra lagi, tapi menuju kediaman Leon. Entahlah, Elyra tak sanggup sendiri sekarang. Dia ingin bersandar sebentar, meski mungkin di masa depan Leon akan bosan dengan Elyra, minimal saat ini dia masih bisa bersandar sejenak. Bolehlah itu dilakukan Elyra?
"Lyra?" teriakan seorang wanita langsung terdengar. Pelukan hangat terasa nyaman bagi Elyra.
"Kamu nggak apa-apa, Neng?" Di sana nampak seorang pria dan gadis cantik di sisinya.
"A Ziyan, aku nggak apa-apa, A. Assalamu'alaikum, Sofia?" Elyra memeluk Sofia, istri Ziyan dan salah satu tetangga Leon. Dulu Ziyan masih mahasiswa biasa, namun kini dia sudah menikah dan sudah menjadi calon ayah.
"Mulai sekarang gadis kecilku ini akan tinggal di rumahku," ungkap Leon. Seketika tatapan tajam terlihat dari mata Nuah dan Ziyan, dua orang yang sangat menjaga prinsip mereka itu.
"Nggak boleh, mendingan dia tinggal di rumahku saja. Nanti kamu apa-apa lagi, kan!" Nuah tak terima. Leon tersenyum dan menarik Elyra dalam pelukannya.
"Dia calon istriku, aku nggak akan merusak permataku." Leon memeluk Elyra, penuh kelembutan dan rasa ingin menjaga.
"Hah?" Nuah terkejut. Bahkan Elyra yang biasanya anti dekat-dekat dengan orang kini nampak tak berontak dan membiarkan saja apa yang dilakukan Leon terhadapnya.
"Aku tidak selalu di rumah, tapi aku akan pulang bila ada waktu." Leon mengecup puncak kepala Elyra. Semuanya terpaku melihat tingkah pria itu.
"Aduh, aku nggak percaya sama kamu, Leon. Nggak boleh! Aku sangat tahu bagaimana kamu di dunia ini, Leon. Kamu yang selalu terlibat skandal dan bahkan sering banget ada berita kalau artis hamil sama kamu. Aku tidak mau gadis polos ini kamu nodai, tidak boleh!" Nuah menarik lagi tubuh Elyra. Sontak Ziyan mengangguk setuju.
"Tak ada wanita yang benar-benar pernah aku hamili, dan aku tidak akan menyentuh wanita manapun kecuali Elyra." Leon hendak menarik lagi tubuh Elyra.
"Cih, gombalan laki-laki terlalu biasa. Jangan dengarkan dia, Lyra." Nuah menggelengkan kepalanya, namun Elyra meringis saat tak sengaja Leon menyentuh perban Elyra.
"Ya ampun, maaf sayang. Mana aku lihat, apa itu nggak apa-apa? Apa masih sakit? Aku panggil dokter, ya." Leon hendak melangkah mengambil ponsel.
"Aku nggak apa-apa, jangan panik." Elyra menghentikan Leon. Seketika seluruh orang di sana terkejut melihat bagaimana Leon yang spontan, seolah tubuh dan kepalanya tidak sejalan dan tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
"Kamu Leon?" Nuah mencubit tangan Leon. Seketika Leon meringis kesakitan.
"Sakit nggak?" tanya Nuah lagi. Leon kembali memeluk Elyra dari belakang.
"Baby, aku dicubit dan sakit sekali." Leon menempelkan dagunya di atas kepala Elyra.
"Tanganku tak dapat berbuat apa-apa." Elyra terkekeh. Semua tertawa melihat kejadian itu. Elyra akhirnya tinggal di kediaman Leon.
"Aunty bisa ikut dulu nggak? Lyra pengin mandi," bujuk Elyra. Nuah terkekeh dan akhirnya Nuah dan Elyra masuk ke dalam kediaman Leon.
"Kunci rumah itu nggak ketemu di kosan Lyra?" tanya Leon pada Tamam. Tamam menggelengkan kepalanya.
"Mungkin kuncinya ada dari salah satu ini." Tamam menyerahkan banyak kunci yang sengaja dibuat menjadi gantungan kunci motor oleh Elyra.
"Banyak," ucap Leon, memilah dari kunci motor, kunci kosan, kunci warnet, kunci buku harian, kunci lemari, dan banyak kunci lainnya.
Leon mengikuti langkah Nuah dan Elyra masuk ke dalam rumahnya. Elyra memilih kamarnya sendiri, dan Nuah membantu Elyra mandi.
"Wah, di sini nggak ada baju perempuan. Pakai bajuku dulu ya, Ly. Aku ambil dulu bentar." Elyra menggelengkan kepalanya.
"Pinjam kaos dan kolor dari Leon saja, Ty." Nuah terkekeh dan keluar dari kamar Elyra.
"Oy, Leon! Pinjam baju," pinta Nuah. Leon mengangkat alisnya karena saat itu Tamam juga ada di ruang tamu mengobrol bersama Leon.
"Ambil saja di kamar," ucap Leon. Nuah menganga. Kamar adalah wilayah privasi, ada apa dengan Leon sebenarnya?
"Kamu ambil saja, itu ruang privasi kamu." Nuah turun dari kamar Elyra menuju ruang tamu dan duduk di samping Tamam.
"Punya bayi lagi, ya sayang?" Tamam mengecup pipi Nuah sejenak dan merangkul bahu Nuah, membiarkan wanita itu bersandar padanya.
"Aku suka," Nuah bersandar dengan nyaman, sedangkan Leon bangkit dari duduknya menuju ke arah kamarnya. Dia mengambil baju yang sekiranya nyaman untuk Elyra dan sejenak terkekeh.
Dia tak pernah mengizinkan siapapun menggunakan bajunya, meski baju bekas Leon biasanya memilih membuang bajunya daripada dikenakan oleh orang lain.
Leon masuk ke dalam kamar tempat Elyra berada, namun seketika itu juga mata Leon terbelalak. Di sana Elyra yang hanya menggunakan handuk, kedua gundukan di dadanya tercetak keluar. Gadis yang biasanya menggunakan baju longgar itu juga ternyata memiliki kaki jenjang yang mulus, dan bentuk tubuh yang sangat proporsional.
Mata Leon enggan berkedip, namun Elyra yang sadar akan Leon yang melihatnya penuh damba berdeham, mengembalikan kembali separuh kesadaran Leon yang sudah melayang entah ke mana.
"Ehem, kenapa diam saja?" tanya Elyra. Leon kikuk dan melangkah mendekati Elyra.
ELYRA AZZAHRA
Versi sebelum tobat
🤣