NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Pagi yang Chaos.

Pagi pertama di rumah itu dimulai…

dengan perang dingin.

Pukul 05.00 pagi, alarm Haikal berbunyi.

Ia bangun refleks. Rapi. Cepat. Sunyi.

Ia duduk, merapikan selimutnya sendiri, lalu—

berhenti.

Karena di sebelahnya—

Lian.

Masih tidur.

Mulut sedikit terbuka.

Rambut ke mana-mana.

Selimut melilit setengah badan, setengah lagi jatuh ke lantai.

Dan yang paling mengganggu…

Bantal Lian berada di lantai.

Haikal mematung.

Tidak. Ini tidak boleh dibiarkan.

Ia turun dari ranjang, mengambil bantal itu, mengibaskan pelan, lalu meletakkannya kembali di bawah kepala Lian.

Lian bergumam.

“Jangan ganggu… ayamnya lagi tidur…”

Haikal menutup mata sebentar.

Di kamar mandi.

Haikal masuk.

Melihat wastafel.

Ada tetesan air.

Ada pasta gigi tanpa tutup.

Dan—

handuk basah ditaruh di gantungan kering.

Haikal berdiri kaku.

Tangannya mengepal pelan.

Ini… pelanggaran.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Mengelap wastafel.

Menutup pasta gigi.

Memindahkan handuk.

Selesai.

Ia merasa sedikit lebih tenang.

Pukul 07.00 pagi, Lian bangun.

Ia berjalan keluar kamar dengan kaos kebesaran, rambut acak-acakan, mata setengah terpejam.

“Pagi…” gumamnya.

Haikal yang sedang mengepel ruang tamu berhenti.

“Kamu belum mandi?”

Lian mengucek mata.

“Belum.”

“Kamu mau ke kampus.”

“Iya.”

“Kamu belum mandi.”

“Iya.”

Haikal menatapnya.

“…Kenapa?”

Lian menatap balik.

“Karena aku mandi sehari sekali.”

Hening.

“…Sehari sekali?”

“Iya.”

“Kemarin kamu mandi?”

“Kayaknya.”

Haikal menutup mata.

Ya Allah, kuatkan aku.

Di dapur.

Lian membuka kulkas.

Mengambil susu.

Minum langsung dari botol.

Haikal menoleh cepat.

“Kamu—”

Lian menurunkan botol.

“Apa?”

“…Nanti botolnya dikasih tanda.”

“Kenapa?”

“Supaya aku tahu itu bekas mulut kamu.”

Lian terdiam.

“…Itu kejam.”

“Itu higienis.”

Lian nyengir.

“Selamat datang di dunia nyata.”

Lian duduk di meja makan.

Menaruh tas sembarangan.

Haikal meRapikannya.

Lian menaruh lagi.

Haikal merapikan lagi.

Lian berhenti.

“Mas…”

Haikal mematung.

Tangannya masih menggenggam tali tas.

Gerakannya terhenti di udara.

Dada Haikal tiba-tiba berdetak lebih keras dari seharusnya.

Satu panggilan sederhana.

Nada Lian biasa saja.

Tidak manja. Tidak sengaja menggoda.

Namun entah kenapa, tubuh Haikal bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.

“…Ya?” jawabnya akhirnya, suaranya sedikit lebih berat.

“Kita main tebak-tebakan yuk,” kata Lian santai, seolah tidak menyadari apa pun.

Haikal menelan ludah pelan.

“…Apa?”

“Siapa yang bakal stres duluan.”

Pandangan Haikal jatuh lagi ke tas itu.

“…Aku.”

Lian tersenyum puas, sama sekali tidak tahu bahwa satu kata barusan

sudah berhasil mengacaukan ritme jantung seorang tentara yang biasanya sangat terkontrol.

Haikal berdiri di dapur lebih lama dari yang diperlukan.

Padahal tas sudah rapi.

Padahal lantai sudah bersih.

Padahal tidak ada lagi yang perlu dibenarkan.

Namun dadanya masih…

tidak normal.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Sekali.

Dua kali.

Tenang, katanya pada diri sendiri.

Itu hanya respons spontan.

Ia menuang air ke gelas. Minum. Habis. Menuang lagi. Minum lagi.

Masih berdebar.

Kurang tidur, simpulnya cepat.

Jam biologis terganggu. Adaptasi lingkungan.

Masuk akal. Sangat masuk akal.

Haikal mengangguk kecil, puas dengan kesimpulan ilmiahnya sendiri.

Di ruang tamu, Lian duduk selonjoran di sofa, memainkan ponsel, sama sekali tidak tampak bersalah atas kekacauan biologis yang baru saja ia sebabkan.

“Mas,” panggil Lian lagi tanpa melihat.

Haikal tersedak.

Batuk sekali.

“Kenapa?” jawabnya cepat, terlalu cepat.

Lian menoleh.

“Kok kamu batuk?”

“Minum terlalu cepat.”

“Oh.” Lian kembali ke ponselnya. “Nanti kalau aku naruh barang sembarangan lagi, kamu rapihin aja ya.”

Haikal mengernyit.

“Itu bukan solusi.”

“Itu pembagian tugas.”

Hening.

Haikal menatapnya.

“Kamu sengaja?”

“Sengaja apa?”

“Memanggil… itu.”

Lian akhirnya menoleh penuh.

“Mas?” tanyanya polos. “Emang kenapa?”

Haikal membuka mulut.

Menutup lagi.

“…Tidak apa-apa.”

Lian mengangkat bahu.

“Kan kamu suamiku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Biasa.

Tanpa tekanan.

Tanpa drama.

Namun Haikal kembali…

diam terlalu lama.

“Mas?” Lian menyipit. “Kamu kenapa sih dari tadi bengong?”

Haikal cepat membalik badan.

“Aku mau… ngepel.”

Lian melirik jam.

“Sekarang?”

“Ini waktu yang tepat.”

“Jam sepuluh pagi.”

“Debu tidak mengenal waktu.”

Lian tertawa.

“Mas aneh.”

Haikal berhenti melangkah.

Dadanya kembali berdetak kuat.

Namun kali ini, ia langsung menegakkan bahu.

Fokus, katanya keras dalam hati.

Ini cuma adaptasi peran.

Panggilan itu hanya kebiasaan budaya.

Ia mengambil pel dengan gerakan tegas.

Sangat tegas.

Lian mengamatinya sambil senyum-senyum sendiri.

Dalam hati ia berpikir,

Lucu juga kalau orang sekaku ini gampang error.

Sementara Haikal mengepel lantai lurus sempurna, pikirannya berantakan.

Ini bukan apa-apa.

Ini tidak berarti apa-apa.

Dia hanya memanggil.

Namun entah kenapa,

setiap kali kata itu terulang—

“Mas.”

—ritme jantungnya selalu lupa

bagaimana caranya patuh pada logika.

Dan untuk pertama kalinya,

Haikal Fero—tentara disiplin, perfeksionis, rasional—

mulai curiga…

Bahwa rumah berantakan itu

bukan satu-satunya hal

yang perlahan mengacaukan hidupnya.

_____

Siang hari.

Lian pulang lebih dulu.

Ia melempar sepatu di dekat pintu.

Menaruh jaket di sofa.

Meninggalkan gelas di meja.

Lima menit kemudian, Haikal pulang.

Ia berdiri di depan pintu.

Menatap.

Diam.

Satu tarikan napas panjang.

Ia mengambil sepatu.

Merapikan jaket.

Mengambil gelas.

Lalu berhenti.

Karena Lian keluar kamar.

“Kenapa kamu berhenti?” tanya Lian polos.

“Karena aku sedang menimbang,” jawab Haikal datar.

“Menimbang apa?”

“Apakah aku akan membersihkan ini sekarang… atau lima menit lagi supaya tidak terlihat seperti marah.”

Lian tertawa.

“Kamu lucu.”

“Aku serius.”

“Lebih lucu lagi.”

Sore hari.

Lian rebahan di sofa.

Kaki di sandaran.

Snack di tangan.

Remahannya jatuh.

Haikal menatap remahan itu seperti menatap musuh negara.

“Lian.”

“Iya.”

“Kalau makan… tolong duduk.”

“Kenapa?”

“Supaya remahannya tidak berjatuhan.”

Lian menatap lantai.

“Oh.”

“…Udah.”

“Apa?”

“Aku sudah jatuhin remahannya.”

Hening.

Haikal berdiri.

Mengambil sapu.

“Maaf,” kata Lian.

Haikal berhenti.

“…Kamu sengaja?”

“Nggak.”

Haikal mengangguk.

“Baik.”

Lian menatapnya.

“Kamu nggak marah?”

“Aku marah.”

“Tapi aku belajar… marah sambil nyapu.”

Lian tertawa keras.

Malam.

Lian masuk kamar dengan rambut masih basah.

“Kamu mandi jam segini?” tanya Haikal.

“Iya.”

“Kamu pagi tadi belum mandi.”

“Iya.”

Haikal menatap jam.

“…Kamu konsisten.”

Lian nyengir.

“Kan sehari sekali.”

Mereka berbaring.

Lampu dimatikan.

Hening.

Lian berguling.

Selimut terseret.

Haikal menarik napas.

“Lian.”

“Iya.”

“Besok… kita bikin aturan rumah.”

Lian menoleh.

“Peraturan?”

“Iya.”

Lian berpikir sejenak.

“…Boleh.”

Haikal lega.

“Tapi aku juga bikin aturan,” lanjut Lian.

“Apa?”

“Kamu nggak boleh ngepel jam lima pagi.”

Hening.

“…Aku pikirkan.”

Lian tersenyum puas.

Hari pertama di rumah baru berakhir—

tanpa piring terbang,

tanpa teriakan.

Hanya dua orang dewasa yang sama-sama belajar:

Bahwa cinta kadang bukan soal romantis.

Tapi soal bertahan…

di tengah chaos rumah tangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!