Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frustasi
"Luis, batas waktu kamu untuk menikah hanya tersisa 3 bulan lagi. Jika sampai kamu belum juga mendapatkan pendamping, tidak ada yang namanya warisan dari Kakek untukmu." ucap seorang pria tua yang duduk di kursi ujung ruang makan.
Dia adalah sang kepala keluarga besar, Regan Daru Gena. Pemilik dari bisnis property terbesar di negaranya. Tak lupa dengan banyaknya aset seperti hotel, villa, dan pulau pribadi yang dimilikinya nanti untuk dibagikan kepada cucunya. Namun dengan syarat, semua cucunya harus sudah menikah baru akan dibagikan. Dari tujuh cucunya, hanya Luis saja yang belum menikah.
Watak Kakek Regan sangat keras kepala dan sulit dibantah. Insthink tajam dan tak pandang bulu jika ada yang berniat menyakiti keluarganya. Semua anggota keluarga Gena menghormatinya, sekali pun itu hanya menantu atau cucu menantu.
"Tidak diberi warisan juga nggak papa, Kek. Luis masih bisa hidup dengan bisnis kecil-kecilan yang Luis bangun sendiri. Bagi Luis, yang penting ini perut tidak kelaparan." ucap Luis menanggapinya dengan santai, seakan itu bukan ancaman untuknya.
"Tidak bisa begitu dong, Luis. Kamu harus mendapatkan bagian warisan itu juga. Nanti pembagiannya jadi tak adil jika kamu tidak dapat," ucap Mama Lea yang protes pada jawaban anaknya.
"Banyak aset tapi nggak bahagia, buat apa? Banyak aset tapi jadi rebutan. Luis ingin hidup tenang,"
"Apa jangan-jangan malah Mama yang mau mengincar warisan itu melalui aku? Kok ngebet banget," tanya Luis dengan tatapan sinisnya mengarah pada Mama Lea.
Deg...
"Apa-apaan sih kamu, Luis? Mama ini cuma mempertahankan hak kamu sebagai cucunya Kakek lho. Bisa-bisanya menuduh Mama seperti itu," elak Mama Lea dengan nada gugupnya.
"Aku tahu tujuanmu menyuruhku menikah secepatnya, Ma." gumam Luis dengan pelan sambil melirik sekilas pada Mama Lea.
Mama Lea terlihat terkejut dengan pernyataan Luis yang menuduhnya ingin menguasai harta warisan. Padahal niatnya bukan begitu. Mama Lea memilih diam saat mertua dan suaminya tampak menatap padanya juga Luis. Tampak sekali jika hubungan mereka itu bukan seperti Ibu dan anak.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Papa?" tanya Papa Lucas tiba-tiba.
Ada,
Tidak ada,
"Mana yang benar?" seru Papa Lucas setelah selesai dengan kegiatan makannya.
"Luis, apa yang kalian sembunyikan dari Papa? Papa tidak suka ada rahasia di keluarga kita," tanyanya pada sang anak.
"Rahasia yang membuat Papa kena serangan jantung. Jadi Papa lebih baik periksa dulu keadaan jantungnya aman atau tidak, baru tanya pada Luis apa yang terjadi." ucap Luis penuh teka-teki.
Deg...
Tang...
Luis meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar di atas piring. Melirik sebentar ke arah Mama Lea kemudian pergi dari ruang makan. Luis sangat kesal pada Mama Lea yang terlalu ikut campur tentang hidupnya. Padahal ia sendiri tak pernah mau ikut campur tentang urusannya.
Luis mendengar apa yang dikatakan oleh Mama Lea pada Emma tadi siang di kantornya. Padahal dia hanya bercanda tentang dekat atau ingin menikah dengan Emma. Namun Mama Lea menganggapnya serius dan malah menghina Emma, membuat malam ini dia pulang ke rumah keluarganya. Tentu saja untuk membuat huru-hara sekaligus memperingatkan Mama Lea agar tak ikut campur tentang kehidupannya.
"Mama, apa maksud Luis? Jangan bikin Papa curiga dengan kalian berdua," tanya Papa Lucas pada istrinya.
"Mama juga nggak tahu, Pa." jawab Mama Lea dengan cepat.
"Mama ke kamar duluan. Kepala Mama sedikit pusing," pamitnya yang kemudian pergi dengan terburu-buru.
"Ada apa dengan mereka? Kok aneh," gumam Papa Lucas menatap anak dan istrinya dengan tatapan bingung.
"Lebih baik kamu cari tahu sendiri tentang ucapan Luis. Selidiki semuanya. Luis itu tipe orang yang sama denganku. Dia takkan bicara sembarangan kalau tidak ada sesuatu yang diketahuinya," ucap Kakek Regan memberikan saran pada anaknya.
"Istrimu itu juga terlihat menggebu-gebu sekali saat bagi warisan," lanjutnya mengingatkan Papa Lucas.
Papa Lucas menganggukkan kepalanya mengerti. Sedari awal ada pembagian warisan, Luis sama sekali tak berminat. Apalagi harus ada syarat menikah terlebih dahulu. Luis sudah mempunyai usaha sendiri dan lumayan berkembang. Walaupun belum sebesar perusahaan milik keluarganya.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku, Lea? Kenapa sifatmu sedikit berubah," gumam Papa Lucas sambil menghela nafasnya pelan.
***
Ikut, Mama.
Ndak mau sekolah.
Aiko lagi patah hati ini,
Emma hanya bisa menggosokkan telinganya berulangkali karena lengkingan keras suara dari Aiko. Pagi ini anaknya kembali tantrum, tidak mau sekolah karena alasan patah hati. Sepertinya memang dia harus memberi peringatan pada Celine agar tak bicara macam-macam pada Aiko.
"Patah hati kenapa, Aiko? Kamu masih kecil begini udah patah hati aja. Seharusnya kamu tuh patah hati kalau nggak dikasih uang jajan. Tadi Mama kasih lho sepuluh ribu," ucap Emma mencoba memahami kemauan Aiko.
"Axelio, gebetanna Aiko bisa-bisanya main ayunan sama cewek lain." seru Aiko dengan hidung kembang kempis.
"Teman Aiko, bukan gebetan. Astaga..." Emma hanya bisa mengelus dadanya karena harus sabar menghadapi Aiko.
"Sama saja, Mama. Ndak suka lho Aiko ini temanna dekat sama olanglain," ucap Aiko mengadu ulah Axelio kemarin.
"Kan bisa bermain bersama. Lagi pula Axelio itu siswa TK, kamu masih PAUD. Ya mainnya sama sesama anak TK biasanya," ucap Emma memberikan pengertian.
"Mama ndak asyik. Ayo kita ketemu Om bos saja. Om bos lebih asyik kalau diajak gosip,"
Eh...
Emma bertambah bingung dengan keinginan Aiko. Susahnya menjadi single mom, harus tetap waras di saat anak tantrum. Apalagi dia harus bekerja. Ia tampak bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin ia membawa Aiko ke kantornya.
"Tidak boleh, Aiko. Nanti Om bos marah di tempat kerjanya ada anak kecil," ucap Emma yang tetap melarang Aiko ikut.
"Malah? Masa sih, Ma?" tanya Aiko dengan tatapan bingungnya.
"Iya. Itu kan tempat bekerja, bukan bermain dan tidak untuk anak kecil." ucap Emma terus membujuk Aiko.
"Aiko ndak main. Aiko cuma mau duduk diam kaya patung," ceplos Aiko membuat Emma meluruhkan bahunya.
Ayo, Ma. Nanti kebulu telambat,
Aiko sudah bersiap dengan tas kecilnya dan berdiri di samping motor. Padahal ia sudah mengenakan seragam, namun bisa-bisanya malah mau pergi ke kantor. Ia khawatir jika nanti ada karyawan yang terganggu dengan keberadaan Aiko. Lebih parahnya Luis yang akan mengomelinya.
Astaga...
Aku harus gimana ini?
Kenapa pagi ini Aiko tidak bisa diajak kerjasama?
Kenapa sifat keras kepala Bapaknya menurun pula pada Aiko?
Mama, buluan.
Iya,
Pasrah aja deh kalau nanti dapat surat peringatan karena bawa anak,
Huft...
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂
Cie Luis berharap jadi pasangan suami istri 🤭