NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Malam semakin larut, namun lampu di ruang tengah masih menyala terang. Amara duduk bersila di atas sofa dengan tumpukan buku latihan soal yang berserakan. Sejak pulang dari taman sore tadi, pikirannya tidak benar-benar kembali ke rumus matematika. Bayangan Nicholas yang menatapnya dengan tulus di bawah pohon trembesi terus saja membayangi deretan angka di depannya.

Saat ia sedang berusaha fokus pada soal Logika Geometri, Ryan lewat dengan langkah santai, mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek, tangannya memegang mangkuk mi instan yang mengepulkan asap.

"Belum tidur, Dek? Nanti mata lo kayak panda loh, nggak cantik lagi pas dijemput Nick besok pagi," goda Ryan sambil nyengir.

Biasanya, Amara akan langsung menyahut dengan ketus atau melemparkan bantal sofa. Namun kali ini, ia justru meletakkan pulpennya dan menatap kakaknya dengan serius.

"Bang, sini bentar," panggil Amara dengan nada rendah.

Ryan menghentikan langkahnya, alisnya terangkat sebelah. "Kenapa? Ada soal yang nggak bisa? Gue anak Teknik nih, sini gue jabanin."

"Bukan soal pelajaran. Sini dulu, duduk!" Amara menarik paksa lengan kaos Ryan agar kakaknya itu mau duduk di sofa sebelahnya.

Ryan yang kaget hampir saja menumpahkan kuah mi-nya. "Busyet, sabar dong! Iya, iya, gue duduk nih. Kenapa? Muka lo serius amat kayak lagi sidang skripsi."

Amara memastikan Bunda sudah masuk ke kamar dan suasana rumah benar-benar sepi. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ryan, suaranya mengecil menjadi bisikan.

"Bang... aku mau cerita. Tapi janji ya, jangan bilang siapa-siapa, terutama..." Amara menjeda kalimatnya, menggigit bibir bawahnya ragu. "...terutama jangan bilang ke Kak Nick."

Ryan meletakkan mangkuk mi-nya di meja kopi, ekspresi jenakanya perlahan menghilang melihat kegelisahan di wajah adiknya. "Oke. Janji. Rahasia aman sama Abang. Kenapa? Nick macem-macemin lo lagi? Dia mulai posesif nggak jelas lagi?"

Amara menggeleng pelan. Ia memainkan ujung halaman bukunya, memilinnya hingga sedikit lecek. "Enggak. Justru karena dia... nggak kayak gitu lagi."

"Maksudnya?"

"Tadi sore, sebelum pulang, dia ajak aku ke taman kota. Cuma buat nyuruh aku istirahat sepuluh menit tanpa buku," Amara mulai bercerita, matanya menatap kosong ke arah deretan rumus. "Terus dia cerita lagi soal dua tahun lalu. Dia bilang aku 'malaikat' dia. Bang, aku baru sadar kalau tindakan kecil aku dulu tuh dampaknya sebesar itu buat dia."

Ryan tersenyum tipis, ia menyandarkan punggungnya di sofa. "Nick itu orangnya keras, Ra. Hidup dia di luar sana nggak seindah yang lo liat. Pas lo dateng malem itu, lo satu-satunya orang asing yang nggak mandang dia sebagai 'berandalan berdarah'. Lo cuma liat dia sebagai orang yang butuh pertolongan. Itu yang bikin dia takluk."

Amara menoleh ke arah kakaknya, matanya berkaca-kaca. "Bang, aku ngerasa jahat banget kemarin pas bilang itu cuma kenangan sekilas. Aku liat mukanya tadi... dia kayak sedih tapi berusaha ditutupin. Dan yang bikin aku bingung..."

"Apa?"

"Sekarang, tiap dia nggak ada, aku malah nyariin. Tiap dia nggak kirim pesan, aku bolak-balik cek HP. Padahal kemarin aku pengen banget dia jauh-jauh. Aku kenapa ya, Bang? Aku... aku suka ya sama dia?"

Ryan tertawa kecil, ia mengacak rambut adiknya dengan sayang. "Itu namanya kena karma, Dek. Lo udah mulai nyaman sama perhatian dia yang sekarang udah 'tahu aturan'. Dan itu normal. Nick itu kalau udah sayang sama orang, dia bakal taruh dunia di bawah kaki orang itu."

Perjanjian Saudara

Amara langsung menutup wajahnya dengan buku latihan soal karena malu. "Aaaa! Jangan kenceng-kenceng ketawanya! Malu tahu!"

"Iya, iya. Rahasia aman. Gue nggak bakal bilang ke Nick kalau lo udah mulai kangen-kangenan sama dia," goda Ryan lagi.

"Ihh, bukan kangen! Cuma... kepikiran!" sanggah Amara. "Pokoknya Abang jangan sampai bocor. Aku mau liat dulu, dia beneran bisa berubah jadi lebih dewasa nggak. Aku nggak mau dia balik jadi red flag yang dikit-dikit klaim 'milik gue' lagi."

Ryan mengangguk mantap. "Sip. Gue bakal pantau terus si Macan Teknik itu. Tapi Ra, satu hal yang harus lo tahu. Nick itu nggak pernah main-main. Di dompet dia, ada satu struk pembayaran RS yang udah lecek dari dua tahun lalu. Dia simpan itu sebagai pengingat tentang lo."

Amara tertegun. "Struk RS?"

"Iya. Dia simpan struk IGD malam itu. Dia bilang itu barang paling berharga yang dia punya. Jadi, kalau lo tanya dia serius atau nggak, jawabannya udah jelas."

Amara terdiam, hatinya terasa sangat hangat mendengar fakta itu. Ia tidak menyangka pria sekeras Nicholas bisa sedemikian sentimental.

Setelah Ryan menghabiskan mi-nya dan kembali ke kamar, Amara masih terduduk di sofa. Ia membuka ponselnya, melihat ruang obrolan dengan Nicholas. Tidak ada pesan baru. Nicholas benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengganggu waktu belajarnya malam ini.

Dengan keberanian yang dikumpulkan, Amara mengetik sesuatu.

Amara: Kak, makasih ya buat tadi sore di taman. Aku jadi lebih fokus ngerjain soal trigonometri sekarang.

Hanya butuh sepuluh detik, status di atas berubah menjadi 'typing'.

Nicholas: Sama-sama. Bagus kalau otaknya udah nggak panas lagi. Tapi ini udah jam 11, Amara. Tutup bukunya, tidur sekarang.

Amara tersenyum lebar.

Amara: Iya, ini mau tutup kok. Kakak juga tidur, jangan ngerjain maket terus.

Nicholas: Gue baru tidur kalau udah dapet laporan lo udah merem. Selamat malam, malaikat penolong.

Amara mematikan ponselnya dengan wajah yang memerah sempurna. Ia memeluk bantal sofa erat-erat, merasa bahwa persiapan UTBK yang tadinya terasa sangat berat, kini menjadi jauh lebih ringan karena ia tahu, ada seseorang di luar sana yang selalu menjaganya—bahkan melalui struk rumah sakit yang sudah lecek.

"Kayaknya aku beneran kalah sama red flag satu ini," bisiknya sebelum beranjak menuju kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!