Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"PAK... BAPAK KENAPA?"
Singkat cerita, aku berpisah dengan Dinda dan Ningrum di rumah mereka masing-masing. Dan tiba di rumah sekitar jam empat sore.
Cukup cerah juga sore ini. Sinar matahari yang mulai menuju ke ufuk barat, menguning dengan indah. Membuat bayangan-bayangan pohon dan rumah, serta tiang listrik di atas tanah.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Aku mencium tangan bapak, dia sedang ada di halaman. Sedang membersihkan rumput-rumput liar yang mulai memanjang daunnya.
"Bawa apa tuh Nis? Kayak... Lauk ya?" tanyanya padaku saat melihat sekantong ikan gurame bakar yang tadi dibelikan oleh Dinda.
"Hehehe... Coba tebak... Apa yang aku bawa nih Pak?" jawabku sambil sedikit menggoyangkan kantong kreseknya ke dekat hidung bapak, supaya bisa mencium aromanya yang gurih.
"Eeemmhhh... Waaah... Ikan bakar ya?" kata bapak tampak sumringah saat menyadari isi di dalam kantong kresek yang kubawa itu.
"Kalo mau, ayok, Bapak cuci tangan dulu, kita makan bareng ya..."
"Iya deh, tapi sebentar lagi ya Nis, ini sedikit lagi bersihin rumputnya kok..."
"Ya udah, iya Pak. Nisa masuk dulu ya."
"Iya, sekalian mandi kamu. Bau asem nih... Hahaha..."
"Yeee... Sembarangan. Aku kan tetep cantik." jawabku sambil bergaya genit di depan bapakku sendiri.
"Huuu... Dasar..." respon bapak sambil melempar sedikit potongan rumput ke tubuhku.
"Eeehhh... Kotor ah Pak..."
"Biarin, biar kotor sekalian."
"Huuu dasar Bapak nih..."
Aku segera masuk ke dalam rumah, dan menuju dapur untuk menaruh terlebih dahulu ikan gurame bakar di atas meja makan.
Semerbak aroma gurihnya memenuhi area dapurku. Saat kubuka kantong kreseknya, dan kukeluarkan ikan itu. Kuletakkan di atas piring agak besar.
Setelah itu, aku segera menuju kamar. Menaruh tas, melepas jilbab, mengganti bajuku. Dan hendak mandi sore dahulu sebelum makan bersama dengan bapakku.
Selesai mandi, aku segera ambil wudhu. Dan segera menuju kamar. Memakai baju dan mukena.
Ketika hendak mengucap takbirotul ihrom sholat ashar, seketika itu juga aku baru sadar.
"Astaghfirulloh, Ya Alloh, aku tadi kan belom sholat zhuhur pas jenguk Risa." ucapku sambil menepuk dahiku sendiri.
"Astaghfirulloh... Ya Alloh... Ampuni kelalaian hamba..." tambahku.
Dan saat itu juga, aku kembali teringat dengan semua ucapan Gilang yang merasuk ke dalam tubuh Risa. Aku ingat semua dengan ucapan dan hasutannya.
"Nisa... Kamu hanyalah manusia yang tak bernilai di mata Tuhan..."
Ucapan sosok makhluk halus kecil itu, terngiang dalam ingatanku. Ditambah sosoknya yang berwujud Risa, saat ia merasuk ke tubuhnya.
Aku merasa benar-benar tak berdaya saat itu. Seolah aku benar-benar lupa dan dijauhkan oleh Gilang dari ingatan imanku kepada Alloh.
Namun, aku pun ingat dengan bantuan Dayang Putri...
"PERGILAH!!! KAU TAK AKAN PERNAH BISA MENJERUMUSKAN SIAPAPUN!!!"
Seolah kalimat Dayang Putri itu benar-benar terasa seperti penyelamat batinku saat dilemahkan.
Aku... Merasa...
Semakin memahami sesuatu...
Bahwa di alam ghoib, di alam bangsa lelembut itu, ternyata ada juga tingkatan-tingkatan kemampuan dan kekuatan. Antar satu makhluk halus dengan makhluk halus yang lain.
"Eh... Astaghfirulloh! Nisa... Sholat dulu, sholat! Kenapa jadi inget sama hasutan si Gilang itu sih?!" ucapku saat teringat bahwa aku belum sholat zhuhur dan ashar.
Segera kutarik napas dalam-dalam, menghembuskannya sambil beristighfar lagi. Kemudian memfokuskan pikiran dan niatku. Untuk melaksanakan sholat zhuhur yang terlupa, sekaligus dengan sholat ashar.
Alhamdulillah... Sholatku berjalan dengan khusyuk dan tanpa gangguan ingatan hasutan-hasutan jahat tadi.
Setelah selesai kurapikan mukena, dan kupakai lagi jilbabku, aku segera keluar kamar.
"Pak, udah istirahat dulu bersihin rumputnya. Ayok makan..." ucapku saat berdiri di depan pintu kamarku, menoleh ke arah teras dan halaman rumah.
"Pak...? Bapak...?" tambahku sambil berjalan ke teras. Bermaksud mengajak bapak masuk ke dalam.
"Loh... Bapak kemana?" responku spontan saat tak melihat bapakku di halaman rumah.
Aku megarahkan pandanganku ke seluruh area halaman dan teras. Tak ada bapakku di sana. Hanya ada cangkul kecil dan gunting rumput yang ditinggal di halaman, tepat di sebelah pagar dekat jalan di ujung sana.
"Pak...? Bapak...? Kemana ya dia?" gumamku sendirian sambil celingukan di teras rumah.
Ketika aku berbalik badan, hendak masuk ke dalam, tiba-tiba...
"Astaghfirulloh!! Aduh, Bapak?!"
Aku kaget. Jantungku berdegup kencang, hampir copot rasanya. Ternyata bapakku sudah berdiri di belakangku.
"Bapak jangan gitu dong... Bikin Nisa kaget tau... Sebel aaah..." tambahku agak merengut wajahku, sambil mengusap dadaku sendiri.
Tapi... Yang membuatku sedetik kemudian heran adalah...
Ekspresi wajah bapakku datar, tak ada senyum, tak ada canda tawa saat mengagetkanku barusan.
Justru bapak berkata dengan datarnya...
"Ayok makan Nisa..."
Langsung saja dia berbalik badan dan berjalan menuju dapur.
Aku berdiri sesaat. Keheranan. Sekaligus bingung. Melihat gelagat bapakku yang agak aneh itu.
"Bapak kenapa sih? Kok aneh gitu?" gumamku sendirian.
Namun segera kutepis rasa heran dan bingung itu. Mungkin saja memang bapak sudah merasa lapar. Dan mungkin juga agak merasa kesal menungguku sholat tadi yang agak lama. Mungkin saja seperti itu.
Karena aku tak merasakan adanya aura yang aneh, atau pertanda mencurigakan lain darinya yang bertingkah seperti itu barusan.
Langsung saja kususul bapak ke dapur. Duduk berdua di kursi meja makan. Kuambilkan nasi untuknya dan untukku.
Saat aku hendak membuka bungkus ikan gurame bakar itu, aku sedikit tersenyum dan agak menahan tanganku.
"Coba tebak Pak... Ikan apa ini ya...? Hehehe..." ucapku.
Tapi dia tak menjawab satu kata pun. Hanya duduk diam dengan wajah datar, menatap bungkus ikan gurame bakar yang kupegang.
"Naaah... Tara...!!! Ikan gurame bakar... Waaah..." ucapku sambil bergaya seperti membuat kejutan untuknya.
Tapi... Ekspresi riangku perlahan memudar. Bapak tetap tak bergeming sedikitpun. Hanya menatap ikan itu denga tatapan datarnya.
Dan... Seperti agak kosong tatapan bapak...
"Pak...? Kok diem aja sih?" tanyaku sambil menatapnya.
"Em... Bapak gak suka ya sama ikan ini?" tambahku.
"Atau... Bapak kesel ya nungguin aku lama di kamar tadi? Maafin aku deh kalo gitu ya Pak... Bapak pasti udah laper kan..."
Aku langsung saja membuka lebar bungkusan ikan gurame bakar itu. Semerbak aroma gurih dan aroma arang bakaran memenuhi area dapur lebih kuat.
Aku ambil setengah ekor untuk bapak, kutaruh langsung di atas nasinya. Dan setengah ekor lagi aku taruh di atas piringku.
"Nah, ini masih ada satu ekor lagi Pak, buat besok ya... Atau buat nanti malem kalo Bapak mau makan lagi..." ucapku sambil bersiap makan.
Kulihat bapak langsung menyantap makanannya itu. Dengan tampak lebih nafsu makan. Aku tersenyum. Ternyata memang bapak sudah lapar.
Tapi tetap saja ia tak bicara sedikitpun. Mungkin benar, dia merasa kesal menungguku agak lama tadi.
Beberapa menit kami makan berdua dalam suasana yang sepi. Tak seperti biasanya bapakku makan denganku sambil diam seperti ini. Tak ada obrolan atau satu kata pun darinya.
Beberapa saat kemudian, keheranan dan kebingunganku kembali hadir dalam diriku. Saat kulihat bapak makan dengan lahap.
Tapi...
Tulang ikannya ikut dimakan... Tak bersisa...
Aku yang penasaran, mencoba menggigit tulang ikan di atas piringku. Dan itu keras. Aku bahkan tak bisa menghancurkannya dengan gigiku sendiri.
Tapi bapak... Mengunyahnya dengan mudah...
Terdengar suara gemeratak tulang yang dikunyah olehnya...
Setelah habis ikan di atas piringnya itu, dia mengambil lagi satu ikan yang tersisa.
Dan langsung digenggam dengan satu tangan. Langsung dimakan bagian kepalanya utuh-utuh.
Aku semakin keheranan melihatnya...
"Pak... Bapak kenapa...?"