NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Pagi hari telah tiba. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di jendela dan udara yang sangat sejuk. Namun, di dalam kamar, suasana terasa sangat sunyi.

Nayla terbangun dengan perlahan, tetapi begitu ia mencoba menggerakkan kakinya, ia langsung

memejamkan mata rapat-rapat. "Aduuuh..." rintihnya lirih. Rasa perih yang kemarin sudah mendingan, kini kembali lagi, ditambah dengan rasa pegal yang luar biasa di seluruh tubuhnya akibat "olahraga ringan" yang berlanjut sampai tengah malam tadi.

Hilman yang sudah bangun sejak Subuh dan sudah kembali dari masjid, masuk ke kamar dengan wajah yang tampak sangat segar, bersih, dan... ceria. Ia melihat istrinya masih meringkuk di bawah selimut dengan wajah cemberut.

"Sudah bangun, Sayang?" tanya Hilman lembut sambil duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Nayla.

"Mas Hilman jahat!" ketus Nayla sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Katanya mau kasih istirahat, tapi malah dihajar terus. Sekarang kakiku beneran nggak bisa rapet, Mas!"

Hilman terkekeh pelan, ia merasa sangat gemas melihat tingkah istrinya yang sedang "merajuk" itu. "Kan tadi malam kamu yang mulai duluan, Nay. Mas cuma melayani permintaan istri."

Tiba-tiba, dari balik pintu terdengar ketukan pelan dan suara lembut Sarah.

"Mas Hilman? Mbak Nayla? Sudah bangun? Umi sudah siapkan sarapan di meja, katanya Mbak Nayla disuruh makan bareng," ucap Sarah dari luar.

Nayla langsung panik. Ia mencoba bangun dengan terburu-buru, tapi rasa nyeri di pinggangnya membuatnya kembali terjatuh ke kasur. "Mas! Gimana ini? Aku nggak bisa jalan ke depan! Malu sama Sarah, pasti dia tahu kalau aku jalannya aneh lagi!"

Hilman menahan tawa, ia segera berdiri dan merapikan baju kokonya. "Ya sudah, biar Mas yang bilang ke Umi kalau kamu lagi nggak enak badan."

"Jangan! Nanti Umi makin curiga!" potong Nayla dengan wajah memelas. "Gendong aja, Mas... gendong sampai ke kursi makan kayak kemarin. Tapi lewat pintu samping ya?"

Hilman menggeleng-gelengkan kepala. Ia akhirnya meraih tubuh Nayla dan mengangkatnya dengan mudah. Nayla segera menyembunyikan wajahnya di dada Hilman, merasa malu sekaligus nyaman.

Begitu mereka sampai di meja makan, ternyata Umi Sarah dan Sarah sudah duduk di sana. Umi Sarah melihat pemandangan Hilman menggendong Nayla lagi hanya bisa tersenyum penuh arti.

"Lho, kok digendong lagi, Man? Jamu Umi kemarin kurang manjur atau dosisnya kurang?" goda Umi Sarah sambil meletakkan piring nasi goreng.

Sarah yang sedang menuangkan air hanya bisa menunduk, mencoba menahan senyum di balik cadarnya.

"Nayla... kakinya kram lagi, Umi," jawab Hilman dengan alasan yang paling aman, meski telinganya sudah merah padam.

Nayla yang masih di gendongan Hilman berseru pelan, "Bukan kram Umi... Mas Hilman-nya aja yang nggak mau lepasin Nayla semalam!"

"Uhuk!" Sarah langsung tersedak air yang sedang diminumnya, sementara Hilman rasanya ingin menghilang saat itu juga karena kejujuran istrinya yang terlalu berlebihan.

Hilman segera mendudukkan Nayla di kursi kayu dengan gerakan secepat kilat, berharap tindakan itu bisa membungkam mulut "ajaib" istrinya. Wajahnya sudah tidak karuan warnanya—campuran antara merah malu dan pasrah.

​"Makan, Nay. Mulutnya dipakai buat makan nasi goreng saja, jangan buat bicara yang aneh-aneh," bisik Hilman tegas tapi penuh tekanan, sambil menyodorkan sendok ke arah Nayla.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!