Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izinkan aku menolongmu
Elora menggenggam buku dongeng itu erat-erat.
Tubuhnya terasa lemah setelah seharian tak mendapat makanan apa pun.
Tanpa ia sadari, butiran air mata jatuh membasahi sampul buku tersebut. Pada saat itulah sebuah keajaiban terjadi di hadapannya. Cahaya lembut muncul dari balik jendela. Seekor kupu-kupu bersayap keperakan hinggap di kusen, sayapnya berkilau diterpa lampu taman.
Elora terkejut.
“Kau… apa kau Malwa?” bisiknya sangat pelan.
Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya perlahan, seolah mengangguk.
Elora bangkit dan melangkah mendekati jendela. Pandangannya mengikuti setiap gerakan kupu-kupu itu dengan napas tertahan.
Tiba-tiba, buku dongeng yang tadi ia genggam terjatuh ke lantai. Elora terperanjat saat melihat lembar demi lembar halaman terbuka perlahan dengan sendirinya.
Di halaman terakhir, ia melihat dengan jelas sebuah tulisan berkilau dari tinta keperakan:
Bertahanlah untuk berjalan menuju takdirmu.
Jika hatimu tak rela untuk melepas,
panggil ia sekali lagi,
karena keajaiban akan tercipta dari hati yang tulus.
Tidak..semua kisah dongeng itu sudah berakhir..pangeran sudah mempunyai akhir yang bahagia ..sedangkan aku..aku bukan tokoh di dalam ceritanya.
Elora merasakan kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya mengabur, kesadarannya berada di ambang batas. Dalam samar, ia melihat pintu kamarnya terbuka perlahan.
“Ya Tuhan, Elora…”
Suara panik Bu Hana pecah saat ia masuk ke kamar itu.
Tubuh Elora terkulai lemah di ranjang, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar.
“Lola, cepat bantu Ibu,” ujar Bu Hana dengan suara bergetar. “Kita harus segera membawa Elora ke klinik.”
Lola ragu, matanya melirik ke arah pintu.
“Tapi, Bu… bagaimana kalau Nyonya marah?”
Bu Hana menggeleng tegas, menggenggam tangan Elora dengan cemas.
“Nyonya sedang pergi. Tidak ada waktu lagi. Ayo, cepat, Lola.”
Dengan hati berdebar, mereka mengangkat tubuh Elora perlahan. Di balik mata Elora yang hampir terpejam, bayangan cahaya keperakan kembali melintas… seolah takdirnya sendiri menolak untuk membiarkannya jatuh begitu saja.
Taksi melaju membelah jalanan malam . Lampu-lampu kota berpendar samar dan memantul di kaca jendela .Bu Hana duduk gelisah di samping Elora, terus menggenggam tangan gadis itu yang terasa dingin.
“Elora… bertahan, Nak. Sebentar lagi kita sampai,” bisiknya berulang, entah untuk Elora atau untuk menenangkan dirinya sendiri.
Elora hanya merespons dengan napas pendek. Kepalanya bersandar lemah, matanya terpejam, namun alisnya sesekali berkerut seolah menahan rasa sakit yang datang dan pergi.
Di sebuah persimpangan, taksi itu melambat.
Pada saat yang sama, dari arah berlawanan, sebuah mobil hitam berkelas melaju dengan tenang ..mobil milik Arelion.
Di dalamnya, Arelion duduk termenung. Ponselnya masih berada di genggaman.
Hatinya gelisah tanpa sebab yang jelas, seperti ada sesuatu yang terlepas dari jangkauannya.
Tiba-tiba..
entah dorongan apa,matanya terangkat ke arah luar jendela.
Pandangan mereka berpapasan.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk membuat jantung Arelion berdegup keras.
Di balik kaca taksi, ia melihat wajah pucat itu. Rambut yang dikenalnya. Garis wajah yang tak mungkin salah.
“Elora…” gumamnya refleks.
Mobil mereka saling melewati.
Arelion menoleh cepat ke belakang. Dadanya terasa sesak, nalurinya menjerit bahwa barusan bukan kebetulan.
“Berhenti,” ucapnya tiba-tiba kepada sopir. “Putar balik. Sekarang.”
Sementara itu, di dalam taksi, kepala Elora sedikit bergeser. Bibirnya bergerak nyaris tak bersuara, seolah memanggil satu nama yang sama—
“Arelion…”
Bu Hana terkejut mendengarnya. Ia menatap wajah Elora dengan mata berkaca-kaca, lalu menoleh ke depan.
“Pak, tolong… ke klinik terdekat, secepatnya.”
Dua kendaraan itu kini melaju ke arah yang berlawanan.
Mobil Arelion berbelok tajam di persimpangan berikutnya. Jantungnya berdegup kencang .Respon yang ia sendiri tak mengerti .
“Itu dia,” katanya tegas. “Kejar taksi di depan.”
Sopir menatapnya lewat kaca spion, terkejut dengan nada suara tuannya, namun segera mengangguk dan menambah kecepatan.
Sementara itu, taksi yang membawa Elora mulai memasuki kawasan klinik kecil yang lampunya masih menyala terang. Bu Hana menepuk-nepuk pipi Elora dengan cemas.
“Elora… Nak, dengar Ibu. Kita sudah sampai.”
Elora mengerang pelan. Matanya setengah terbuka, pandangannya kabur. Dalam samar kesadarannya, ia merasa seperti sedang ditarik oleh sesuatu yang hangat, oleh suara yang familiar.
Taksi berhenti mendadak.
“Pak, cepat!” seru Bu Hana.
Pintu terbuka. Bu Hana turun lebih dulu, meminta bantuan perawat yang kebetulan baru keluar. Mereka mengangkat Elora dengan hati-hati.
Dan di saat yang sama—
Mobil hitam itu berhenti tak jauh dari sana.
Arelion turun hampir tanpa sadar. Langkahnya cepat, napasnya berat. Begitu matanya menangkap sosok yang sedang digotong masuk ke klinik, dunia seakan menyempit.
Itu benar-benar Elora.
“Berhenti!” serunya spontan.
Bu Hana menoleh, terkejut melihat pria asing berpenampilan begitu berwibawa. “Maaf, Tuan, anak ini sakit. Kami harus—”
“Aku ikut,” potong Arelion, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, namun tak bisa dibantah.
Elora bergerak lemah. Jari-jarinya menggenggam udara, lalu tanpa sengaja menyentuh lengan Arelion. Sentuhan singkat itu membuatnya membeku.
“Elora…” panggilnya pelan, nyaris bergetar.
Mata Elora terbuka sesaat. Dalam pandangan kaburnya, ia melihat wajah itu..
“Kau…” bisiknya, hampir tak terdengar. “Kau datang…”
Lalu kepalanya terkulai kembali.
Arelion menatapnya dengan sorot mata yang berubah..
Lampu putih klinik menyilaukan mata Arelion saat ia melangkah masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, bercampur dengan rasa cemas yang tak biasa baginya. Elora telah dibawa masuk ke ruang pemeriksaan, tirai ditutup rapat, meninggalkan Arelion dan Bu Hana berdiri di lorong sempit.
“Tuan…” Bu Hana memberanikan diri bicara, suaranya bergetar. “Mohon maaf, saya tidak tahu siapa Anda, tapi Elora sudah seharian tidak makan. Nyonya… "
Bu Hana ragu untuk melanjutkan perkataannya .
" Aku memang baru mengenal Elora..jika kau ingin mengatakan sesuatu ..katakanlah."
" Nyonya mengurungnya ..dan tak memberinya makanan." ucap Hana .
Kata mengurung..membuat rahang Arelion mengeras.
Apa karena malam itu Elora tak pulang .
“Siapa nyonya yang kau maksud?” tanyanya rendah.
Bu Hana menunduk ragu, lalu menghela napas panjang. “ Nyonya Maria.."
" Bukankah Elora anak angkatnya ?"
" Ya..namun Nyonya memperlakukan anak itu seperti pelayan ."
" Seandainya ada orang yang bisa mengeluarkan Elora dari rumah itu.." gumam Hana pelan .
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
“Siapa keluarga pasien?” tanya dokter wanita paruh baya.
“Saya,” jawab Hana .
Dokter mengangguk singkat. “Pasien mengalami dehidrasi berat, tekanan darahnya turun, dan ada indikasi kelelahan ekstrem. Kami sudah memberi cairan infus. Untung dibawa tepat waktu.”
Arelion menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
“Bolehkah saya menemuinya?” tanyanya Arelion.
“Sebentar saja.”
Arelion melangkah masuk. Elora terbaring lemah,ia masih tertidur karena pengaruh obat. Wajahnya pucat, selang infus terpasang di tangannya.
" Elora..izinkan aku menolongmu .."ucapnya pelan
Sekali lagi hatinya tergerak untuk perduli pada gadis itu.