NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Waktu

Gemuruh langkah kaki Roland Grozen menghantam lantai marmer koridor mansion, menciptakan gema yang seirama dengan detak jantungnya yang liar. Ia baru saja melompati jarak ratusan mil melalui jalur sihir yang tidak stabil, membuat rambut peraknya tampak berantakan dan pakaiannya kusut.

Di matanya hanya ada satu tujuan: pintu besar kamar utama yang kini telah dikepung oleh ketegangan yang pekat.

Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti secara paksa. Hendrik berdiri di sana, punggungnya tegak lurus seolah-olah ia adalah bagian dari fondasi bangunan itu sendiri. Di belakangnya, beberapa pelayan senior membentuk barisan penghalang yang tak tergoyahkan.

"Tuan Besar, Anda tidak diperbolehkan masuk," ucap Hendrik dengan suara tenang namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Minggir, Hendrik! Dia istriku!"

raung Roland, auranya mulai bergejolak, membuat lampu-lampu kristal di sepanjang lorong bergetar.

"Justru karena itu adalah Nyonya Irina, Anda harus tetap di luar," Hendrik membalas dengan tatapan tegas.

“Di dalam sana adalah medan perang para wanita dan tabib. Pria yang sedang panik hanya akan menjadi gangguan dan penghambat bagi kelancaran persalinan. Mohon, kendalikan diri Anda, Tuan."

Roland menggeram, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Ia, sang Magus Agung yang sanggup menghentikan aliran sungai, kini harus menyerah pada protokol seorang kepala pelayan.

Ia akhirnya menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, napasnya memburu, sementara telinganya terus menangkap suara erangan tertahan dari balik pintu mahoni yang tertutup rapat.

Beberapa meter darinya, Jover berdiri mematung. Pria itu tampak seperti patung es yang tidak bernyawa, auranya dingin dan waspada, menjaga setiap sudut koridor seolah-olah ada ribuan pembunuh bayaran yang sedang mengintai. Matanya yang tajam tetap terfokus pada pintu, meskipun pikirannya tidak ada yang tahu berada di mana.

Di tengah suasana yang mencekam itu, sebuah siluet muncul dari ujung lorong. Calix berjalan dengan santai, menguap lebar seolah baru saja bangun dari tidur siang yang panjang. Ia menghilang sejak fajar menyingsing—entah bersembunyi di hutan atau menguping di atap—dan kembali dengan wajah tanpa dosa, seolah-olah tidak tahu bahwa mansion sedang berada dalam kondisi darurat tingkat tinggi.

Begitu ia merasakan tatapan Jover yang sedingin es menyayat kulitnya, Calix seketika membeku. Senyum kikuk muncul di wajahnya yang tampan. Ia segera memutar langkah, mencoba memojokkan diri di sudut ruangan agar tidak menjadi sasaran amarah bagi ayahnya.

Di sudut itu, ia melihat Cloudet sedang duduk bersimpuh, menatap lantai dengan tatapan kosong. Calix berlutut, mensejajarkan tingginya dengan adik kecilnya itu. Ia menyikut lengan Cloudet dengan pelan, lalu berbisik dengan nada penuh rasa ingin tahu yang nakal.

"Hei, Cloudet," bisik Calix, matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Tuan Besar terlihat seperti orang tidak waras, dan kenapa Ayah memasang wajah seolah ingin memenggal kepala orang?"

Cloudet tidak langsung menjawab. Ia menatap Calix dengan pandangan datarnya yang legendaris—pandangan yang seolah mengatakan bahwa pertanyaan Calix benar-benar tidak berbobot.

Ia tidak tahu harus menjelaskan konsep 'persalinan' atau 'kontraksi' karena baginya itu adalah hal yang asing.

Cloudet hanya menunduk kembali, jemari kecilnya mulai memainkan helaian rambut hitamnya sendiri. Ia menggembungkan pipinya, membiarkan suasana hening menjawab rasa penasaran kakaknya.

Calix mengernyit, mengamati tingkah laku adiknya yang tidak biasa itu. "Aneh," gumam Calix pendek. Ia merasakan desiran energi yang berbeda di udara—sesuatu yang agung, kuat, namun juga sangat rapuh.

Tiba-tiba, suara teriakan Irina terdengar lebih keras dari sebelumnya, disusul oleh gelombang energi sihir yang bocor dari dalam kamar.

Seluruh koridor bergetar. Roland hampir mengamuk untuk mendobrak pintu, namun Jover dengan cepat menaruh tangannya di bahu sang Magus, menahannya tetap di tempat.

"Tunggu, Tuan," ucap Jover rendah. "Waktunya sudah sangat dekat."

Di sudut lorong, Cloudet tiba-tiba berhenti memainkan rambutnya. Telinga hellhound-nya bergerak-gerak kecil. Ia mendongak, matanya yang kuning kini tidak lagi malas, melainkan bersinar dengan pendaran cahaya yang aneh, seolah ia bisa merasakan sebuah nyawa baru sedang berusaha menembus batas antara dunia ini dan dunia luar.

...----------------...

Ketegangan yang sedari tadi menggantung seberat timah di lorong itu mendadak retak. Di tengah hening yang menyakitkan, di mana detak jantung Roland dan napas tertahan para pengawal menjadi satu-satunya suara, sebuah pekikan nyaring membumbung tinggi. Suara itu tajam, murni, dan penuh kehidupan—suara tangisan bayi yang memecah keheningan mansion Grozen layaknya petir yang membelah langit malam.

Roland, sang Magus Agung yang biasanya memiliki kontrol diri absolut, tersentak seolah baru saja dihantam petir.

Tubuhnya yang bersandar di dinding tegak seketika, matanya melebar dengan pupil yang bergetar. Tangisan itu bukan sekadar suara; bagi Roland, itu adalah melodi paling kuat yang pernah menyentuh jiwanya.

Pintu mahoni besar itu akhirnya terbuka perlahan. Calona melangkah keluar, wajahnya yang biasanya sedingin porselen kini tampak kuyu, dengan peluh membasahi dahi. Namun, di sudut bibirnya, terselip sebuah senyum tipis yang jarang terlihat. Ia menatap Roland dan mengangguk perlahan.

"Masuklah, Roland," ucapnya dengan suara yang rendah namun penuh kelegaan. "Temui istrimu."

Tanpa menunggu komando kedua, Roland melesat masuk. Di dalam kamar yang masih beraroma darah dan aroma magis yang pekat, ia menemukan Irina terbaring lemah di atas ranjang sutra. Wajahnya pucat pasi, rambutnya basah oleh keringat, namun matanya bersinar dengan binar kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di pelukannya, terbungkus kain linen putih yang lembut, sosok kecil yang masih memerah sedang meronta kecil.

Roland berlutut di tepi ranjang, tangannya yang gemetar menyentuh dahi Irina sebelum beralih menatap makhluk kecil di pelukan istrinya. Seorang bayi perempuan, dengan helai rambut perak yang persis seperti miliknya, tampak tenang dalam pelukan hangat sang ibu.

"Dia... dia sangat cantik,"

bisik Roland, suaranya pecah oleh emosi yang membuncah.

Sementara itu, di lorong luar, suasana yang semula kaku mendadak mencair. Jover mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya meluruh. Hendrik menyeka sudut matanya dengan sapu tangan, kembali ke martabatnya sebagai kepala pelayan yang penuh haru.

Di sudut ruangan, Calix yang sedari tadi bersikap acuh tak acuh kini berdiri mematung. Senyum miringnya hilang, digantikan oleh rasa heran yang tulus. Ia menatap ke arah pintu kamar, lalu beralih menatap Cloudet yang masih duduk di sampingnya.

Cloudet, entah kenapa, tampak paling terpengaruh oleh suara tangisan itu. Anak itu berdiri perlahan, matanya yang kuning tidak lagi redup. Telinga hellhound-nya mengepak kecil, seolah sedang menangkap frekuensi energi murni yang terpancar dari bayi yang baru lahir tersebut.

"Irina... kecil?" gumam Cloudet dengan kosa kata yang masih terbatas, namun penuh dengan rasa ingin tahu.

Calix mengelus kepala Cloudet, sebuah gerakan yang jarang ia lakukan dengan lembut. "Ya, Dan nampaknya, mulai hari ini, tugas ku untuk menjaga mansion ini akan menjadi sepuluh kali lebih merepotkan."

Cloudet tidak menjawab, ia hanya menatap pintu kamar dengan binar mata yang kini penuh dengan kilauan.

Disisi Lain,

Nun jauh di jantung vegetasi yang belum terjamah, di mana vegetasi tumbuh begitu rapat hingga cahaya matahari pun enggan untuk sekadar menyentuh tanah, sebuah struktur kuno yang tersembunyi dalam kabut abadi berdiri sebagai monumen kesunyian.

Di sanalah, dalam sebuah aula luas yang udara di dalamnya terasa berat oleh aroma ozon dan tanah basah, duduk sesosok figur yang seolah menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri.

Pria itu bersemayam di atas singgasana yang terpahat dari obsidian hitam. Wajahnya tertutup oleh tirai rambut panjang berwarna jelaga yang jatuh menutupi hingga ke pangkuannya. Ia tidak bergerak, napasnya begitu teratur dan nyaris tak terdengar, seolah ia adalah patung yang sedang bermeditasi di atas penderitaannya sendiri.

Tatapannya tertuju lurus ke depan, menembus dinding-dinding batu tebal, melintasi jarak ribuan mil melalui mata batin yang terkoneksi dengan aliran energi dunia. Ia sedang menyaksikan sesuatu, sebuah denyut kehidupan baru yang baru saja meledak di kediaman Grozen.

Namun, kemegahan singgasananya adalah sebuah ilusi penindasan. Pergelangan tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai-rantai raksasa berbahan starmetal yang berpendar dengan aksara sihir kuno.

Setiap kali ia mencoba menggerakkan jemarinya, rantai itu akan mendentingkan suara logam yang beradu, menggema dingin di dalam ruangan luas yang tak berjendela tersebut. Rantai-rantai itu bukan sekadar penahan fisik, melainkan segel yang mengikat jiwanya agar tetap terpenjara dalam isolasi abadi.

Langkah kaki yang teratur tiba-tiba memecah keheningan. Seorang pria berjubah hitam kelam, dengan tudung yang menyembunyikan identitasnya, melangkah masuk ke dalam aula. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, menunjukkan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan yang mendarah daging. Sepuluh langkah di hadapan singgasana, ia berlutut, membiarkan jubahnya menyapu lantai batu yang dingin.

"Tuan," suara pria berjubah itu rendah, bergema di antara pilar-pilar batu.

“Siklus telah dimulai. Anak itu... anak yang anda nantikan telah menghirup udara dunia ini. Garis darah perak telah berlanjut. Apa rencana kita selanjutnya?"

Keheningan kembali menyergap selama beberapa detik yang menyiksa. Kemudian, perlahan, pria di atas singgasana itu menggerakkan sudut bibirnya.

Sebuah senyum miring, tajam dan penuh dengan maksud tersembunyi, muncul di balik bayang-bayang rambut hitamnya. Senyuman itu tidak mengandung kebahagiaan, melainkan sebuah kepuasan predator yang melihat mangsanya akhirnya masuk ke dalam jaring yang telah ditenun selama berabad-abad.

"Satu bidak lagi telah diletakkan di atas papan," suara pria misterius itu keluar, terdengar seperti gesekan belati di atas sutra—halus namun mematikan.

“Biarkan ia tumbuh di bawah cahaya untuk sementara waktu. Biarkan mereka berpesta di atas kebahagiaan yang rapuh."

Ia sedikit menegakkan punggungnya, membuat rantai-rantai di tangannya bergemerincing hebat, memercikkan sisa-sisa energi sihir yang menolak untuk tunduk.

"Tetap awasi. Jangan biarkan satu pun pergerakan di mansion itu luput dari pengamatanmu. Tunggu hingga saat di mana cahaya itu mencapai puncaknya, karena di sanalah kegelapan akan terasa paling nikmat untuk menelannya. Tunggu saja arahanku selanjutnya."

Pria berjubah hitam itu mengangguk dalam, lalu mundur perlahan ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan sang tawanan agung kembali dalam lamunannya yang mengerikan. Di dalam ruangan itu, sang pria misterius kembali menatap jauh, seolah ia sudah bisa melihat kehancuran yang akan ia bawa pada bayi yang baru saja lahir itu.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!